NovelToon NovelToon
Whispers Beneitah The Sajadah

Whispers Beneitah The Sajadah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”




Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.



Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.



Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 - Fitnah

Sebuah rahasia di pesantren itu seperti setetes tinta yang jatuh ke dalam gelas air bening. Terlalu kecil untuk terlihat pada awalnya, tapi perlahan namun pasti, ia akan menyebar, mengotori seluruh isi gelas hingga tak ada lagi yang tersisa untuk diminum.

Kaburnya Naura malam sebelumnya tak menjadi rahasia begitu lama. Entah siapa yang membocorkan mungkin salah satu pembantu yang melihat kepergiannya, atau satpam yang melihat mobil merah itu melaju keluar gerbang, tapi esok harinya, bisik-bisik itu sudah bergema di koridor Pesantren Al-Farizi.

Dan seperti biasa, mulut-mulut itu berhenti pada telinga yang paling haus akan validasi. Zahra Humaira.

Sore itu, di sudut perpustakaan putri yang sepi, Zahra duduk melingkar dengan tiga sahabat setianya. Di depan mereka, teko teh sudah dingin tak tersentuh. Mata Zahra menerkam setiap kata yang diucapkan oleh salah satu temannya, Salsa.

"Serius, Neng, Gus Azzam yang nyari dia?" Salsa menutup mulutnya dengan tangan, matanya melongo. "Terus Gus bawa dia pulang? Di malam hujan deras?"

"Bukan bawa, Salsa. Menemani," koreksi Zahra, suaranya datar namun matanya menyipit menahan amarah yang mendidih. Jari-jarinya yang memegang tasbih kayu bergerak lebih cepat dari biasanya. "Gus Azzam terlalu baik. Dia pasti merasa wajib menyelamatkan siapa pun yang kesulitan. Itu akhlaknya. Tapi perempuan itu... ia memanfaatkan kebaikan Gus."

"Bagaimana bisa, Neng Zahra?" tanya santriwati lainnya.

"Gimana nggak? Dia kabur dari rumah malam-malam! Perempuan baik-baik nggak ngelakuin itu!" Zahra menekankan setiap katanya, suaranya dinaikkan setengah nada, cukup keras untuk didengar oleh beberapa santriwati di rak buku terdekat. "Bayangin, malam sebelum lamaran, calon istri Gus malah kabur. Ini bukti dia nggak menghormati keluarga Gus, nggak menghormati pesantren, dan pasti... dia kabur buat ketemu seseorang."

Kata terakhir itu menjatuhkannya seperti bom.

"Ketemu seseorang? Maksud Neng?" Salsa menatap takjub.

Zahra memajukan tubuhnya, memperkecil jarak, dan berbisik dengan nada yang dirancang khusus untuk memicu kecurigaan, "Aku nggak ngomong sembarangan. Tapi kalian ingat foto yang viral kemarin? Dia pakai celana pendek, baju terbuka. Perempuan modern kayak gitu, hidupnya bebas. Siapa tahu dia punya pacar yang disembunyikan, dan kabur semalam buat ngobrol sama pacarnya sebelum akhirnya 'dipaksa' nikah sama Gus?"

Gasang. Fitnah itu terlontar dengan mulus, dibalut oleh cadar dan tasbih.

"Tapi Gus Azzam yang nemuin dia..." Salsa masih ragu.

"Gus Azzam polos! Dia nggak tahu tipu daya perempuan dunia!" Zahra menepuk meja pelan, matanya berkilat tajam. "Kalian bayangin, kalau perempuan macam itu jadi nyonya besar pesantren? Dia akan menghancurkan martabat Gus. Kita harus melindungi Gus Azzam dari perempuan yang nggak punya malu itu!"

Bisik-bisik itu menyebar layaknya api di semak kering. Dari perpustakaan ke asrama, dari asrama ke masjid. Menjelang magrib, versi ceritanya sudah bermetamorfosis menjadi sesuatu yang jauh lebih buruk dari kenyataan.

"Naura kabur karena ingin bertemu pacarnya."

"Naura menjerumuskan Gus Azzam untuk mencarinya."

"Naura bukan perempuan baik, dia akan mempermalukan pesantren."

.

.

.

Naura tidak tahu tentang bisik-bisik di pesantren. Yang ia tahu, hari ini adalah hari sebelum lamaran, dan rumahnya sedang riuh oleh persiapan.

Tapi ia tidak ikut riuh. Ia duduk di sudut ruang tengah, membatu, sambil memainkan ponselnya. Akun media sosialnya yang biasanya diisi oleh foto-foto cafe dan bunga, kini dipenuhi pesan-pesan dari follower yang tidak dikenal.

@anonim123: Kabur malam-malam emangnya pelacur ya? Kasian Gus Azzam.*

@santri_bertaqwa: Jangan-jalan dia ketemu pacarnya. Buset dah, murah banget.

@pembela_gus: Gus Azzam layak dapet perempuan suci, bukan cewek clubbing yang main keluar masuk rumah.

Tangan Naura gemetar. Ia tidak sedang menangis. Ia terlalu marah untuk menangis. Ia merasa seperti sedang diadili oleh orang-orang yang bahkan tak pernah bertatap mau dengannya.

Ia kabur karena panik. Karena merasa sesak, merasa hidupnya dikendalikan. Bukan karena pacar! Ia bahkan tidak punya pacar! Mantannya satu-satunya sudah putus hibungan bertahun-tahun berlalu!

