NovelToon NovelToon
Petani Ndeso Di Dunia Game

Petani Ndeso Di Dunia Game

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Romansa / Slice of Life
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Bima Saputra, seorang sarjana pariwisata yang hidupnya terjerat lilitan utang keluarga, kini terjebak menjadi juragan warung sayur di Kabupaten Jatiroso. Realita yang pahit, ibu sakit, dan pernikahan diam-diam dengan wanita impiannya, Dinda, membuatnya merasa terhimpit. Namun, nasibnya berubah drastis saat ponselnya kesetrum, membuka gerbang menuju ladang virtual game Harvest Moon! Kini, ia bisa menanam buah dan sayur berkualitas dewa yang tumbuh sekejap mata, memindahkannya ke dunia nyata, dan menjualnya untuk meraup omzet gila-gilaan. Dari semangka manis hingga stroberi spesial, Bima menemukan jalan ninjanya menuju kekayaan. Bisakah ia melunasi utang ratusan juta, membahagiakan ibunya, dan meresmikan pernikahannya dengan Dinda secara terang-terangan, tanpa ada yang mencurigai rahasia ladang gaibnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cipokan Ditonton Tupai! Pelanggan Pertama Tiba!

"Bos, Sampeyan udah dateng." Pak Darman langsung menghampiri begitu melihat Bima, Bu Laras, dan Dinda melangkah masuk ke lobi. Seperti biasa, ia bersiap menerima instruksi.

Mendengar pria itu memanggil putranya dengan sebutan 'Bos', senyum di wajah Bu Laras makin merekah. Di matanya, ini adalah bukti nyata kalau Bima sudah sukses besar. Hatinya sangat bangga.

"Bim, kowe cepet temenin Dinda keliling taman bunga sana. Ibu mau muter-muter lihat-lihat sendiri aja di sini." Bu Laras tentu paham jiwa muda yang lagi kasmaran, ia sengaja mendorong putranya agar bisa berduaan dengan Dinda.

Bima hanya bisa tersenyum dan akhirnya menuntun Dinda menuju lautan bunga bugenvil.

Di loket tiket yang berada di pintu masuk taman, Yaya sedang sibuk memberi instruksi pada salah satu staf pelayanan.

Hari ini adalah hari pembukaan, jadi harus bersiap siaga menyambut pengunjung kapan saja.

"Pagi, Bos!" Yaya dan staf tersebut langsung menyapa kompak saat Bima tiba.

Bima mengangguk pelan, lalu kembali menggandeng tangan Dinda memasuki area taman.

Dalam hitungan detik, Dinda langsung terbius oleh keindahan lautan bunga tersebut.

Sensasi melihat langsung di tempat ternyata jauh lebih memukau dibandingkan lewat video promosi semalam.

Sepanjang jalan setapak, ia tak henti-hentinya berdecak kagum. Puncaknya saat mereka tiba di titik pusat taman, berdiri di hadapan tiga pohon raksasa Bugenvil 7 Warna Kualitas 3. Pemandangan magis kupu-kupu yang menari di sekitar bunga membuat Dinda refleks mengeluarkan ponselnya untuk merekam dan memotret.

"Gimana, Sayang? Taman bugenvilnya cantik, kan?" Bima memeluk pinggang Dinda dari belakang, nada suaranya seolah meminta pujian. "Malam itu pas di hotel, kamu iseng nyeletuk soal taman bugenvil, aku langsung nancepin itu di otak. Spesial aku bangun ini buat kamu."

Bagi Dinda, kalimat itu jelas adalah rayuan maut yang paling manis. Tapi ia tak mau terlena begitu saja, pikirannya masih kepo dengan sumber dana suaminya. Dinda berbalik menatap Bima. "Mas, jujur sama aku! Vila ini, plus lautan bunga semegah ini, biarpun Sampeyan dapet miliaran dari jual ikan hoki itu, tetep aja nggak bakal cukup! Duit dari mana coba sisanya?!"

Bima memang sudah memprediksi kalau Dinda nggak bakal segampang ibunya buat dikibulin. Ia pun melanjutkan skenario kebohongan yang sudah disiapkannya. "Kan ikan itu aku jual ke sultan, Sayang. Sultannya tajir melintir, jadi kita lumayan akrab. Nah, aku iseng presentasiin ide vila ini ke dia, eh dia malah tertarik dan mau minjemin aku duit tambahan."

