Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Beberapa hari setelah pertengkaran besar antara Agung Darmawan dan putrinya Clara, suasana di perusahaan utama Darmawan Group terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Para pegawai tetap bekerja seperti biasa, tetapi bisik-bisik mulai terdengar di berbagai sudut kantor. Semua orang tahu ada sesuatu yang sedang terjadi di keluarga Darmawan. Hanya saja tidak ada yang cukup berani untuk membicarakannya secara terang-terangan.
Pagi itu Tony Bagaskara baru saja duduk di ruangannya sambil memeriksa laporan pengeluaran beberapa devisi ketika pintunya diketuk cukup tergesa.
“Masuk.”
asisten Tony segera masuk sambil membawa beberapa map di tangannya. Wajah asistennya itu terlihat sedikit pucat.
“Pak Tony... ada tim audit internal datang.”
Tony langsung mengangkat kepala dari laptopnya.
“Audit internal?”
“Iya, Pak.”
Kening Tony langsung berkerut.
“Itu tidak mungkin. Audit tahunan masih lama.”
Asistennya tampak ragu-ragu sebelum kembali bicara.
“Dan... yang datang bukan tim yang biasa.”
Tony perlahan menutup laptopnya.
“Maksudmu?”
“Mereka dari anak perusahaan milik Pak Rendra.”
Untuk beberapa detik ruangan itu terasa sunyi.
Tony menatap assistennya tanpa berkedip seolah ingin memastikan dirinya tidak salah dengar.
“Rendra Aditya?”
“Iya, Pak.”
Tony perlahan berdiri dari kursinya. Wajahnya masih terlihat tenang, tetapi pikirannya mulai kacau. Selama ini audit internal selalu bisa diprediksi. Dia selalu tahu kapan pemeriksaan dilakukan dan siapa saja orang-orang yang bertugas memeriksa laporan perusahaan.
Bahkan biasanya dia sudah lebih dulu berbicara dengan beberapa auditor agar semuanya berjalan aman.
Namun kali ini berbeda.
Audit dilakukan mendadak.
Dan yang paling buruk, tim yang datang bukan orang-orang yang biasa bekerja di kantor pusat.
Tony segera berjalan keluar ruangannya menuju bagian administrasi dan arsip keuangan. Dari kejauhan terlihat beberapa pria dan wanita berpakaian formal sedang memeriksa dokumen perusahaan dengan sangat teliti. Mereka bergerak cepat tanpa banyak bicara.
Beberapa staf perusahaan bahkan terlihat gugup saat dimintai data tambahan.
Tony mencoba tetap terlihat tenang ketika mendekati mereka.
“Selamat pagi,” sapanya ramah.
Salah satu auditor mengangguk singkat.
“Selamat pagi, Pak Tony.”
“Saya cukup terkejut dengan audit mendadak ini.”
“Kami hanya menjalankan perintah.”
“Perintah Pak Rendra?”
“Iya, Pak.”
Tony menatap tumpukan dokumen yang sedang diperiksa. Laporan pemasaran, laporan operasional, hingga data pengeluaran beberapa divisi mulai dipisahkan satu per satu.
“Semua data ini akan dibawa?” tanya Tony.
“Sebagian akan kami salin untuk pemeriksaan lebih lanjut.”
“Pemeriksaan di kantor pusat?”
“Di anak perusahaan yang dipimpin Pak Rendra.”
Tony mengepalkan tangannya perlahan.
Jadi Rendra benar-benar turun tangan langsung.
Itu bukan kabar baik.
Tony dan Rendra tidak pernah dekat. Putra sulung Agung Darmawan itu terkenal dingin dan sulit ditebak. Dia jarang ikut campur dalam urusan perusahaan utama karena lebih fokus mengembangkan anak perusahaannya sendiri.
Namun justru karena itulah banyak orang takut padanya.
Rendra bukan tipe pria yang suka mencari perhatian. Tetapi sekali bergerak, biasanya dia sudah memiliki tujuan yang jelas.
Tony mulai merasa tidak nyaman.
Untungnya semua penggelapan dana yang dia lakukan tidak pernah langsung mengarah kepadanya. Dia terlalu berhati-hati untuk meninggalkan jejak yang jelas. Seluruh aliran dana dibuat rumit dan melalui beberapa pihak.
Namun audit tetaplah audit.
Jika orang-orang yang selama ini membantunya mulai diperiksa satu per satu, maka semuanya bisa menjadi berbahaya.
Tony kembali memperhatikan para auditor yang sibuk membawa salinan dokumen perusahaan.
“Pak, data pengeluaran pemasaran tiga bulan terakhir juga ikut diperiksa,” ucap salah satu staf kepada auditor.
“Masukkan semuanya.”
Tony langsung memalingkan wajahnya sebentar.
Pemasaran.
Divisi itu termasuk salah satu jalur yang paling sering dia gunakan untuk memindahkan dana.
Semakin lama audit berlangsung, semakin besar risiko yang akan muncul.
Tony menarik napas panjang lalu berjalan kembali menuju ruangannya.
Dia harus menghentikan audit itu secepat mungkin.
Dan satu-satunya orang yang mungkin bisa membantunya adalah Clara.
Menjelang jam makan siang, Tony berjalan menuju divisi finance. Suasana ruangan masih cukup sibuk karena beberapa pegawai sedang menyelesaikan laporan sebelum istirahat.
Namun begitu melihat Tony datang, beberapa orang langsung melirik diam-diam.
