NovelToon NovelToon
Kebangkitan Pewaris Rahasia

Kebangkitan Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:15.3k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.

Tapi takdir berkata lain.

Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.

Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.

Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Tuan Benjamin!

Tatapan antara Atlas dan Stevan saling beradu.

"Dasar bajingan!"

Atlas mencoba menendang Stevan yang berada di depannya, tetapi tiga orang anak buah Brian segera menahan tendangan itu, membuat Atlas terjatuh.

"Atlas!" teriakan Alicia yang memanggil nama kakaknya terhenti ketika Brian membungkam mulut Alicia dengan sapu tangan.

"Jangan sentuh adikku! Hadapi aku dan lepaskan dia! Ugh!" Atlas berusaha melepaskan kakinya dari cengkeraman salah satu anak buah Brian, tetapi dia tidak berhasil.

Fokus Atlas hancur. Karena dia ditahan oleh tiga anak buah Brian, dia kesulitan menggerakkan tubuhnya, dengan tangan dan kakinya ditahan oleh tiga orang tersebut. Sebagian pikirannya tertuju pada Alicia, melemahkan kekuatannya.

"Baik kau maupun adikmu tidak akan selamat. Bahkan jika adikmu selamat, aku akan membuatnya cacat dan menjadikannya budakku! Haha!"

Stevan mendekati Atlas dan menendang perutnya dengan keras.

"Argh!" darah keluar dari mulut Atlas, dan rasa sakit menyebar ke seluruh tubuhnya.

Meskipun mulutnya dibungkam, rintihan Alicia masih terdengar. Pikiran Atlas semakin kacau, ketakutan mencengkeram jiwanya.

"Menurutmu kau ini siapa, Atlas?" Stevan menarik tubuh Atlas dan memukul wajahnya. "Kau pikir kau bisa mengendalikan hidupku? Kau tidak akan pernah berubah, Atlas! Kau akan selalu menjadi manusia rendahan di bawahku, tidak akan pernah bisa melampauiku, Atlas! Pfft!"

Stevan meludahi wajah Atlas dan melempar tubuhnya kembali ke lantai.

Napas Atlas menjadi cepat, dia sangat marah, namun kekhawatiran masih ada dalam dirinya, membuatnya sulit fokus dan melawan Stevan.

"Kau harus sadar bahwa kau tidak akan pernah bisa meningkatkan statusmu, Atlas!"

Stevan kembali menendang perut Atlas, kali ini berulang kali. Teriakan Alicia dan rintihan Atlas terdengar, membuat Stevan tersenyum lebar.

"Haha! Lihat dirimu, Atlas, kau seperti anjing liar yang sekarat!"

Stevan bersiap menendang tubuh Atlas lagi ketika Brian memanggil namanya dan memberikan ide gila.

"Tuan Stevan, bagaimana kalau kau lakukan saja apa yang sejak awal kau inginkan? Bukankah akan menarik jika diperlihatkan di depan Atlas? Itu akan menjadi pemandangan indah sebelum dia pergi ke neraka." Brian tersenyum licik sambil mengelus dagu Alicia.

Stevan bertepuk tangan, tersenyum lebar dan menunjukkan kepuasan setelah mendengar rencana itu. "Ide terbaik yang pernah kudengar! Baiklah, angkat orang bodoh ini dan biarkan dia duduk untuk menikmati pertunjukan tak terlupakan ini!"

Tiga anak buah Brian mengangkat tubuh Atlas. Stevan melangkah mendekat ke sisi tempat tidur Alicia, wajahnya sudah penuh memar.

Atlas menatapnya, masih berusaha bernapas setelah tendangan bertubi-tubi, dan berkata, "Apa yang akan kau lakukan pada adikku? Lepaskan dia, dasar sialan!"

"Lepaskan dia? Mimpi kau, Atlas! Kau akan melihat bagaimana seorang pria memuaskan seorang wanita murahan ini!" Stevan membuka resleting celananya sambil tertawa puas.

