Setelah hidup selama 500 tahun penuh pengkhianatan, kesengsaraan, dan perjuangan, Tian Hao akhirnya kembali ke masa lalu.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, ia memperoleh Warisan Mutiara Surgawi yang mempercepat jalur kultivasinya.
"Kali ini... aku akan mencapai keabadian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Pertemuan di jalan
Debu jalanan yang gersang menempel pada jubah hitam yang kini tampak lusuh. Seorang pria berjalan dengan langkah yang konstan, tidak terlalu cepat namun tidak pernah melambat.
Tudung jubahnya menutupi sebagian besar wajahnya, hanya menyisakan garis rahang yang tegas dan bibir yang terkatup rapat.
Saat ia mendongak untuk melihat posisi matahari yang mulai condong ke Barat, wajah itu tersingkap. Tian Hao.
Matanya yang sedingin es menyapu cakrawala yang luas. "Dataran Tengah masih jauh," gumamnya pelan. Suaranya hampir tertelan oleh deru angin padang rumput.
Ia tidak tahu, dan mungkin tidak peduli, apakah api di kediaman keluarga Tian telah padam atau apakah keluarga itu kini hanya tinggal nama dalam catatan sejarah.
Baginya, hubungan darah adalah belenggu masa lalu yang sudah putus saat ia melompati tembok kota.
”Dunia ini mengenal konsep hitam dan putih, pahlawan dan penjahat. Namun, bagi Tian Hao, ia bukan keduanya.”
Ia adalah pengelana di jalan sunyi menuju keabadian. Harta adalah benda yang akan terkubur tanah, kecantikan adalah kelopak bunga yang pasti layu dimakan waktu, dan kekuasaan hanyalah istana pasir di pinggir pantai. Hanya keabadian, eksistensi yang tidak terikat oleh hukum peluruhan yang memiliki nilai sejati di matanya.
Tian Hao memejamkan mata sejenak. Ingatan dari masa lalunya berputar seperti potongan film tua yang rusak.
Ia teringat pada seorang pria tua, seorang tabib miskin yang pernah membagi rotinya dan mengobati lukanya tanpa meminta imbalan. Pria itu adalah satu-satunya cahaya dalam kegelapan hidupnya saat itu.
Namun, dunia memiliki cara yang kejam untuk memadamkan cahaya. Pria tua itu dibantai oleh sekelompok kultivator hanya karena ia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah.
Tian Hao teringat bagaimana ia menangis, bagaimana tubuhnya bergetar hebat saat memeluk jasad yang sudah dingin itu.
Saat itu, sebuah pertanyaan muncul dalam benaknya: Kenapa orang bisa begitu jahat kepada jiwa yang begitu tulus?
Jawaban yang ia temukan mengubahnya selamanya. Jika dunia memperlakukan kebaikan dengan belati, maka menjadi "baik" adalah sebuah bunuh diri emosional.
"Apakah jika orang lain berbuat jahat kepadaku, kepadamu, dan kepada semua orang, aku harus memaksakan diri menjadi baik?" bisik Tian Hao pada bayangannya sendiri. "Tidak. Aku hanya perlu menjadi lebih kuat agar kejahatan mereka tidak bisa menyentuhku."
Tiba-tiba, sebuah suara menembus keheningan. Bukan suara pedang atau teriakan, melainkan suara seruling yang sangat jernih. Melodinya mengalir seperti air pegunungan, menenangkan namun membawa beban spiritual yang sangat dalam.
Tian Hao berhenti. Di atas sebuah batu besar di pinggir jalan, duduk seorang pria dengan pakaian longgar yang bersahaja namun elegan. Pria itu memegang seruling bambu hitam, matanya terpejam saat ia meniupkan napas yang berisi energi kehidupan.
Tian Hao mengenal sosok ini dari ingatannya yang terdalam.
"Po Ling Zun," batin Tian Hao.
Pria itu dikenal dengan julukan "Sang Penenang Badai". Po Ling Zun adalah seorang kultivator tingkat tinggi yang meninggalkan kemegahan sekte besar di Dataran Tengah untuk menjadi pengembara. Filosofinya adalah "Harmoni dalam Kekacauan"—ia percaya bahwa setiap kekerasan bisa diredam dengan ketenangan, dan setiap dendam bisa dilarutkan dengan pengampunan.
Po Ling Zun menghentikan permainannya. Ia membuka mata, menatap Tian Hao dengan tatapan yang sangat tenang, seolah ia bisa melihat langsung ke dalam lubuk jiwa pemuda di hadapannya.
"Jalanmu sangat berat, anak muda. Kau membawa beban yang tidak terlihat oleh mata, namun mampu meruntuhkan gunung," ucap Po Ling Zun. Suaranya membawa wibawa yang alami, tidak mengancam namun sangat kuat.