NovelToon NovelToon
ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Action / Showbiz
Popularitas:353
Nilai: 5
Nama Author: Ab Je

Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.

Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.

Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.

Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Retakan di Balik Layar

Cahaya fajar Singapura mulai menyelinap masuk melalui celah gorden kamar hotel, namun Reno sudah duduk tegak di depan meja belajarnya sejak dua jam yang lalu. Di depannya, kartu nama emas pemberian Victor tergeletak begitu saja, seolah-olah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja. Tawaran jutaan dolar itu bukan sekadar angka; itu adalah ujian kesetiaan yang sangat nyata.

Reno memijat pelipisnya yang berdenyut. Di layar laptop, ia sedang memutar ulang rekaman pertandingan Northern Stars berulang-ulang kali. Ada sesuatu yang sangat mengganggunya. Tim itu bergerak dengan sinkronisasi yang terlalu sempurna. Setiap kali mereka melakukan *push* ke area lawan, mereka selalu memilih jalur yang paling minim risiko, seolah-olah mereka memiliki "indra keenam" yang memberitahu di mana posisi musuh berada.

*Tok, tok, tok.*

Pintu kamar terbuka pelan. Marco melangkah masuk dengan wajah yang tampak kurang tidur. Ia duduk di kursi seberang Reno tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk beberapa saat.

"Tawaran dari Victor itu... kamu tidak benar-benar memikirkannya, kan?" tanya Marco akhirnya. Suaranya terdengar serak, ada nada kecemasan yang tersembunyi di sana.

Reno mengalihkan pandangannya dari monitor ke arah sahabatnya. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"

"Tadi malam, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan staf di lobi. Mereka bilang tim-tim besar sedang mengincar 'Phantom'. Mereka bilang Black Viper hanyalah batu loncatan bagimu," Marco menunduk, memainkan jemarinya. "Leo dan Bimo juga mulai gelisah. Kami tahu kami tidak sepertimu, Reno. Kami tahu kami hanyalah pemain biasa yang kebetulan beruntung bisa satu tim dengan jenius sepertimu."

Reno menghela napas panjang. Ia menutup laptopnya dengan suara *klik* yang tajam. "Marco, dengarkan aku. Di warnet tua tempat kita pertama kali bertemu, tidak ada yang namanya 'bintang' atau 'pendukung'. Kita hanya lima orang yang ingin menang karena kita mencintai game ini. Victor menawarkan uang, tapi dia tidak menawarkan chemistry yang kita punya."

"Tapi jutaan dolar, Reno! Kamu bisa membelikan rumah untuk ibumu, kamu bisa keluar dari kehidupan sulit di Jakarta!" seru Marco dengan nada yang sedikit meninggi. "Kami tidak ingin menjadi penghambat karirmu. Kalau kamu memang harus pergi, kami..."

"Cukup," potong Reno tegas. Matanya menatap Marco dengan intensitas yang membuat sahabatnya itu terdiam. "Jika aku ingin pergi karena uang, aku sudah melakukannya sejak di turnamen nasional. Kita ke sini untuk satu tujuan: membuktikan bahwa Black Viper adalah tim terbaik dunia. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk Victor, merusak apa yang sudah kita bangun."

Momen emosional itu terputus ketika pintu kamar terbuka lebar. Ardi masuk dengan wajah pucat, memegang tablet di tangannya.

"Ada masalah besar," ucap Ardi tanpa basa-basi. "Jadwal pertandingan hari ini diubah secara mendadak oleh panitia. Kita tidak lagi melawan tim cadangan di babak grup. Kita langsung dipasangkan melawan Northern Stars di panggung utama, tiga jam dari sekarang."

"Apa? Tapi itu melanggar regulasi!" seru Marco kaget.

"Mereka beralasan ada masalah teknis pada server grup B, jadi mereka memajukan pertandingan 'big match' untuk menjaga rating penonton," Ardi menjelaskan dengan nada frustrasi. "Tapi aku tahu ini bukan sekadar masalah teknis. Seseorang ingin kita bermain dalam kondisi mental yang belum siap."

