Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin
Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.
Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.
Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.
Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.
Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Malam Setelah Perpisahan
Setelah semua riuh di apartemen Nadin mereda, Liana dan Arka berdiri di depan pintu.
Di hadapan mereka, Maya, Bram, dan Rara berjejer—tiga orang yang tiga bulan terakhir ikut bolak-balik pengadilan, nyari bukti, bahkan rela begadang buat kasus Ayah Liana.
Liana menunduk pelan. “Makasih ya. Kalau bukan kalian, Ayah mungkin masih dijadiin tumbal ambisi Paman Hendra. Dia nggak bersalah. Dia cuma korban karena Paman Hendra mau ngebuang dia biar kursi CEO Wijaya Group kosong.”
Bram menggaruk kepala, canggung. “Nggak usah makasih, Lia. Kita cuma lakuin yang bener. Lagian, kalau nggak ada Kak Nadin yang berani ngomong di sidang, bukti kita juga nggak bakal kepake.”
Maya nyodorin kotak kecil ke Liana. “Ini oleh-oleh dari kita. Buka nanti ya di jalan. Biar ada yang nemenin perjalanan pulang.”
Rara langsung nepuk pundak Arka. “Jaga dia baik-baik ya, Ka. Kalau lo nyakitin dia lagi, gue dateng ke kota lo.”
Arka cuma bisa ketawa kecil. “Siap, Rara. Nggak bakal kejadian.”
Pelukan singkat terjadi. Nggak banyak kata. Cukup.
Setelah itu, Liana dan Arka turun ke parkiran, masuk ke mobil tua Arka yang udah 5 tahun setia nemenin dia.
Di jalan tol, kota mulai sepi.
Liana bersandar di kursi penumpang, matanya merem. “Aneh ya. Rasanya kayak habis perang.”
Arka ngelirik pelan. “Perangnya udah selesai. Sekarang waktunya pulang.”
Mereka nggak ngomongin banyak hal. Tapi di dalam kepala masing-masing, ada satu nama yang sengaja mereka kubur pelan-pelan: Kontrak 500 Juta.
Kontrak yang bikin Liana dan Arka hampir hancur, yang bikin hidup mereka semua berantakan.
“Kita nggak bakal lupa,” kata Liana pelan. “Tapi kita belajar buat nggak kebelenggu sama itu lagi.”
Arka menggenggam kemudi lebih erat. “Iya. Mulai sekarang, kisah kita tulis ulang. Nggak ada mertua yang ngatur, nggak ada uang yang jadi syarat, nggak ada Hendra yang bisa ngacak-ngacak lagi.”
Di luar, lampu jalan berlari cepat.
Di dalam mobil, ada dua orang yang dulu patah, sekarang memilih buat nyambung lagi.
Bukan karena masa lalu udah sempurna.
Tapi karena mereka yakin, harapan baru lebih layak diperjuangkan daripada luka lama yang terus diungkit.
Dan kali ini, mereka mulai dari nol. Bersama.
Liana dan Arka: Rujuk Setelah 5 Tahun
Lima tahun itu nggak sebentar.
Cukup buat Liana pindah kota, ganti kerjaan, dan belajar Berdiri di kaki sendiri.
Cukup juga buat Arka buka usaha kecil di kota asal, karena dia juga korban dari paman dan ibunya Darmi.dan tiap malam pulang ke kontrakan kosong yang cuma ada suara TV tua.
Mereka pisah bukan karena nggak cinta.
Dulu, yang bikin retak itu mertua. Ibu Arka yang tiap hari ngatur—dari kerjaan Liana harus apa, baju harus warna apa, sampai kapan mereka menyiksa liana.
Liana capek. Dia merasa kayak tamu dan kadang jadi pembantu di rumahnya sendiri.
Arka diem. Dia terjepit di antara ibu yang ngerasa ‘berjasa’ dan istri yang makin hari makin hampa.
Akhirnya, kata “pisah dulu” keluar. Dan kata “dulu” itu jadi lima tahun.
Sekarang, mereka berdua berjalan bersama untuk membangun suatu keadilan.
Nggak ada drama. Nggak ada teriak.
Cuma tatapan Arka yang masih sama—tenang, tapi nggak pernah berani ngeliat Liana terlalu lama.
Dan Liana yang pura-pura sibuk melihat pemandangan dari jendela mobil tua arka.
sampe ditengah jalan mereka singgah untuk makan diRestoran terdekat.
“Lo masih suka yang rasa pandan?” tanya Arka pelan.
Liana diem sebentar, terus angguk kecil.
“Ternyata iya.”
Nggak ada mertua yang datang ngatur kali ini.
Ibu Arka udah meninggal dua tahun lalu. Nggak ada lagi suara yang bilang “gini salah, gitu salah”.
Yang ada cuma mereka berdua, dan harapan tipis yang tumbuh lagi.
Mereka dua singgah satu malam di Rumah nginap di jalan,
Malam itu, mereka duduk di balkon kecil rumah nginap
Liana nyeruput teh hangat. Arka mainin ujung jaketnya, gugup kayak anak SMA pertama kali nembak.
“Aku nggak minta kita balik kayak dulu,” kata Arka. “Aku cuma minta kesempatan buat mulai lagi. Kali ini… tanpa ada orang lain yang ikut campur.”
Liana menatapnya lama.
Wajah Arka tua 5 tahun. Ada garis halus di keningnya. Tapi matanya masih sama—mata yang dulu bikin dia yakin buat nikah di umur 22 tahun.
“Kisah kita dulu berantakan karena terlalu banyak suara,” jawab Liana pelan.
“Sekarang, cuma ada suara kita. Kalau lo siap dengerin aku, aku siap dengerin lo.”
Nggak ada cincin. Nggak ada janji besar.
Cuma anggukan kecil dari Arka, dan senyum Liana yang udah lama nggak kelihatan.
Mereka nggak tau besok bakal gimana.
Tapi untuk malam ini, mereka memilih memulai kembali kisah yang sama.
Kali ini, dengan aturan mereka sendiri.
Bersambung 🙏🤩