"Menyedihkan sekali lintasan hukum di media sosial ini," cibir Naura pelan, matanya merah menyala.

Ponselnya bergeta. Panggilan masuk dari nama yang membuat detak jantungnya berantakan. Azzam.

Naura terkesima. Pria itu jarang menelponnya, biasanya hanya pesan singkat. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengangkat telepon dan berjalan ke taman belakang, menjauhi keributan persiapan.

"Halo?" suara Naura terdengar lebih serak dari yang ia inginkan.

"Assalamualaikum. Naura." Suara bariton Azzam mengalir dari seberang, tenang seperti biasa, tapi ada nada tegang yang tersembunyi di baliknya. "Kamu sedang apa?"

"Waalaikumsalam. Duduk, mikirin cara buat membunuh orang tanpa ketahuan polisi," jawab Naura jujur, menatap bunga mawar putihnya dengan pandangan membunuh.

Terdengar helaan napas panjang dari seberang. "Kamu sudah mendengarnya?"

Naura mengerutkan dahi. "Mendengar apa?"

"Isu yang beredar di pesantren dan di media sosial." Jeda sejenak. "Tentang kamu kabur karena... bertemu pria lain."

Darah Naura mendidih. Bukan karena Azzam, tapi karena kebenaran yang dipelintir sedemikian rupa. "Jadi lo percaya juga?! Kupikir lo..."

"Aku tidak percaya," potong Azzam tegas, suaranya mengeras, membuyarkan amarah Naura seketika. "Aku tidak percaya satu huruf pun dari omongan mereka. Aku menelponmu bukan untuk menuduhmu. Aku menelpon untuk memberitahumu bahwa aku sudah tahu, dan aku akan mengurusnya."

Naura tertegun. Ia membuka mulut, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Kepercayaan itu, kepercayaan yang diberikan tanpa ia minta menghantamnya lebih keras dari fitnah itu sendiri.

"Lo... lo percaya gue?" bisik Naura.

"Aku yang menemukanmu di jalan yang sepi, di tengah hujan, sendirian, Naura," jawab Azzam, suaranya kembali lembut, namun penuh keyakinan. "Jika ada pria lain, kamu tidak akan sendirian dan kamu tidak akan menangis."

Perut Naura berasa seperti dijerat sesuatu yang hangat. Ia berusaha menahan diri agar tidak menangis di telepon, ini terlalu banyak, Elemosinya terlalu banyak.

"Kata-kata mereka menyakitimu?" tanya Azzam pelan.

Naura menggigit bibirnya, menelan ludah yang terasa seperti batu. "Sedikit."

"Jangan pedulikan mereka," perintah Azzam. "Besok lamaran akan berlangsung. Kamu akan menjadi tunanganku secara resmi dan aku berjanji, setelah itu, tak ada satu pun yang berani menyentuh namamu dengan kata-kata kotor."

"Azzam..."

"Besok aku akan menjemputmu. Jangan terlambat dan jangan kabur lagi." Nada suaranya sedikit melunak, ada semacam candaan ringan di sana. "Aku tidak punya banyak jubah hujan untuk menyelamatmu."

Untuk pertama kalinya sejak fitnah itu menghantamnya, sudut bibir Naura tertarik ke atas. Senyum kecil, tulus, yang muncul tanpa ia sadari.

"Aku nggak janji nggak kabur," goda Naura, insting memberontaknya kembali sedikit menyala. "Tergantung seberapa menyesakkannya nanti."

"Kalau kamu kabur lagi, aku akan menemukanmu lagi," jawab Azzam dengan tenang yang mengesalkan namun menenangkan sekaligus. "Dan kali ini, aku tidak akan membuang waktu menanyakan apakah kamu aman atau tidak. Aku akan langsung membawamu ke KUA."

Naura memerah hingga ke ujung telinga. "Lo...! Dasar ustaz kurang ajar!"

Suara tawa rendah dari Azzam terdengar di seberang tawa asli Tampa di buat-buat, yang membuat dada Naura bergetar aneh. "Istirahat yang cukup, Naura. Sampai jumpa besok."

Telepon terputus.

Naura memeluk ponselnya di dada, menatap langit yang mulai mendung lagi di atas taman. Fitnah itu masih ada. Komentar-komentar keji itu masih ada. Tapi entah bagaimana, suara Azzam telah membangun benteng di sekeliling hatinya.

Ia tidak sendirian menghadapi badai kali ini.

Tapi di pesantren, di ruang kerjanya yang sunyi, Gus Azzam menatap ponselnya dengan mata yang tidak lagi tenang. Kepalanya menengadah, menatap langit yang gelap di luar jendela. Ia sangat marah. Bukan pada Naura, tapi pada orang-orang yang berani melukai gadis itu.

Rahangnya mengeras. Ia meraih peci hitam di meja, memakainya, lalu berjalan keluar ruangan.

"Aku harus berbicara dengan Zahra," bisik Azzam pada dinginnya malam. Ketenteraman seorang Gus sedang digantikan oleh kemarahan seorang pria yang ingin melindungi miliknya.

.

.

.

1
Nina Utami
novelnya baru ya kak?
jlianty: Iyaa, ikutin terus ya. Aku update tiap hari kok🤭
total 1 replies
Nina Utami
Gus Azzam kata katamu bikin nangiss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!