-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-
Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Di dalam kamar paviliunnya yang beberapa bulan ini menjadi saksi bisu ketenangan barunya, Bianca Adytama menatap sebuah tas kain berukuran sedang di atas ranjang. Di dalamnya, hanya ada beberapa potong pakaian sederhana, kardigan rajut tua, dan beberapa perlengkapan esensial. Sangat kontras dengan koper-koper bermerek internasional yang dulu selalu memenuhi bagasi mobilnya setiap kali ia bepergian.
Bianca bukan lagi gadis polos berusia dua puluh tahun yang bisa dengan mudah dikelabui oleh bualan laki-laki. Di usianya yang matang, tiga puluh tahun, ia tahu persis arti dari setiap tatapan, perubahan intonasi suara, dan gestur tubuh. Ia sangat menyadari bahwa Arlan Dirgantara—pria sedingin es dengan otoritas mutlak yang menjadi majikannya itu—mulai menaruh ketertarikan yang tidak biasa padanya.
Perubahan sikap Arlan yang semakin agresif, tatapannya yang mengunci setiap kali ada pria lain di dekatnya, serta sifat posesif yang mulai dipamerkan secara terang-terangan membuat kepala Bianca pening. Ada ketakutan yang merayap di dadanya, bukan karena ia membenci perhatian itu, melainkan karena ia takut perhatian Arlan akan meruntuhkan benteng penebusan dosa yang selama ini ia bangun dengan susah payah di desa terpencil ini.
Selama perjalanan melintasi jalur tol yang bising, keheningan di dalam kabin mobil terasa begitu tebal dan mencekam. Arlan duduk di sampingnya, sesekali melirik melalui sudut mata, seolah memastikan wanita itu tidak akan membuka pintu mobil dan melompat keluar untuk melarikan diri kembali ke kebun teh. Bianca memilih melempar pandangannya keluar jendela, melihat lampu-lampu kota Jakarta yang mulai menyambut mereka.
Roda mobil akhirnya berhenti di pelataran parkir khusus sebuah gedung apartemen penthouse ultra-mewah di kawasan elite Jakarta Pusat. Akses lift pribadi langsung membawa mereka menuju lantai teratas, di mana pintu lift terbuka dan langsung menyajikan kemewahan yang maskulin, modern, namun terasa sepi.
Kedatangan Arlan malam itu tidak disambut oleh kesunyian. Di ruang tamu yang luas dengan dinding kaca besar menampilkan kerlip lampu malam Jakarta, dua orang kepercayaan Arlan sudah menunggu dengan raut wajah tegang.
Doni, sang pengacara sekaligus asisten pribadi berusia 35 tahun yang berpenampilan necis, langsung berdiri dari sofa. Di sampingnya, Meta, sekretaris pribadi berusia 32 tahun dengan pakaian kerja yang ringkas namun elegan, ikut membenahi posisi berdirinya.
"Arlan, akhirnya kamu sampai," sapa Doni, suaranya berat, menyiratkan ada beban pekerjaan yang menumpuk sejak siang. Pria itu kemudian melirik ke arah Bianca yang berdiri setengah langkah di belakang Arlan, mengernyit sedikit melihat seorang wanita asing dengan pakaian sangat sederhana berada di lingkungan pribadi bosnya.
Doni berdehem sejenak sebelum melanjutkan, "Kamu mau istirahat dulu ke kamar, atau langsung ke ruang kerja?"
Arlan melepaskan jam tangan mewahnya, menyerahkannya pada supir yang membawa tasnya, lalu menatap Doni dengan mata yang tidak menyiratkan rasa lelah sama sekali. Pria berusia 36 tahun itu memiliki energi yang luar biasa jika menyangkut bisnis dan harga dirinya yang diusik.
"Kita ke ruang kerja dulu," jawab Arlan tegas, suaranya menggema di ruangan yang langit-langitnya tinggi itu. "Setelah itu baru makan malam. Ada beberapa hal krusial yang memang harus kita bahas dan selesaikan malam ini juga sebelum besok pagi media mulai menggoreng berita."
Doni dan Meta saling berpandangan, lalu mengangguk mengerti. Mereka mengikuti langkah kaki Arlan yang lebar menuju koridor sebelah kanan, tempat ruang kerja pribadi Arlan berada. Bianca sempat ragu untuk melangkah, namun sebuah tepukan pelan namun posesif di punggungnya dari tangan Arlan membuatnya terpaksa ikut berjalan di belakang mereka.
