Dimas Saputra seorang pemuda tampan yang sholeh, mendapatkan hati seorang wanita cantik yang kaya raya.
Seorang pemuda yang bekerja di sebuah perusahaan besar milik keluarga Haristian, kini telah memikat hati seorang putri cantik dari pemilik perusahaan tersebut.
Berawal dari kehidupan yang sederhana, membuat dirinya merasa tak pantas untuk mendampingi wanita yang begitu terlihat sempurna. Namun kenyataannya jika yang kuasa sudah berkehendak, semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enchya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
"Yang apa ya, ih pokoknya gitu deh, Lisa ga suka. Pokoknya Lisa ga mau ya mama atau papa maksa Lisa buat kenalan-kenalan ga jelas gitu lagi, sebenarnya banyak mah yang mau sama Lisa. Tapi memang Lisa yang ga mau. Jadi stop buat acara kenal-kenalan atau perjodohan. Lisa ga suka." ucap Lisa penuh penekanan.
"Iya sayang, mama sama papa ga maksain kamu kog, cuma mama sama papa pengen memberi yang terbaik sama kamu, papa kan takutnya kamu salah pilih nantinya. Siapa tau juga kalau kalian berjodoh kan nantinya hidup kalian juga terjamin, dia sudah mapan, masih muda tapi sudah punya perusahaan sendiri lagi, keren kan?." Ujar mama Ita.
"Pokoknya Lisa ga mau mah, Lisa bisa nyari cowo sendiri, ga perlu pake di kenal-kenalin kek gitu lagi. Lisa tuh maunya sama orang yang bener-bener sayang sama Lisa dan juga yang Lisa cintai." Ucap Lisa dengan nada kesalnya karena mamanya masih membanggakan si Faris yang ga jelas itu.
"Ya uda deh iya." jawab mama Ita mengalah.
hening
hening
hening.
Lisa fokus dengan acara tv yang dia tonton, mama Ita juga ikut menikmati acara tersebut, tak lama kemudian papa Adit pulang.
Ting tong ting tong
Bi Inah membukakan pintu.
"Selamat malam tuan." ucap bi Inah menyambut papa Adit.
"Malam bi, kog sepi bi? dimana Lisa sama Ita?" tanya papa Adit.
"Ada tuan di ruang keluarga, tuan mau minum apa? biar bibi buatkan" ujar bi Inah.
"Kopi susu aja bi, jangan manis-manis ya." jawab papa Adit sambil berjalan menuju ruang keluarga.
"baik tuan." jawab bi Inah.
"Papa baru pulang." sapa mama Ita kemudian mama Ita berdiri di susul dengan Lisa yang berdiri dan mereka berdua mencium tangan papa Adit bergantian.
"Iya mah, tadi ada kerjaan penting yang harus selesai hari ini juga. jadi papa lembur sebentar." jawab papa Adit.
Mama Ita meraih tas kerja yang di berikan papa Adit, kemudian mereka berjalan ke kamar mereka. Lisa di tinggal sendiri di ruang keluarga itu, dan dia mendudukkan dirinya kembali di sofa.
Tak lama bi Inah datang membawakan minuman papa Adit.
"Taruh di meja aja bi, papa paling mau mandi dulu." Ucap Lisa yang masih fokus menonton tv.
"Iya non, non Lisa mau bibi buatin apa?" tanya bi Inah.
"Ga usah bi, duduk aja disini." Ucap Lisa sambil menepuk sofa kosong di sebelahnya.
"Bii, apa bibi yang ngomong sama mama kalau selama ini Lisa ngadu sama bibi soal mama yang ga pernah perhatiin Lisa?". lanjut Lisa setelah bi Inah duduk di sebelahnya.
"Ga non, bibi ga ada ngomong apa-apa sama nyonya, memangnya kenapa non?" tanya bi Inah penasaran.
"Ga ada apa-apa sih bi, cuma tadi pas Lisa pulang mama kan di rumah, Lisa tanyain tumben mama dirumah ga kerja gitu, mama menjelaskan tentang Lisa yang...." ucapannya menggantung.
"Yang apa non?" tanya bi Inah lagi.
"Yang Lisa merindukan kasih sayang mama, pokoknya yang sering Lisa ceritain ke bibi. Mama tau semuanya dan sekarang mama berhenti bekerja. Ssekarang smuanya mama serahkan sama karyawannya dan mama cuma dateng buat ngecek laporan aja." jelas Lisa menerangkan ke bi Inah.
"Syukurlah non kalo gitu, berarti nyonya udah sadar sekarang kalau selama ini nyonya tidak pernah mengasihi non Lisa." Jawab bi Inah sambil tersenyum senang karena mendengar cerita Lisa.