"Emang ada ya orang tajir yang mau minjemin duit miliaran gitu aja tanpa syarat aneh-aneh?" tanya Dinda curiga.

Bima terus ngeles, "Ya ada syaratnya dong. Dia tuh kan maniak ikan, syaratnya aku harus stand by nyariin ikan langka lagi buat dia kalau pas nemu. Oh ya, utang itu juga ada bunganya. Jadi otomatis, sekarang pundakku nanggung utang miliaran lagi ke dia."

"Hah?!" Dinda langsung mencubit gemas pinggang suaminya saking jengkelnya. "Mas Bima, Sampeyan iki pancen nekat! Urusan utang segede gaban gitu kok nggak ada rembukan sama aku blas?! Kowe nggak takut gagal bayar terus bangkrut apa?!"

Bima sih santai aja, wong semua itu cuma cerita karangan. Tapi ngeliat respons cemas Dinda, dia merasa taktik ini berhasil, jadi ia tancap gas. "Aku tuh cuma pengen judi nasib, Sayang. Biar bisa cepet sukses, terus bisa jemput kamu secara resmi ke orang tuamu dengan kepala tegak."

Mendengar kalimat tulus itu, amarah Dinda langsung mereda. Ia mendengus pelan lalu membalas tegas, "Ya udah, tapi janji sama aku. Mulai sekarang Sampeyan dilarang keras ngerokok, dilarang mabuk-mabukan, apalagi nyari mati main yang bahaya-bahaya! Sampeyan harus sehat terus! Kita kan udah resmi nikah, kalau Sampeyan kenapa-napa, utang miliaran itu siapa coba yang mau lunasin hah?!"

"Kamu kan tahu aku nggak pernah nyentuh rokok sama alkohol, main ekstrem juga nggak hobi." Bima mencondongkan wajahnya mendekati Dinda, lalu mengecup bibir wanita itu dengan lembut.

Dinda refleks melingkarkan lengannya ke leher Bima.

Keduanya larut dalam ciuman mesra yang cukup lama, hingga napas mereka terengah-engah dan terpaksa melepaskan pagutan. Tepat saat itu, suara cericit cicit-cicit terdengar dari atas kepala mereka.

Saat mereka mendongak, beberapa ekor tupai tampak berbaris rapi di atas dahan, menjulurkan kepala mungil mereka ke bawah, menatap polos aksi mesra sepasang manusia di bawah sana.

"Ya ampun..." Wajah Dinda seketika memerah padam. Rasanya bener-bener malu keciduk lagi cipokan, mana yang mergokin tupai pula!

Di luar kawasan Vila Dima.

Jalur masuk menuju vila terhubung langsung dengan jalan raya utama yang menghubungkan Kabupaten Sidoarjo dan Surabaya.

Sebuah sedan mewah Maybach 62S mendadak menepi tepat di dekat plang reklame Vila Dima.

Sopir mobil itu keluar untuk memeriksa kondisi ban, lalu membuka pintu belakang dan menunduk hormat kepada penumpangnya. "Pak Bos, tekanan angin ban belakang kanan nyaris habis. Kayaknya tadi sempet ngelindas paku pas lewat jalanan yang lagi diaspal itu. Ini kita harus nyari bengkel terdekat di kota kabupaten buat tambal ban. Kayaknya jadwal makan siang Bapak bakal sedikit molor."

Pria yang dipanggil 'Pak Bos' itu tak terlalu memedulikan masalah ban. Perhatiannya justru tersedot oleh plang reklame Vila Dima di pinggir jalan. Foto lautan bunga bugenvil di papan itu sukses menghipnotisnya. "Vila ini kelihatannya boleh juga. Mending Sampeyan drop saya di situ aja, sambil Sampeyan nyari bengkel buat tambal ban."

Pria itu bisa dibilang sudah sangat kenyang traveling ke berbagai vila resort kasta tertinggi di Indonesia. Tapi seumur-umur, baru kali ini dia nemu vila pinggir jalan yang berani masang plang reklame seartistik ini. Mahakarya visual macam ini pasti jepretan fotografer kelas dunia!

"Baik, Pak Bos," sopir itu mengangguk paham dan mengemudikan mobilnya membelok masuk ke area Vila Dima.

