Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.
Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.
Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tua Yu
Malam turun perlahan di Qingshui Ferry.
Lampu-lampu minyak dinyalakan satu per satu di depan kedai, penginapan, dan gudang. Cahaya kuning redup memantul di permukaan sungai yang gelap, membuat air tampak seperti lembaran besi hitam yang ditaburi serpihan api. Orang-orang belum benar-benar beristirahat. Di tempat seperti Qingshui Ferry, malam bukan waktu tidur, melainkan waktu saat transaksi yang tak layak dilihat siang hari mulai berpindah tangan.
Shou Wei tidak punya uang untuk penginapan.
Setelah meninggalkan dermaga dan pedagang berjubah abu-abu itu, ia berjalan memutari pemukiman sambil mengamati jalan keluar, gudang yang tak dijaga, dan tempat-tempat yang cukup aman untuk bermalam. Ia akhirnya menemukan dermaga kecil tua di sisi utara pemukiman, jauh dari perahu-perahu dagang besar. Di sana tertambat beberapa perahu rusak, jala compang-camping, dan satu rumah perahu reyot yang tampaknya sudah lama tidak dipakai.
Atau setidaknya begitu yang ia kira.
Begitu ia melangkah ke papan kayu rapuh di tepi dermaga itu, suara serak muncul dari gelap.
“Kalau mau mencuri, pilih perahu lain. Perahu ini tak cukup berharga bahkan untuk tikus.”
Tubuh Shou Wei langsung menegang. Tangannya bergerak ke pisau di pinggang.
Di bawah atap rumah perahu, dekat lentera kecil yang nyaris padam, duduk seorang lelaki tua dengan punggung membungkuk dan janggut abu-abu tipis. Salah satu matanya tertutup selaput putih. Kaki kirinya lurus kaku, dibalut kain usang sampai ke paha. Di sampingnya ada pancing bambu, kendi arak murah, dan selimut kasar.
Ia tampak seperti nelayan tua setengah mati.
Namun insting Shou Wei justru memberi peringatan halus.
Tua ini bukan orang biasa.
“Aku tidak mau mencuri,” kata Shou Wei.
Lelaki tua itu mendecak. “Setiap bocah lapar selalu bilang begitu.”
Shou Wei tak bergerak lebih dekat. “Aku hanya mencari tempat tidur.”
“Dan kenapa aku harus membiarkanmu?”
Shou Wei memandang air sungai sebentar, lalu balik menatap lelaki tua itu. “Karena tempat ini terlalu jelek untuk diperebutkan.”
Lelaki tua itu terdiam. Lalu, tanpa diduga, ia tertawa pendek sampai batuk dua kali.
“Ada lidah di kepalamu rupanya.” Ia menggeser kendi arak dengan ujung kakinya. “Masuk kalau mau. Tapi kalau kau muntah darah atau berubah jadi hantu di malam hari, keluar dulu. Aku tak suka bangun dan melihat mayat di dekat bantal.”
Shou Wei menaiki perahu hati-hati. Papan kayunya tua, tapi masih cukup kokoh. Rumah perahu itu sempit, hanya berisi dua gulungan tikar, sebuah meja kecil, peti kayu, dan banyak bau sungai. Namun angin malam tidak terlalu menusuk di dalamnya.
Ia duduk dekat pintu, masih menjaga jarak.
Lelaki tua itu mengamatinya dengan mata tunggalnya. “Kabur dari mana?”
“Utara.”
“Bocah, utara bukan tempat asal. Itu arah.”
“Kalau begitu aku datang dari arah yang salah.”
Lelaki tua itu mendengus. “Bagus. Lebih baik daripada kau menjawab desa mana, lalu besok ada orang datang memotong leherku karena menyembunyikan pelarian.”
Mereka terdiam sejenak. Dari kejauhan terdengar suara orang mabuk tertawa di dekat kedai, bunyi rantai perahu, dan riak sungai menghantam tiang.