"Iya bi, Lisa juga seneng karena sekarang mama menunjukan dia sayang sama Lisa, demi Lisa sekarang mama rela buat ga kerja lagi, mama berubah menjadi mama seperti yang Lisa mau selama ini. Tapi mama tau dari mana ya bi?" Ucap Lisa lagi masih dalam mode bingung.
"Mungkin nyonya melihat sesuatu di kamar non Lisa." Jawab bi Inah.
"Apa mungkin ya bi?" jawab Lisa lagi.
"Ya siapa tau non." ucap bi Inah lagi.
Kemudian Lisa berdiri dan naik ke lantai dua untuk masuk ke kamarnya. Lisa membuka pintu kamarnya dan benar saja, Lisa melihat buku diary nya yang tergeletak di meja samping tempat tidurnya.
Lisa sendiri yang lupa menaruhnya di laci setelah menulis untuk mengeluarkan curahan hatinya.
"Oh jadi karna ini mama tau semuanya." Ucap Lisa bicara sendiri.
Kemudian Lisa mulai menuliskan kata hatinya lagi.
"Tuhan, terima kasih sekarang mama sudah berubah, sekarang mama membuktikan kalau dia sayang sama Lisa. lisa juga sangat sayang sama mama dan papa."
"siang ini aku bertemu dengan seorang pria yang sederhana. Tak tau kenapa ada rasa yang beda dalam diriku, memang baru pertama kali itu aku melihatnya tetapi aku merasa ingin tau lebih jauh tentang dia. Bahkan wajah tampannya selalu menghiasi fikiranku. Rasa apa ini sebenarnya?"
Lisa menulis curahan hatinya sambil berguling di tempat tidurnya. Dia memeluk buku diary yang baru di tulisnya dan tak lama dia pun terlelap.
.
.
.
Dimas
Usai mandi dan sarapan, Dimas mengendarai motornya menuju tempat kerjanya. Baru berjalan beberapa menit Dimas melihat mobil terparkir di pinggir jalan, Dimas berhenti dan menanyakan kepada pemiliknya.
"Assalamu'alaikum, ada apa pak? apakah ada masalah dengan mobilnya?" tanya Dimas dengan sopan.
"Wa'alaikumsalam, iya ini mobil saya tiba tiba mogok, saya telepon sopir rumah juga ga diangkat, padahal saya lagi buru-buru ada meeting pagi ini." Jawab papa Adit sambil melihat jam tangannya.
"Bolehkah saya melihatnya pak?" Ucap Dimas lagi.
"Boleh silahkan." jawab papa Adit.
Setelah mengecek beberapa menit, Dimas menutup kembali mobilnya.
"Coba bapak nyalakan lagi pak." Ucap Dimas.
Papa Adit mencoba menyalakan mobilnya, dan berhasil. Wah ini sudah nyala, terima kasih ya. Kemudian papa Adit mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang seratus ribuan untuk di berikan ke Dimas.
"Ini untukmu, terima kasih sudah membantu saya." Ucap papa Adit sambil memberikan beberapa lembar uang.
"Tidak usah pak terima kasih." Ucap Dimas sambil mengulurkan tangannya menolak pemberian papa Adit.
"saya ikhlas membantu bapak, saya tidak mengharapkan semua ini pak." Lanjut Dimas menolak dengan halus.
"Sudah ini terima saja, ini sebagai imbalan karna kamu sudah membantu saya." Paksa papa Adit.
"Terima kasih pak, saya sangat menghargai pemberian bapak, tapi saya menolong bapak dengan ikhlas." Jawab Dimas lagi.
"Ya sudah, ini kartu nama saya, jika suatu saat kamu butuh apa-apa kamu bisa menghubungi saya." Ucap papa Adit sambil memberikan kartu nama.
"Terima kasih pak." Ucap Dimas sambil menerimanya.
"Saya yang harusnya berterima kasih kepadamu, berkat kamu saya jadi tidak terlambat ke kantor." Lanjut papa Adit.
"Iya pak sama-sama." Jawab Dimas
"Ya sudah, maaf saya duluan karena saya lagi buru-buru. Terima kasih sekali lagi." Ucap papa Adit.
"Iya pak silahkan." jawab Dimas.
Papa Adit menaiki mobilnya dan melajukan ke kantor miliknya. Dimas juga langsung mengendarai motornya menuju resto.
**author sangat mengharapkan komentar kalian para reader, buat author semangat yaaa,,, dan jangan lupa vote juga yaaa🙏