Sebenarnya, sopir itu juga takjub melihat reklame tersebut. Pikirnya, gila aja vila kabupaten kecil bisa nyewa jasa fotografer sultan buat bikin iklan.

Bima dan Dinda baru saja melangkah kembali ke lobi utama ketika seorang pria necis berbalut jas elegan berjalan masuk.

Jelas, ini adalah tamu!

Pria bernama Bos Candra itu awalnya berekspektasi tinggi. Setelah melihat reklame estetik di luar, ia ngira dalemannya bakal sekelas resort bintang lima. Tapi nyatanya? Begitu masuk ke lobi, ekspektasinya langsung hancur lebur.

Lobi ini ukurannya standar aja, tapi dijejalin banyak meja makan. Terus di tengah-tengahnya malah ditaruh rak display buah-buahan ala pasar swalayan. Bener-bener kelihatan sumpek dan murahan.

Melihat ada calon pelanggan, Yaya langsung sigap memasang senyum profesionalnya dan menghampiri, "Selamat datang, Pak! Di Vila Dima ini kami punya fasilitas utama taman bunga bugenvil, terus ada juga wahana Outbound tali temali sama Seluncuran Rumput buat rekreasi keluarga..."

Namun, Bos Candra sama sekali tak menggubris ocehan Yaya. Matanya malah melotot tajam menatap rak buah di tengah lobi.

Bukan karena penataan buahnya, melainkan karena banderol harganya!

Stroberi biasa Rp 50.000 dan Rp 100.000 per kilogram. Semangka biasa Rp 4.000 dan Rp 20.000 per kilogram. Harga ini masih sangat wajar.

Tapi pas matanya geser ke rak sebelahnya... ada label harga yang bikin otaknya konslet: Stroberi Rp 800.000 per kilo! Semangka Rp 400.000 per kilo! Dan okra... Rp 1.600.000 per kilo?!

Bukannya dia ini wong ndeso yang miskin literasi buah premium. Dia sering kok jajan buah impor kelas atas. Tapi masalahnya, buah kasta sultan dengan harga sedeng begini tuh tempatnya di supermarket VIP atau restoran Michelin Star, bukan ngegeletak di rak lobi vila kelas teri macam ini!

"Lho?!" Bos Candra tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke kolam kaca besar tak jauh dari rak buah. "Iki... ikan liar tangkapan alam tah?!"

Di dalam kolam itu, berenang santai 6 ekor ikan raksasa. Sebagai maniak mancing, instingnya langsung mengenali kalau itu adalah ikan Mas, ikan Patin, dan ikan Gurame yang murni tangkapan alam liar.

Dan yang bikin dia merinding, ukuran monster begini tuh gaib di pasaran! Punya duit segepok pun belum tentu bisa beli. Eh, ini malah dipajang berjejer 6 ekor sekaligus di vila antah-berantah.

Melihat ketertarikan tamunya, Yaya langsung nyahut, "Wah, Bapak pinter banget! Bener Pak, itu ikan Mas, Patin, sama Gurame asli liar tangkapan alam."

"Tolong potongin satu buat saya!" cetus Bos Candra tanpa babibu, bahkan tak nanya harganya.

Buat konglomerat macam dia, harga itu nomor sekian. Yang penting itu barang langkanya!

Melihat mangsanya udah masuk perangkap, Yaya melancarkan strategi 'upselling'. "Oh ya, Pak, di kolam pancing luar kami juga stok ikan liarnya buanyak banget lho! Bahkan ada beberapa ekor ikan monster kayak di akuarium ini yang sengaja dilepas di sana. Kalau Bapak hobi, Bapak bisa nyewa joran di sini buat ngerasain sensasi narik ikan raksasa liar!"

"Banyak ikan liar? Ada yang seukuran monster ini juga?!" Bos Candra mendengus sinis.

Bocah ini pasti lagi ngibulin gue!

Ikan liar emang banyak, tapi yang size monster begini? Ngaco! Juragan pasar ikan terbesar di Surabaya aja nggak bakal berani sesumbar punya stok ikan liar monster.

Menurut Bos Candra, bos vila ini bisa dapet 6 ekor di akuarium ini aja udah murni mukjizat alam.

Tapi karena Yaya menantangnya dengan wajah serius tak berdosa, jiwa pemancing Bos Candra langsung terpancing. Pemancing mana sih yang nggak ngiler sama tawaran narik ikan raksasa?

