Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Wanita Itu Bernama Laras
"Kemana aja, Raka?"
Tante Ratih menyapaku. Perempuan ini adalah adik mama paling bungsu. Seorang dokter gigi terkenal di kota Pariaman.
Aku hanya menyeringai kecil menatapnya sekilas.
"Tante," Sapaku sopan. Kusalami dan kucium punggung tangannya.
"Bagaimana, sudah setuju dijodohkan mama?” godanya ringan, seolah topik itu hanya candaan sore. Ia tersenyum, memperlihatkan gigi-giginya yang rapi—ciri khas seorang dokter gigi yang selalu ia banggakan.
Aku menggigit bibirku pelan. Pertanyaan yang sangat sulit untuk aku jawab saat ini. Seolah mengerti dengan ekpresiku tante Ratih hanya melirikku, mengelus pundakku pelan, lalu berlalu dari hadapanku.
Aku menyenderkan kepalaku ke sofa. Pikiranku sedang berkecamuk, seolah aku sekarang benar-benar sendiri di ruang tamu yang besar ini.
Aku tak lagi menghiraukan tamu yang silih berganti, karena sejak siang, rumah mama tak pernah benar-benar sunyi.
Keluar masuk orang seakan tak ada jeda. Keluarga besar mama dan papa juga berdatangan. Ada yang dari luar kota dan beberapa juga dari kampung sebelah. Suara riuh bercengkerama.
Di halaman depan, tenda putih sudah berdiri sejak pagi. Kain tabia berwarna merah marun dan emas menghiasi tiang-tiangnya, berkibar pelan tertiup angin sore. Lampu-lampu kecil mulai dipasang, satu per satu, menunggu senja benar-benar jatuh sebelum dinyalakan. Bau masakan khas Minang menyeruak dari dapur—rendang yang dimasak perlahan, gulai yang sesekali diaduk, dan aroma santan yang menguar hangat, menempel di udara rumah.
"Raka, pindah ke kamar ya. Tante mau mendekor ruangan ini!" Suara tante Ratih membuat aku tergeragap.
Aku mengangguk memperhatikannya, berlalu ke lantai atas menuju kamar.
Ruang tamu disusun lebih lapang dari biasanya. Kursi-kursi kayu berjajar rapi menghadap ke tengah ruangan. Sebuah meja panjang ditutup kain songket, di atasnya telah tersusun dulang-dulang kosong yang sebentar lagi akan terisi. Foto-foto lama keluarga—lelaki-lelaki bersongkok hitam dan perempuan bersanggul rapi—terpajang di dinding, menjadi saksi bisu adat yang malam ini kembali dijalankan.
Mama mondar-mandir sejak tadi. Sesekali ia berhenti untuk memastikan susunan ruangan, lalu melirik jam dinding dengan raut wajah tegang namun penuh tekad. Tak ada senyum berlebihan di bibirnya, hanya sorot mata yang mantap—seolah keputusan malam ini adalah harga mati.
Dari lantai atas aku berdiri memandangi kesibukan itu dengan perasaan yang tak menentu. Rumah yang biasanya terasa hangat, kini seperti dipenuhi oleh beban adat yang menekan dadaku. Malam ini, namaku akan dipanggil dalam prosesi. Malam ini, hidupku akan berbelok arah. Dan rumah ini—yang sejak kecil memberiku rasa pulang—menjadi saksi bisu dari keputusan yang tak sepenuhnya aku kehendaki.
"Bro, serius amat?" Sapa Radi yang baru saja muncul dari teras atas.
Sesuai janjinya kemarin, hari ini ia libur tugas.
"Pacarmu datang nanti malam?" Ujarku basa-basi pada Radi.
Ia mengangkat bibir. Melirikku sejenak sebelum menjawab.
"Inikan acara keluarga bang. Masa aku mengundang Karina."
Ia terkekeh melihat ekspresiku.
"Makanya jangan kelamaan di kota besar. Lupa sama adat dan aturan sendiri," timpalnya lagi.
Ku buang napas yang terasa membuat dada sesak.
"Bagaimana dengan pacarmu, bang?"
Radi mendelikku. Pertanyaannya membuat kepalaku serasa ingin pecah.
"Rasanya berat, aku harus menerima perjodohan ini. Kita sudah hidup di jaman modern, tapi Mama masih saja berpikiran kolot." Tawaku terasa begitu garing.
