“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”
Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.
Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SDUA 09
Udara malam berhembus pelan, menyapu lembut permukaan kolam yang tenang. Di sisi kanan, dua pria dewasa duduk bersebelahan. Sebuah meja bundar berdiri di tengah mereka, menjadi sekat tipis yang memisahkan jarak di antara keduanya.
“Pak Abimanyu,” ucap Erlan memecah kesunyian, tak memakai sebutan ‘papa’ ia menggunakan panggilan formal sebab Abi adalah senior di dunia entertain yang ia tekuni.
Yang dipanggil segera menoleh, tatapan masih setajam tadi.
Sebelumnya, Abimanyu sudah membuka suara, mengutarakan segala kecemasan yang ia takutkan. Perjodohan mendadak putrinya dengan putra kedua seorang konglomerat, menurutnya cukup membebani hatinya. Ia merasa telah mengambil keputusan yang salah dengan menyetujui pernikahan Erlando dan Alyra.
“Saya mengerti kecemasan Anda sebagai orang tua. Terlebih … Alyra adalah anak perempuan satu-satunya, tentu kekhawatiran terus menyerang batin dan pikiran Anda,” kata Erlan pelan, ia duduk dengan tenang, tangan bertumpu di atas pangkuan.
“Saya tidak bisa berjanji akan selalu membahagiakan Alyra.” Sorot mata Erlan sama sekali tak menunjukan gentar, wajahnya setengah tertunduk. “Namun saya akan terus berusaha. Saya akan menjaganya tetap aman, menjadi tempat berlindung, sekaligus rumah untuknya pulang dan berkeluh kesah. Mungkin hubungan kami berawal dari keterpaksaan dan belum cukup kuat untuk menjadi pondasi cinta. Namun seiring waktu dan kebersamaan, kami akan terus belajar untuk saling menyayangi, menyirami hati dengan kasih yang perlahan tumbuh menjadi cinta. Dan saya sendiri .…” Erlan menarik napas panjang, sudut bibirnya tersenyum tipis meski matanya memerah. “Saya sudah jatuh cinta kepada Alyra sejak pertemuan pertama kami.”
“Apa kau bisa memegang kata-katamu?”
“Tentu saja,” jawabnya tegas tanpa ragu.
Abimanyu menghela napas berat, bahunya merosot ke bawah. “Saya hanya merasa … seolah telah menjual anak saya sendiri.” Ia tersenyum pahit, sorot matanya tampak redup diterpa penyesalan. “Awalnya saya mengira perjodohan kalian hanyalah ambisi istriku semata.”
Pria itu terdiam sesaat sebelum kembali melanjutkan. “Nirmala masih belum percaya sepenuhnya pada kasih sayang yang sudah saya berikan. Dia terus mengkhawatirkan masa depan Alyra … takut kalau suatu hari anak laki-laki saya kembali ke Indonesia, saya tak lagi membutuhkan dirinya dan Alyra.” Abimanyu mengepalkan tangan di atas pangkuannya. “Karena ketakutan itulah dia mendatangimu. Menawarkan perjodohan bisnis demi menyelamatkan diri dari keterpurukan … dari ancaman kemiskinan.”
“Mama Nirmala hanya datang menawarkan perjodohan,” sahut Erlan. “Saya sendiri menyetujui setelah melihat foto Alyra, yang artinya … saya menikahinya tanpa dipaksa.” Netra tegas itu menatap yakin ke arah Abimanyu. “Anda tenang saja, saya akan menjamin dan bertanggung jawab penuh atas hidup Alyra.”
“Astaga … lagi-lagi saya berprasangka buruk terhadap Nirmala,” ucap Abimanyu, sudut bibir bergetar, raut wajah dibalut rasa bersalah. Lalu kembali menatap tanpa ragu. “Baiklah, Erlando. Saya akan memegang kata-katamu.”
Pria berusia akhir empat puluh tahunan itu mengulurkan tangan. “Saya titip Alyra, ya.”
Erlando meraihnya, menjabat dengan yakin. “Baik, Pa.”
“Pa?” Alis Abimanyu terangkat sebelah. “Ha ha ha! Saya suka panggilan itu.”
.
.
.
Alyra berdiri di ambang pintu yang tertutup. Menempelkan telinga pada permukaan pintu kayu berlapis pelitur keemasan, gaya rumah keluarga Dewangga memang modern, namun terselip nuansa klasik. Seperti pintu dan beberapa furniture, Abi memilih yang berbahan kayu jati.
Ceklek!
Pintu terbuka tiba-tiba, membuat Alyra seketika mundur satu langkah.
“Apa yang terjadi? Apa yang dibicarakan om Abi?” Ia langsung menodong tanya pada sosok tampan yang baru saja memijak di lantai kamarnya.
Yang ditanya menatap heran, dahinya mengernyit. “Kau menguping?”
Alyra menghela napas seraya memutar bola matanya. “Apa yang bisa saya dengar dari sini? Sementara kalian mengobrol di lantai satu, di teras rumah pula.”
