Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.
Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Lorong paviliun bedah mendadak terasa kehabisan pasokan oksigen. Cia berdiri mematung, meremas pinggiran map rekam medis di dadanya hingga buku-buku jarinya memutih.
Senyum Davin masih semanis dulu. Jas dokter residen itu tampak sangat pas membingkai bahunya, membuatnya terlihat lebih dewasa dan berwibawa dibandingkan saat mereka berpisah setahun yang lalu. Pria yang telah mengukir luka terdalam di hati Cia, yang mengajarkannya betapa rapuhnya sebuah janji, kini menatapnya seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
"Kamu kaget banget ya lihat aku?" kekeh Davin pelan, suaranya yang lembut dan renyah mengalun di telinga Cia. Pria itu mengambil satu langkah maju. "Waktu aku lihat jadwal rotasi koas bedah dan ada nama Almeera Cia, aku langsung berharap itu benar-benar kamu. Dan ternyata harapanku terkabul."
Cia menelan ludah dengan susah payah. Otaknya yang biasa memproses ribuan sel anatomi dalam hitungan detik, mendadak mengalami malfungsi. Rasa sesak yang dulu sering membuatnya menangis semalaman kini kembali menggedor dadanya, meminta untuk diakui.
Namun, Cia bukan lagi gadis dua puluh satu tahun yang naif. Ia menarik napas panjang, menegakkan bahunya, dan memaksakan wajahnya berubah sedatar mungkin—sedikit meniru ekspresi andalan sang Kapten di rumah.
"Selamat pagi, Dokter Davin," sapa Cia formal, suaranya sengaja dibuat dingin dan berjarak. "Selamat datang di stase bedah. Kalau tidak ada keperluan medis yang ingin didiskusikan, saya permisi. Masih banyak pasien yang harus saya visite."
Senyum Davin sedikit memudar melihat respons Cia yang kaku. Pria itu dengan cepat menyodorkan tangannya, menghalangi langkah Cia.
"Almeera, tunggu. Aku tahu kamu marah. Cara aku pergi dulu memang salah. Tapi bisakah kita setidaknya bicara sebentar? Sebagai teman lama?" Davin menatap mata Cia dalam-dalam, menggunakan tatapan memelas yang dulu selalu berhasil meluluhkan Cia setiap kali mereka bertengkar kecil.
Tapi kali ini, yang terlintas di benak Cia bukan rasa rindu, melainkan kelegaan aneh bahwa kini ada cincin emas putih polos yang melingkar di jari manis kanannya.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Dok. Kita berdua sedang bekerja, dan saya bukan lagi Almeera yang punya waktu untuk drama masa lalu," tegas Cia. Ia menepis pelan lengan Davin yang menghalanginya, menunduk sekilas, lalu berjalan cepat menyusuri lorong tanpa menoleh lagi.
Di belakangnya, Davin menatap punggung gadis itu dengan alis bertaut. Ada rasa penasaran dan gengsi yang terusik di dadanya. Cia berubah, batinnya. Namun alih-alih menyerah, seulas senyum tipis yang sarat akan tekad justru terukir di bibirnya.
Di ruang nurse station IGD, Cia menghempaskan map rekam medisnya ke atas meja agak keras, membuat Nayla yang sedang mengisi formulir rujukan terlonjak kaget.
"Buset, Dok. Nggak usah dibanting juga kali. Kenapa lo? Pagi-pagi mukanya udah kayak kain pel belum dibilas," omel Nayla.
Cia menelungkupkan kepalanya di atas lipatan lengan. "Davin balik, Nay."
Tangan Nayla yang sedang menulis seketika berhenti. Gadis bercepol asal itu menoleh patah-patah ke arah sahabatnya. "Hah? Davin siapa? Maksud lo si Davin Alvaro brengsek yang ninggalin lo demi beasiswa terus ngilang kayak ditelan bumi itu?!"
"Ssst! Jangan keras-keras!" desis Cia panik, mengangkat kepalanya dan membekap mulut Nayla. "Iya, dia. Dia pindah rotasi residensi ke sini. Barusan banget gue ketemu dia di lorong paviliun bedah. Dia sapa gue seolah-olah kita baru putus kemarin sore dan masih bisa temenan."