Brian melepas penutup mulut Alicia. Teriakan Alicia langsung menggema, memanggil nama Atlas.

"Atlas! Tolong aku!"

"Haha! Apa yang kau harapkan dari kakakmu, pelacur? Dia sendiri hampir mati! Tenang saja, kami akan memberinya sedikit hiburan, lalu kalian berdua bisa pergi neraka bersama! Brian, siapkan kameramu dan rekam kami! Aku tidak ingin momen ini dilupakan begitu saja!"

Stevan hendak naik ke atas tempat tidur ketika terdengar teriakan dari salah satu pria yang memegang tubuh Atlas. Mata Stevan membesar, sedikit ketakutan terlihat darinya. Dua pria yang menahan Atlas jatuh, tubuh mereka kejang-kejang di lantai.

"Sial!" Stevan menggeram, menatap Brian dan berteriak, "Hei, apa yang kau lakukan? Cepat panggil semua anak buahmu ke sini!"

"Ugh!" teriakan lain terdengar dari dua pria yang jatuh, Atlas menginjak tulang rusuk mereka, suara tulang patah terdengar oleh semua orang di ruangan.

"Jadi, kau masih punya keberanian. Baiklah, kita butuh panggung tambahan untuk menyelesaikan permainan ini." Stevan menatap pria lain yang baru saja mengambil kursi, "Tahan dia!"

Namun, Atlas langsung membalikkan tubuhnya tanpa banyak bicara dan mendorong pria itu hingga terlempar jauh. Kekuatan mengerikan itu membuat Stevan dan Brian saling bertukar pandang.

"Tenang, Tuan Stevan, yang lain akan segera datang. Kami akan menangani pria bodoh ini, kau duduk saja dan saksikan bagaimana dia mati!" Brian meyakinkan Stevan, tetapi Stevan sudah sedikit gentar.

Karena, Atlas kini tanpa henti menghantam tubuh pria itu dengan serangkaian pukulan hingga teriakannya tak lagi terdengar.

Atlas berhenti hanya ketika pria itu tak bergerak lagi. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke Stevan yang masih berdiri di samping tempat tidur bersama Brian. Atlas berlari kembali ke dalam ruangan dan menyerang Stevan dengan pukulan ke wajah hingga dia langsung jatuh.

"Dasar bajingan! Kau akan mati, Stevan!" Atlas bersiap menendang Stevan ketika Brian mengarahkan pistolnya ke arah Atlas. Namun, amarah yang meluap membuat Atlas dengan mudah menepis senjata itu hingga jatuh. Dia lalu menangkap lengan Brian dan melempar tubuhnya ke samping Stevan.

Atlas mengamuk, menendang perut mereka satu per satu. Alicia terlihat ketakutan, menyaksikan kakaknya yang tak terkendali.

"Atlas, berhenti! Aku mohon, berhenti!" tangisan Alicia melemahkan Atlas. Dia menatap adiknya yang terikat di tempat tidur dan langsung menghentikan aksinya.

Stevan dan Brian mengerang, darah mengalir dari mulut mereka. Sementara itu, Atlas dengan cepat melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Alicia. Dengan sekali tarik, dia dengan mudah melonggarkan ikatan yang ketat.

"Maafkan aku, aku datang terlambat, Alicia!"

Atlas memeluk adiknya. "Tunggu sebentar, kita akan pergi setelah aku membuat dua bajingan ini membayar semuanya."

"Sudah cukup, Atlas! Jangan kotori tanganmu dengan membunuh mereka. Kita bisa memanggil polisi agar mereka ditangkap."

Atlas menatap Brian dan Stevan yang tergeletak di lantai, kesulitan bernapas. "Tidak semudah itu, Alicia. Aku tidak akan membiarkan mereka bernapas lagi. Mereka pantas mati!"

Atlas menjauh dari Alicia dan mendekati tubuh Brian, bersiap menyerang, tetapi Brian tiba-tiba menyebut sebuah nama yang membuat Atlas menghentikan pukulannya.