"Oke, Mbak, siapkan dua joran buat saya!" tantang Bos Candra. Sambil menunjuk rak stroberi sultan, ia menambahkan, "Sama tolong bungkusin stroberi yang harga Rp 800 ribu sekilo itu buat saya dua kilo. Biar saya ada cemilan pas mancing, sekalian mau ngetes rasanya, selevel nggak sama buah impor elit."

"Siap, laksanakan, Pak!" Yaya tersenyum girang, target acquired! Ia langsung menyuruh staf lain untuk menimbang stroberi, sementara ia sendiri melayani penyewaan alat pancing Bos Candra.

Harga sewanya juga receh kok, satu joran dipatok Rp 40.000, kalau dua berarti Rp 80.000. Ditambah pelet umpan Rp 90.000.

Tapi saat menyerahkan joran tersebut, Bos Candra langsung geleng-geleng kepala kecewa.

Jorannya ampas banget, umpan peletnya juga bau tengik! Kalau aja mobilnya nggak lagi dibawa ke bengkel, dia mending pakai joran custom miliaran miliknya yang ada di bagasi.

Kekecewaannya makin menjadi-jadi saat ia digiring ke area pemancingan. Nggak ada gazebo mewah, cuma disediain bangku bakso kecil sama meja lipat reyot yang menghadap langsung ke kolam air keruh.

Sumpah, ini spot mancing paling mengenaskan yang pernah dia datengin! Dibanding arena wild fishing langganannya, tempat ini berasa kayak comberan.

Sambil merutuk dalam hati, Bos Candra dengan cekatan memasang umpan, melempar kail, lalu duduk pasrah menunggu.

Saat pelayan vila membawakan pesanan stroberi sultan yang sudah dicuci bersih, Bos Candra mencuci tangannya sebentar. Ia memungut satu buah stroberi gemuk berwarna merah merona itu dan menggigitnya santai sambil matanya terus mengawasi pelampung kail.

Namun, saat gigitan pertama itu lumer di lidahnya... Bos Candra seketika membeku. "R-Rasa stroberi ini...!"

1
Maz Shell
lanjut update
Yuliana Tunru
kapqnnih kejutan x buat dinda ..pasti dinda ternehek2 takjub bina sdh jd orkay 🤭🤭
Maz Shell
lanjutkan Thor
Yuliana Tunru
mantap bima hrs jd suami setia hempaskan cwek2 halu sok cantik pula mulut x penuh filter racun 🤭🤭
Yuliana Tunru
bima mmg the best tak sabar nunghu oeresmian vila oleh dinda jgn lupa klga x dinda ya sekian lamaran resmi ke ihu x dinda vila jd mas kawin bakqlqn shock habis tuh ibu2 💪💪💪bima up 3 napa thorrr blm puas ini
Tio Kusuma
mantappppp
Manusia Biasa
auto diborong🤣
Hardjoe Kewek
terima kasih
Hardjoe Kewek
cerita nya bagus,alurnya jg bagus
Jujun Adnin
lanjut
Yuliana Tunru
tak sabar gmn para karyawan bima yrrmehek2 liat bijit tanaman bogenvile x di tata aplg yg kelas sultan up x kurang thorrr 🤭🤭🤭
ZHIVER
thor tak bisa bahasa jawa
Yuliana Tunru
kwalitas gila tuh tak sabar nunggu bima nanam semua hunga di tanah koßoang trus buat gazebo2 buqt qisatawan nikmati ..cuan ngalir kyk air 💪💪 bimaa
Yuliana Tunru
smoga bimo yg dapat vila x buat hadiah pernikahan x dgn dinda ..gassss
Jack Strom
Lah dapat ikan hias legend, masalahnya mau diletak dimana itu ikan???🤔😁
Blue Izoel
tetap semangat thor bikin cerita petani 👍💪
Jack Strom
Ikan² kualitas 2 gak usah dijual, buat dikonsumsi saja, sayang efeknya tuh... 😁
Jack Strom
Selain lunasi pinjaman 100jt, juga kasih bantuan nikah 50jt cukup... 😁
Yuliana Tunru
mantal bima...bayarin utang2 mu duku bima hbs tuh siap2 ngumpuli buat beliin dinda rmh jd lapang tuh hati
Blue Izoel
update terus thor bakal saingan nih sma lahan mustika klo bnyk episode nya👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!