Akhirnya lelaki tua itu berkata, “Namaku Tua Yu. Kau?”
“Shou.”
Tua Yu menatapnya sejenak. “Nama pendek untuk orang yang tidak mau memberi semuanya. Baiklah.”
Shou Wei tidak bertanya apakah nama itu asli. Orang seperti mereka jarang memakai nama penuh tanpa alasan.
Tua Yu mengeluarkan dua mangkuk tanah liat kecil, mengisi satu dengan air panas dari ketel hitam yang tergantung di sudut, lalu mendorongnya ke arah Shou Wei. “Minum. Di sungai ini, malam lebih dingin daripada wajah penagih utang.”
Shou Wei menerimanya. Air itu hangat dan sedikit pahit, mungkin dicampur daun liar, tapi terasa menenangkan perut.
“Kenapa tinggal di sini?” tanyanya.
Tua Yu menatap air sungai di luar. “Karena daratan terlalu ramai. Sungai lebih jujur. Kalau ia ingin menenggelamkanmu, ia tak akan tersenyum dulu.”
Jawaban itu tidak menjawab apa-apa, tapi Shou Wei tidak menekan lebih jauh.
Beberapa saat kemudian, Tua Yu tiba-tiba berkata, “Tarik napasmu sekali.”
Shou Wei mengangkat kepala. “Apa?”
“Tarik napas. Sekali.”
Nada suara lelaki tua itu tetap datar, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Shou Wei mematuhi. Ia menarik napas panjang melalui hidung, menahannya sejenak, lalu mengembuskan perlahan.
Mata tunggal Tua Yu menyipit.
“Lagi.”
Shou Wei melakukannya sekali lagi.
Tua Yu mendecak lidah. “Qi masuk, tapi berantakan. Sebagian turun ke dada, sebagian bocor ke bahu dan lengan. Kau menyerap seperti binatang haus yang menemukan kolam, bukan seperti kultivator yang punya manual.”
Jari Shou Wei menegang di sekitar mangkuk.
Jadi lelaki tua ini benar-benar tahu.
“Aku memang tidak punya manual,” kata Shou Wei.
Tua Yu tak tampak terkejut. “Kupikir begitu.”
“Kau kultivator?”
“Dulu.”
“Realm apa?”
Pertanyaan itu membuat Tua Yu tersenyum tipis. “Bocah, orang yang masih bisa bertanya begitu berarti belum pernah cukup dekat dengan kematian.”
Shou Wei diam. Itu berarti ya.
Tua Yu melanjutkan, “Sekarang aku cuma nelayan pincang yang menjual perahu rusak dan kadang mengantar orang bodoh menyeberang sungai.”
“Kalau begitu kenapa kau bisa tahu napasku?”
“Karena aku belum sepenuhnya buta.”
Keheningan turun lagi. Namun kali ini berbeda. Ada ketegangan tipis yang lebih jujur di antara mereka.
Shou Wei akhirnya berkata, “Apa semua kultivator butuh manual?”
“Semua yang ingin hidup lama, ya.” Tua Yu bersandar ke dinding kayu. “Tanpa manual, qi di tubuhmu akan liar. Kau mungkin merasa lebih kuat di awal, tapi meridianmu akan rusak. Kalau kau beruntung, hanya batuk darah. Kalau sial, organmu pecah dari dalam.”
Kalimat itu membuat Shou Wei teringat caranya menyerap batu roh semalam. Instingtif. Rakus. Tidak terkendali penuh.
“Kalau seseorang punya... darah khusus?” tanyanya hati-hati.
Mata Tua Yu bergerak sedikit. “Lalu?”
“Apakah manual biasa masih bisa dipakai?”
“Kadang ya. Kadang tidak. Tergantung darah macam apa.” Lelaki tua itu memutar mangkuk kosongnya pelan. “Kenapa? Kau pikir kau anak naga?”
Shou Wei tidak berkedip.
Tua Yu menatapnya balik cukup lama.