"Berhenti! Aku berada di bawah naungan Tuan Benjamin!”

"Apa yang kau katakan?!" Atlas mempererat cengkeramannya pada kerah Brian.

"Aku berkata, aku berada di bawah naungan Tuan Benjamin. Kau pasti tahu siapa Benjamin, kan? Sekadar informasi, dia sedang memburu siapa pun yang telah menghancurkan kelompoknya. Jika kau masih ingin hidup, sebaiknya kau berhenti, Atlas."

Brian menyeringai, giginya berlumuran darah, menikmati kekacauan di wajah Atlas.

Atlas melirik Stevan yang masih terbaring di lantai. "Hei, bajingan, apakah benar kau bekerja sama dengan Benjamin?"

"Bisakah kalian berhenti menyebut nama Benjamin di depanku? Aku tidak ada hubungannya dengan nama orang bodoh itu! Bukan urusanku apakah dia berada di bawah Benjamin atau siapa pun."

Stevan melirik Atlas, air liur bercampur darah menetes dari mulutnya.

Keraguan mulai merayapi hati Atlas.

Semua yang terjadi, mulai dari pertemuannya dengan Benjamin hingga buku aneh di kamar dan kejadian hari ini, terasa seperti sebuah rencana yang disengaja.

Namun, wajah Alicia yang penuh luka membuat Atlas mengabaikan kegelisahan yang mulai tumbuh dalam dirinya. Membalas perlakuan buruk terhadap adiknya jauh lebih penting.

"Kelompok ini adalah yang terbaik di kota ini. Benjamin akan menjadi gila jika kau berani menghancurkanku. Aku adalah pemimpin yang selalu dia banggakan! Ah, aku tidak sabar melihatmu menjadi lebih mengerikan dan hancur daripada apa yang sedang kau lakukan padaku sekarang!"

Kata-kata Brian semakin menguatkan tekad Atlas untuk melanjutkan apa yang sedang dia lakukan.

"Baiklah, aku tidak peduli siapa yang mendukungmu, kau harus mati, sampah!"

"Brian! Tuan Atlas!"

Atlas menghentikan pukulannya dan menoleh untuk melihat seorang pria bertubuh tinggi dengan janggut tebal di wajahnya. Pria itu datang ditemani banyak orang berwajah mengintimidasi. Jika dihitung, mungkin ada sekitar lima belas orang di belakangnya.

"Ah, bantuan sudah datang. Mari kita lihat siapa yang akan mati, Atlas," Brian tertawa kecil. Atlas mendorong tubuh pria itu ke samping dan menghadapi pendatang baru yang tinggi itu.

"Siapa kau? Apa yang kau inginkan dariku? Apakah kau juga ingin mati? Kalau begitu tunggu giliranmu setelah dua bajingan itu mati!" Atlas berteriak keras kepada pria itu.

"Hahaha! Kau tidak akan pernah bisa membunuh kami, Atlas. Mungkin dulu ada kesempatan, tapi sekarang? Apa kau tidak tahu orang yang berdiri di hadapanmu adalah penembak terbaik milik Benjamin? Kau sedang menandatangani surat kematianmu sendiri, kawan!"

Kata-kata Brian membuat Alicia ketakutan. Dia memaksa dirinya turun dari tempat tidur dan mendekati pria tinggi itu.

"Tolong, jangan lakukan apa pun pada kakakku. Aku mohon, dia hanya mencoba menyelamatkanku. Jika kau benar-benar ingin menyakitiku, lakukan saja! Tapi jangan bunuh kakakku!"

"Alicia! Apa yang kau lakukan?!"

Atlas menarik tubuh adiknya saat dia mencoba memeluk kaki pria tinggi itu. Tawa menggema dari Brian, jelas puas dengan

penderitaan yang dialami kakak beradik itu.