“Kurang-kurangilah kebiasaan burukmu ini. Jangan suka nguping,” tegur Erlan, kini melangkah dan duduk di atas peraduan.
Tak canggung apalagi merasa sungkan, pria itu bertingkah seolah ruangan ini adalah miliknya.
Ia memindai sekeliling seraya menumpukan kaki jenjangnya, lalu kembali menatap serius istrinya.
“Kebiasaan buruk?” Alyra menyunggingkan bibirnya. “Saya cuma penasaran aja, tidak biasanya om Abi bersikap seperti ini … ikut campur dan ....”
Ia menggantung kalimat, netra pekatnya menatap pada iris tajam suaminya.
“Why? Kenapa menatapku seperti itu?” Ia meneguk ludah.
“Bukankah memang sepatutnya orang tua bersikap demikian?” Erlan berkata pelan, tangan bersedekap, bahunya konsisten tegap. “Memperhatikan dan mencemaskan putrinya. Ikut campur? Mengapa kau merasa papamu bersikap ikut campur?”
Alyra membeliak, terkejut bila Erlan akan merespon demikian. “Saya … saya hanya merasa tak terbiasa. Kami tidak sedekat itu untuk saling ikut campur urusan pribadi.”
“Bersikap baiklah padanya, ubah cara berpikirmu. Dia benar-benar mencemaskanmu,” balas Erlando, kini matanya tertuju pada tumpukan buku di rak kayu dekat jendela.
Alyra merespon dengan seringai, tangannya terlipat di depan dada. “Mengapa saya merasa … kali ini Anda juga ikut-ikutan bersikap nimbrung — ikut campur!”
Erlan kembali menoleh, menatap penuh tanya. “Apa maksudmu?”
“Bukankah kita juga sudah sepakat untuk tak saling ikut campur? Mau bagaimana sikapku terhadap keluargaku … biar saya yang urus sendiri.”
Alyra merapatkan bibir, lalu beralih menuju kamar mandi.
“Ada apa dengannya?” Sosok rupawan itu memicingkan mata, menatap heran pada sang istri yang terlihat marah, padahal ucapannya ada benarnya, menurutnya. “Aku hanya mengingatkan demi kebaikannya, lagipula … memang benar bila papa Abi sangat mencemaskannya.”
Erlan menyeringai sinis.
Beberapa menit kemudian, Alyra masih betah berada di dalam bilik mandi, meninggalkan Erlan seorang diri, hanya duduk tenang sambil memainkan ponsel di atas ranjang.
Ia mulai merasa bosan, akhirnya bangkit, melepas jas hitam dan dasi, lalu beralih pada dua buah kancing kemeja bagian atas, dadanya dibiarkan terbuka.
“Berapa suhu yang dia atur? Kenapa ruangan ini terasa panas,” keluhnya sambil meletakkan pakaian di atas peraduan.
Erlan sibuk mengibaskan tangan, menggoyangkan kemeja bagian dada, ia akhirnya melangkah menuju jendela.
Sorot cahaya bulan menyiram lembut, jatuh tepat pada sebuah kamar di lantai dua, Erlan memandangnya dengan tatapan teduh.
“Ini malam purnama? Dia … sudah bulat sempurna, cantiknya ….” pujinya pada ciptaan sang maha kuasa.
Setelah puas menatap tenang rembulan, Erlan beralih pada tumpukan buku yang sempat menarik perhatiannya, ia mendekat, kemudian meraih salah satunya.
“Ikrar yang ternoda?” Alisnya terangkat tatkala membaca sebuah judul pada cover buku novel yang ditulis Alyra. “Sepertinya menarik,” ujarnya.
Ia kembali melangkah pelan, kemudian berdiri dan menyandarkan bahu pada dinding di dekat jendela, membuka perlahan lembaran demi lembaran, Erlan tampak menikmati setiap paragraf yang disuguhkan.
Tak lama, Alyra akhirnya muncul usai membersihkan diri, kini ia hanya mengenakan setelan baju tidur bercorak polkadot.
Tatapan langsung terpaku pada sosok rupawan yang bersandar pada dinding, tangan memegang buku, membaca dengan raut wajah serius, sekilas ia melihat senyum samar yang sama sekali tak pernah ditunjukan pemiliknya, baru kali ini ia melihatnya.
“Bila tersenyum, Erlando terlihat ... Boleh juga.” Sejenak ia terhanyut dalam pesona mahadahsyat suaminya. Memang tak terbantahkan, ketampanannya terbilang mutlak, munafik bila Alyra tak mengakuinya.
Plak!
Ia menepuk pipi kanan, segera tersadar. “Apa yang baru saja kau katakan Alyra! Sadar!” Ia mengatur napas, berusaha kembali bersikap biasa.
Saat hendak bicara, fokusnya beralih pada benda pipih milik suaminya yang tergeletak di atas meja. Layarnya menyala, sebuah notifikasi pesan terpampang jelas.
Stefani ~ Erlan, aku kembali ke Indonesia. Sampai jumpa di jakarta! ❤️
*
*
Bersambung.