Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.
Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.
Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.
Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prosedur Ilegal
Aiena terbaring lemah di ranjang pasien obat anestesi disuntikkan ke dalam nadinya beserta dengan obat tidur. Ia mencoba menggerakkan ujung jarinya, namun seluruh tubuhnya terasa ringan, kesadarannya perlahan memudar. Anestesi itu mulai bekerja, menarik kesadarannya.
“Tidur saja, Na. Jangan dilawan,” suara Haze terdengar sangat jauh, hampir seperti gema di bawah air.
Meski lemas, Aiena memaksakan matanya terbuka sedikit, menangkap bayangan Haze yang duduk santai di kursi plastik putih, hanya dua meter dari ranjangnya. Pria itu menyilangkan kaki, jarinya lincah menari di atas layar ponsel yang cahayanya memantul di wajahnya yang tenang. Tidak ada cemas di wajah itu, tidak ada sedikitpun rasa bersalah.
Seorang pria berseragam hijau kusam masuk ke ruangan pengap itu, membawa nampan berisi peralatan logam yang berdenting pelan. Tanpa kata, oknum petugas itu mulai mengatur posisi kaki Aiena.
“Berapa lama?” tanya Haze tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
“Paling lama dua puluh lima menit jika dia tidak berontak,” jawab si petugas pendek.
Aiena ingin berteriak. Ia ingin bangkit dan lari dari ruangan terkutuk ini, namun kelopak matanya terasa dijahit paksa untuk menutup. Sebelum kegelapan benar-benar menyelimutinya, ia sempat melihat Haze meliriknya sekilas bukan dengan tatapan khawatir, melainkan tatapan seorang pemilik yang sedang menunggu barangnya diperbaiki.
“Lakukan yang bersih. Seperti yang terakhir kali,l” ucap Haze pelan, seolah sedang memesan modifikasi mobil.
Pria itu kembali fokus pada permainan di ponselnya saat proses evakuasi paksa itu dimulai. Baginya, pemandangan calon anaknya yang akan segera disingkirkan dari rahim Aiena hanyalah sebuah rutinitas sederhana untuk mengembalikan status kepemilikannya atas wanita itu tanpa beban tambahan.
***
Langit-langit putih kusam yang retak menjadi hal pertama yang ditangkap oleh netra Aiena yang masih berbayang. Kepalanya terasa berdenyut hebat. Kesadarannya sudah pulih namun belum seratus persen. Sebagian tubuhnya masih terasa mati rasa. Tidak adanya petugas di ruangan itu seolah memberi sinyal bahwa segalanya telah selesai.
“Bangun, Na. Jangan manja, kita tidak bisa lama-lama disini.”
Suara Haze terdengar tepat di samping telinganya. Pria itu sudah berdiri, merapikan rambutnya sambil sesekali melirik ke arah pintu keluar yang tertutup rapat. Ia tidak membantu Aiena duduk, hanya menatapnya dengan ketidaksabaran yang kentara.
Aiena tidak menjawab. Isakan kecil mulai lolos dari bibirnya yang pucat dan kering. Air mata mengalir deras, membasahi bantal keras yang ia gunakan sebagai tumpuan. Ia meringkuk, memeluk perutnya, merasa bersalah. Merasa begitu jahat pada darah dagingnya sendiri.
“Kenapa nangis lagi?” Haze mendesis, suaranya tajam seperti belati. Ia membungkuk, wajahnya tepat berada di depan wajah Aiena, menghalangi pandangan wanita itu ke arah lain.
“Hapus air matamu. Kamu sudah setuju tadi.”
“Dia nggak salah, Haze,” jawab Aiena lirih di sela isakannya.
“Diam!” Pria itu mencengkeram bahu Aiena, menyentaknya agar duduk tegak di tepi ranjang. “Ini yang terbaik buat kita berdua.”
Haze menarik napas panjang, menatap Aiena dengan binar obsesif yang membuat bulu kuduk berdiri. “Aku nggak mau anak itu, Aiena. Aku nggak butuh makhluk kecil yang bakal ngambil kamu dari aku. Pokoknya aku nggak mau perhatianmu kebagi. Kamu cuma punyaku, full, tanpa gangguan dari siapapun. Kalau perlu kamu nggak usah kerja, seharian aja sama aku.”
Aiena menatap pria di hadapannya dengan ngeri. Ia melihat sosok monster yang terbungkus dalam wajah tampan yang dulu ia cintai. “Kamu gila, Haze.”
“Aku cuma cinta lebih dari siapapun,” balasnya sambil mengusap pipi Aiena yang basah dengan gerakan kasar.
“Tapi aku kesiksa Haze…”
“Ayo pulang. Sudah malam. Nanti orang tuamu khawatir.”
Aiena menurut dalam diam, kakinya gemetar saat menyentuh lantai yang dingin. Ia menyadari bahwa di mata Haze, ia bukanlah seorang manusia, melainkan sebuah piala yang harus tetap mengkilap hanya untuk dilihat olehnya sendiri. Tanpa cacat, tanpa beban, dan tanpa hak untuk mencintai apa pun selain pria itu.
***
Sebagian besar lampu rumah sudah padam ketika Aiena diantar Haze pulang. Ia berjalan pelan mengendap-endap agar tidak membangunkan anggota keluarga yang lain. Lalu langsung masuk ke dalam kamar.
Di atas ranjang, di balik selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, Aiena menangis. Menyesali prosedur ilegal yang dilewatinya untuk kesekian kali.
Namun yang baru saja ini benar-benar membuatnya sedih. Jauh lebih sedih dari sebelumnya. Dengan penyesalan yang seolah tak berujung.
***