NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 3 : Guru yang mengajari murid nya

Sinar matahari di perbatasan Heavenorth tidak pernah benar-benar terasa hangat. Cahayanya yang pucat menembus celah-celah jendela kamar Celestine, membawa serta hawa dingin yang membuat sang putri merapatkan selimut bulunya. Namun, ingatan tentang duel semalam, tentang bagaimana es merambat di bawah kaki George, membuat darahnya berdesir lebih cepat dari biasanya.

Celestine bangkit dari tempat tidur, menolak bantuan para pelayan yang biasanya akan menghabiskan waktu dua jam hanya untuk menata rambutnya.

Pagi ini, ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya karena ia mengenakan pakaiannya sendiri. Ia memilih gaun yang lebih sederhana dari kain wol tebal berwarna biru dongker, mengikat korsetnya dengan napas yang terengah-engah, dan mengganti sepatu hak tingginya dengan sepatu bot kulit yang ia pinjam dari perlengkapan darurat pengawalnya. Tangannya yang halus kini memegang belati pemberian George, menyelipkannya di balik ikat pinggang gaunnya.

Saat ia keluar dari kamar, George sudah menunggu di koridor dengan posisi bersandar pada dinding batu, seolah ia memang tidak pernah tidur dan hanya berjaga di sana sepanjang malam. Pria itu tampak terkejut melihat penampilan Celestine yang jauh lebih praktis, meskipun masih ada sisa-sisa keanggunan kerajaan dalam setiap geraknya.

"Kau tampak siap untuk melarikan diri ke tengah hutan, Putri," ujar George dengan nada datar, namun matanya yang kelabu menatap sepatu bot Celestine dengan sedikit rasa hormat yang tersembunyi.

"Aku siap untuk belajar, George. Kau berjanji akan menunjukkan padaku cara melihat dunia dari sudut pandang mu," balas Celestine. Ia berjalan mendekat, aroma dingin George menyambutnya lagi, namun kali ini ia tidak memalingkan wajah.

"Ke mana kita akan pergi?"

George tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat agar Celestine mengikutinya menuju halaman belakang kastil yang luas. Halaman itu bukanlah taman bunga yang tertata rapi, melainkan sebuah arena latihan yang dikelilingi oleh parit pertahanan yang dalam.

Di tengah arena, terdapat sebuah danau kecil yang permukaannya membeku total, berkilau seperti cermin raksasa di bawah langit kelabu.

George melangkah ke atas permukaan danau yang membeku itu tanpa ragu. Ia menoleh ke arah Celestine yang masih berdiri di pinggir. "Kau bilang kau ingin melihat keajaiban. Keajaiban bukan hanya tentang menghancurkan musuh, tapi tentang memahami esensi dari apa yang kau injak. Kemari lah."

Celestine melangkah ragu. Sepatu botnya mengeluarkan suara derit saat menyentuh es. Permukaannya sangat licin, dan untuk sesaat, ia merasa akan tergelincir kembali seperti saat pertama kali turun dari kereta. Namun, sebelum ia sempat goyah, George sudah berada di depannya, mengulurkan tangan kanannya yang tidak tertutup sarung tangan.

Celestine ragu sejenak, lalu meletakkan tangannya di atas telapak tangan George. Kulit George terasa sangat dingin, hampir seperti menyentuh es itu sendiri, namun pegangannya sangat kokoh dan stabil.

"Pejamkan matamu," bisik George. Suaranya kini terdengar lebih lembut, tersamarkan oleh deru angin.

Celestine patuh. Ia memejamkan mata, membiarkan kegelapan mengambil alih penglihatannya. Awalnya, ia hanya merasakan dingin yang menggigit dan pegangan tangan George. Namun perlahan, ia mulai merasakan sesuatu yang lain. Melalui telapak tangan George, seolah ada aliran energi yang merambat masuk ke dalam tubuhnya.

"Jangan hanya merasakan dinginnya," instruksi George. "Rasakan denyutnya. Es di bawah kakimu ini tidak mati. Ia hidup dalam diam. Ia adalah air yang memilih untuk menjadi pelindung. Rasakan bagaimana molekulnya mengeras untuk menopang bebanmu."

Tiba-tiba, persepsi Celestine berubah. Ia tidak lagi merasa sedang berdiri di atas permukaan yang licin dan berbahaya. Ia bisa "merasakan" ketebalan es di bawahnya, ia bisa merasakan retakan-retakan kecil yang menjalar jauh di dasar danau, dan ia bisa merasakan kehadiran energi magis George yang menyelimuti seluruh area tersebut. Es itu seolah menjadi bagian dari indranya.

