NovelToon NovelToon
Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:52
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 - Surat Ancaman Beraroma Stroberi

Cahaya matahari pagi yang terik menembus kaca jendela kelas XII IPA 1, menyorot langsung ke punggung Rama yang duduk tegap di barisan kedua dari depan. Suasana kelas hening, hanya terdengar suara kapur yang beradu dengan papan tulis hijau. Pak Haris, guru matematika yang terkenal killer seantero SMA Taruna Citra, sedang asyik menjelaskan rumus trigonometri yang rumit. Di mata murid lain, rumus itu tampak seperti mantra pemanggil iblis, tapi bagi Rama, itu cuma hitungan dasar yang sudah dia kuasai sejak tahun lalu.

Rama menopang dagunya dengan tangan kiri, matanya menatap lurus ke papan tulis, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Tepatnya, melayang ke kejadian kemarin sore di Kedai Manis Sudut Kota. Sensasi dingin es krim vanila dan tatapan tajam cewek berjilbab ungu itu masih terbayang jelas di otaknya. Rama menghela napas panjang, merutuki nasibnya yang tiba-tiba berubah drastis dari bos jalanan yang ditakuti menjadi jongos seorang siswi pindahan.

Tuk!

Sebuah gumpalan kertas kecil berwarna merah muda mendarat mulus di atas meja Rama, tepat di sebelah buku catatannya. Rama mengerutkan kening. Kertas itu memiliki aroma yang sangat familiar—wangi stroberi yang manis dan sedikit kekanak-kanakan. Dia menoleh pelan ke arah belakang kelas. Di pojok sana, Nayla sedang duduk santai sambil memutar-mutar pulpen di jarinya. Gadis itu menaikkan satu alisnya, memberikan isyarat lewat tatapan mata agar Rama membuka gulungan kertas itu.

Dengan perasaan waswas dan gengsi yang masih meronta-ronta, Rama membuka kertas itu perlahan, memastikannya tidak terlihat oleh Pak Haris. Tulisan rapi khas cewek itu kembali menghiasi pandangannya.

Nanti istirahat kedua, beliin gue Nasi Goreng Gila level dewa di kantin belakang. Jangan telat, atau foto korek kesayangan lo pindah ke grup WhatsApp angkatan. - Bos Baru Lo.

Urat di pelipis Rama langsung berkedut. Dia meremas kertas wangi itu kuat-kuat sampai tak berbentuk. Sialan. Kantin belakang adalah area paling barbar di sekolah ini. Berbeda dengan kantin utama yang rapi dan elit, kantin belakang adalah tempat nongkrongnya anak-anak bandel, tukang bolos, dan preman sekolah. Udara di sana selalu dipenuhi asap rokok sembunyi-sembunyi dan keringat. Tidak ada murid teladan berlabel 'anak emas' yang sudi menginjakkan kaki di sana. Dan sekarang, dia disuruh mengantre Nasi Goreng Gila di tempat terkutuk itu?

Bel istirahat kedua akhirnya berbunyi, menyelamatkan sisa kewarasan murid-murid di kelas. Pak Haris keluar ruangan, dan suasana kelas yang tadinya seperti kuburan mendadak berubah menjadi pasar malam.

"Ram, ke perpus yuk? Mau nyari referensi buat tugas biologi nih," ajak Dika sambil merapikan buku-bukunya.

"Duluan aja, Dik. Gue ada... urusan bentar," tolak Rama cepat, langsung berdiri dan melangkah keluar kelas tanpa menunggu balasan Dika.

Rama berjalan menyusuri koridor dengan langkah cepat. Begitu mendekati area kantin belakang, suasana langsung berubah. Aroma bumbu kacang, keringat, dan panasnya kompor langsung menyengat hidung. Beberapa anak kelas sebelas yang sedang asyik nongkrong langsung terdiam saat melihat sosok jangkung dengan kacamata minus dan seragam rapi itu muncul.

"Eh, gila. Itu Kak Rama kan? Ngapain anak dewa nyasar ke sini?" bisik seorang cowok berambut cepak kepada teman di sebelahnya.

"Mungkin mau sidak OSIS kali. Awas tuh rokok lo umpetin," balas temannya panik.

Rama mengabaikan bisik-bisik itu. Dia memasang wajah sedatar mungkin, berjalan lurus menuju gerobak Mang Udin yang sedang mengepulkan asap. Antrean di sana lumayan panjang, didominasi oleh cowok-cowok berbadan besar yang sedang kelaparan. Rama menyelip di antara antrean, menahan napas karena udara yang sumpek.

