"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"
Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.
Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.
Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Lembah Tanpa Gema dan Rumah di Ujung Tebing
Setelah perjalanan panjang menyusuri sungai yang membelah kabut, perahu mereka akhirnya merapat di tepian Lembah Sunyi. Tempat itu menyerupai labirin raksasa; dinding-dinding batu menjulang tinggi dengan permukaan halus, seolah-olah sengaja dipahat untuk memenjarakan langit Niskala.
Begitu menginjakkan kaki di tanah yang lembap, Han Seol mencoba menarik napas dalam-dalam. Keheningan di sini terasa menekan telinganya.
"Heeiii!" teriaknya sekuat tenaga ke arah tebing.
Hening. Tidak ada suara burung, tidak ada desir angin, bahkan tidak ada pantulan suaranya sendiri.
Han Seol mengernyit, merasa ada yang salah dengan tenggorokannya. Ia mencoba lagi dengan suara lebih melengking. "Aaa! Halo! Ada orang di sini?!"
Tetap nihil. Lembah itu seolah memiliki mulut raksasa yang menelan setiap getaran suara sebelum sempat memantul.
Han Seol menoleh pada Seol-Ah dengan wajah bingung sekaligus ngeri. "Kenapa suaraku tidak terdengar? Apa aku mendadak tuli?"
Seol-Ah hanya menatapnya datar, tidak terkesan dengan tingkah konyol pemuda itu. "Percuma kau berteriak sampai tenggorokanmu putus, Seol."
"Kenapa? Kau melakukan sihir penyumpal mulut padaku?"
"Tempat ini disebut Lembah Sunyi karena ia menghisap gema. Di sini, suara tidak memantul," jelas Seol-Ah sambil terus melangkah tanpa beban. "Itulah alasan kenapa tempat ini menjadi lokasi latihan paling aman di seluruh negeri. Tak ada penyihir luar yang bisa melacak keberadaanmu melalui gema energi atau teriakan sekecil apa pun."
Han Seol mulai mengomel, suaranya terdengar mati di udara. "Latihan apa? Berjalan berjam-jam tanpa suara ini saja sudah membuatku gila. Aku lelah, lapar, dan kakiku serasa mau copot!"
****
Aroma Ayam Panggang dan Rumah Misterius
Langkah Han Seol mendadak terhenti. Hidungnya berkedut tajam menangkap aroma yang terasa seperti keajaiban: lemak daging yang terpanggang sempurna.
Di balik tikungan batu yang tajam, berdirilah sebuah rumah kayu sederhana namun tampak begitu terawat. Di halamannya, sebuah tiang jemuran bambu memajang pakaian lusuh yang berayun pelan.
Namun, yang membuat mata Han Seol berbinar bukanlah pemandangan rumah itu, melainkan seekor ayam panggang yang masih mengepul, tertusuk di atas perapian kecil dengan bara api yang masih menyala merah.
"Surga!" seru Han Seol. Tanpa memedulikan rasa sakit di kakinya, ia langsung melesat masuk ke halaman rumah tersebut.
"Han Seol! Jangan ceroboh!" Seol-Ah berseru waspada. Tangannya langsung berpindah ke gagang pedang, matanya menyapu sekeliling dengan tajam. "Rumah ini pasti ada pemiliknya. Lihat ayam itu, apinya masih sangat hangat. Pemiliknya pasti ada di sekitar sini."
Han Seol melongokkan kepalanya dari balik pintu kayu, wajahnya tampak sangat bersemangat. "Apa kau mau berdiri saja di situ seperti patung? Masuklah, di dalam sangat nyaman! Ada ranjang dan bahkan bantal!"
Seol-Ah masuk dengan langkah penuh perhitungan. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang mungil namun memiliki fasilitas yang sangat lengkap—terlalu lengkap untuk sebuah gubuk di tengah lembah terlarang.
Siapa yang sanggup tinggal di tempat terpencil seperti ini dengan kenyamanan sehebat ini?
"Sudahlah, Seol-Ah. Jangan terlalu curiga. Aku benar-benar ingin mati karena lelah," Han Seol langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang kayu, memejamkan mata sejenak sambil menghirup aroma kayu gaharu yang menenangkan.
****
Pertemuan dengan Sang Penjaga
Seol-Ah kembali ke halaman, firasatnya mengatakan ada sesuatu yang mengawasi mereka. Ia memperhatikan baju-baju lusuh di jemuran itu, mencoba menebak ukuran tubuh pemiliknya, saat tiba-tiba sebuah geraman rendah yang mengandung hawa magis terdengar dari balik bebatuan.