"Ini... luar biasa," desis Celestine tanpa membuka mata. "Aku bisa merasakannya. Kau mengalirkan sihirmu padaku?"

"Aku hanya meminjamkan sedikit indra ku padamu agar kau tidak patah leher di hari kedua," sahut George dengan nada sarkasme khasnya. "Sekarang buka matamu."

Saat Celestine membuka mata, ia terkesiap. Di sekeliling mereka, es di atas danau mulai membentuk bunga-bunga mawar kristal yang tumbuh dari bawah permukaan. Ribuan mawar es mekar dalam hitungan detik, menciptakan taman kristal yang memantulkan cahaya pucat matahari. Itu adalah pemandangan paling indah sekaligus paling mematikan yang pernah dilihat Celestine.

"Inilah duniaku, Putri," kata George sambil melepaskan tangan Celestine. "Indah, tetapi jika kau menyentuhnya tanpa hati-hati, kau akan kehilangan jarimu."

Celestine mengulurkan tangan, hendak menyentuh salah satu kelopak mawar es yang tajam itu, namun George menahannya. "Jangan. Kau belum siap untuk kedinginan yang sebenarnya."

"Lalu kapan aku akan siap?" tanya Celestine dengan nada menantang. "Aku tidak datang ke sini hanya untuk menjadi penonton, George. Theodore membiarkanku memilih calon suami karena dia tahu aku tidak akan pernah puas dengan pria yang hanya bisa memberiku kenyamanan. Aku ingin seseorang yang menantang batas kemampuanku."

George menatap Celestine dengan intensitas yang baru. Ia melihat keberanian yang hampir menyerupai kegilaan di mata biru sang putri. "Kau sangat berbeda dari bangsawan Valley lainnya. Mereka biasanya datang ke sini hanya untuk mengeluh tentang kualitas teh kami. Kenapa kau begitu terobsesi dengan kekuatan dan keajaiban yang berdarah?"

Celestine menarik napas dalam, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya. "Karena di istana, segala sesuatu terasa palsu, George. Semuanya diatur, semuanya manis, dan semuanya bisa hancur hanya dengan satu pengkhianatan kecil. Aku ingin sesuatu yang nyata. Sesuatu yang bahkan jika dunia ini runtuh, kekuatan itu tetap ada. Kekuatan yang kau miliki... itu adalah kejujuran yang paling murni."

Tiba-tiba, alarm kastil berbunyi keras. Lonceng perunggu besar di menara pengawas dipukul berkali-kali, memecah kesunyian pagi. Wajah George berubah menjadi sangat serius dalam sekejap. Taman mawar es yang baru saja ia ciptakan hancur menjadi serpihan dalam sekali hentakan kaki.

"Serangan pagi," geram George. Ia mengeluarkan pedang hitamnya. "Mahluk-mahluk itu tidak pernah belajar. Putri, kembali ke dalam kastil sekarang juga!"

"Tidak!" teriak Celestine. Ia menarik belatinya dari ikat pinggang. "Kau bilang aku harus belajar melihat duniamu. Inilah duniamu yang sebenarnya, bukan? Tunjukkan padaku bagaimana kau menghentikan mereka!"

George hendak memprotes, namun sekelompok mahluk terbang bersayap membran dengan cakar panjang mulai menukik dari balik awan kelabu. Mereka adalah *Frost-Harpy*, mahluk penghuni pegunungan utara yang haus akan daging manusia.

George melihat satu harpy yang meluncur dengan kecepatan tinggi menuju posisi Celestine. Tanpa sempat berpikir panjang, George merapal mantra tingkat menengah. *"Glacies Hasta!"*

Tombak-tombak es raksasa muncul dari udara kosong di depan George, meluncur seperti anak panah yang ditembakkan dari busur raksasa. Tombak itu menembus tubuh harpy tepat di udara, mengubah mahluk itu menjadi balok es padat sebelum akhirnya jatuh menghantam lantai arena dan hancur berkeping-keping.

"Tetap di belakangku!" perintah George. Suaranya kini penuh wibawa sihir.

George mulai "menari". Ia tidak hanya menggunakan pedang, tapi setiap gerakannya memicu reaksi magis. Saat ia mengayunkan pedang secara horizontal, sebuah gelombang es melesat, membekukan tanah dan apa pun yang ada di atasnya. Saat ia melompat, ia menciptakan pijakan es di udara, memungkinkannya untuk bertarung dalam tiga dimensi.

Celestine berdiri di tengah arena, dikelilingi oleh ledakan es dan suara jeritan mahluk-mahluk yang binasa. Ia tidak melarikan diri. Ia justru melangkah maju, memperhatikan setiap detail rapalan mantra George, mencoba menyerap bagaimana pria itu menggabungkan seni pedang dengan aliran mana yang dahsyat.

