NovelToon NovelToon
Istri Sempurna Pilihan Oma

Istri Sempurna Pilihan Oma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Oma frustasi memikirkan di dunia yang sudah berusia 33 tahun, mapan dalam pekerjaan tetapi tidak kunjung menikah. Melihat sekretaris Emir yang memiliki kepribadian yang baik membuat Oma kepikiran untuk menjodohkan mereka.
Sudah pasti Emir menolak, Oma melakukan berbagai hal sampai akhirnya Emir dengan Ayana pilihan Oma bersatu dalam jeratan pernikahan.

Bagaimana keduanya menjalani pernikahan dan hubungan pekerjaan yang cukup dekat?
Apakah pada akhirnya keduanya sama-sama memiliki perasaan atau justru pernikahan mereka tidak ada bedanya dan hanya sebatas pekerjaan saja.

Mari untuk membaca Novel Saya dari bab 1 sampai akhir, dan terus ikuti jawabannya di setiap bab.

Terimakasih....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9 Terjebak

Karena rumah itu hanya memiliki dua kamar saja. Kamar Ayana sewaktu kecil dan kamar Nenek dan Kakek, sementara Paman Ayana memang tinggal bersebelahan dengan rumah Neneknya dan juga tidak memiliki kamar lain.

Emir meminjam kamar sebentar untuk berganti pakaian. Emir baru saja dari kamar mandi sudah mengganti pakaiannya menggunakan kaos putih dengan celana hitam panjang.

Emir sejak tadi tidak protes dengan tempat tinggal tersebut, karena memang sudah dijelaskan Ayana sebelumnya bahwa kesulitan untuk mendapatkan tempat tinggal karena masih ada warga yang tidak setuju untuk rumahnya ditempati sementara.

Sekadar hanya merapikan pakaian sebentar. Mata Emir pada foto yang terdapat di atas markas. Gadis cantik memakai seragam SMP dengan memegang kedua pialanya. Siapa lagi gadis tersebut sudah pasti Ayana yang memang sangat berprestasi di sekolahnya.

Mata Emir juga melihat banyaknya lembaran sertifikat yang tertempel di dinding, piagam bergantungan dan piala begitu banyak dan semua keterampilan dan hobi yang di Ayana.

Meski mengalami kehidupan yang begitu sulit dengan perpisahan dari kedua orang tuanya. Tetapi Ayana tentu menjadi gadis berprestasi, mandiri dan bahkan belajar agama sendiri untuk mendekatkan diri kepada sang penciptanya.

Menurut Ayana apa yang dia dapatkan saat ini tidak terlepas dari pemberian penciptanya yang membuatnya lebih istiqomah dalam memperbaiki diri dan menata diri.

Sudah pasti Emir adalah bagian dari semua itu. Saat pertama kali mengenal tulisan pada saat berusia 16 tahun, menerimanya untuk magang perusahaannya karena memenuhi tugas sekolah.

Emir menerima dan memberi kesempatan untuk melanjutkan bekerja di perusahaannya sampai akhirnya perkembangannya mulai terlihat, dimulai dari nol dari posisi paling bawah sampai akhirnya menjadi sekretaris.

Tok-tok-tok.

Emir mengalihkan pandangannya ke arah pintu dengan terbuyar dari lamunannya ketika pintu itu diketuk membuatnya menghampiri pintu tersebut.

"Maaf, Pak, sudah mengganggu. Nenek sudah menyiapkan makan malam," ucap Ayana.

"Saya sudah makan," jawab Emir.

"Pak, tidak ada salahnya untuk makan sedikit saja, tidak enak jika menolak, Nenek juga tidak akan memasak sebanyak itu jika saya sendiri yang datang," ucap Ayana.

Emir menghela nafas, "baiklah," jawabnya tidak punya pilihan lain.

*****

Hari pertama Ayana dan Emir memeriksa proyek dari Perusahaan tersebut. Emir memeriksa para mandor yang bekerja di sana, memberi arahan dan juga menerima laporan.

Ayana juga ikut membantu segala keperluan yang dibutuhkan oleh Emir. Enaknya jika proyek berada di desa, cuaca terasa dingin dan tidak perlu kepanasan seperti di kota Jakarta, suasana juga terasa begitu adem, angin sepoi-sepoi sejak tadi bertiup membuat pashmina yang dikenakan Anaya terus aja bergoyang bagian bawahnya dan bahkan sesekali sampai menutup wajah.

"Pak Emir!" seorang warga tiba-tiba saja datang menghampiri Emir dengan bersalaman pada Emir.

"Jika sudah selesai bekerja mampir ke rumah saya terlebih dahulu, istri saya tadi membuat makanan," ucap pria tersebut ingin menjamu tamu dari kota itu.

"Nanti saya akan mampir," sahut Emir.

Emir merasa segan jika harus menolak dan apalagi warga desa terlihat menyambutnya sangat hangat.

"Saya sangat berterima kasih dengan pembangunan proyek di desa kami, desa ini akan lebih maju dan anak-anak muda di desa ini mendapatkan pekerjaan, karena pekerjaan proyek ini melibatkan warga desa," ucap pria tersebut.

"Sama-sama, kita sama-sama berdoa semoga proyek ini cepat selesai," ucap Emir.

"Pasti pak Emir," sahut pria itu dengan tersenyum dan arah matanya tertuju pada Ayana.

"Ayana kamu beruntung sekali bekerja di Perusahaan yang tepat, kamu bahkan tidak sombong dan ikut mengembangkan desa kita dan membuat anak-anak mudah di desa ini juga memiliki semangat bekerja keras yang besar," pria itu juga tidak lupa memberikan pujian kepada Ayana.

"Tidak perlu berlebihan seperti itu. Pak, saya hanya sebisanya mengerjakan apa yang harus saya kerjakan," sahut Ayana.

