"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.
Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Kompetisi Tak Terduga
Gua berdiri mematung di pinggir tanjakan, masih ngegendong tas gitar Dedik yang beratnya ampun-ampunan.
Di depan gua, Arlan sepupu jauh gua yang kata Mama gantengnya mirip artis turun dari motor sport merahnya yang suaranya nge-bass banget. Kontras banget sama motor bebek Dedik yang lagi "sekarat" karena bensin abis.
"Rey, lo ngapain sih di tengah hutan gini bawa-bawa kulkas di punggung?" Arlan ngeledek sambil nunjuk tas gitar yang gua bawa. Dia jalan deketin gua, nyuekin Dedik yang masih megang stang motor bebeknya.
"Ini gitar, Lan! Bukan kulkas!" semprot gua, meskipun emang punggung gua udah mau patah.
Arlan ketawa, terus matanya beralih ke Dedik. Tatapannya meremehkan banget.
"Oh, jadi ini partner lo? Kasihan banget sepupu gua, disuruh bawa barang berat sementara cowoknya cuma nuntun motor butut yang bahkan nggak sanggup naik tanjakan."
Gua bisa ngerasa hawa di sekitar Dedik mendadak turun beberapa derajat. Dedik nggak ngelepas pegangannya dari motor, tapi kepalanya nengok pelan ke arah Arlan.
"Motor ini sanggup naik tanjakan kalau ada bensinnya," sahut Dedik dingin. "Dan secara logika, gua nggak nyuruh Reyna bawa gitar. Dia sendiri yang nawarin karena dia nggak mau liat partner-nya kesulitan."
Hah? Kapan gua nawarin?!Tapi gua diem aja, nggak berani bantah karena muka Dedik lagi serem banget.
Arlan malah makin jadi. "Ya udah, daripada makin susah, Reyna bareng gua aja. Motor gua joknya empuk, bensinnya penuh, dan yang pasti... gua nggak bakal bikin dia jalan kaki di tengah hutan."
"Biar temen lo ini nuntun motornya sendiri sampai dapet warung."
Gua ngelirik Dedik. Gua berharap dia bakal bilang sesuatu yang heroik kayak, "Nggak, Reyna tetep sama gua!" tapi dia malah diem. Dia cuma natap tangki bensin motornya, terus natap gua datar.
"Gimana, Rey?" tanya Dedik singkat. "Lo mau ikut dia? Logisnya sih gitu. Lo bakal nyampe desa wisata lebih cepet dan nggak perlu capek-capek jalan kaki."
Gua kesel. Kenapa sih dia selalu pakai "logika" di saat kayak gini?! Gua maunya dia narik tangan gua, bukan malah nyuruh gua mikir logis!
"Gua..." gua ragu-ragu. Gua liat muka Arlan yang penuh kemenangan, terus liat Dedik yang kelihatan... entahlah, capek?
"Ayo, Rey! Keburu ujan nih," desak Arlan sambil nepuk jok motor sport-nya.
Gua narik napas dalem-dalem. "Gak. Gua tetep sama Dedik."
Arlan melongo. "Loh? Kenapa? Lo mau daki gunung bawa gitar?"
"Karena gua partner-nya Dedik, bukan partner lo, Lan! Lagian lo ngapain sih tiba-tiba muncul di sini? Kata Mama lo baru minggu depan ke kampus!"
"Gua mau surprise in lo, tapi malah gua yang dapet surprise liat lo jadi kuli panggul gitar," Arlan geleng-geleng kepala. "Ya udah kalau lo maksa. Gua duluan ya, jangan nangis kalau nanti ketemu monyet hutan."
Arlan langsung naik ke motornya, pake helm, terus melesat pergi ninggalin asep knalpot yang wangi banget di depan muka kita.
Suasana mendadak hening. Cuma ada suara jangkrik dan deru angin di sela-sela pohon pinus. Dedik masih diem, nuntun motornya pelan-pelan lagi.