Nayla menyingkirkan tangan Cia dengan kasar, wajahnya memerah karena emosi yang tertahan. "Gila tuh cowok! Urat malunya udah putus atau ketinggalan di luar kota? Terus lo gimana? Lo nggak balikan atau baper lagi, kan? Ci, inget status lo sekarang!"
"Ya nggak lah gila!" bantah Cia cepat, meski tangannya sedikit bergetar. "Gue cuma... kaget. Kehadirannya ngingetin gue sama masa-masa gue ngerasa nggak berharga, Nay. Perasaan takut ditinggalin itu mendadak muncul lagi. Gue benci banget ngerasa lemah kayak gini."
Nayla menatap sahabatnya dengan iba. Ia menepuk punggung Cia pelan. "Ci, dengerin gue. Lo bukan Cia yang dulu. Lo sekarang istri dari Komandan Kompi, Kapten Ren Adhyaksa. Pria yang kemarin dengan gagahnya nangkep lo pas mau pingsan. Lo aman."
Kata-kata Nayla membuat bayangan wajah Ren berkelebat di benak Cia. Sorot matanya yang tenang semalam, rasa percayanya yang begitu besar, dan bagaimana tubuh kokoh pria itu menjadi tamengnya di saat ia tumbang.
Entah bagaimana, mengingat Ren membuat detak jantung Cia yang sedari tadi berpacu tak karuan karena Davin, perlahan mulai menemukan ritme normalnya kembali.
Pukul sepuluh pagi di markas batalyon, matahari bersinar terik memanggang lapangan aspal. Di dalam ruang kerja Komandan Kompi, Ren sedang mendengarkan laporan dari Bima mengenai kondisi Prada Yuda.
"Keluarga Yuda sudah dalam perjalanan dari kampung, Ndan. Administrasi rumah sakit juga sudah diurus oleh bagian keuangan. Syukurlah kakinya bisa diselamatkan," lapor Bima lega, duduk bersandar di kursi depan meja Ren.
Ren mengangguk pelan, matanya menatap dokumen evaluasi latihan kemarin. "Pastikan semua peralatan latihan halang rintang dievaluasi ulang hari ini juga. Saya tidak mau ada alat berkarat yang masih dipakai prajurit saya."
Terdengar ketukan keras di pintu dua kali, sebelum Lettu Maya melangkah masuk. Sikapnya sempurna, namun wajahnya terlihat sedikit tegang.
"Lapor, Kapten. Evaluasi personel sudah saya selesaikan," Maya meletakkan map di meja Ren, namun ia tidak langsung mundur. "Dan... mohon izin berbicara di luar konteks laporan operasi, Komandan."
Ren mengangkat wajahnya, menatap Maya dengan sorot datar. "Silakan."
Maya berdeham pelan. "Pagi tadi, saya mendapat panggilan dari Ibu Rima, istri Wadan. Beliau menanyakan ketidakhadiran istri Kapten dalam rapat lanjutan pengurus pagi ini. Beliau mempertanyakan komitmen Mbak Cia sebagai ibu kompi, dan menyinggung insiden kemarin pagi di aula."
Bima yang berada di ruangan itu pura-pura batuk dan mengalihkan pandangan ke luar jendela, sadar bahwa suhu ruangan mendadak turun drastis.
Jari telunjuk Ren mulai mengetuk meja. Tuk. Tuk.
"Lalu, apa jawabanmu pada Ibu Rima?" tanya Ren dengan suara baritonnya yang sangat rendah dan tenang.
"Saya menyampaikan bahwa Mbak Cia mungkin belum terbiasa dengan jadwal asrama, Kapten. Namun, Ibu Rima menyarankan agar Kapten memberikan pembinaan lebih tegas kepada istri Kapten, agar tidak menjadi preseden buruk bagi istri prajurit lainnya yang harus disiplin membagi waktu," jawab Maya, suaranya terdengar terlalu profesional untuk sebuah nasihat rumah tangga.
Ren menghentikan ketukan jarinya. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Maya dengan intensitas yang membuat wanita itu tanpa sadar menahan napas.
"Sampaikan ini pada Ibu Rima, Lettu Maya," ucap Ren dingin, setiap katanya diucapkan dengan penekanan yang mutlak. "Komitmen istri saya sebagai anggota Persit telah ia buktikan dengan menyelamatkan nyawa salah satu prajurit terbaik kompi kita kemarin. Kehormatan kompi ini dipertahankan oleh tangannya di ruang operasi."