"Kamu anak muda yang sukses," ucap pria tersebut tidak berhenti memberi pujian.

Banyak kegiatan yang dilakukan Ayana dan juga Emir dari pagi sampai sore hari, keduanya saat ini berjalan di pinggir sawah menuju kediaman Nenek.

"Bagaimana dengan tempat tinggal yang kamu katakan?" tanya Emir.

Sudah semalaman dia hanya tidur di sofa karena memang tidak mungkin Ayana tidur di luar dan sementara dia dikamar.

"Hmmm, sebelum isya saya akan kembali menanyakannya kepada pemilik rumah yang bersangkutan dan semoga saja beliau sudah mengosongkan untuk sementara," jawab Ayana.

"Baiklah kamu lakukan saja, sepertinya urusan kita di tempat ini akan cepat selesai, kita juga sudah bertemu dengan vendor dan juga sudah banyak yang diselesaikan, kemungkinan lusa juga kita bisa kembali," ucap Emir perkiraan mereka memang 4 hari paling cepat berada di desa dan siapa sangka dalam satu hari pekerjaan sudah banyak selesai dan kemungkinan hanya membutuhkan waktu satu hari lagi untuk berada di desa itu.

"Kalau begitu apa perlu saya kembali menanyakan pemilik rumah?" tanya Ayana.

"Punggung saya sakit dan tubuh saya bisa remuk jika tetap tidur di tempat ini!" tegas Emir.

"Baik. Pak, kalau begitu saya akan kembali tanyakan pemilik rumah," sahut Ayana.

"Hmmmm," jawab Emir dengan deheman.

*****

Cuaca di desa ternyata cukup memburuk, sejak tadi sore hujan turun sampai malam-malam seperti ini.

Ayana baru saja menutup pintu karena Nenek dan Kakek pergi, sementara Emir mengobrol dengan salah satu warga yang tidak jauh dari rumah Nenek yang sudah pasti membicarakan masalah tentang pekerjaan.

"Aku sebaiknya mandi dulu!" ucap Ayana memasuki kamarnya.

Ayana melepas hijabnya dan membuka bleazer rajut yang dia kenakan dan hanya tertinggal gamis inner berwarna putih. Ayana kemudian memasuki kamar mandi.

Emir sudah selesai mengobrol dengan warga tersebut dan kembali ke kediaman Nenek Ayana. Karena pintu ditutup membuat Emir tidak masuk ke dalam rumah tersebut.

"Pak Emir!" seorang pria menyapanya, membuat Emir hanya memberi senyum tipis.

"Kenapa tidak masuk di luar hujan!" ucap pria itu.

"Hmmm, kemungkinan tidak ada orang di dalam rumah. Saya memang ingin membersihkan diri dan sebaiknya saya menunggu pemilik rumahnya," jawab Emir yang merasa tidak sopan jika seseorang yang tidak ada pemiliknya.

"Tadi Kakek sudah pulang, masuk saja, karena hujan, jadi pintunya ditutup," ucap pria itu.

"Benarkah," sahut Emir.

"Benar. Pak, jadi tidak apa-apa sebaiknya masuk saja," ucap pria itu.

Emir menurut dan akhirnya memasuki rumah tersebut. Pintu tidak ditutup Emir tetapi pria itu menutupnya dari luar.

"Kenapa begitu sepi," ucap Emir.

"Apa Ayana sudah pulang menanyakan rumah warga tersebut?" tanyanya yang juga merasa bahwa orang di dalam rumah itu memang tidak ada dan mungkin saja benar apa yang dikatakan pria itu bahwa Kakek sudah pulang dan mungkin saja sedang beristirahat.

"Sudahlah sebaiknya aku bersih-bersih terlebih dahulu," sahut Emir tanpa menyadari bahwa ada Ayana di dalam kamar dan membuka pintu kamar begitu saja.

Emir membuka jasnya, melepaskan dasinya dan membuka bagian atas kemejanya. Sementara Ayana sudah ingin memulai mandinya dengan menghidupkan air shower.

"Astagfirullah!"

"Kenapa lupa mengambil sampo," ucapnya baru menyadari jika dia ingin keramas tetapi hal yang penting dalam keramasnya justru tidak di bawa.

Air shower yang hidup tidak terdengar sampai ke kamar karena mungkin hujan deras.

Emir berjalan menuju kamar mandi dan bersamaan dengan Ayana yang juga membuka pintu kamar mandi sampai akhirnya keduanya sama-sama kaget dengan pertemuan mereka.

"Pak!" Ayana benar-benar schok, sampai ingin berlari masuk, tetapi sialnya dia juga terpeleset.

"Ayana!" Emir terlihat panik mencoba untuk melihat kondisi Ayana.

Hal itu justru membuat keduanya terdorong masuk ke dalam kamar mandi dan terguyur air shower.

Mereka sama-sama kaget dengan kejadian secar tiba-tiba itu.

"Pezina!" lebih kaget lagi ketika keduanya melihat pintu kamar mandi dibuka dengan lebar dan siapa sangka muncul warga di sana yang membuat mata Ayana dan Emir melotot.

Bersambung....

1
Oma Gavin
wah emir jadi sasaran empuk lastri nanti pakai jurus pamungkas obat lucknut biar emir kepanasan dan majuk jebakan lastri
shinta liliand
emir gk gentle bgt jd cowok.. tp jg kaasae ngomong sama omanya hmmm susaaah
Enz99
bagus
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Dew666
💜💜💜💜
Dew666
🍎🍎🍎
nurlizan lizan
thor lbh teliti lg, bnyak typo🙏
Dew666
💝💝💝
Ridwani
👍👍👍👍👍👍
Dew666
👄👄👄
Ridwani
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!