"Kenapa nggak ikut dia?" tanya Dedik tanpa nengok ke gua.
"Gua udah bilang kan, gua partner lo. Sagitarius itu setia kawan, tau!"
Dedik berhenti sebentar. Dia nengok ke gua, terus tangan kanannya terulur buat narik tas gitar dari punggung gua. "Siniin gitarnya. Biar gua yang bawa."
"Loh? Katanya tadi nggak seimbang kalau lo nuntun motor sambil bawa gitar?"
"Gua udah nemu titik tumpunya," jawab Dedik pelan. Dia nyampirin tas gitar itu ke pundaknya, terus lanjut nuntun motor. "Makasih udah nggak milih motor sport itu, Rey."
Muka gua mendadak panas. Tumben-tumbenan dia ngomong makasih?!
Sekitar sepuluh menit kita jalan dengan napas gua yang udah Senin-Kamis, akhirnya kita nemu sebuah warung kecil di pinggir jalan yang ada botol-botol bensin eceran di depannya.
"Alhamdulillah! Bensin!" gua hampir aja sujud syukur di aspal.
Dedik ngisi bensinnya, bayar, terus nyalain motornya. Sekali kick starter, motor itu langsung idup lagi. Dia naik, terus nepuk jok belakangnya.
"Naik, Rey. Kita harus kejar waktu sebelum asdos gua nyampe lokasi."
Gua naik, dan kali ini gua nggak perlu disuruh dua kali buat pegangan ke jaket denimnya. Gua bener-bener capek. Begitu motor jalan, gua nyenderin jidat gua ke punggung Dedik.
"Ded..." panggil gua pelan.
"Hm?"
"Lo tadi cemburu ya sama Arlan?"
Motor Dedik mendadak oleng dikit, kayak dia kaget denger pertanyaan gua. Dia benerin posisi stangnya, terus suaranya balik lagi jadi dingin bin kaku.
"Cemburu itu emosi yang nggak produktif, Rey. Gua cuma keganggu karena dia ngerusak konsentrasi gua buat mikirin rute jalan."
"Halah, bohong lo! Muka lo tadi sepet banget pas dia ngajak gua bareng!"
"Itu karena gua lagi mikir berapa liter bensin yang gua butuhin buat nyampe puncak. Jangan sok tau soal pikiran Aquarius."
Gua senyum-senyum sendiri di belakang punggungnya. Gua tau dia bohong. Logika dia mungkin jalan, tapi mata dia nggak bisa bohong.
Kita akhirnya nyampe di gerbang Desa Wisata itu. Tapi begitu kita masuk ke area parkir, pemandangan di depan kita bikin gua pengen balik badan aja.
Arlan ada di sana. Dia lagi asik ngobrol sama seorang bapak-bapak yang pakai baju adat, dan di sebelah mereka... ada cewek cantik banget pakai baju almamater kampus kita yang langsung nyambut Arlan dengan akrab.
"Loh, Arlan! Udah nyampe?" cewek itu melambai.
Gua ngerasain motor Dedik berhenti mendadak.
"Itu... bukannya Kak Tiara? Asdos favorit di fakultas lo, Ded?" bisik gua kaget.
Dedik nggak jawab. Dia cuma natap lurus ke depan, ke arah Arlan dan Kak Tiara yang kelihatan serasi banget.
"Kayaknya proyek kita nggak bakal sesimpel yang gua kira, Rey," gumam Dedik.
Dan yang lebih bikin gua kaget, Kak Tiara tiba-tiba nengok ke arah kita dan teriak, "Dedik! Reyna! Sini! Kita baru aja mau mulai rapat sama tim pendamping dari Jakarta!"
Tim dari Jakarta? Siapa lagi?!
Ternyata Arlan bukan cuma "kebetulan" lewat, dia punya peran di proyek ini! Ditambah munculnya Kak Tiara (asdos favorit) yang bikin suasana makin rumit.
Siapa sebenarnya Arlan dan apa hubungannya sama proyek "Harmoni Nada" mereka?