Reno segera berdiri, mengenakan jaket timnya dengan gerakan cepat. Ia teringat pesan dari [S] tentang taruhan besar di pasar gelap. Perubahan jadwal ini terlalu kebetulan. Seseorang di dalam manajemen turnamen pasti sedang bekerja sama dengan pihak yang ingin melihat Black Viper terjungkal.

"Panggil Leo dan Bimo. Kita tidak punya waktu untuk berdebat soal kontrak atau masa depan," perintah Reno. "Northern Stars ingin menyerang kita saat kita sedang goyah. Kita akan berikan mereka kejutan yang tidak akan pernah mereka lupakan."

Mereka berkumpul di ruang strategi dalam waktu sepuluh menit. Reno langsung membuka peta pertandingan hari ini: *Obsidian Fortress*. Ini adalah peta yang sangat kompleks dengan banyak jebakan lingkungan dan area gelap yang luas.

"Northern Stars menggunakan strategi yang kusebut sebagai 'Perfect Pathing'," Reno menjelaskan sambil menunjuk titik-titik di peta. "Mereka selalu tahu di mana kita berada. Awalnya aku pikir itu karena pengintaian yang bagus, tapi setelah melihat rekaman ini ribuan kali, aku sadar: mereka menggunakan sinkronisasi data yang tidak wajar. Mereka seolah bisa membaca getaran langkah kita dari jarak yang mustahil."

"Maksudmu mereka curang?" tanya Bimo dengan mata terbelalak.

"Bukan curang secara terang-terangan yang bisa dideteksi sistem," jawab Reno. "Mereka menggunakan kelemahan pada *latency* server yang hanya diketahui oleh orang dalam. Tapi aku punya cara untuk mematahkannya. Jika mereka mengikuti jalur 'sempurna', maka kita akan memberikan mereka jalur yang 'salah'."

Selama dua jam berikutnya, Reno membimbing timnya untuk melakukan latihan gerakan yang sangat tidak lazim. Ia melatih mereka untuk bergerak secara asimetris, menggunakan *decoy* suara, dan melakukan rotasi yang melawan logika e-sport pada umumnya. Ini adalah pertaruhan besar. Jika strategi ini gagal, mereka akan hancur dalam hitungan menit.

Saat mereka berjalan menuju arena, Reno melihat Victor berdiri di lorong pemain, tersenyum licik sambil memegang ponselnya. Victor memberikan isyarat seolah-olah sedang menelepon seseorang. Reno mengabaikannya, namun ia tahu bahwa pertandingan hari ini bukan lagi soal olahraga; ini adalah perang melawan konspirasi besar.

Di depan pintu masuk panggung, Reno berhenti sejenak. Ia melihat rekan-rekan setimnya yang masih tampak tegang.

"Ingat satu hal," kata Reno dengan suara rendah yang penuh kewibawaan. "Northern Stars mungkin punya server, mereka mungkin punya uang, dan mereka mungkin punya panitia di pihak mereka. Tapi mereka tidak punya satu hal yang kita miliki."

"Apa itu?" tanya Leo.

"Mereka tidak punya rasa haus untuk bertahan hidup seperti kita," jawab Reno. "Ayo tunjukkan pada dunia bagaimana anak-anak warnet Jakarta meruntuhkan kesempurnaan mereka."

Lampu arena mulai menyala satu per satu. Suara gemuruh penonton terdengar seperti badai yang siap menerjang. Reno melangkah masuk ke bawah sorotan lampu, matanya tertuju pada kapten Northern Stars, sang 'Silent Reaper', yang sudah menunggu di sana dengan senyum dingin.

Pertandingan paling menentukan dalam karir Reno akan segera dimulai. Mahkota 'One Tap God' kini dipertaruhkan di tengah konspirasi yang jauh lebih besar dari sekadar sebuah game.

1
Alia Chans
wow cerita nya menarik, semangat✍️ nya
Ab Je: makasih yahh sudah menyemangati. (🌹)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!