Lalu lelaki tua itu tertawa lagi, kali ini lebih pelan. “Bagus. Setidaknya kau tidak cukup bodoh untuk mengangguk.”
Shou Wei tahu itu ujian kecil. Ia tak mengatakan apa-apa.
Akhirnya Tua Yu bangkit perlahan, menyeret kaki kirinya yang kaku ke arah peti kayu di sudut. Dari dalamnya ia mengeluarkan tiga gulungan tipis, meletakkannya di meja kecil, lalu duduk kembali.
“Ini sampah yang pernah kubeli murah dari orang mati, orang kalah, atau orang bodoh,” katanya. “Satu manual pedang dasar, satu teknik langkah darat, dan satu... hm.”
Jarinya berhenti di gulungan ketiga, yang paling usang dan paling tipis.
“Ini bukan teknik bertarung,” lanjutnya. “Ini cuma metode pernapasan dan sirkulasi qi. Setengah rusak. Setengah lengkap. Tapi lebih baik daripada kau menyedot batu roh seperti babi lapar.”
Shou Wei menatap gulungan itu.
Pada permukaannya tertulis empat karakter tinta pudar: Mistwater Breathing Method.
“Berapa?” tanyanya.
“Ha. Jadi kau tahu aturan dunia.” Tua Yu menepuk gulungan itu dengan kuku. “Untuk dua yang pertama, kau tak sanggup bayar. Untuk yang ini... mungkin bisa.”
“Apa yang kau mau?”
Tua Yu menatap sungai di luar. “Besok subuh aku harus menyeberangkan dua peti garam ke sisi seberang. Orang upahan yang biasa membantuku kabur bersama perempuan tadi siang. Kalau kau bantu mengayuh dan angkat barang, gulungan ini milikmu.”
Shou Wei tidak langsung setuju. “Hanya itu?”
“Dan satu hal lagi.” Mata tunggal Tua Yu berkilat redup. “Jangan membunuhku di malam hari kalau ternyata kau memang anak monster.”
Shou Wei menatapnya datar. “Kalau aku bisa, aku akan cari perahu yang lebih bagus.”
Tua Yu terkekeh puas. “Bagus. Tidur sekarang.”
Namun Shou Wei tidak langsung tidur. Setelah Tua Yu mematikan lentera sampai tinggal nyala kecil, suara sungai menjadi lebih jelas. Ia bersandar di dinding kayu dan menatap gulungan usang di meja.
Manual kultivasi pertama.
Bukan warisan megah. Bukan kitab ilahi. Hanya metode pernapasan setengah rusak dari perahu tua milik lelaki pincang di dermaga busuk.
Tapi bagi Shou Wei, itu cukup untuk membuat darahnya bergerak lebih cepat.
Ia akhirnya memejamkan mata.
Subuh datang bersama kabut.
Sungai hampir menghilang di balik lapisan putih tipis saat Tua Yu menyalakan lentera lagi dan menendang ujung tikar Shou Wei.
“Bangun. Garam tak akan mengayuh dirinya sendiri.”
Dua peti garam ternyata lebih berat dari yang tampak, tapi bagi tubuh Shou Wei saat ini, memikulnya masih mungkin. Ia tetap berpura-pura sedikit kesulitan agar tidak terlalu mencolok. Setelah peti-peti dinaikkan ke perahu, ia membantu melepas tambatan dan mulai mengayuh mengikuti arus.
Kabut pagi dingin menyentuh wajahnya. Anehnya, berada di atas air membuat tubuhnya lebih tenang. Aliran sungai yang lebar seolah selaras dengan sesuatu di dalam darahnya. Bahkan napasnya terasa lebih panjang.
Tua Yu yang duduk di buritan jelas memperhatikan.