"Mang, Nasi Goreng Gila satu. Level dewa," pesan Rama dengan nada sedatar mungkin, mencoba menyembunyikan rasa jijiknya pada meja gerobak yang agak lengket.

"Eh, Den Rama! Tumben jajan di sini? Nasi Goreng Gila level dewa nih? Berani juga perutnya," kekeh Mang Udin sambil terus mengaduk wajan besarnya.

Rama hanya membalas dengan senyum kaku. Butuh waktu hampir lima belas menit baginya untuk berdiri mematung di sana, menjadi pusat perhatian diam-diam dari anak-anak berandal sekolah yang heran melihat eksistensinya. Setelah bungkusan kertas cokelat itu berpindah ke tangannya, Rama setengah berlari meninggalkan area kantin belakang, kembali menuju peradaban.

Sesuai instruksi lanjutan yang dikirim Nayla lewat pesan singkat, Rama berjalan menuju gazebo taman belakang sekolah. Tempat itu biasanya sepi karena agak jauh dari gedung utama dan ditumbuhi pohon-pohon beringin besar yang rindang. Di salah satu bangku kayu panjang, Nayla sudah duduk manis sambil mendengarkan musik lewat earphone, kaki kirinya digoyang-goyangkan santai.

Rama meletakkan bungkusan nasi goreng itu di atas meja kayu dengan tenaga yang sedikit dilebihkan, menimbulkan suara debuk yang lumayan keras.

"Pesanan lo. Dimakan sampai habis, awas kalau nyisa," ketus Rama, berdiri menjulang di hadapan gadis itu dengan napas sedikit ngos-ngosan.

Nayla melepas sebelah earphone-nya, menatap bungkusan itu lalu menatap Rama dengan senyum menyebalkan. "Wah, makasih, Babu. Lo emang bisa diandalkan. Duduk dong, pegel gue lihat lo berdiri terus kayak tiang bendera."

"Gue banyak urusan," balas Rama dingin, membetulkan letak kacamatanya.

"Duduk, atau gue teriak sekarang juga kalau Ketua Klub Sains kita ternyata ketua geng motor The Ghost," ancam Nayla santai, tanpa beban sedikit pun.

Dengan kasar, Rama menarik bangku di seberang Nayla dan mengempaskan tubuhnya di sana. Matanya menatap tajam ke arah gadis yang kini sedang asyik membuka bungkusan nasi goreng gila yang aromanya langsung menyerbak memenuhi gazebo. Warnanya merah menyala, penuh dengan potongan cabai rawit setan.

"Lo beneran mau makan itu? Itu pedesnya nggak ngotak. Perut lo bisa hancur," komentar Rama tanpa sadar, melihat porsi mengerikan di depannya.

Nayla menyendok nasi itu dengan santai dan memasukkannya ke dalam mulut. Dia mengunyah perlahan, lalu menelan tanpa ekspresi kesakitan sedikit pun. "Udah biasa. Hidup gue udah cukup pedas, jadi makanan kayak gini mah lewat."

Rama terdiam. Ada nada getir yang samar-samar terdengar dari kalimat ceplas-ceplos gadis itu. Tiba-tiba rasa penasarannya mengalahkan rasa gengsinya.

"Kenapa lo pindah ke sini?" tanya Rama tiba-tiba, suaranya sedikit lebih pelan dari sebelumnya.

Nayla menghentikan kunyahannya sejenak. Dia menatap Rama lekat-lekat, mencoba mencari tahu apakah pertanyaan itu sekadar basa-basi atau benar-benar ingin tahu. "Bukan urusan lo, Babu. Tugas lo cuma nurutin perintah gue, bukan wawancara masa lalu gue."

"Gue cuma nanya," bela Rama, membuang muka ke arah pepohonan rindang. "Lo nggak kelihatan kayak cewek yang gampang diatur. Pasti ada masalah di sekolah lo yang lama sampai lo dibuang ke sini."

Nayla terkekeh pelan. "Dibuang? Bahasanya kasar banget sih. Ya, intinya gue bikin onar dikit, terus nyokap gue murka dan mindahin gue ke sekolah yang katanya paling ketat dan isinya anak-anak alim semua. Biar gue ketularan bener, katanya."

Gadis itu menatap Rama dari ujung kepala sampai ujung kaki, senyum jahilnya kembali terbit. "Eh, ternyata... sekolah elit ini isinya sama aja. Ada iblis jalanan yang nyamar jadi malaikat di kelas. Lucu banget dunia ini."