Sementara itu, Stevan tetap diam, tidak bergerak, tidak lagi menikmati penderitaan Atlas dan Alicia. Dia hanya memikirkan bagaimana cara melarikan diri dari tempat ini.

"Lepaskan aku, Atlas!" Alicia memberontak dan bersujud di kaki pria tinggi itu.

"Apa yang kalian tunggu? Bunuh saja mereka berdua! Tubuhku sangat sakit karena tendangan tikus sialan itu!"

Alicia mengangkat kepalanya ke arah pria tinggi itu dan menyatukan kedua tangannya. Air mata mengalir semakin deras. "Tolong, jangan lakukan itu! Aku mohon, tolong!"

Atlas menarik kembali adiknya ke dalam pelukannya, mengusap kepala Alicia dengan lembut, dan menatap tajam pria tinggi itu. Dia bingung bagaimana harus menghadapi situasi ini.

Keinginan terkuat Atlas tentu saja melawan dan membawa Alicia pergi. Namun, terlalu banyak anggota yang mengelilingi mereka, dan masing-masing bersenjata. Keselamatan Alicia kini menjadi satu-satunya pertimbangan Atlas. Kekuatan dalam dirinya terasa runtuh, dan dia kehilangan kepercayaan diri untuk menyerang.

"Jika kau benar-benar ingin membunuhku, lakukan saja. Tapi aku memintamu untuk membebaskan adikku. Dia tidak bersalah dan tidak seharusnya terlibat dalam semua kekacauan ini." Atlas menatap tajam pria berambut gelap itu.

Brian yang mendengar ini tampak tidak senang. Dia berteriak keras sambil menahan rasa sakit di perutnya. "Jangan dengarkan dia! Kalian harus membunuh mereka berdua. Mereka tidak pantas hidup! Lakukan saja seperti perintahku! Aku bahkan akan memberi tahu Tuan Benjamin bahwa kalian telah menyelamatkan geng berharganya dari orang bodoh di depan kalian! Aku juga akan memberi kalian sedikit uang dari yang diberikan oleh Tuan Stevan, tenang saja!"

Pria bermata cokelat dengan tatapan tajam itu melihat bolak-balik antara Brian dan Atlas. Dia tetap tidak tergerak, wajahnya tanpa ekspresi. Beberapa anggota lain yang mengelilingi mereka sudah siap mengarahkan senjata ke arah Atlas.

"Baiklah, mari kita putuskan apa yang akan terjadi padamu, Tuan Atlas.”

1
Was pray
kalau kegoblogkan Alicia masih berlanjut malas nerusin baca novel ini
Was pray
Alicia kok menjengkelkan sih Thor? jadi sisi negatif novel
Was pray
flhasbacknya terlalu panjang, diringkas aja Thor, singkat tepat padat, kalau terlalu panjang jadi kayak emak2 yg lagi ngerumpi gak kelar2
Was pray
Alicia sosok cewek lemahkah?
Was pray
awal cerita dimulai konflik yg membosankan, urusan apem cewek
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Sebagai manusia, kita seharusnya belajar untuk tidak terlalu cepat menarik kesimpulan tentang seseorang hanya dari penampilannya.
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.

Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗
amida
ditunggu part selanjutnya dengan sabar tapi deg-degan
Coutinho
teruskan kak
sweetie
semangat truss kak author
ariantono
.
Stevanus1278
dobel up dong kk
oppa
lanjut kak, jangan lama-lama
cokky
lanjut terus ya kak
corY
next chapter please, lagi butuh hiburan nih
Coutinho
kok bingung ya dengan jalan ceritanya, sebenarnya Benjamin ingin menyelamatkan Atlas atau ingin membunuhnya???
sweetie
terimakasih Thor, dobel up nyaaa, semangat terus
Billie
kualitas cerita selalu konsisten, keren
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
laba6
keren karya nya tor
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
Coffemilk
hadir tor
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
ariantono
jangan lama-lama up nya ya kak🙏🙏
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!