Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tambang Bijih Besi
Hari berganti keesokan harinya. Kabut pagi masih menggantung tipis di antara pepohonan ketika rombongan Kelompok Harta Langit mulai bersiap. Api unggun yang semalam menyala kini tinggal bara, perlahan dipadamkan. Tenda-tenda dibongkar dengan cekatan, sementara para pengawal sudah lebih dulu memeriksa jalur di depan.
Tak butuh waktu lama, rombongan kembali bergerak. Derit roda kereta kembali terdengar, berpadu dengan langkah kuda yang stabil. Perjalanan hari kedua dimulai dengan suasana yang sama tenangnya, namun kini terasa sedikit lebih hidup dibanding hari sebelumnya.
Di dalam kereta, Gao Rui duduk bersebelahan dengan Bai Kai. Berbeda dari sebelumnya, kali ini ia tidak lagi terlihat kaku. Bahunya lebih rileks, dan sesekali ia berani menatap langsung ke arah pria di depannya.
“Senior Kai…” panggilnya sopan.
Bai Kai mengangkat sedikit pandangannya.
“Hm?”
Gao Rui terlihat ragu sejenak, namun akhirnya tetap melanjutkan.
“Perjalanan ke ibukota… masih jauh?”
Bai Kai menatapnya beberapa detik, lalu menjawab dengan nada tenang.
“Jika berjalan seperti ini, kemungkinan akan memakan waktu sekitar lima hingga enam minggu.”
Gao Rui sedikit membelalakkan mata.
“Lima sampai enam minggu…” ulangnya pelan. Lalu ia tersenyum kecut. “Cukup lama juga ya…”
Mendengar itu, Bai Kai justru tertawa kecil, hal yang cukup jarang darinya.
“Tidak perlu khawatir, Tuan Muda,” katanya santai. “Perjalanan ini tidak akan terasa membosankan.”
Gao Rui mengangkat alis.
“Maksud Senior?”
“Kita akan singgah di beberapa tempat,” lanjut Bai Kai. “Beberapa kota, mungkin juga wilayah-wilayah menarik di sepanjang jalur perdagangan.”
Ia sedikit memiringkan kepalanya.
“Itu akan menjadi pengalaman yang baik untukmu.”
Gao Rui terdiam sejenak, lalu perlahan mengangguk.
“…benar juga,” gumamnya.
Tatapannya kembali ke luar jendela. Kali ini, bukan hanya menikmati pemandangan, tapi juga membayangkan perjalanan panjang yang akan ia jalani.
Waktu berlalu tanpa terasa. Matahari perlahan bergerak ke barat, cahayanya mulai melembut. Hingga akhirnya, menjelang sore hari, rombongan mulai melambat.
Di depan mereka terbentang sebuah lembah luas. Hamparan rumput hijau membentang sejauh mata memandang, diapit oleh perbukitan landai di kedua sisi. Pepohonan tumbuh jarang-jarang, seolah memberi ruang bagi angin untuk berhembus bebas. Tempat itu dikenal sebagai Lembah Gianjun.
Perintah berhenti diberikan. Kereta-kereta mulai berhenti satu per satu. Para pengawal segera menyebar, membentuk formasi pengamanan seperti biasa.
Di dalam kereta, Bai Kai membuka tirai.
“Kita sudah sampai,” katanya singkat.
Gao Rui mengangguk, lalu turun mengikuti Bai Kai. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia langsung merasakan angin lembah yang sejuk menyapu wajahnya. Namun belum sempat ia mengamati lebih jauh, pandangannya tertuju pada satu sosok. Lan Suya.
Wanita itu berdiri tidak jauh dari sana, menghadap ke arah tertentu di lembah. Rambutnya yang panjang sedikit berkibar tertiup angin, sementara tatapannya tampak fokus seolah sedang mengamati sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.
Saat Gao Rui keluar, Lan Suya melirik sekilas.
“Ke sini,” panggilnya singkat.
Gao Rui sedikit terkejut, namun segera berjalan mendekat. Bai Kai hanya berdiri di belakang, tidak ikut campur.