Ren mencondongkan tubuhnya ke depan. "Jika Ibu Rima atau siapapun di asrama ini memiliki keberatan dengan cara istri saya membagi waktu, suruh mereka menghadap langsung ke ruangan saya. Jangan menegurnya di belakang punggung saya. Jelas?"
Maya membeku. Rasa cemburu dan kekalahan bercampur aduk di dadanya, namun ia adalah prajurit yang terlatih. Ia menelan pil pahit itu dan mengambil sikap sempurna. "Siap, Komandan. Sangat jelas."
"Kembali bekerja."
Setelah Maya keluar, Bima terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala. "Galak amat lo kalau udah nyangkut masalah bini. Padahal baru nikah bentar, bucinnya udah kelihatan nih komandan es batu kita."
Ren mengabaikan ledekan Bima. Ia berdiri, meraih topi baret hijaunya dari atas meja. "Saya mau ke rumah sakit mengecek kondisi Yuda di ICU."
"Sendirian? Tumben. Biasanya perwakilan staf kompi yang berangkat," goda Bima, tersenyum miring.
Ren menatap Bima sekilas sebelum berjalan keluar ruangan. "Ini kunjungan pribadi. Ada hal lain yang harus saya pastikan."
Jam makan siang di rumah sakit selalu menjadi medan perang kedua bagi para tenaga medis. Cia melangkah keluar dari ruang ganti setelah mengecek beberapa pasien di bangsal. Ia berniat menuju kantin untuk membeli makan siang yang akan ia bawa pulang ke rumah dinas nanti sore, mengingat stok bahan makanannya masih kosong.
Ia sedang membalas pesan dari ibunya di ponsel ketika langkahnya terhenti secara paksa. Sebuah tangan besar dan kekar mencekal pergelangan tangan kirinya.
Cia mendongak, matanya melebar melihat Davin berdiri menghalanginya, membawa dua gelas kopi berlogo putri duyung hijau.
"Davin, apa-apaan sih? Lepas!" desis Cia tajam, berusaha menarik tangannya. Namun cengkeraman pria itu cukup kuat, meski tidak menyakiti.
"Sebentar saja, Almeera. Ini, aku bawakan karamel macchiato kesukaanmu. Jangan menghindar terus. Kita satu rumah sakit, cepat atau lambat kita harus bisa kerja sama dengan profesional, kan?" Davin tersenyum persuasif, tidak memedulikan tatapan beberapa perawat yang lewat.
"Aku bisa kerja sama dengan profesional kalau kamu berhenti bertingkah seolah kita ini teman dekat," balas Cia, nada suaranya mulai meninggi. Ia melirik pergelangan tangannya yang masih ditahan Davin. "Lepaskan tangan saya, Dokter Davin."
"Aku lepaskan kalau kamu mau ngopi bareng aku sepuluh menit aja di taman rumah sakit. Aku cuma mau jelasin alasanku dulu pergi—"
Ucapan Davin terhenti secara mendadak.
Udara di lorong rumah sakit itu seolah membeku seketika. Sebuah aura intimidasi yang sangat pekat dan mematikan merayap dari arah belakang Davin, membuat bulu roma pria itu meremang.
Sebuah tangan yang jauh lebih besar, kasar, dan sekeras baja mencengkeram pergelangan tangan Davin yang sedang menahan Cia. Cengkeraman itu begitu kuat hingga Davin meringis kesakitan secara refleks dan melepaskan tangan Cia.
"Lepaskan tanganmu dari istri saya."
Suara bariton yang berat, rendah, dan menggetarkan lorong itu membuat jantung Cia seolah berhenti berdetak sesaat.
Cia mendongak, dan napasnya tertahan. Ren berdiri menjulang di sampingnya, masih dalam balutan seragam loreng PDL-nya yang lengkap dengan baret hijau di kepala. Wajah pria itu sedatar biasanya, namun rahangnya mengeras tajam dan sepasang mata elangnya menatap Davin seolah pria bermarga Alvaro itu adalah ancaman nasional yang harus dieksekusi di tempat.
Davin terhuyung mundur selangkah sambil memegangi pergelangan tangannya yang berdenyut nyeri. Ia menatap Ren dari atas ke bawah, lalu beralih menatap Cia dengan raut wajah sangat terkejut.
