Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.
Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.
Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.
Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.
Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:
Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?
- Believe in magic -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 — Pilihan Terakhir
Hari itu, Sekolah Sihir Everton tidak seperti biasanya.
Langit di atas Riston tampak lebih cerah, seolah dunia itu sendiri sedang menyaksikan sesuatu yang penting. Aula utama dipenuhi para murid dari berbagai tingkatan, berdiri rapi dengan ekspresi yang jarang terlihat—tegang, kagum, dan… iri.
Di bagian depan, para tetua dan guru berdiri dalam barisan yang tidak pernah sembarangan berkumpul.
Hari itu adalah hari pemilihan.
Hari di mana seorang murid kelas A diberikan hak yang tidak dimiliki siapa pun di bawahnya.
Hak untuk memilih… kehidupan berikutnya.
Di antara semua yang hadir, Evelyn Edison berdiri di barisan kelas C. Tatapannya lurus ke depan, tidak terganggu oleh bisikan yang perlahan mulai muncul di sekelilingnya.
“Dia yang akan dipilih…”
“Wiliam Elbert…”
“Sudah pasti, dia yang terbaik…”
Nama itu menggema seperti gelombang pelan.
Dan tak lama—
Sosok itu melangkah maju.
Wiliam Elbert.
Kini bukan lagi sekadar kakak kelas yang santai di bawah pohon.
Hari ini, ia berdiri sebagai seseorang yang telah mencapai puncak.
Langkahnya tenang. Tidak tergesa. Tidak juga ragu.
Namun ada sesuatu di wajahnya—
Sebuah ketenangan yang berbeda.
Seolah ia telah menerima apa pun yang akan terjadi setelah ini.
Salah satu tetua melangkah maju.
“Wiliam Elbert,” suaranya dalam dan berat, menggema ke seluruh aula. “Kamu telah memenuhi syarat. Kamu telah mencapai tingkat tertinggi.”
Sunyi.
“Sekarang,” lanjutnya, “kamu diberikan hak untuk memilih. Kehidupan seperti apa yang kamu inginkan selanjutnya.”
Beberapa murid menahan napas.
Sebagian berharap.
Sebagian… hanya bisa membayangkan.
Evelyn tidak bergerak.
Namun matanya tidak lepas dari sosok di depan sana.
Wiliam berdiri diam.
Tidak langsung menjawab.
Seolah… memikirkan sesuatu.
Atau seseorang.
Detik-detik terasa lebih panjang.
Hingga akhirnya—
Ia tersenyum.
Tipis.
Namun jelas.
Dan untuk sesaat—
Tatapannya bergeser.
Mencari.
Menemukan.
Evelyn.
Mata mereka bertemu, meski terpisah jarak dan keramaian.
Dalam diam itu—
Ada sesuatu yang berpindah.
Sebuah pesan yang tidak diucapkan.
Namun cukup jelas untuk dimengerti.
Wiliam kembali menatap ke depan.
Menarik napas pelan.
“Jadikan aku manusia.”
Kalimat itu jatuh dengan tenang.
Namun dampaknya—
Menggema.
Seluruh aula terdiam.
Para murid saling menatap.
Para guru tidak bergerak.
Bahkan para tetua… tidak langsung merespons.
Untuk sesaat, dunia seolah berhenti.
Seolah pilihan itu… bukan sesuatu yang sering didengar.
Atau mungkin—
Tidak diharapkan.
Salah satu tetua mengernyit sedikit. “Kamu yakin dengan pilihanmu?”
Wiliam mengangguk.
Tanpa ragu.
“Ya.”
“Tidak ingin memilih kekuatan yang lebih tinggi?” tanya yang lain.
“Tidak.”
“Tidak ingin tetap menjadi penyihir di tingkat tertinggi?”
Wiliam tersenyum kecil.
“Tidak.”
Sunyi kembali menyelimuti aula.
Namun kali ini—
Sunyi itu penuh arti.
Pilihan telah dibuat.
Dan tidak bisa ditarik kembali.
Wiliam berdiri tegak.
Namun sebelum proses itu dimulai—
Ia menoleh sekali lagi.
Ke arah belakang.
Ke arah di mana Evelyn berdiri.
Senyumnya kembali muncul.
Lebih hangat.
Lebih… manusia.
“Kalau kamu ingin menjadi manusia, Evelyn…”
Suaranya tidak keras.
Namun cukup untuk terdengar.
“Teruslah berjuang.”
Evelyn membeku.
Ia tidak menyangka.
Tidak di depan semua orang.
Tidak dengan cara seperti itu.
Namun Wiliam tidak berhenti.
“Aku harap…” lanjutnya pelan, “kita bertemu di dunia manusia yang sempit itu.”
Sunyi.
Kali ini bukan karena ketegangan.
Tapi karena kata-kata itu… terlalu jujur.
Evelyn tidak menjawab.
Namun tatapannya tidak goyah.
Ia mengerti.
Ia benar-benar mengerti.
Salah satu tetua mengangkat tangannya.
Cahaya mulai berkumpul di sekitar Wiliam.
Lingkaran sihir terbentuk di bawah kakinya.
Berpendar.
Berputar.
Kuat.
Proses itu dimulai.
Para murid menatap dengan campuran rasa kagum dan takut.
Karena mereka tahu—
Ini bukan sekadar perpisahan.
Ini adalah akhir… dari seseorang yang mereka kenal.
Dan awal… dari sesuatu yang tidak mereka pahami.
Cahaya semakin terang.
Menelan sosok Wiliam perlahan.
Namun ekspresinya tetap sama.
Tenang.
Tanpa penyesalan.
Sebelum cahaya itu sepenuhnya menutupnya—
Ia mengucapkan satu kalimat terakhir.
“Jangan berhenti.”
Lalu—
Ia menghilang.
Tanpa jejak.
Tanpa sisa.
Hanya cahaya yang perlahan meredup, seolah tidak pernah ada apa-apa di sana.
Aula tetap sunyi.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada sorakan.
Hanya… kekosongan.
Evelyn berdiri di tempatnya.
Tidak bergerak.
Tidak berbicara.
Namun di dalam dirinya—
Sesuatu berubah.
Sesuatu yang selama ini hanya berupa tujuan…
Kini menjadi janji.
Ia menunduk sedikit.
Tangannya mengepal pelan.
“Dunia manusia…” bisiknya.
Untuk pertama kalinya—
Itu tidak lagi terdengar jauh.
Karena seseorang yang ia kenal…
Sudah melangkah ke sana.
Dan jika Wiliam bisa—
Maka ia juga bisa.
Evelyn mengangkat wajahnya kembali.
Matanya lebih tajam dari sebelumnya.
“Aku akan menyusul.”
Tidak ada yang mendengar.
Namun ia tidak membutuhkan siapa pun untuk mendengarnya.
Karena kali ini—
Ia tidak hanya berjalan karena penasaran.
Ia berjalan…
Karena ada seseorang yang menunggunya di ujung sana.