NovelToon NovelToon
Simpanan CEO Muda

Simpanan CEO Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aulia risti

Siapa sangka, niat Amira cuma mau bantu temannya nganter kopi ke ruang CEO malah jadi awal dari malam paling gila dalam hidupnya.

Amira Shalwanissa. Karyawan biasa yang terjebak lembur di kantor karena menggantikan temannya yang sakit.
Zian Ardana. CEO muda, anak pemilik perusahaan, terkenal kejam dan nggak punya hati buat karyawannya.

Malam itu, ruang kerja CEO yang biasanya sepi berubah jadi tempat paling berbahaya.
Zian jatuh pingsan. Amira panik dan menolong. Tapi demam tinggi membuat Zian kehilangan kendali.

“Lepaskan saya, bapak mau apa!”
“Shutt, apa kamu nggak bisa diam... kepalaku sakit.”

Amira melawan. Dia menendang, berlari, bersembunyi di bawah meja. Tapi bayangan Zian terus mengejarnya, dengan tawa rendah yang bikin bulu kuduk merinding.

Malam itu menjadi saksi bisu awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.
Apakah Amira bisa lolos? Atau dia benar-benar akan jadi... simpanan CEO muda itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

"Apa yang Mas lakukan? Lihatlah, lantainya jadi kotor," protes Amira melihat lantai yang sudah dipel itu kini kotor kembali.

Zian tersadar. Dia lupa kalau kakinya kotor.

"Nanti saya bersihkan. Tapi sebelum itu, jawab pertanyaan saya: kamu dari mana?"

"Beli makan, Mas," Amira menunjukkan kantong kresek yang dibawanya.

"Sudah, cepat dibersihkan," omel Amira kesal.

Entah apa yang dia lakukan. Kenapa bisa kakinya kotor begitu dan rumah juga sekotor ini.

"Mas habis sholat apa habis dari sawah sih?" tanya Amira sambil menyiapkan makanan untuk mereka.

Zian tak langsung menjawab. Dia menaruh pel ke belakang dulu, baru duduk bersama Amira di ruang depan.

"Jalanannya becek, Mir. Makanya kaki saya kotor."

Amira mengangguk paham. Yah, jalan arah ke masjid memang banyak lubang dan berlumpur. Ketika hujan pasti akan becek, apalagi sekarang lagi musim hujan.

"Yasudah, Mas makan dulu. Maaf makannya seadanya. Saya juga beli karena nggak sempet kalau masak," jelas Amira.

Saat Zian di masjid, setelah Amira selesai sholat dia menyempatkan diri beli lauk pauk di warteg depan. Setidaknya dia sudah jadi istri dan harus tanggung jawab pada suami. Jangan sampai membiarkannya kelaparan.

Zian melihat makanan di meja kecil yang Amira siapkan. Dia mengerutkan dahi melihat makanan yang tampak tidak familiar itu.

What! Apa ini? Saya belum pernah melihatnya! Gumam Zian dalam hati.

Ati ampela kecap dan tempe orek itu hidangan yang ada di atas meja sekarang. Amira melahap makanannya dengan nikmat, sementara Zian masih diam memperhatikan.

"Kenapa, Mas? Nggak suka atau masih kenyang?" tanya Amira bingung melihat Zian hanya diam.

"Ini apaan, Amira?"

Itulah kalimat pertama yang Zian ucapkan setelah beberapa saat terdiam. Wajar saja Zian nggak tahu. Orang kaya mana mungkin makan makanan kayak gini. Di rumahnya pasti banyak makanan enak yang mahal dan berkelas. Jadi ketika melihat ampela dan tempe, dia mana tahu.

"Ini tempe orek dan ati ampela, Mas. Rasanya enak kok... nggak kalah sama masakan bintang lima," ucap Amira sedikit menyombongkan makanan sehari-harinya itu.

"Kamu yakin? Warnanya aja seperti itu," celetuk Zian menatap gigitan makanan tersebut. Tiba-tiba sebuah sendok mendarat masuk ke dalam mulutnya. Dia terbelalak sejenak, merasa keenakan dengan makanan yang baru masuk ke dalam mulut. Detik berikutnya, pria itu mengambil alih sendok yang ada di tangan Amira dan makan dengan lahap.

Amira tersenyum melihat betapa lahapnya sang suami makan. Tadi saja kayak orang sok, eh begitu masuk mulut justru ketagihan. Amira tertawa kecil menyaksikan bagaimana Zian makan.