“Jangan senang dulu,” katanya tiba-tiba. “Metode pernapasan itu cocok untuk qi air dan kabut, tapi hanya fondasi. Kalau tubuhmu benar-benar aneh, mungkin suatu hari kau harus cari manual yang lebih cocok. Kalau tidak, kau akan terhenti.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Kau belum tahu.” Tua Yu menatap kabut. “Di dunia kultivasi, manual yang tepat bisa menentukan apakah kau jadi ikan besar... atau mayat terapung.”
Mereka menyeberang tanpa gangguan. Setelah garam diserahkan ke gudang kecil di seberang sungai, Tua Yu menerima bayaran, membeli sekeranjang kecil roti kukus, lalu melempar dua ke arah Shou Wei.
Sarapan mereka dimakan di atas perahu saat matahari mulai mendorong kabut ke tepi air.
Setelah selesai, Tua Yu akhirnya memberikan gulungan usang itu.
“Dengar baik-baik,” katanya. “Metode ini hanya membawa orang sampai Qi Gathering paling dasar, mungkin sedikit lebih tinggi kalau bakatmu bagus. Jangan berharap lebih. Tapi cukup untuk menata qi dan menjaga meridianmu tetap utuh.”
Shou Wei menerima gulungan itu dengan kedua tangan.
“Kenapa memberikannya padaku?” tanyanya.
Tua Yu menatapnya sebentar, lalu mengangkat bahu. “Karena aku suka wajah orang yang terlalu muda tapi matanya sudah seperti orang tua. Dan karena bocah cerdas yang hidup lebih lama kadang membawa cerita menarik kembali ke sungai.”
Itu bukan jawaban penuh, tapi Shou Wei tahu ia takkan mendapat yang lebih jujur dari itu.
Ia membuka gulungan tersebut perlahan.
Tulisan di dalamnya sederhana. Tidak indah, tapi jelas. Ada jalur napas, arah sirkulasi qi, titik-titik dasar di tubuh, dan metode menyerap qi air serta kabut pagi tanpa merusak meridian. Di sudut beberapa halaman ada catatan kecil dari pemilik lama, sebagian mengutuk, sebagian memperingatkan, sebagian hanya memperbaiki kesalahan.
Manual ini memang tidak hebat.
Tetapi ia nyata.
Untuk pertama kalinya sejak keluar dari tambang, jalan di depan Shou Wei tidak lagi hanya berupa hutan, sungai, dan bahaya. Kini ada satu langkah konkret yang bisa ia ambil.
Kultivasi.
Ia menggulung kembali manual itu dan menyimpannya di balik bajunya.
Tua Yu memandang langit pagi, lalu berkata malas, “Kalau kau mau tinggal satu atau dua malam lagi, potong kayu dan bantu tambat perahu. Kalau tidak, pergi sebelum siang. Qingshui Ferry bukan tempat bagus untuk bocah yang mulai belajar bernapas seperti kultivator.”
Shou Wei berdiri di tepi perahu dan menatap utara.
Di sana jalan masih panjang. Ada Black Reed Market, auction houses, rogue cultivators, beast tamers, dan entah berapa banyak orang yang bisa membunuh demi sedikit keuntungan. Tapi sekarang ia setidaknya punya pegangan.
Bukan sekadar darah naga yang tak ia pahami.
Bukan sekadar insting.
Melainkan langkah pertama yang bisa diulang, diasah, dan dipakainya untuk tumbuh.
Ia menunduk sedikit ke arah lelaki tua itu. “Aku akan tinggal sampai malam.”
Tua Yu mendengus. “Bagus. Potong juga kayu basah di belakang gudang. Jangan pura-pura tuli.”
Shou Wei hampir tersenyum.
Hampir.
Lalu ia melompat turun dari perahu dengan gulungan usang di dada dan sungai di sisinya.
Hari ini, ia masih kecil, miskin, dan belum punya tempat di dunia kultivasi.
Namun di atas perahu reyot milik lelaki pincang yang tak jelas asal-usulnya, Shou Wei akhirnya memperoleh sesuatu yang lebih berharga daripada roti, batu roh, atau pisau.
Ia memperoleh arah.