NovelToon NovelToon
Jodoh Beda Benua

Jodoh Beda Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cinta Karena Taruhan / Romansa Fantasi
Popularitas:418
Nilai: 5
Nama Author: fadiez

Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

“Ck…”

Nindi menghela napas panjang saat melangkah keluar dari café beberapa jam kemudian. Sore itu udara terasa sedikit lebih hangat, tapi tidak cukup untuk menghapus rasa kesal yang masih menempel di dadanya.

Kenapa sih orang itu harus seketus itu…?

Nindi mengusap pelipisnya pelan, lalu kembali melangkah menuju toko bahan makanan. Hari ini akhirnya datang, janji yang ia buat kemarin. Namun di sela langkahnya, bayangan percakapan dingin dengan Clay kembali muncul begitu saja di kepalanya.

Sudut bibirnya menegang tipis. Ia menghela napas kecil. Tapi tetap saja, Nindi bukan tipe orang yang menarik kembali janji yang sudah terucap.

Walau tidak semangat. Di dalam toko, Nindi mulai memilih bahan satu per satu. Tangannya bergerak cepat di antara rak sayuran segar, daging, dan bahan kering lainnya. Fokusnya mulai kembali, seperti biasa saat Nindi melakukan hal – hal yang disukai.

“Malam ini…? lasagne,” gumamnya pelan.

Nindi membayangkan lapisan pasta, saus daging yang dimasak perlahan, dan keju yang meleleh sempurna di dalam oven. Sudut bibirnya terangkat sedikit.

Kalau begitu, harus yang benar-benar nyaman dimakan.

Ia mengambil bahan tambahan lain. Untuk sayur, ia memilih kacang hijau yang akan ditumis ringan dengan bawang putih dan irisan almond. Lalu untuk minuman…?

“Es dawet…” gumamnya pelan, hampir seperti nostalgia.

Minuman dari kampung halamannya. Meskipun bahan di sini tidak sama persis, ia yakin rasanya tetap bisa membawa sedikit “rumah” ke meja makan malam ini.

Setelah selesai, Nindi menuju kasir. Saat ia sedang mengeluarkan dompet, seseorang berdiri di sampingnya dengan jarak yang dekat untuk disebut kebetulan.

Nindi menoleh.

“Clay?”

Pria itu berdiri santai, seolah memang sudah ada di sana sejak awal. Tanpa menjawab, ia langsung menggeser posisi di depan kasir.

“Aku yang bayar,” katanya singkat.

Nindi langsung mengernyit. “Eh, tunggu,”

Namun Clay sudah lebih dulu mengeluarkan ponselnya, lalu menempelkan pembayaran digital ke mesin kasir.

“Sudah.”

Sederhana. Cepat. Tanpa ruang diskusi.

Nindi mendengus pelan. “Aku bisa bayar sendiri.”

Clay hanya melirik sekilas. “Tidak masalah.”

Lalu, tanpa menunggu reaksi lebih jauh, ia mengambil kantong belanja itu dari meja kasir.

“Hey, itu barangku.”

“Aku tahu,” jawab Clay datar. “Makanya aku bawa.”

Nindi menghela napas panjang.

“Dasar… bule aneh!”

Namun ia tetap mengikuti Clay keluar dari toko.

Di luar, udara sore Fort Collins terasa tenang. Lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan cahaya hangat di sepanjang trotoar. Mereka berjalan berdampingan, tanpa benar-benar saling menyesuaikan langkah, tapi juga tanpa benar-benar menjauh.

Sunyi sesaat. Hanya suara langkah kaki dan angin yang bergerak pelan. Sampai akhirnya Clay mulai bersuara.

“Nindi.”

Ini pertama kalinya Clay memanggil namanya tanpa nada datar yang biasa.

Nindi menoleh sedikit. “Hm?”

“Aku boleh bertanya?”

“Silakan. Aku tidak pernah melarang orang bertanya.”

Clay meliriknya sekilas, lalu kembali ke depan.