"Gue nggak nyamar," potong Rama tajam, rahangnya mengeras. "Gue cuma nyari tempat buat napas. Di rumah, bokap gue nuntut kesempurnaan. Di jalanan, gue nemuin kebebasan yang nggak pernah gue dapat dari keluarga gue sendiri. Lo nggak ngerti."

"Siapa bilang gue nggak ngerti?" Nayla menyendok nasi gorengnya lagi. "Semua orang punya pelarian, Ram. Pelarian lo di atas aspal pakai kecepatan tinggi. Pelarian gue... ya, ngerjain lo ini."

Rama mendengus, tapi kali ini tidak ada amarah yang meledak. Dia justru merasa aneh. Untuk pertama kalinya, dia bisa membicarakan sisi gelap hidupnya tanpa dihakimi, tanpa dituntut untuk menjadi sempurna, dan tanpa harus berpura-pura. Berbicara dengan Nayla terasa seperti melepaskan beban berat yang selama ini dia pikul sendirian di balik seragam putih abunya.

Menjelang sore, suasana Yogyakerto mulai diselimuti senja. Rama sudah kembali ke wujud aslinya. Jaket kulit hitam, celana jeans robek, dan tatapan mata yang tajam bagai silet. Motor sport-nya melesat kencang menuju bengkel Sakti Jaya. Udara jalanan membelai wajahnya, memberikan ketenangan instan yang selalu dia cari.

Begitu motornya terparkir di depan bengkel, Galang dan Bagas langsung menghampirinya dengan wajah tegang. Suasana markas The Ghost tidak seramai biasanya, terasa jauh lebih serius dan mencekam.

"Bos, gawat," ucap Galang tanpa basa-basi. Cowok berambut gondrong itu menyodorkan sebuah tongkat bisbol kayu yang ujungnya dililit kawat berduri. Di bagian gagangnya, terdapat coretan cat semprot berwarna merah menyala.

Rama mengerutkan kening, mengambil tongkat itu dan memutarnya. Matanya menyipit saat membaca tulisan kasar di sana: THE GHOST MATI MALAM INI.

"Dari siapa ini?" desis Rama, suaranya memberat, aura permusuhannya langsung menguar kuat.

"Barusan ada dua motor sport warna merah lewat depan markas. Mereka ngelempar tongkat ini ke arah pintu bengkel terus langsung cabut," jelas Bagas dengan napas memburu karena menahan emosi. "Itu anak-anak Kobra Besi, Bos. Tora, ketua baru mereka, kayaknya mau ngambil alih wilayah Wana Asri. Mereka nantangin kita."

Rama memegang tongkat itu erat-erat. Tora. Nama yang sudah tidak asing lagi di dunia balap liar Bukit Selatan. Tora dikenal sebagai pembalap kotor yang menghalalkan segala cara untuk menang, termasuk mensabotase mesin lawan atau main keroyokan di luar lintasan. Kobra Besi selama ini tidak pernah berani mengusik wilayah Wana Asri karena takut pada reputasi The Ghost. Tapi sepertinya, kekosongan balapan beberapa hari terakhir ini membuat nyali mereka membesar.

"Mereka nantang balapan di jalur pegunungan Bukit Selatan jam sebelas malam nanti," tambah Cakra yang baru keluar dari kolong mobil tua. "Jalur itu bahaya banget, Ram. Banyak tikungan mati dan jurang. Kalau Tora main kotor di sana, risikonya nyawa."

Rama terdiam sejenak. Otaknya memproses informasi itu dengan cepat. Sebagai pemimpin, mundur adalah pantangan terbesar. Harga diri gengnya sedang diinjak-injak. Jika dia tidak merespons, Kobra Besi akan mengira The Ghost sudah lemah dan akan merebut daerah kekuasaan mereka.

Namun, entah mengapa, di saat adrenalinnya mulai terpacu untuk bertarung, bayangan wajah Nayla tiba-tiba melintas di kepalanya. Cewek berjilbab ungu itu... cewek yang baru saja dia belikan nasi goreng pedas siang tadi. Cewek yang tahu rahasia terbesarnya. Jika terjadi sesuatu padanya di lintasan nanti malam, bagaimana nasib kedua dunianya?

Rama menarik napas panjang, mengembuskannya dengan kasar. Dia membuang tongkat bisbol itu ke tanah, menimbulkan suara dentingan logam dan kayu yang nyaring.

"Siapin motor gue," perintah Rama mutlak, matanya berkilat penuh tantangan. "Kita buktikan ke Tora, siapa yang sebenarnya pantas jadi raja jalanan di Yogyakerto."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!