Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Saingan dari Masa Lalu
Ketenangan di kantor Wijaya Tower mendadak buyar pagi ini. Sebuah mobil sport berwarna merah menyala terparkir sembarangan tepat di depan pintu lobi utama. Dari dalamnya keluar seorang pria dengan setelan jas seharga satu unit rumah subsidi, kacamata hitam branded, dan rambut yang klimisnya bisa buat terpeleset lalat.
"Genta, siapa itu? Kok gayanya lebih tengil dari kamu?" bisik Clarissa saat kami baru saja turun dari lift dan melihat kerumunan di lobi.
Aku menyipitkan mata. Insting premanku langsung mendeteksi bau-bau saingan. "Wah, itu sepertinya tipe-tipe orang yang kalau makan bubur ayam diaduk pakai sendok emas, Mbak Bos. Mencurigakan."
Belum sempat aku menebak lebih jauh, pria itu sudah melangkah lebar menuju arah kami dengan senyum yang menurutku sangat
menyebalkan. "Clarissa! Long time no see, Darling," sapanya dengan suara yang dibuat-buat berat.
Wajah Clarissa mendadak berubah pucat, lalu sedetik kemudian berubah menjadi dingin seperti es batu di kulkas. "Adrian? Sedang apa kamu di sini?"
Ternyata namanya Adrian. Mantan kekasih Clarissa yang dulu kuliah di London dan sekarang katanya jadi pengusaha sukses. Dia mengabaikan kehadiranku sama sekali, seolah-olah aku ini cuma manekin pajangan yang kebetulan pakai batik.
"Aku baru saja kembali dari Inggris, Clarissa. Aku dengar perusahaanmu sedang naik daun. Aku datang mau menawarkan kolaborasi... atau mungkin, kesempatan kedua untuk kita?" Adrian mencoba meraih tangan Clarissa, tapi dengan sigap aku langsung menyelip di tengah-tengah mereka.
"Eits! Maaf Mas Adrian, tangannya dijaga ya. Mbak Bos saya ini barang antik, nggak boleh disentuh sembarangan kalau nggak mau kena denda administratif berupa bogem mentah," kataku sambil memasang wajah sangar andalanku.
Adrian menatapku dengan jijik. "Siapa kamu? Supir? Atau tukang kebun baru?"
"Saya Genta Arjuna. Kepala Keamanan, Kepala Urusan Perut, dan Kepala Bagian Pengusir Lalat Pengganggu. Singkatnya, saya bodyguard-nya Mbak Bos," jawabku sambil berkacak pinggang.
Adrian tertawa meremehkan. Dia mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar
uang seratus ribuan, lalu menyodorkannya ke arahku. "Ini, ambil. Pergi sana belikan aku kopi yang paling mahal di depan, dan jangan kembali sampai urusanku dengan Clarissa selesai."
Aku menatap uang itu, lalu menatap wajah Adrian. "Waduh Mas, kopi mahal itu nggak sehat buat dompet. Gimana kalau uang ini saya buat beli krupuk satu kaleng terus saya makan di depan muka Mas biar Mas tahu rasanya kegaduhan yang hakiki?"
"Genta, cukup!" potong Clarissa. Tapi anehnya, dia tidak marah padaku. Dia malah menatap Adrian dengan tajam. "Adrian, urusan kita sudah selesai tiga tahun lalu. Pergi sekarang, atau Genta benar-benar akan melakukan apa yang dia katakan."
Adrian terlihat tersinggung. "Kamu lebih membela bodyguard kampungan ini daripada aku? Clarissa, lihat dia! Dia bahkan tidak tahu cara memakai dasi dengan benar!"
"Dasi saya memang nggak benar, Mas. Tapi hati saya lurus, nggak kayak Mas yang gayanya selangit tapi etikanya ketinggalan di London," balasku telak.
Adrian akhirnya pergi dengan perasaan dongkol, tapi dia sempat berteriak kalau dia tidak akan menyerah. Setelah suasana kembali tenang, aku mengikuti Clarissa masuk ke ruangannya. Aku bisa merasakan kalau suasana hatinya sedang tidak enak.
"Mbak Bos... itu tadi beneran mantan?" tanyaku pelan sambil merapikan kursi di depannya.
Clarissa menghela napas panjang. "Iya. Dia yang dulu meninggalkan saya demi mengejar karir di luar negeri. Sekarang setelah saya sukses, dia datang lagi seolah tidak terjadi apa-apa."
"Halah, tipe-tipe laki-laki pengecut itu mah, Mbak Bos. Kalau saya jadi dia, saya nggak akan pernah ninggalin berlian kayak Mbak Bos cuma buat ngejar tembaga di luar sana," kataku tulus.