"Mama pasti punya alasan dibalik sikapnya bang. Usiamu sudah kepala tiga, dan wanita pilihanmu juga seorang janda. Mama pasti mempertahankan harga dirinya."
Aku menoleh kearah Radi, adik laki-laki ku tampak menahan napas, takut ucapannya menyinggungku.
"Ningsih memang tak sepadan denganmu," lanjutnya kemudian.
"Hidup di kampung serba salah bang, salah sedikit jadi pembicaraan orang."
Aku memejamkan mata beberapa detik. Namun perempuan di foto itu kembali menyapa. Senyumannya, wajah teduhnya—terlalu kontras dengan riuh adat di bawah sana. Lagi-lagi pikiranku berkhianat, memilihnya, bahkan sebelum perjodohan ini resmi dimulai.
Secepat inikah Ningsih tergantikan, bahkan sebelum aku sempat mengucapkan selamat tinggal?
"Bang Raka, dipanggil Ninik Mamak di bawah," Suara Kania membuat aku dan Radi menoleh berbarengan.
Perasaanku mulai campur aduk. Untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa gugup menghadapi orang banyak.
Aku menarik tangan Radi untuk menemaniku ke bawah.
"Oh iya, kata Mama sekalian baju abang diganti. Bajunya udah di siapkan Mama di kamar abang."
Kania mengedipkan sebelah matanya menggodaku.
"Bentar lagi rombongan Kak Laras sampai bang. Persiapan mental ya," bisiknya ke telingaku dengan nada jahilnya.
Belum sempat aku membalas dia ngacir begitu saja.
"Bagaimana bang? Siap menempuh hidup yang baru?"
Giliran Radi yang menggoda.
"Biar aku bisa menyusul setelah ini," ucapnya menyipitkan mata padaku. Aku meninju bahunya.
"Aku dan Karina sudah lama menunggu momen ini," lanjutnya sambil tertawa ringan.
Suasana hiruk pikuk terdengar ramai di bawah. Di kantor, aku terbiasa menghadapi banyak orang—bahkan kepala perusahaan sekalipun. Tidak ada rasa canggung dan kikuk seperti sekarang.
Ku pandangi wajahku di depan kaca. Kemeja coklat dan celana dasar yang ku kenakan cukup membuat aura maskulinku terpancar. Pesona yang dulu membuat Ningsih memilihku. Ku ambil peci yang ditaruh mama di atas kasur ku.
"MasyaAllah, ternyata abangku ganteng juga,"
Kania sudah berdiri di pintu kamarku dengan senyuman mekarnya.
"Kania, Kania. Datang tak di jemput pulang tiba-tiba lenyap," balasku sedikit kesal. Ia menghampiriku. Merangkul pinggang dari belakang.
"Cepatan bang, Kak Laras sudah hampir sampai. Dek-dekan nggak?" Selorohnya sambil menempelkan tangannya di dadaku.
Aku memukulnya pakai peci yang kupegang. Ia meringis tapi masih saja menertawakanku.
"Jantung abang detaknya cukup kencang, biasanya itu tanda kecemasan berlebih," candanya sambil menatapku tak berkedip. Aku memplotinya, ia tetap nyengir merasa tak bersalah.
Langkah kakiku terasa lebih berat saat menuruni anak tangga. Riuh suara yang tadi terdengar ramai perlahan mereda, digantikan bisik-bisik pelan dan tatapan penuh arti. Aku tahu, sejak saat itu, aku bukan lagi sekadar anak Mama—melainkan lelaki yang akan dibicarakan dalam adat.
Riuh suara di ruang tengah seketika terasa menjauh ketika langkah kakiku terhenti. Di antara rombongan yang baru saja masuk, pandanganku tertahan pada satu sosok perempuan.
Ia berdiri sedikit di belakang, mengenakan busana sederhana bernuansa lembut. Kerudungnya menutupi rambut dengan rapi, membingkai wajah teduh yang entah mengapa terasa asing sekaligus dekat. Tatapannya tenang, tidak berlebihan, namun cukup untuk membuat dadaku berdebar tanpa aba-aba.
Aku tak tahu sejak kapan langkahku melambat. Waktu seolah memberi jeda hanya untuk satu pandangan itu. Untuk pertama kalinya malam ini, kegugupan yang kurasakan bukan lagi karena adat atau orang-orang yang menunggu di hadapanku.
Melainkan karena perempuan bernama Laras.
Ya tebakanmu tak salah, dialah pramugari yang hari itu menegurku di atas penerbangan Jakarta—Padang.