"Pelan-pelan, Mas. Kalau kurang tinggal nambah," seru Amira.

Selesai makan, Amira menaruh piring-piring kotor di dapur. Tak lupa dia mencucinya terlebih dahulu sebelum kembali ke ruang depan.

"Sudah jam delapan, Mas nggak pulang?" tanya Amira.

Zian menggeleng. Dia masih duduk di atas kasur busa tipis milik Amira.

"Kenapa?"

"Kenapa apa, Mas?"

"Kamu ingin sekali saya pulang," ucap Zian.

"Kamu tidak suka saya di sini?" sambung Zian, yang membuat Amira menggigit bibir bawahnya.

Jujur, itu memang salah satunya. Tapi yang membuat Amira tidak suka Zian ada di sini adalah karena dia tak merasa nyaman. Entahlah, bayang-bayang malam itu masih terus menghantuinya, hingga membuat Amira begitu waspada.

Kendati demikian, Amira sudah berusaha menerima Zian dengan bersikap biasa agar tidak membuatnya tersinggung. Namun apalah daya, rasa trauma tidak bisa hilang begitu saja.

"Maaf, saya kurang nyaman, Mas," jawab Amira akhirnya dengan matang.

Zian mengulum senyum. Tidak ada yang lucu, itu yang Amira pikirkan saat melihat reaksi Zianm

"Mas kenapa? Ada yang lucu?" tanya Amira.

Zian menggeleng, menatap perempuan dengan kaos dan celana super longgar itu. Dia mengangkat alisnya seolah mengisyaratkan kebingungan yang tengah melandanya.

Grep!

Tiba-tiba Zian menarik pinggang Amira, hingga membuat gadis itu lebih dekat dengannya. Amira sempat berontak, tapi Zian malah semakin menguatkan pelukannya.

"Mas!"

"Apa? Kamu takut saya melakukan hal itu, kan?" ucap Zian menatap Amira yang kini berada dalam dekapan tangannya.

"Itu kan yang bikin kamu tidak nyaman?" sambung Zian.

Bak tahu apa yang dipikirkan Amira, Zian dengan benar menjawab kegelisahan yang terus Amira rasakan itu.

"Tenang, saya tak akan mengulangi hal bodoh itu lagi. Cukup sekali saja!" ucap Zian seraya melepaskan tangannya dari pinggang Amira.

Mendapatkan celah, Amira segera menjauhkan tubuhnya dari Zian.

"Terus, Mas mau apa tetap di sini?" tanya Amira.

"Saya sudah memikirkannya. Saya akan tinggal di sini bersamamu."

"Apa!" Amira terkejut. Itu tidak ada dalam perjanjian mereka. Amira pikir setelah dia bertanggung jawab, mereka akan tetap tinggal masing-masing dan tidak perlu satu atap. Mengingat pernikahan ini terjadi hanya karena dia ingin bertanggung jawab, bukan karena cinta.

"Saya nggak setuju, Mas. Saya—"

"Tak peduli suka atau tidak suka, saya akan tetap tinggal bersama kamu. Saya akan menjaga kamu," ucap Zian bersikeras.

"Mas nggak bilang dari awal. Saya nggak mau satu atap dengan Mas. Kalau tahu begini, lebih baik Mas nggak usah tanggung jawab," tak kalah tegas dari Zian, Amira juga menyuarakan ketidakmauannya untuk tinggal satu atap dengan Zian.

1
Blu Lovfres
lampir sinting😁🤣
Blu Lovfres
nyesek y ternyata nasibnya zian
Blu Lovfres
hadehh amira terlalu lebay banget 😁🤣
Blu Lovfres
😁🤣
Blu Lovfres
next thor
Blu Lovfres
ceo tolol o'on lebih tolol lagi astinnya, 😁
keven sekelas asisten buru di perkampungan yg ga tau kecangian, ceo ga bisa tau kelakuan mis yg sering menghukum amira, di kernakan amira bukan barang berharga buat zean karna itu don't care
Blu Lovfres
y udah datangkan saja mba kunti bibir merah untuk zian thor 🤣🤣🤣🤣
Blu Lovfres
ga tau kelanjutannya pernikahan amira dn zian
Ni Cristi
yuk yukk pernah baca dimana nihh alur yang mirip nya
Blu Lovfres
Kayak nya ada pernah baca deh alur novel ini ,
Blu Lovfres
mampir kesini thor 😘
Ni Cristi: Welcome 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!