Kisah seorang istri yang selalu direndahkan dan dimanfaatkan oleh keluarga suami nya hanya karena dia bukan berasal dari keluarga terpandang yang kaya.....Nasibnya begitu miris bahkan selalu dibandingkan dengan istri adik suaminya sendiri yang dianggap dari keluarga terhormat oleh sang mertua.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
di kerjain
***
"Alhamdulillah, kenyang juga." Gumam Tania sembari mengelap mulut nya dengan tisu yang ada di atas meja.
Sebelum pergi, Tania melirik sekilas meja yang ditempati keluarga nya, lebih tepatnya keluarga suaminya.
Sudut bibir nya sedikit terangkat melihat bagaimana mereka begitu menikmati makan siang mereka dengan santai.
Senyum Tania semakin lebar, tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di kepalanya.
Flashback
"Jadi benar, kalian hanya mau menjadikan aku pelayan di sini? Baiklah, aku ikuti permainan kalian..." Ucap Tania lirih dengan menatap punggung mereka yang perlahan menghilang dibalik sudut tembok.
Kemudian, ia menghampiri salah satu pegawai toko, wanita itu sedang menyusun beberapa barang yang masih berantakan.
"Mbak, maaf banget ya kalau mengganggu Mbak bekerja. Tapi, bisa nggak, kalau saya titip barang di sini dulu? soalnya saya mau ke toilet sebentar," Tanya nya sopan dengan sedikit berbohong agar wanita itu percaya dan mau di titipkan barang mertuanya.
Wanita itu menoleh, "Boleh aja sih Mbak, tapi jangan lama-lama ya....Soalnya barang Mbak banyak banget ini, takutnya mengganggu pelanggan kami juga." Ujar wanita itu memperingatkan, karena memang toko itu tidak terlalu luas.
"Iya Mbak,"
Tania tersenyum puas, semua barang ia geserkan sedikit kepinggir agar tidak menggangu jalan orang yang berbelanja ditoko tersebut. Setelah itu ia berniat mau makan karena rasanya perut nya juga udah mulai keroncongan, karena tadi pagi ia hanya sarapan sedikit.
"Makan aja kali ya." Gumam nya seraya melangkah mencari tempat makan. Karena Tania memang tidak terlalu tau tempat yang ada di mall itu. Apalagi ia sangat jarang sekali, bahkan bisa dibilang hanya pernah datang 2 kali saja ketempat seperti itu sama Raka.
Tanpa sengaja matanya menangkap beberapa orang yang begitu di kenal nya sedang duduk santai sembari sesekali tertawa bersama.
"Ternyata kalian lagi enak-enak makan disini, sedangkan aku kalian tinggal begitu saja." Gumam nya dengan tangan terkepal, emosi tiba-tiba merayap kedalam dadanya.
"Baiklah....."
Tania berusaha meredam amarah nya yang sudah di ubun-ubun, ingin rasanya ia lempar salah satu kursi yang ada didepan nya kearah keluarga suami dia.
***
"Mas," Bella mengangkat tangan nya memanggil salah satu seorang pelayan.
Pelayan itu menghampiri dengan sopan.
"Mas, sisa makanan kami tolong di bungkus aja ya. Mau saya kasih buat kucing saya di rumah, dari pada dibuang kan mubazir." Perintah Bella seraya menahan tawa.
"Baik Mbak, tolong tunggu sebentar ya." Balas lelaki itu ramah.
Setelah selesai, Bella diikuti Dinda dan yang lain nya menuju kasir untuk membayar makanan tadi.
"Mbak ini total semua nya, dan ini juga sekalian punya Mbak yang duduk di meja nomor 16 tadi." Mbak kasir itu menyodorkan total semua menu yang harus dibayar Bella.
Mereka semua terlihat bingung mendengar ucapan kasir tersebut
"Maksud Mbak, gimana ya? Mbak siapa?" Tanya Bella ikut bingung sembari mata nya melihat ke arah meja nomor 16 yang ternyata sudah kosong.
"Tadi ada Mbak, duduk di situ. Katanya Mbak yang bayarin semua makanan yang dia pesan, dan dia tadi buru-buru pergi katanya, makanya suruh nagih sama kalian." Ucap wanita kasir itu lagi, membuat Bella dan yang lain nya saling pandang kebingungan.
"Apa jangan-jangan Mbak Tania ya Bu?" Tebak Sindi, Dinda juga ikut mengangguk angguk.
"Tapi, apa iya Mbak Tania? Secara kan Mbak Tania itu nurut banget sama kita, mana mungkin dia berani berbuat seperti itu." Sangkal Farah tidak yakin.
"Benar juga, tapi siapa lagi coba kalau bukan Tania?" Dinda ikut menimpali meski masih sedikit bingung.
"Memang ciri-ciri nya seperti apa? Pakai baju apa?" Tanya Bella ingin memastikan.
Wanita itu terlihat berpikir sejenak.
"Kalau nggak salah, Mbak itu pakai baju kaos panjang sama celana jeans kulot." Jelas wanita itu menyebut ciri-ciri Tania.
"Gak salah lagi, itu memang Mbak Tania. Ciri-ciri baju nya sama seperti yang Mbak Tania pakai tadi." Ujar Sindi dengan sedikit terkejut.
"Kurang aj4r sekali dia Tante, berani sekali dia ngerjain kita." Bella marah, dia tidak terima Tania berani mengerjai mereka.