"I-istri?" ulang Davin tak percaya, tertawa canggung. "Almeera, dia bilang apa? Istri? Kamu kan baru..."
Ren tidak membiarkan Davin menyelesaikan kalimatnya. Dengan gerakan mulus yang sangat posesif, pria berseragam itu melangkah maju, memposisikan tubuh tegapnya tepat di antara Davin dan Cia, menghalangi pandangan mantan kekasih istrinya itu sepenuhnya.
Tangan kiri Ren yang bebas melingkar di pinggang Cia, menarik punggung bawah gadis itu hingga menempel pada sisi tubuhnya yang kokoh.
Cia menegang, terkejut dengan sentuhan fisik yang begitu berani di tempat umum, namun kehangatan yang menjalar dari telapak tangan Ren di pinggangnya mendadak memberinya sebuah rasa aman yang luar biasa besar. Gadis itu tidak melawan, malah secara refleks merapatkan diri.
"Kapten Ren Adhyaksa," ucap Ren dingin, memperkenalkan diri tanpa menyodorkan tangan untuk berjabat. Sorot matanya memindai Davin dengan keangkuhan militer yang natural. "Suami Almeera Cia. Dan kamu, yang tidak tahu batasan menyentuh istri orang di tempat umum... siapa?"
Davin menelan ludah, nyalinya menciut telak di bawah tatapan membunuh sang Kapten. Semua rasa percaya diri dan pesonanya menguap tak bersisa di hadapan pria yang jelas-jelas berada di kasta yang jauh berbeda dengannya.
"S-saya Dokter Davin," jawabnya gagap, memaksakan senyum sopan. "Residen bedah di sini. Teman lama... Cia. Maaf, saya tidak tahu kalau dia sudah menikah."
Ren memiringkan kepalanya sedikit, menatap Davin dengan pandangan merendahkan yang sangat kentara. "Sekarang kamu tahu. Jika saya melihatmu menyentuh istri saya lagi dengan alasan apa pun..."
Ren sengaja membiarkan kalimatnya menggantung. Tidak ada ancaman fisik yang diucapkan, namun nada suaranya yang mematikan membuat Davin pucat pasi dan segera memundurkan langkahnya.
"Tidak akan. Maafkan saya, Kapten. Permisi," Davin mengangguk kaku, berbalik badan, dan berjalan pergi dengan langkah terburu-buru, membawa ego dan harga dirinya yang baru saja dihancurkan dalam waktu kurang dari satu menit.
Setelah Davin menghilang dari pandangan, suasana lorong kembali berangsur normal. Ren perlahan melepaskan tangannya dari pinggang Cia, beralih mengambil dua map tebal yang sedari tadi dipeluk Cia dengan kikuk.
"T-terima kasih," gumam Cia gugup, menundukkan kepalanya dalam-dalam menyembunyikan pipinya yang memanas layaknya kepiting rebus. Jantungnya masih berdegup gila-gilaan akibat perlindungan Ren barusan.
Ren menatap puncak kepala istrinya dalam diam. Jari-jarinya tanpa sadar mengetuk pelan tepi map rekam medis milik Cia.
"Dia?" tanya Ren singkat. Pertanyaan yang sebenarnya tidak butuh penjelasan panjang, karena insting pria itu sudah membaca semuanya.
Cia menghela napas panjang, akhirnya mendongak menatap sepasang mata elang yang kini menatapnya menuntut jawaban.
"Mantan pacarku," jawab Cia jujur, tidak ada gunanya berbohong. "Orang yang dulu ninggalin aku tanpa kejelasan."
Rahang Ren kembali menegang mendengar pengakuan itu. Ada emosi asing yang bergejolak di dada sang Kapten—sesuatu yang panas, gelap, dan sangat protektif, yang selama ini tidak pernah ada di kamus kehidupannya.
Dengan gerakan tenang namun memancarkan otoritas mutlak, Ren mengulurkan tangannya, merapikan kerah jas putih Cia yang sedikit berantakan.
"Bereskan pekerjaanmu sekarang. Pasienmu sudah menunggu," perintah Ren pelan, ibu jarinya sengaja mengusap ringan tulang pipi Cia sesaat sebelum menarik tangannya kembali. Mata elang itu menatap lurus menembus mata Cia. "Dan pastikan dia ingat, bahwa kamu sudah menemukan tempat pulang."