Seekor anjing muncul. Bulunya hitam legam berdiri tegak dan matanya berkilat biru tajam—tanda bahwa itu bukan hewan biasa. Itu adalah Anjing Roh Gwigu, makhluk pendeteksi pemindah jiwa yang biasanya hanya dimiliki oleh para tetua penyihir tingkat tinggi.
Anjing itu menggonggong garang, taringnya yang bercahaya kebiruan siap menerjang Seol-Ah yang dianggap sebagai penyusup berbahaya.
"Jangan galak-galak. Duduk!"
Suara Han Seol yang baru saja keluar dari rumah terdengar santai. Ajaibnya, anjing roh itu seketika menghentikan serangannya. Ekornya yang semula tegak kini melayu, dan ia duduk dengan patuh meskipun tubuhnya tampak gemetar ketakutan.
Anjing itu mengenali sisa-sisa aroma energi pada Han Seol—aroma manusia yang tempo hari menghancurkan artefak porselen kuno tempat rohnya terperangkap selama puluhan tahun. Di mata anjing itu, Han Seol bukanlah pemuda lemah, melainkan sosok yang membebaskannya sekaligus mengintimidasi.
Han Seol melangkah keluar, tenggorokannya terasa terbakar karena haus. Ia meraih sebuah ceret air dari tanah liat di atas meja kayu luar.
"Jangan minum!" cegat Seol-Ah cepat, tangannya menepis tangan Han Seol. "Jangan menyentuh makanan atau minuman apa pun sampai pemilik rumah ini muncul. Kita tidak tahu apakah ini jebakan racun atau bukan."
Han Seol menghela napas panjang, menatap ceret air itu dengan tatapan tersiksa. "Apa boleh buat..." Ia menaruh kembali ceret itu dengan lemas ke meja. Ia kemudian bersandar di tiang kayu, menatap anjing roh yang kini terus menundukkan kepala di hadapannya, seolah sedang menunggu perintah dari tuan barunya.
****
Sidang Sebelas Marga di Cheon-gi Won
Suasana di aula utama Cheon-gi Won terasa mencekam. Di koridor luar, langkah kaki barisan pengawal istana terdengar menjauh. Putra Mahkota Go Si-Woo baru saja meninggalkan kediaman dengan wajah kaku. Penyihir Do berhasil mengusirnya dengan alasan kesehatan Han-Seol yang memburuk, padahal kenyataannya, pemuda itu telah melarikan diri bersama Seol-Ah.
Keberhasilan pelarian itu adalah buah dari pengkhianatan diam-diam Seo Jun, Do Hyun, dan Park Ji-Hoon.
Di sudut paviliun yang gelap, Ji-Hoon berlutut dengan punggung yang hancur oleh hukum cambuk. Meski darah merembes di pakaiannya, ia tersenyum tipis. Luka ini tidak sebanding dengan penderitaan Han-Seol selama dua puluh tahun. Baginya, setiap cambukan adalah harga yang murah demi kebebasan sahabatnya.
Sementara itu, di dalam aula, sepuluh pemimpin marga penyihir telah duduk melingkar. Kursi keluarga Han tampak kosong, menyisakan lubang besar dalam sejarah aliansi mereka.
Penyihir Do berdiri di tengah, menatap satu per satu wajah para pemimpin marga: keluarga Jin yang agung, Park yang tenang, Baek dari Seojukwon, hingga perwakilan Marga Choi dan Kang.
"Pertandingan pedang antara Han-Seol dan Putra Mahkota tidak bisa dibatalkan," suara Penyihir Do bergema. "Ini bukan sekadar duel, tapi ujian bagi kehormatan Cheon-gi Won."
Seorang pria paruh baya dari Marga Choi menggebrak meja. "Sesuai perjanjian seratus tahun yang lalu, penyihir dan kerajaan tidak boleh saling menghunuskan senjata! Namun, jika Putra Mahkota sendiri yang menantang, maka Han-Seol tidak punya pilihan. Meski harus mati di arena, dia tetap harus bertarung!"
"Bertarung?" Pemimpin Marga Kang, yang merupakan guru terakhir Han-Seol, tertawa meremehkan. "Kalian tahu sendiri bagaimana kemampuannya. Dia hanya sampah yang tidak bisa mengendalikan satu tetes pun energi sihir. Mengirimnya melawan Pangeran Si-Woo sama saja dengan menyerahkan leher kita untuk dipenggal."
"Lalu apa maumu?" tanya Master Baek Si On tenang.
"Jika dia kabur karena takut, itu adalah penghinaan bagi kita semua yang pernah menjadi gurunya!" seru pemimpin marga lain.
"Lebih baik kita cabut seluruh energi sihirnya sekarang juga. Jadikan dia manusia biasa dan usir dia dari silsilah penyihir. Seorang pengecut tidak layak menyimpan kekuatan warisan!"