"Memang nggak tau diri perempuan kampung itu, kamu tenang aja Bella. Nanti sampai rumah kita balas si babu itu." Dinda mencoba menenangkan Bella yang sudah benar-benar marah.
Ia takut Bella tidak jadi membayar semua tagihan makanan mereka yang jumlah nya lumayan besar.
Bisa-bisa dia yang harus keluar duit lagi nantinya.
Sedangkan Farah terlihat menyunggingkan seulas senyum, entah kenapa dia merasa sedikit puas melihat Bella marah dan kesal.
"Bagus Mbak Tania, kali ini aku dukung kamu." Batin Bella tersenyum girang dalam hatinya.
"Ini dia kok pesan nya banyak gini." Mata Bella melebar begitu melihat daftar pesanan Tania yang begitu banyak.
Kasir itu tampak menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal tidak berani menatap Bella yang sedang menatap nya tajam.
"Maaf Mbak, tadi....Mbak nya minta dibungkus juga makanan nya." Ucap kasir dengan ragu-ragu.
"Apa...?" Bella menyentak meja kasir dengan keras, membuat mereka semua yang berada di situ kaget.
"Kamu juga Mbak....Seharusnya kamu tanya dulu sama kami jangan asal percaya saja sama orang, kalau sudah kayak gini siapa yang harus tanggung jawab? Mbak mau tanggung jawab membayar semua ini?" Ucap Sindi membuat si kasir menggeleng dengan cepat.
"Ma-maafkan saya Mbak," Ucap nya merasa bersalah.
"Kita pulang, aku udah nggak mood di sini lagi." Ujar Bella masih dalam keadaan kesal.
"Tapi kan kita belum___
"Shit...."
Dinda menutup mulut Sindi yang hendak memprotes Bella, padahal Sindi belum puas berbelanja, dia masih ingin berlama-lama di Mall dan masih banyak barang yang ingin dia beli. Apalagi ada Bella yang mau bayarin semua belanjaan dia.
"Diam dulu, besok-besok kita ajak lagi Bella kesini. Jangan buat Bella semakin marah." Bisik Dinda ditelinga Sindi, gadis itu seketika memanyunkan bibir nya.
"Ini semua gara-gara Mbak Tania." Kesal nya dengan menghentakkan kaki kelantai.
"Salah kalian juga, kenapa nggak ajak Mbak Tania tadi buat makan." Ucap Farah membuat Sindi dan Dinda mendelik menatap kearah nya.
Mood Bella benar-benar berubah, bukan karena uang nya habis buat bayar Tania.
Tapi, dia merasa tidak terima Tania berani mengerjai dirinya. Dia berpikir Tania itu benar-benar polos dan bisa di tindas seenak mereka. Ternyata dugaan nya salah.
"Mbak, tapi Mbak Tania gimana? Kan dia masih didalam?" Tanya Farah saat mereka sudah berada didalam mobil.
"Aku nggak peduli, biar nggak usah pulang aja sekalian dia." Balas Bella dengan ketus, membuat Farah dan yang lain nya ikut diam tidak berani menimpali lagi.
"Bu, gimana kalau nanti Mas Raka tau, dan dia marah sama kita karena Mbak Tania nggak pulang?" Bisik Sindi ke telinga ibu nya, dia ikut khawatir. Bukan mengkhawatirkan Tania. Tapi lebih ke mengkhawatirkan dirinya sendiri takut di marahin Raka.
"Nanti kita buat alasan apalah sama Mas mu, yang penting kita pulang aja dulu." Balas Dinda ikut berbisik takut Bella dengar.
Mereka tidak mau merusak mood Bella lagi, apalagi Bella sudah mau royal terhadap mereka. Mereka berharap Bella bisa mereka peras juga nantinya.
Hanya butuh waktu sekitar 25 menit, mereka akhirnya sampai ke rumah.
"Bella, kamu nggak masuk?" Tanya Dinda begitu melihat Bella tidak ikut keluar dari mobil.
"Nggak ah Tante, malas, Bella mau pulang aja." Balas Bella acuh masih memasang wajah kesal.
"Kalau kamu pulang, gimana kamu bisa balas Tania? Memang kamu sudah nyerah? Mau si b4bu itu makin lengket sama Raka?" Pancing Dinda membuat Bella sedikit gelisah dari duduk nya.
"Ya nggak lah Tante, masak Bella kalah sama perempuan udik kayak dia. Ya udah, aku nggak jadi pulang, tapi aku nginap di sini ya Tan. Aku masih kangen sama Mas Raka." Bella akhir menurut dan turun dari mobil yang langsung disambut Dinda dengan senang.
"Nah gitu dong, itu baru calon menantu Tante." Puji Dinda sengaja agar Bella senang.
"Tante dukung Bella terus ya, bantuin Bella buat dapetin hati Mas Raka lagi." Ucap Bella meminta dukungan Dinda.
"Tentu, sudah pasti Tante akan bantuin kamu sayang." Ucap Dinda lagi terus menyemangati Bella.
"Kayak nya posisi Mbak Farah mulai ada yang menggantikan nih." Bisik Sindi menggoda Farah yang dari tadi terus memperhatikan ibu mertua nya begitu lengket dan peduli sama Bella dengan perasaan kesal nya.
Seketika muka Farah memerah menatap tajam adik iparnya.
Sindi segera berlari kedalam rumah mengikuti Bella dan Dinda sebelum dirinya di amuk oleh Farah.
Sesampai nya didalam empat perempuan berbeda generasi itu terkejut begitu melihat seseorang sedang duduk dengan santai nya di kursi ruang tamu.