Begitu sampai di sisi Lan Suya, Gao Rui ikut memandang ke arah yang sama.
“Menurutmu… apa yang kau lihat?” tanya Lan Suya tiba-tiba.
Gao Rui mengerutkan kening. Ia menatap lembah itu dengan saksama. Rumput, pepohonan, dan tanah. Tidak ada yang aneh.
“…tidak ada apa-apa,” jawabnya jujur. “Hanya lembah biasa.”
Lan Suya tidak langsung menanggapi. Ia tetap menatap ke depan, lalu berkata pelan,
“Aku tahu kau memiliki teknik mata khusus dari gurumu.”
Gao Rui sedikit terdiam.
“Cobalah lihat… apa yang ada di dalam tanah di depan kita.”
Gao Rui langsung menoleh, sedikit terkejut.
“Di dalam… tanah?”
Lan Suya mengangguk tipis. Gao Rui menunduk sejenak, terlihat ragu.
“Teknikku… belum sempurna,” katanya pelan. “Masih jauh dari kata itu…”
Ia menghela napas kecil.
“Aku biasanya hanya menggunakannya untuk melihat ranah kultivasi seseorang…”
Lan Suya akhirnya menoleh. Tatapannya tajam.
“Coba saja.”
Nada suaranya tidak memberi ruang untuk penolakan.
Gao Rui terdiam beberapa saat lalu akhirnya mengangguk pelan.
“…baik.”
Ia menarik napas dalam. Perlahan, ia memusatkan kesadarannya. Energi dalam tubuhnya mulai bergerak, mengalir menuju kedua matanya.
Teknik Mata Dewa. Untuk pertama kalinya, ia tidak mengarahkannya pada manusia. Melainkan ke dalam tanah.
Kelopak matanya sedikit bergetar saat energi itu terkumpul. Pandangannya perlahan berubah. Dunia di depannya mulai berbeda.
Namun di saat yang sama, keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Ia tidak tahu apakah ini akan berhasil. Ia tidak tahu apa yang akan ia lihat. Namun ia tetap mencoba.
Gao Rui menatap lurus ke depan, lalu perlahan menurunkan arah pandangannya… menembus permukaan tanah di hadapannya. Energi di kedua matanya berdenyut semakin kuat.
Dalam sekejap, pupilnya berubah. Warna hitamnya memudar, digantikan oleh cahaya keemasan yang berkilau samar. Aura halus terpancar dari sepasang mata itu, membuat udara di sekitarnya terasa sedikit bergetar. Ia mengaktifkan Teknik Mata Dewa semaksimal yang ia bisa.
Lapisan tanah pertama mulai memudar dari penglihatannya berubah menjadi bayangan transparan. Gao Rui memaksa pandangannya menembus lebih dalam. Lapisan demi lapisan tanah ia lalui. Akar-akar pepohonan, batu kecil, rongga udara, semuanya tampak jelas dalam persepsinya.
Namun semakin dalam ia menembus, tekanan di matanya semakin besar. Keningnya mulai berkerut. Ia menggertakkan gigi, memaksa dirinya untuk terus melihat lebih jauh.
“…lebih dalam…” gumamnya lirih.
Dan kemudian pandangannya berhenti. Di kedalaman tertentu, sesuatu muncul. Bebatuan.
Namun bukan batu biasa. Batu-batu itu berwarna abu-abu kusam, namun di permukaannya terdapat kilau redup yang hampir tidak terlihat. Jumlahnya tidak sedikit, tersebar dalam gugusan besar, seolah membentuk lapisan tersendiri di dalam tanah.
Mata Gao Rui sedikit melebar. Ia mencoba memperluas jangkauan penglihatannya, menelusuri sejauh mungkin. Namun segera ia menyadari penglihatannya tidak mampu menjangkau ujungnya. Gugusan batu itu seakan terus berlanjut ke dalam kegelapan yang tidak bisa ia tembus.
“…sebanyak ini…?” bisiknya pelan.
Namun tekanan di matanya semakin menjadi. Rasa perih mulai menjalar, seperti ditusuk jarum halus dari dalam. Nafasnya mulai tidak stabil. Keringat perlahan menetes dari keningnya, jatuh ke tanah tanpa ia sadari. Tubuhnya sedikit gemetar. Pada akhirnya ia terpaksa menghentikan teknik itu.
Cahaya keemasan di matanya perlahan memudar, kembali menjadi warna normal. Gao Rui terhuyung satu langkah ke belakang, nafasnya sedikit memburu.
Lan Suya melirik ke arahnya, namun tidak berkata apa-apa.
Gao Rui mengangkat tangannya, mengusap keringat di keningnya, lalu menghela napas panjang untuk menenangkan diri.
“…aku melihat sesuatu,” katanya akhirnya.
Semua perhatian kini tertuju padanya.
“Di dalam tanah… ada lapisan batuan,” lanjutnya perlahan. “Warnanya abu-abu… tapi bukan batu biasa. Ada kilau samar di permukaannya.”
Ia menatap ke arah lembah itu lagi, kali ini tanpa teknik.
“Jumlahnya cukup banyak. Sangat banyak…”
Gao Rui menggeleng pelan.
“Aku tidak bisa melihat ujungnya. Jangkauanku terbatas… jadi aku tidak tahu seberapa luas atau panjang lapisan itu.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan,
“Tapi aku yakin… benda itu berada cukup dalam di bawah permukaan. Aku bahkan bisa memperkirakan kedalaman awalnya…”
Tatapannya sedikit meredup, ada rasa tidak puas di sana.
“…namun hanya sampai situ saja. Teknikku masih terlalu lemah untuk menjelajah lebih jauh.”
Angin lembah berhembus pelan melewati mereka.
Lan Suya akhirnya menyipitkan matanya, menatap ke arah yang sama seperti sebelumnya. Ekspresinya tidak berubah, namun ada kilatan pemahaman yang samar di balik tatapannya.
Beberapa saat hening menyelimuti area itu. Lalu...
ckk… ckk…
Suara decakan pelan terdengar dari belakang. Para anggota Kelompok Harta Langit yang berdiri tidak jauh dari sana saling berpandangan. Beberapa dari mereka mengangguk-angguk kecil, sementara yang lain menatap ke arah Gao Rui dengan tatapan kagum yang tidak disembunyikan.
“Dari ciri-ciri yang ia sebutkan…” gumam salah satu pengawal senior dengan suara rendah.
“Batu abu-abu… berkilau samar… tersebar dalam jumlah besar di kedalaman…” lanjut yang lain.
Seorang pria paruh baya di antara mereka menyilangkan tangan, lalu menarik napas pelan.
“Itu bukan batu biasa,” katanya mantap. “Itu… bijih besi.”
Ucapan itu langsung membuat beberapa orang lainnya mengangguk setuju. Bijih besi. Sumber daya yang sangat umum, namun pada saat yang sama, sangat berharga.
Digunakan untuk menempa senjata, alat pertanian, hingga berbagai perlengkapan rumah tangga. Dalam dunia para pendekar dan perdagangan, keberadaan bijih besi dalam jumlah besar hampir selalu berarti kekuatan atau kekayaan.
“Dan dari yang ia katakan…” pria itu kembali berbicara, kali ini dengan nada sedikit lebih serius, “jumlahnya bukan sedikit.”
Tatapan mereka kembali tertuju ke arah lembah luas di depan. Jika benar terdapat lapisan bijih besi sebesar itu di bawah tanah maka tempat ini bukan lagi sekadar lembah biasa. Ini adalah tambang potensial.
Di sisi depan, Gao Rui sedikit terkejut mendengar bisikan-bisikan itu. Ia menoleh ke belakang, lalu kembali memandang ke arah lembah dengan ekspresi berbeda dari sebelumnya.
“…bijih besi…” ulangnya pelan.
Ia tidak menyangka apa yang ia lihat memiliki nilai sebesar itu. Lan Suya tetap diam. Namun kali ini, ia melangkah satu langkah ke depan. Angin lembah kembali berhembus, mengibaskan ujung pakaiannya.
“Baiklah kini giliranku melihatnya,” ucapnya tenang.