Ruang kerja itu dilapisi lantai kayu mahoni gelap dengan aroma lilin aromaterapi maskulin yang menenangkan. Begitu pintu ganda ditutup, Arlan langsung mengambil posisi di balik meja kerja besarnya. Ia melonggarkan satu kancing kemeja teratasnya, memancarkan aura wibawa yang intimidatif.
"Duduk," perintah Arlan pendek pada ketiga orang di depannya. Doni dan Meta mengambil kursi kulit di depan meja, sementara Bianca memilih duduk di sofa panjang yang terletak agak di sudut ruangan, menjaga jaraknya agar tetap tidak mencolok.
Arlan menumpukan kedua tangannya di atas meja, menatap Doni dan Meta bergantian. "Bagaimana perkembangan masalah yang dibuat Stella? Sejauh mana dia berhasil mengacaukan sistem keuangan kita di Jakarta?"
Meta membuka tablet kerjanya dengan cekatan, jemarinya bergerak cepat di atas layar. "Stella menggunakan celah dari dokumen kerja sama lama saat kalian masih berstatus suami-istri, Tuan. Dia mengajukan gugatan pembekuan aset atas tuduhan penggelapan dana di anak perusahaan bagian properti. Dan sayangnya, beberapa pihak di bank langsung menyetujui pembekuan sementara karena mereka tidak mau mengambil risiko hukum."
Doni menyambung, suaranya terdengar lebih optimis. "Tapi tenang, Ar. Aku sudah bergerak sejak kemarin malam begitu kamu telepon. Sebagian aset utamamu di bank swasta berhasil kita amankan dan selamatkan sebelum surat pembekuan dari pengadilan keluar. Sisanya, sekitar tiga puluh persen di bank bumn, masih dalam proses pembekuan sementara. Kita hanya perlu menunggu beberapa bukti otentik lainnya terkumpul untuk membuktikan bahwa tanda tanganmu di dokumen yang dibawa Stella adalah hasil pemalsuan."
Arlan mengangguk-angguk kecil, rahangnya mengeras mendengar nama mantan istrinya disebut. "Stella tidak akan sepintar ini jika tidak ada orang kuat yang berdiri di belakangnya. Dia hanya wanita yang gila belanja dan kemewahan, dia tidak paham hukum korporasi."
"Kami sedang menyelidiki siapa aktor intelektual di balik pergerakan Stella, Tuan," sahut Meta lagi.
Arlan terdiam sejenak, lalu pandangannya beralih ke sudut ruangan, tepat di mana Bianca duduk dengan tenang sambil melipat tangannya di atas pangkuan. Kehadiran Bianca yang stabil di ruangan itu entah bagaimana memberi sedikit rasa tenang di kepala Arlan yang sedang panas.
"Meta," panggil Arlan, membuat sekretarisnya itu menoleh. "Mulai besok, wanita di sana itu akan membantumu di kantor."
Meta menoleh ke arah Bianca, menatapnya dengan pandangan menilai yang profesional namun tidak merendahkan.
"Namanya Gita," lanjut Arlan. "Dia punya ketelitian yang sangat bagus untuk urusan pemeriksaan berkas dan arsip lama. Berikan dia akses untuk memeriksa semua dokumen keuangan yang berkaitan dengan Stella dari lima tahun lalu. Tugasmu akan sedikit lebih ringan jika dia yang menyaring dokumen-dokumen itu."
Meta mengangguk patuh, senyum tipis profesional terukir di wajahnya. "Baik, Tuan Arlan. Selamat bergabung, Gita. Mohon bantuannya mulai besok."
Bianca berdiri dari sofa, memberikan anggukan kecil yang sangat anggun dan terukur—sebuah bahasa tubuh yang langsung membuat Meta sedikit tertegun karena gerakan itu terlalu berkelas untuk ukuran seorang asisten baru dari desa.
"Terima kasih, Mbak Meta. Saya akan berusaha membantu sebaik mungkin."
Setelah rapat kecil itu selesai, Doni dan Meta pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaan mereka dari rumah masing-masing, meninggalkan Arlan dan Bianca berdua saja di dalam penthouse yang mendadak terasa sangat luas dan sunyi.
***
mungkin juga karna musuh raditya
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh