Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.
Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.
Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Pertemuan Tak Terduga
"Terima kasih ya, Nak, sudah membantu Ibu," ujar wanita paruh baya yang mereka tolong.
Safa dan Arlan mengangguk.
"Hati-hati ya, Bu. Nanti jangan lupa kontrol ke rumah sakit," tutur Safa terlihat khawatir.
Ibu itu tersenyum, lalu mengusap lembut lengan Safa. "Iya, Nak. Nanti Ibu pasti kontrol ke rumah sakit. Oh, iya. Kamu sangat cantik dan baik. Ibu punya cucu yang seumuran denganmu, apa kamu mau berkenalan dengannya, Nak?"
Dengan senyum dipaksakan, Safa menoleh ke arah suaminya. Bibirnya terkatup rapat saat menyadari tatapan Arlan begitu dingin menusuk.
Seketika tubuh mungil Safa didekap rapat oleh Arlan. "Maaf sebelumnya, Bu. Gadis kecil ini istri saya. Jadi sepertinya dia tidak bisa berkenalan dengan cucu Ibu."
Egar dan Farah yang berdiri di belakang mereka sempat terkikik geli melihat kecemburuan Arlan.
Wanita itu seketika celingukan merasa malu, lalu tertunduk meminta maaf. "Oalah, jadi kamu istrinya? Aduh, maaf kalau begitu. Ibu tidak tahu."
Safa membalasnya dengan senyuman ramah. "Tidak apa-apa, Bu. Saya berterima kasih untuk niat baik Ibu."
Tak lama kemudian, sebuah mobil taksi mendekat.
Arlan segera membukakan pintu mobil untuk wanita paruh baya itu. "Silakan, Bu. Mobilnya sudah menunggu."
Ibu itu segera masuk ke dalam taksi yang sengaja Arlan pesan. Takut terjadi sesuatu di jalan, Arlan bahkan sudah membayar ongkos taksi tersebut agar mengantarkan sang ibu sampai ke depan rumah.
"Baiklah, Ibu pergi dulu. Terima kasih ya, Nak," ucapnya sambil melambai.
Setelah mobil melaju meninggalkan mereka, Safa berbalik ke arah Arlan dengan wajah cemberut.
Arlan celingukan, bingung melihat ekspresi istrinya. Ia menatap Egar seolah meminta pertolongan, namun Egar hanya mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh.
"Mas ..." rengek Safa. Pesannya yang diabaikan menjadi alasan mengapa ia merajuk.
"Kamu tidak membalas pesanku dan tiba-tiba bilang akan pulang telat, tapi kok sekarang kamu ada di sini?" cecar Safa tanpa jeda.
Arlan kebingungan menjawab pertanyaan itu. Tak mungkin juga ia mengaku baru saja memberi pelajaran kepada pencuri.
Takut Safa salah sangka, ia segera menggiring istrinya menuju mobil. "Nanti Mas janji akan jawab pertanyaanmu. Tapi sekarang, kamu ikut Mas dulu, ya?"
"Kita mau ke mana?"
"Nanti kamu juga tahu. Ayo ..." Arlan mendorong pelan punggung sang istri, memintanya untuk segera masuk.
Begitu berada di dalam mobil, Safa teringat akan sahabatnya. "Tapi ... Farah bagaimana?"
Arlan memiringkan kepalanya, memberi isyarat agar Safa mundur sedikit supaya ia bisa menutup pintu mobil. "Kan ada Egar. Biar dia yang mengantar temanmu, ya?"
Safa menurunkan kaca mobil lalu menatap ke arah sahabatnya. Farah yang mengerti situasi segera mengangguk seolah memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja. Safa pun melambaikan tangan saat mobil mulai melaju pergi.
Suasana seketika berubah canggung. Farah memegang erat tali tasnya, bingung harus berbicara apa dengan pria di sampingnya.
"Fuhhh ... lagi-lagi ditinggal. Selalu saja aku yang jadi korban," gerutu Egar yang tampak kesal.
Mendengar desahan tidak suka lelaki itu, Farah mendengus sebal. "Oh, jadi merasa jadi korban karena harus mengantarku?"
Egar otomatis menutup mulutnya, baru sadar dengan keberadaan Farah. Ia perlahan berbalik dan terkejut melihat Farah yang sudah melotot ke arahnya.
"E ... itu .... Bukan kok, mana mungkin aku mengeluh," elaknya.
Farah yang sudah terlanjur kesal berjalan meninggalkannya begitu saja. Namun, karena merasa memiliki tanggung jawab, Egar segera menyusulnya.
"Mau ke mana?" tanya Egar sambil berusaha menyejajari langkah.
"Mau pulang!" sentak Farah ketus.
Tanpa banyak bicara, Egar menarik tangan Farah dan membawanya ke arah mobil Safa yang ditinggalkan.
Sebelum pergi ke tempat kajian, Safa memang sempat menghampiri Farah. Namun, asisten Luna tidak ikut karena ada keperluan lain. Alhasil, malam ini mobil Safa akan dikemudikan oleh Egar.
"Aku akan mengantarmu. Aku bisa dimarahi Nyonya Arlan kalau kamu pulang sendiri," jelas Egar sembari membuka pintu mobil.
"Bodo amat! Aku tidak peduli," ketus Farah sambil menyentak tangannya kasar.
Egar dibuat geleng-geleng kepala melihat sikap merajuk gadis itu. Sifat Farah jelas berbeda jauh dari Safa yang lemah lembut, Farah jauh lebih galak dan ketus.
Namun, Egar tidak mudah menyerah. Ia kembali meraih tangan Farah dan menariknya masuk ke dalam mobil, sementara sebelah tangannya yang lain melindungi kepala Farah agar tidak terantuk kap mobil.
Farah sedikit tersentak, namun perhatian kecil itu berhasil meluluhkan kekesalannya. Dengan bibir mengerucut, ia akhirnya duduk dengan tenang di samping kemudi.
"Kita ke suatu tempat dulu sebelum aku mengantarmu pulang, ya. Aku harus menjemput seseorang," ungkap Egar.
Farah hanya memutar bola matanya malas. Melihat respons itu, Egar hanya menggeleng pelan sambil menginjak pedal gas untuk melajukan mobilnya.
Di sepanjang jalan, mereka hanya membisu. Merasa canggung dengan kesunyian yang tercipta, Egar memutar musik. Alunan musik mendayu memecah keheningan, menciptakan suasana yang sedikit lebih tenang.
Tak lama kemudian, mobil melambat saat tiba di sebuah gedung bertingkat. Egar memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, lalu segera turun untuk menunggu di depan pintu mobil.
Beberapa saat kemudian, segerombolan anak-anak keluar dari dalam gedung. Tempat itu rupanya adalah tempat les piano.
Terlihat seorang anak perempuan dengan rambut diikat pita manis berjalan mendekat ke arah mereka.
"Siapa dia? Anaknya, ya?" gumam Farah yang memperhatikan dari dalam mobil.
"Ayah!" teriak gadis kecil itu sambil berlari ke arah Egar.
Egar membuka kedua tangannya lebar-lebar, menyambut hangat sang buah hati yang bernama Lily. Mereka berpelukan dengan begitu erat dan penuh kasih sayang.
Farah menatap pemandangan itu dalam-dalam. Sebuah kehangatan yang tidak pernah ia dapatkan dalam hidupnya. Ia merasa iri pada gadis kecil itu karena bisa merasakan pelukan tulus dari seorang ayah.
Pintu mobil kemudian terbuka. Lily duduk di kursi belakang dengan tenang, namun matanya menatap Farah dengan penuh rasa penasaran.
"Ayah, dia siapa? Pacar baru Ayah?" tanya Lily dengan nada datar, terdengar sangat tidak suka.
Farah dan Egar langsung salah tingkah. Mereka serentak menoleh ke arah Lily sambil melambaikan tangan tanda membantah. Namun, Lily hanya mendengus tidak percaya.
Merasa terpojok, Farah hanya bisa bersandar lemas. 'Apa-apaan ini? Kenapa dia menyangka aku pacar ayahnya?' batinnya kesal.
"Bukan, Sayang. Jangan sembarangan, ah. Kakak ini temannya Om Arlan, tahu. Ayah hanya sekadar mengantarkannya pulang," jelas Egar sambil tersenyum geli.
Lily hanya menatap sekilas, lalu membuang muka dengan sebal. Mobil pun kembali melaju membelah padatnya jalanan sore itu menuju rumah Farah.
Sementara itu di mobil lain, Safa masih menuntut penjelasan dari suaminya. Ia terus menatap Arlan dengan pandangan penuh selidik.
"Katakan, Mas. Bagaimana kamu bisa ada di sana?"
Arlan tersenyum gemas melihat tingkah Safa. Namun di sisi lain, ia juga merasa malu untuk mengakui bahwa belakangan ini ia sering mengikuti kajian. Ada bisikan di dalam hatinya untuk kembali memperbaiki diri dan belajar menjadi imam yang lebih baik untuk istrinya.
Ingin mengakui, namun egonya ternyata masih menang. "Tadi saat mau pulang, Egar mengajak Mas ke tempat itu. Ya ... Mas terpaksa ikut Egar."
Safa tersenyum lebar. Bagaimanapun juga, fakta bahwa Arlan sudah berusaha dan mau menginjakkan kaki ke tempat kajian adalah sebuah pertanda yang sangat baik. Ia tidak ingin bertanya lebih banyak lagi karena takut membuat Arlan merasa tidak nyaman.
Namun, saat menyadari jalan yang mereka lalui, Safa mengernyit bingung. "Loh, kita mau ke mana, Mas? Ini bukan jalan menuju ke rumah kita?"
Arlan hanya melempar senyuman misterius. Sebuah senyuman yang sulit diartikan, yang justru membuat Safa semakin penasaran.