“CMC itu… bagaimana kamu mendapatkannya?”

Nindi tersenyum kecil. “Rupanya kamu penasaran.”

“Aku hanya ingin tahu,” jawab Clay datar. “Sertifikat itu tidak mudah didapat.”

“Benar.”

“Jadi?”

Nindi menghela napas pelan. “Kerja keras. Pelatihan. Ujian. Dan banyak kegagalan juga.”

Clay mengangguk pelan. “Semua orang kerja keras.”

“Ya,” Nindi menoleh padanya, “tapi tidak semua orang bertahan sampai selesai.”

Kalimat itu membuat Clay diam sejenak.

“Jadi kamu bertahan.”

“Lebih tepatnya, aku dipaksa bertahan oleh mimpi sendiri.”

Clay meliriknya lagi. Kali ini sedikit lebih lama. “Sepertinya kita berdua sama.”

Nindi menoleh. “Maksudmu?”

Clay tidak langsung menjawab. Matanya kembali ke jalan di depan, tapi suaranya terdengar lebih rendah dari sebelumnya. “Aku juga harus berjuang mati – matian saat ingin mendapatkan SCA.”

Nindi mengangkat alis. “Kamu punya SCA?”

“Ya.”

Nindi tersenyum kecil. “Tidak heran kopimu enak.”

Clay mendengus pelan. “Itu bukan pujian yang asing.”

Langkah mereka terus berlanjut. Suasana di antara keduanya tidak lagi kaku, tapi juga belum benar-benar hangat. Seperti dua garis yang berjalan sejajar, tapi belum memutuskan akan bertemu atau tidak.

“Jadi,” Clay kembali membuka percakapan, “kenapa sekarang jadi barista?”

Nindi terdiam sebentar. “Karena ini juga bagian dari cita-citaku.”

“Cita-cita?” ulang Clay.

Nindi mengangguk kecil. “Dunia kuliner. Makanan. Minuman. Aku ingin menguasai keduanya. Asal kamu tahu juga punya SCA juga.”

“Oh ya?” Clay baru tahu informasi ini. “Ternyata kamu lebih ambisius dari pada yang ku duga.”

“Kelihatannya saja.”

Clay menoleh sedikit. “Maksudmu?”

Nindi tersenyum kecil. “Aku sebenarnya tidak terlalu ambisius.”

“Lalu?”

“Aku hanya ingin jadi menjadi seseorang yang bisa membuat orang lain bahagia lewat makanan dan minuman buatanku.”

Clay tidak langsung menjawab. Langkahnya sedikit melambat di samping Nindi.

“Jadi karena itu kamu belajar semua itu?” tanyanya akhirnya.

“Ya, kurang lebih begitu.” Nindi mengangguk kecil, matanya tetap ke depan. “Tapi ada alasan lain yang agak konyol, kalau dipikir sekarang.”

Clay melirik sekilas. “Apa itu?”

Nindi terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil seolah ragu apakah harus mengatakan ini atau tidak.

“Aku ingin menjadi istri yang baik.”

Langkah Clay berhenti sepersekian detik.

“A … Apa?” Suara itu keluar lebih pelan dari biasanya.

Nindi menoleh, lalu tertawa kecil melihat reaksinya. “Kan konyol?”

"Bukan konyol tapi seperti tidak nyambung."

Nindi menoleh. “Tidak nyambung bagaimana?”

Clay mengangkat sedikit dagunya, masih dengan nada datar khasnya. “Profesinya, dari Chef, barista, lalu lompat ke istri.”

“Semua itu saling berhubungan,” jawab Nindi tenang.

Clay menghela napas pelan, hampir seperti menahan tawa kecil yang tidak jadi keluar. “Coba jelaskan aku tidak mengerti.”

Nindi tersenyum tipis, lalu menatap jalan di depan mereka.

“Chef itu soal memberi makan orang. Barista juga begitu, tapi lewat minuman.”

Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan lebih pelan.

