Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'
Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.
Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Era Baru Wijaya Group
Gelombang kepanikan yang sempat melanda bursa saham dan koridor pemerintahan ibu kota berangsur-angsur reda, digantikan oleh rasa segan yang teramat sangat terhadap kekuatan baru yang mengendalikan Asura Digital Bank. Penangkapan massal terhadap Haryo Baskoro, Nicholas, dan seluruh faksi inti Baskoro Group menjadi sinyal pembersihan besar-besaran. Tidak ada lagi yang berani menyentuh atau mempertanyakan legalitas operasional bank digital maupun proyek energi terbarukan Asura Core. Dinasti Baskoro yang telah menggurita selama puluhan tahun kini runtuh, menyisakan puing-puing aset yang secara bertahap jatuh ke dalam pelukan Wijaya Group.
Pagi ini, lobi utama Gedung Wijaya Tower tampak berbeda. Lantai marmernya berkilau lebih terang, dan para karyawan berjalan dengan senyum merekah serta dada membusung bangga. Mereka tahu, perusahaan tempat mereka bekerja bukan lagi sekadar pemain lokal di daerah pinggiran, melainkan pusat dari perputaran uang dan energi skala nasional.
Di lantai tiga puluh, di dalam ruang kerja Direktur Utama, Kirana berdiri di dekat dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah pelabuhan utama kota. Angin laut yang tenang tampak menggerakkan beberapa kapal kargo raksasa yang kini seluruhnya berlogo Wijaya Group. Penampilannya hari ini sangat memukau, mengenakan blazer formal putih gading yang dipadukan dengan celana kain senada, memancarkan aura seorang penguasa wanita yang anggun namun tegas.
"Adrian," panggil Kirana tanpa membalikkan badannya, namun sudut bibirnya mengukir senyuman hangat saat mendengar suara langkah sepatuku mendekat. "Setiap kali aku melihat ke luar jendela ini, aku selalu merasa takut kalau semua ini hanyalah fatamorgana. Dua minggu lalu, kita masih bingung memikirkan bagaimana cara membayar biaya sewa rumah kontrakan kecil kita. Tapi sekarang... kita memegang kendali atas pasokan listrik dan jalur logistik seluruh pulau ini."
Aku melangkah maju, lalu berdiri tepat di sampingnya, ikut menatap hamparan pelabuhan yang sibuk di bawah sana. Aku menyilangkan tangan di dada, memancarkan ketenangan seorang penguasa bayangan yang telah menyelesaikan badai besar.
"Ini bukan fatamorgana, Kirana. Ini adalah hasil dari keadilan yang tertunda," jawabku lembut. "Keluarga Baskoro dan siapa pun yang pernah meremehkanmu telah menerima bayaran mereka. Mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang berani membuatmu menundukkan kepala."
Kirana membalikkan tubuhnya, menatapku dengan mata yang berbinar terang, penuh dengan rasa kagum dan cinta yang mendalam. Dia merapikan kerah kemeja kasual hitamku yang sedikit terlipat. "Aku tahu semua ini berkat dirimu, Adrian. Meskipun kamu selalu bilang ini adalah warisan rahasia atau aliansi informasi, aku tahu beban yang kamu pikul sangat besar untuk melindungiku dari orang-orang jahat itu."
Tepat saat suasana romantis mulai menyelimuti ruangan, suara ketukan pintu terdengar sangat sopan dari luar. Sekretaris pribadi Kirana melangkah masuk setelah mendapat izin, wajahnya tampak jauh lebih tenang dibandingkan beberapa hari lalu saat Nicholas menerobos masuk.
"Maaf mengganggu, Direktur Utama Kirana, Tuan Adrian," ucap sang sekretaris sambil membungkuk hormat tiga puluh derajat. "Wakil Komisaris Bramasta Wijaya bersama Nyonya Erika dan Tuan Kevin sudah tiba di ruang tunggu lantai bawah. Mereka meminta izin untuk menghadap Anda berdua guna menyerahkan laporan pertanggungjawaban pengelolaan aset keluarga triwulan pertama."
Aku dan Kirana saling berpandangan. Sejak malam berdarah di Rumah Utama di mana aku menghabisi tim pembunuh bayaran Black Cobra dengan tangan kosong, sikap Erika dan Kevin berubah total. Rasa angkuh dan keserakahan mereka telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh rasa takut yang murni terhadap keberadaanku. Mereka sekarang hidup di bawah pengawasan ketat Kakek Bramasta, bekerja keras sebagai staf lapangan biasa tanpa tunjangan mewah demi menebus kesalahan masa lalu mereka.
"Biarkan mereka masuk," ujar Kirana dengan nada datar namun berwibawa.