Clarissa menatapku lama. Ada binar aneh di matanya yang membuatku salah tingkah. "Genta... kamu cemburu ya?"
"Cemburu? Saya? Waduh, ya jelas... eh, maksud saya, ya jelas sebagai bodyguard saya harus protektif! Nanti kalau Mbak Bos galau lagi gara-gara dia, yang repot kan saya juga harus nyiapin mie instan tengah malam," jawabku terbata-bata.
Clarissa tertawa kecil, suara tawa yang selalu berhasil membuat hatiku yang keras seperti batu karang mendadak jadi selembut tahu sutra. "
Terima kasih, Genta. Tapi ingat, Adrian itu orang yang licik. Dia pasti akan mencari cara lain untuk mengganggu kita."
"Tenang saja, Mbak Bos. Selama Genta Arjuna masih bernapas, nggak akan ada ruang buat mantan-mantan nggak jelas itu masuk lagi. Kalau perlu, kantor ini saya pasangi pagar kawat berduri plus aliran listrik biar dia kapok!"
Malam itu, aku menyadari satu hal. Tugas menjaga Clarissa ternyata sudah berevolusi. Bukan lagi soal menjaga nyawanya, tapi menjaga hatinya dari serangan masa lalu yang mencoba merusak kebahagiaannya yang sekarang. Dan aku, preman dari Sidoarjo ini, siap jadi benteng terdepan!
Setelah Adrian pergi dengan mobil sport-nya yang berisik itu, aku memutuskan untuk mampir sebentar ke pos satpam di lobi bawah. Rasanya dada ini masih sesak kalau belum cerita ke teman-teman seperjuangan. Di sana ada Pak Bambang dan Anto yang sedang asyik ngopi hitam.
"Wah, Mas Genta! Tadi itu siapa Mas? Gayanya selangit, mobilnya kinclong bener!" tanya Anto sambil menyodorkan gorengan.
"Halah, itu cuma lalat dari masa lalu Mbak Bos, Nto. Namanya Adrian. Gayanya memang bos, tapi kelakuannya minus. Masa mau nyogok saya pakai uang buat beli kopi demi bisa berduaan sama Mbak Bos," jawabku sambil mengambil bakwan jagung.
"Terus Mas Genta terima?" Pak Bambang penasaran.
"Ya enggaklah! Saya bilang saja kalau uangnya lebih baik buat beli kerupuk sekarung biar dia tahu rasanya kegaduhan. Langsung pucat itu mukanya, kayak belum sarapan tiga hari," ceritaku yang langsung disambut tawa terbahak-bahak
oleh mereka. Memang benar, menghina orang sombong itu ada kepuasan tersendiri, apalagi kalau orang itu mencoba mengganggu wilayah kekuasaanku.
Malam harinya, aku duduk sendirian di teras paviliun tempatku menginap di rumah Clarissa. Sambil menatap bintang-bintang Jakarta yang jarang kelihatan karena polusi, aku mulai berpikir keras. Kejadian tadi siang benar-benar membuat hatiku tidak tenang.
Kenapa aku harus se-emosional itu? Kenapa aku merasa sangat marah saat Adrian mencoba menyentuh tangan Clarissa? Apakah ini cuma sekadar profesionalisme sebagai bodyguard, atau ada sesuatu yang lebih dalam yang mulai tumbuh di balik kaos oblongku ini?
"Genta... jangan ngimpi terlalu tinggi. Kamu itu cuma preman Sidoarjo, dia itu CEO kelas atas. Ibarat kata, kamu itu kerupuk kaleng, dia itu kaviar mahal," bisikku pada diri sendiri.
Tapi bayangan senyum Clarissa saat aku berhasil mengusir Adrian tadi terus menghantuiku.
Rasanya ada kepuasan yang lebih besar daripada sekadar gaji bulanan. Menjaga Clarissa ternyata bukan lagi soal fisik, tapi soal kenyamanan hatinya. Dan aku bersumpah, siapapun yang mencoba merusak senyum itu, entah itu mantan pacar tajir atau investor licik sekalipun, mereka harus berhadapan dulu dengan Genta Arjuna!
Aku pun masuk ke dalam kamar dengan tekad bulat. Besok, aku harus lebih siaga. Karena aku tahu, Adrian tidak akan menyerah begitu saja. Tapi dia belum tahu, kalau lawan bicaranya kali ini adalah lulusan terbaik dari universitas jalanan Sidoarjo yang tidak mengenal kata mundur