“Dan menjadi istri… itu juga soal merawat orang. Bedanya hanya bentuknya.”

Clay menatapnya lagi, kali ini lebih fokus. “Jadi menurutmu semuanya soal merawat?”

“Kurang lebih,” jawab Nindi ringan. “Aku suka melihat orang lain bahagia dari apa yang aku buat.”

Clay diam beberapa detik. “Dan kamu menganggap itu tujuan hidup?”

Nindi tidak langsung menjawab. Ia justru tertawa kecil, seperti sadar betapa serius pertanyaannya.

“Kalau kamu mengatakannya seperti itu kedengarannya jadi terlalu besar.”

Clay menoleh sedikit. “Memang besar.”

Nindi mengangkat bahu. “Aku tidak melihatnya sebesar itu. Aku hanya ingin hidupku berguna untuk orang yang aku sayangi.”

Ada jeda kecil setelah kalimat itu. Clay tidak langsung menanggapi. Langkah mereka tetap berjalan, tapi suasananya sedikit berubah lebih nyaman.

“Pikiranmu ini terlalu sederhana untuk orang yang ambisinya ‘menguasai dunia kuliner’,” gumam Clay akhirnya.

Nindi terkekeh. “Aku tidak bilang aku serius akan menguasai dunia.”

“Lalu?”

“Aku hanya ingin cukup baik untuk orang-orang di sekitarku.”

Clay meliriknya sekilas. Untuk sesaat, tidak ada sarkasme di wajahnya. Hanya pengamatan.

“Termasuk calon suamimu?” tanyanya datar.

Nindi mengangguk ringan tanpa ragu. “Iya.”

Clay terdiam lagi, lebih lama dari sebelumnya. Dan kali ini, dia tidak langsung menyanggah.

“Waktu kecil, aku selalu melihat ibuku memasak untuk keluarga kami.”

Clay mendengarkan.

“Ibu tidak pernah mengeluh. Dia selalu bilang, melihat kami makan dengan lahap sudah cukup membuatnya bahagia.”

Nindi tersenyum kecil, kali ini lebih lembut.

“Ayahku juga begitu. Dia selalu pulang tepat waktu hanya untuk makan bersama.”

“Jadi aku berpikir, begitulah rasa sayang dan cinta.”

Clay menoleh.

“Cinta?”

“Ya. Sederhana. Menyediakan makanan. Menunggu seseorang pulang. Merawat mereka.” Nindi menatap ke depan. “Aku ingin seperti itu.”

“Kalau begitu,” Clay akhirnya berkata pelan, “kamu harus menikah.”

Nindi tertawa kecil. “Ya, itu rencananya.”

“Dan kamu yakin ingin itu?”

Nindi menoleh padanya. “Kenapa tidak?”

Clay menghela napas. “Menikah hanya membuat semuanya jadi lebih rumit.”

“Seperti apa?”

Clay menatap jalan di depan mereka. “Tanggung jawab. Ekspektasi. Keterikatan.”

Nindi mendengarkan.

“Dan kebebasan.”

Nindi tersenyum kecil. “Jadi kamu takut kehilangan kebebasanmu?”

Clay tidak langsung menjawab. “…Mungkin.”

Jawaban itu lebih jujur dari biasanya.

Nindi menggeleng pelan. “Kalau kamu mencintai seseorang, kamu tidak akan merasa kehilangan kebebasan.”

Clay menoleh. “Justru kamu ingin menjaganya. Dan itu tidak membebani?”

“Tidak,” jawab Nindi pelan. “Itu justru alasan kenapa orang bertahan.”

Mereka berhenti sejenak di lampu merah. Kesunyian Kembali terasa. Hanya suara kota yang bergerak di sekitar mereka.

Clay menatap Nindi lama. Kali ini bukan seperti orang yang sedang membantah. Tapi seperti orang yang baru saja menemukan sesuatu yang tidak ia sukai, karena apa yang Nindi ucapkan tidak bisa ia sangkal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!