Beberapa menit kemudian, pintu ruangan terbuka. Kakek Bramasta melangkah masuk paling depan. Tubuhnya tampak jauh lebih bugar dan sehat, sisa umur tiga tahun yang kuberikan lewat Kartu Pemulihan Medis Tingkat Dewa membuatnya bisa beraktivitas tanpa tongkat naga lagi. Di belakangnya, Erika dan Kevin berjalan dengan kepala menunduk dalam-dalam. Kevin membawa seberkas dokumen tebal dengan kedua tangannya yang tampak sedikit kasar karena terlalu banyak bekerja di lapangan pelabuhan.
Begitu mereka berada di tengah ruangan, Kakek Bramasta langsung membungkuk hormat sembilan puluh derajat ke arahku dan Kirana, diikuti secara instan oleh Erika dan Kevin yang bahkan tidak berani menatap langsung ke arah mataku.
"Selamat pagi, Direktur Utama Kirana, Tuan Adrian," ucap Kakek Bramasta dengan suara yang sangat takzim. "Kami datang untuk melaporkan bahwa seluruh sisa saham minoritas milik kerabat jauh yang sempat mencoba melakukan oposisi kemarin, telah berhasil kami ambil alih sepenuhnya. Kini, seratus persen kendali Wijaya Group berada di tangan Kirana secara mutlak."
Kevin melangkah maju satu tapak dengan tubuh yang sedikit gemetar, menyodorkan dokumen di tangannya ke atas meja kerja Kirana. "K-Kirana... Tuan Adrian... ini adalah laporan keuangan dari sektor logistik pelabuhan baru. Saya sudah memastikan tidak ada lagi kebocoran dana atau vendor ilegal yang bermain di belakang kita. Tolong... periksa dokumen ini."
Erika juga ikut membuka suara dengan nada yang sangat berhati-hati, jauh dari kesan wanita tua ketus yang sering memakiku dua tahun lalu. "Adrian... Ibu... maksud saya, saya sudah membersihkan seluruh kamar lama Anda di Rumah Utama dan memindahkan beberapa barang peninggalan almarhumah ibu kandung Anda ke tempat yang lebih layak. Jika Anda berkenan, kami sangat berharap Anda dan Kirana mau meluangkan waktu untuk makan malam bersama di rumah..."
Aku menatap mereka bertiga dengan pandangan yang dingin tanpa ekspresi. Keterampilan Mata Penilai Dewa yang masih aktif di retinaku menunjukkan panel kepatuhan mereka semua berada di angka seratus persen sempurna. Mereka benar-benar telah dijinakkan oleh kekuasaan dan kekuatan fisikku.
"Makan malam itu tidak perlu, Nyonya Erika," jawabku datar, membuat tubuh Erika langsung menegang ketakutan. "Fokus saja pada pekerjaan kalian di lapangan. Selama kalian tidak melakukan tindakan bodoh yang merugikan Kirana atau perusahaan, aku tidak akan mengurangi sisa umur Kakek Bramasta ataupun membiarkan kalian kelaparan di jalanan."
"B-baik, Tuan Adrian... kami mengerti... terima kasih atas kemurahan hati Anda," sahut Kakek Bramasta dengan wajah lega, buru-buru menarik Erika dan Kevin untuk kembali mundur dan keluar dari ruangan setelah Kirana menandatangani berkas tersebut.
Setelah pintu kembali tertutup, aku berjalan menuju meja kerja Kirana, lalu mengaktifkan layar proyektor raksasa di dinding ruangan lewat jentikan jariku. Sebuah peta dunia digital berbasis jaringan satelit mandiri kini tersaji, memancarkan titik-titik cahaya biru murni di beberapa negara besar Asia Tenggara.
[Ding! Misi Global Tahap Pertama Diaktifkan...]
[Tugas: Lakukan Ekspansi Jaringan Energi 'Asura Core' dan Sistem Perbankan Digital ke Singapura, Malaysia, dan Thailand dalam waktu 30 Hari!]
[Hadiah Misi: Cetak Biru Teknologi 'Kedirgantaraan Tingkat Dewa' & Saldo Rekening senilai Rp 500 Miliar!]
Mendengar suara mekanis Sistem Penguasa Dewa yang kembali berdengung nyaman di dalam benakku, aku menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan ambisi besar yang siap menggetarkan panggung dunia.
Aku menoleh menatap Kirana, lalu menggandeng tangannya yang lembut.
"Kirana, bersiaplah. Kota ini sudah terlalu sempit untuk kita. Mulai besok, kita akan membawa nama Wijaya Group menembus pasar internasional dan membangun kekaisaran bisnis kita yang sesungguhnya di atas pucuk dunia."
Kirana tersenyum manis, membalas genggaman tanganku dengan erat, siap melangkah bersama menantu yang dulu dianggap sampah, namun kini telah menjelma menjadi sang Penguasa Dewa tanpa mahkota.