Lamaran Raditya di tolak oleh yuni calon ibu mertua nya karena tidak menyanggupi hantaran yang di minta. Yuni bahkan menghina Raditya dan mempengaruhi anak nya agar mencari laki laki yang kaya, karena anak nya Melinda adalah seorang sekretaris di perusahaan ibu nya. terpengaruh oleh ibu nya, Melinda sebagai kekasih Raditya akhir nya ikut merendah kan
karena emosional tiba tiba Raditya melamar seorang gadis yang bernama Dahlia, pembantu di rumah Melinda dengan cincin Berlian.
Namun siapa sangka, Raditya yang di kenal sebagai pegawai admistrasi di tempat Melinda bekerja, sebenar nya adalah anak sulung pewaris perusahaan itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 9
"Siapa itu?" tanya Marni
"Hanya teman baru bu" jawab Dahlia grogi
"Kamu jawab yang jujur, tadi Melinda sama ibu nya datang. Kata mereka kamu kabur dari rumah itu, meninggalkan pekerjaan kamu ikut dengan laki laki itu. Apa itu sikap perempuan yang baik?"
Dahlia menelan saliva nya dengan kasar, hati nya bertalu talu. Bagaimana ia bisa menjelaskan kejadian yang sangat cepat itu. Ia sendiri pun masih belum percaya.
"Anu Bu, aku,,,"
"Katakan apa yang kamu lakukan sama dia sampai harus meninggalkan pekerjaan kamu? ibu yakin kamu masih punya akal sehat, ibu yakin kamu masih bisa menjaga diri"
Dahlia menggeleng dan meraih tangan ibu nya. Meski masih merasa seperti dalam alam mimpi, ia akan mencoba mengntai kalimat untuk menyampaikan semua kejadian itu.
"percaya sama aku Bu, aku gak pernah bertemu dengan dia, sekalipun. sungguh kejadian ini juga sangat mengejutkan. Hari ini dia datang untuk melamar Melinda, tapi Bu Yuni Tak menyetujui hubungan mereka. lalu dia,,, anu,,,, dia,,"
"Ngomong yang jelas nak, ibu yakin kamu masih bisa jaga kepercayaan ibu" Dahlia mengangguk, mata nya melebar dan bibir nya gemetar. Marni bisa merasakan dingin Tangan anak nya
"Dia melamar ku, Bu"
Marni tercenung beberapa saat, ia selalu berdoa untuk anak nya agar mendapat jodoh yang baik. Dahlia hanya lulusan SMA dan sejak Kecil sudah ikut merasakan getir nya hidup karena dia lahir dari ibu yang miskin seperti diri nya.
Hanya satu permintaan ibu nya pada yang maha kuasa, jangan sampai Dahlia mendapat kan jodoh seperti ayah nya. Ayah nya laki laki yang kasar dan suka bermain judi. Setidak nya Dahlia dapat lelaki yang bertanggung jawab, sehingga anak gadis nya itu tak perlu menjadi pembantu lagi.
"Bu, maaf kan aku. harus nya aku punya kekuatan untuk menolak dan kembali bekerja. Tapi tadi aku seperti terpasung. Bibir ku bungkam oleh tatapan nya yang tajam. Aku sudah berusaha menolak nya hanya dari ucapan ku, tapi dia mengancam ku. Aku takut, bingung, kaget semua bercampur jadi satu. maaf kan aku Bu" Dahlia mencium tangan ibu nya.
Ada bulir bening menetes di ujung kelopak mata Marni. Tak pernah terlintas jodoh anak nya adalah laki laki yang setidak nya pasti lah selevel dengan Melinda. Jika tak begitu, tak mungkin gadis angkuh itu mau berpacaran dengan lelaki itu.
Sepintas tadi dia melihat wajah laki laki muda yang ada di dalam mobil itu. Sangat tampan dan begitu menawan hati siapa pun yang melihat. Jauh dalam hati nya ia berharap jika memang itu jawaban Doa nya. Ia akan bersyukur. jodoh akan selalu menemukan jalan nya
"Apakah menurut mu laki laki itu serius nak?"
Dahlia menatap mata ibu nya dan perlahan mengedikkan bahu nya.
"Entah lah Bu, aku masih merasa ini masih permainan"
Marni menarik nafas nya kuat kuat, ia tidak ingin banyak berharap. memiliki menantu berwajah tampan, bermobil mewah dengan senyum merekah yang mempesona. bahkan ia langsung menepis pikiran nya. membayang kan bisa sekedar menyentuh kilau nya kendaraan itu. Terlalu lama hidup miskin dan menderita membuat nya terlalu berani mengkhayal.
"Tapi Bu, dia memberikan ini pada ku. Kata nya sebagai bukti ikatan kamu" kata Dahlia setengah berbisik
Perlahan Dahlia mengeluarkan cincin berlian dari dalam genggaman tangan nya. Sebelum keluar dari dalam mobil tadi, Raditya memaksa nya untuk memakai benda itu. Marni terkejut luar biasa bercampur rasa kagum tak terkira.
Melihat dan menyentuh nya secara langsung, cincin yang begitu menyilaukan mata. Belum habis rasa kaget nya, dahlia mengeluarkan segepok uang tepat di depan nya. Marni melongo melihat tumpukan uang merah itu.
"ii,,, ini apa,,,apa nak" suara Marni bergetar bersama dengan tangan nya yang menyentuh cincin dan uang itu.
"kata nya ini cincin berlian, Bu. dan ini,, ini untuk membayar satu Anggukan ku saja" jawab Dahlia.
"Astagaaa!" hanya itu kata yang keluar dari dalam mulut Marni. Seketika bulir bening mengucur deras dari dua mata nya yang mulai rabun karena usia