Tidak sedikit pegawai yang menganggap Tony adalah calon menantu paling kuat di keluarga Darmawan. Jabatan tinggi, wajah tampan, pembawaan tenang, dan dekat dengan Clara. Kombinasi yang sangat disukai manusia kantor untuk dijadikan bahan gosip. Perusahaan besar memang dipenuhi laporan keuangan dan drama percintaan. Kadang sulit membedakan mana yang lebih berbahaya.
Clara yang sedang mengetik sesuatu langsung tersenyum cerah saat melihat Tony.
“Kamu datang?”
Tony membalas senyumnya.
“Ayo makan siang.”
Clara langsung berdiri tanpa banyak bertanya.
“Oke.”
Dia segera mengambil tasnya dengan wajah bahagia.
Amanda yang duduk di meja sebelah hanya menggeleng sambil tersenyum kecil.
“Cepat sekali pergi kalau diajak Pak Tony.”
Clara sama sekali tidak peduli pada komentar itu. Dia langsung berjalan mengikuti Tony keluar ruangan.
Begitu Clara pergi, Amanda melihat komputer wanita itu masih menyala.
“Dia lupa lagi...”
Amanda kemudian melihat file laporan yang masih terbuka di layar monitor.
Namun karena mengikuti aturan perusahaan tentang penghematan energi, Amanda tetap mematikan komputer itu.
“Besok pasti panik sendiri.”
Amanda sama sekali tidak tahu kalau Clara belum menyimpan pekerjaannya selama hampir dua jam terakhir.
Di sebuah restoran mewah dekat kantor, Clara terlihat sangat senang sepanjang makan siang. Dia terus berbicara tentang banyak hal sambil sesekali tersenyum pada Tony.
Sebaliknya Tony justru terlihat lebih diam dari biasanya.
Clara akhirnya menyadarinya.
“Kamu kenapa?”
Tony segera mengangkat wajahnya.
“Tidak apa-apa.”
“Kamu kelihatan sedang memikirkan sesuatu.”
Tony tersenyum kecil lalu menghela napas.
“Sebenarnya aku agak kaget soal audit internal tadi.”
Clara tampak bingung.
“Audit internal?”
“Iya. Semuanya mendadak sekali.”
Tony mencoba terdengar santai.
“Beberapa laporan bahkan belum sempat dirapikan. Aku takut nanti malah terjadi kesalahpahaman.”
Clara justru tersenyum kecil mendengar itu.
“Kamu tidak perlu khawatir.”
Tony menatapnya.
“Maksudmu?”
Clara meminum sedikit jusnya sebelum menjawab dengan santai.
“Audit itu memang aku yang minta.”
Tangan Tony langsung berhenti bergerak.
“Apa?”
Clara tampak bangga dengan dirinya sendiri.
“Aku meminta Kak Rendra melakukan audit internal perusahaan.”
Untuk sesaat Tony benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.
Dia bahkan sempat berpikir Agung Darmawan mulai mencurigai sesuatu sehingga memerintahkan audit mendadak. Namun ternyata semua ini justru berasal dari Clara.
“Kenapa kamu melakukan itu?” tanya Tony pelan.
“Untuk menyingkirkan Doni.”
Tony diam sambil menatap Clara.
Wanita itu tampak sangat santai seolah tindakannya bukan masalah besar.
“Ayah mulai terlalu memperhatikan Doni,” lanjut Clara dengan nada kesal. “Semua orang juga terus memujinya setelah masalah pemasaran kemarin.”
Tony mulai memahami semuanya.
Clara merasa cemburu karena Doni semakin dipercaya di perusahaan.
Dan karena itulah dia meminta audit internal dilakukan.
“Kak Rendra juga setuju membantuku,” ucap Clara lagi. “Kalau ada kesalahan yang ditemukan, Doni pasti bisa disingkirkan.”
Tony benar-benar ingin marah saat itu juga.
Dia tidak menyangka Clara bisa melakukan tindakan sebodoh ini.
Audit internal bukan permainan kecil.
Jika Rendra mulai memeriksa semuanya secara serius, maka bukan hanya Doni yang akan diperiksa. Semua divisi yang memiliki transaksi mencurigakan bisa ikut ditelusuri.
Dan itu berarti seluruh rencananya ikut berada dalam bahaya.
Tony perlahan menenangkan dirinya sendiri.
Dia tidak boleh kehilangan kendali sekarang.
“Kamu seharusnya memberitahuku lebih dulu,” ucap Tony pelan.
Clara tampak bingung.
“Memangnya kenapa?”
Tony terdiam beberapa saat sebelum akhirnya memaksakan senyum tipis.
“Aku hanya kaget.”
Clara tersenyum lembut.
“Aku melakukan ini demi membantu perusahaan.”
Tony mengangguk perlahan.
“Tentu.”
Jawaban itu terdengar tenang.
Terlalu tenang.
Padahal di dalam pikirannya, Tony mulai menghitung banyak kemungkinan buruk.
Jika audit itu terus berjalan, maka orang-orang yang selama ini membantunya mungkin akan mulai panik. Beberapa dari mereka bahkan bisa saja membocorkan sesuatu demi menyelamatkan diri sendiri.
Dan jika sampai Agung Darmawan mulai membersihkan orang-orang tertentu dari perusahaan, maka seluruh rencananya harus dimulai dari awal.
Tony menatap Clara yang masih tersenyum polos di depannya.
Wanita itu sama sekali tidak sadar bahwa tindakannya baru saja mengancam seluruh rencana besar yang selama ini dia bangun diam-diam.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Tony mulai merasa benar-benar terpojok.