bagi orang lain, cinta pertama seorang anak perempuan adalah seorang ayah tapi tidak Resty, karena baginya ayah adalah neraka baginya
inilah kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Semua murid merasa tegang menunggu hasil ujian dan Pengumuman kelulusan 1 minggu lagi akan di umumkan. Dan malam sebelum pengumuman, Awi pulang bawa sesuatu. Bukan kata kasar. Tapi selembar plastik berisi gorengan hangat.
"Buat anak Bapak yang besok lulus," katanya pelan. Resty tertegun mendengar kalimat untuk pertama kalinya yang keluar dari mulut Awi. Itu kalimat terhangat yang pernah Resty dengar dari ayahnya. dan malam itu, untuk pertama kalinya awi memberikan anaknya gorengan walaupun sudah dingin tapi bagi Resty, itu adalah makanan terhangat yang pernah dia terima dari ayahnya.
Hari pengumuman kelulusan datang.Resty lulus. Nilai nya bagus tapi cukup buat bikin dadanya lega untuk pertama kali sejak SD kelas 6.
Pagi-pagi, Awi sudah pergi kepasar. Resty siap-siap untuk pergi ke Pendaptaran. Di tangannya ada map yang dalamnya cuma ada surat keterangan lulus, fotokopi KK, dan uang 300 ribu yang dilipat rapi. Uang itu hasil dia menjual gorengan tetangga yang dia kumpulin selama ini. Bangun jam 5 pagi, antar gorengan keliling kompleks, pulang ganti baju, baru berangkat sekolah. tidak banyak, tapi cukup buat bikin dia tidak mau merepotkan ayahnya lagi.
Sampai di SMP Negeri 3. antriannya masih sama panjang. Anak-anak lain datang pakai mobil, bawa map mika tebal, didampingi ibu yang sibuk cek ulang berkas. Resty masuk sendirian. Map di tangan sedikit basah karena keringat.“Wali muridnya mana?” tanya petugas pendaftaran.
“Ayah saya ke pasar...Pak!. Tapi saya bawa semua berkasnya,” jawab Resty pelan, tapi jelas.
Petugas itu mengangguk. matanya berhenti sebentar di map lusuh itu. tidak ada komentar tambahan, Cuma stempel, tanda tangan, selesai. Keluar dari ruang pendaftaran, Resty duduk di bangku besi depan gerbang. Dia buka map lagi, cek satu-satu, takut ada yang kurang. Resty diam, Di luar gerbang, suara angkot lewat, anak-anak ribut, ketawa, ibu dan anak saling becanda, tapi di kepalanya cuma ada kalimat itu. Bapaknya tidak pernah mengatakan bangga langsung. Tapi entah kenapa, Resty merasa lebih lega dari pada waktu melihat nilai lulusnya sendiri.
Dia masukin lagi semua berkas ke dalam map pelan-pelan. Mungkin saat SMP nanti tetap berat dan hidupnya tetap kekurangan.Tapi untuk hari ini, dia tidak merasa sendirian. Di luar gerbang, matahari sudah mulai naik. Panas nya menyengat, tapi Resty tidak buru-buru pulang. Dia duduk lebih lama, menggenggam map itu erat-erat, seolah kalau dilepas, rasa hangat yang baru saja datang akan hilang lagi.
“Resty!” Resty menoleh. saat itu ia melihat bibinya jalan menuju kearahnya bersama anaknya yang bernama bintang, mungkin bibinya mau mendaftarkan anaknya juga. Pakaian bibinya sangat mencolok, bibir yang dipoles merah, perhiasan yang hampir memenuhi badannya dan jilbabnya yang dililitkan ke lehernya dan anaknya memakai jeans dan rambut yang di gerai.Dari atas ke bawah mata itu menyapu Resty.berhenti sebentar di map plastik lusuh dan seragam yang kebesaran.
“Eh, Resty....?Ngapain kamu di sini, Mau daftar juga.” tanya bibinya, nada suaranya setengah heran, setengah sinis. Di samping nya, Bintang yang memakai baju baru dan tas merek mahal cuma melirik sekilas, lalu sibuk main HP.
Resty mengangguk kecil.“Iya, Bi.”
Bibinya mengangguk pelan, lalu berbisik ke Bintang, “Lihat tuh....daftar sendiri! Ayahnya aja tidak kelihatan....Kasihan ya.”
Resty diam dan ia sudah biasa. Dengan Kata ‘kasihan’ itu lebih sering dia dengar daripada kata ‘semangat’.