Di saat itulah, sebuah keajaiban yang tak terduga terjadi. Saat seekor harpy mencoba menyerang Celestine dari arah belakang, secara naluriah Celestine menghentakkan kakinya ke tanah, meniru apa yang dilakukan George sebelumnya.

Sebuah pilar es kecil, tidak lebih tinggi dari lutut, muncul secara tiba-tiba dari tanah, membuat mahluk itu tersandung dan jatuh tepat di depan belati Celestine.

Celestine tidak ragu. Ia menghujamkan belatunya ke leher mahluk itu dengan seluruh kekuatannya. Darah hitam harpy membasahi tangan halusnya yang kini mulai membeku.

George yang baru saja menghabisi harpy terakhir, berbalik dan membeku di tempat melihat pemandangan itu. Ia menatap pilar es kecil yang diciptakan Celestine, lalu menatap sang putri yang kini berdiri dengan napas terengah-engah dan tangan yang berlumuran darah hitam.

"Kau..." George kehilangan kata-kata untuk pertama kalinya. "Kau baru saja menggunakan sihir es."

Celestine mendongak, matanya berkilat penuh kemenangan meskipun tubuhnya gemetar karena kedinginan yang amat sangat. "Aku bilang aku ingin belajar, George. Dan sepertinya... duniaku mulai membeku seperti duniamu."

George mendekat, ia meraih tangan Celestine yang memegang belati. Ia bisa merasakan sisa mana es yang masih berdenyut di nadi sang putri. Ini adalah sesuatu yang mustahil. Sihir es La' Mortine adalah keturunan darah, bukan sesuatu yang bisa dipelajari dalam satu pagi. Namun, di depan matanya, seorang putri dari Valley baru saja membangunkan kekuatan yang seharusnya tidak ia miliki.

"Ini akan menjadi cerita yang sangat panjang, Celestine," gumam George rendah, menatap dalam ke mata biru yang kini mulai berubah warna menjadi sedikit keperakan. "Karena sekarang, kau bukan lagi sekadar tamu. Kau adalah bagian dari kutukan es ini."

Pagi itu, di tengah arena yang penuh bangkai monster dan serpihan kristal, aliansi antara sang penguasa dan sang penyihir tidak lagi tertulis di atas kertas, melainkan tertanam di dalam darah yang membeku.

Keheningan yang mencekam menyelimuti arena setelah jeritan terakhir Frost-Harpy menghilang ditelan badai.

George masih menggenggam jemari Celestine, namun kali ini bukan untuk menuntun, melainkan untuk memastikan apa yang baru saja ia saksikan. Kulit Celestine yang biasanya seputih porselen kini tampak pucat pasi, dengan garis-garis tipis berwarna biru keperakan yang merambat dari ujung jarinya menuju pergelangan tangan.

"Lepaskan belatimu, Celestine," perintah George. Suaranya tidak lagi dingin, melainkan penuh dengan nada urgensi yang tajam.

Celestine mencoba membuka genggamannya, namun jemarinya terasa kaku, seolah-olah belati itu telah menyatu dengan telapak tangannya melalui lapisan es tipis. Dengan satu gerakan cepat, George menyentuh pangkal belati itu, mengalirkan energi hangat yang berlawanan untuk mencairkan segel es yang terbentuk secara tidak sengaja. Belati itu jatuh ke salju dengan denting yang nyaring.

Celestine terhuyung, tubuhnya mendadak terasa sangat ringan sekaligus sangat dingin. "George, apa yang terjadi? Rasanya seperti... seperti ada air membeku yang mengalir di dalam nadiku."

George tidak menjawab dengan kata-kata. Ia segera melepas jubah hitam beratnya dan memakaikan nya ke bahu Celestine, membungkus tubuh kecil sang putri dalam kehangatan sisa panas tubuhnya. Ia kemudian mengangkat tubuh Celestine dalam gendongannya, melangkah lebar menuju kastil tanpa memedulikan para prajurit yang mulai berdatangan untuk membersihkan arena.

"Dengarkan aku baik-baik," bisik George tepat di telinga Celestine saat mereka melewati koridor kastil yang remang. "Apa yang kau lakukan tadi bukan sekadar meniru gerakanku. Kau menarik mana dari sekitarmu dan mengubahnya menjadi es. Itu adalah sihir tingkat tinggi yang seharusnya hanya bisa dilakukan oleh garis keturunan La' Mortine."

"Tetapi aku bukan bagian dari keluargamu," sahut Celestine dengan suara bergetar. Kepalanya bersandar di bahu George, merasakan detak jantung pria itu yang kuat di balik pakaian zirah tipisnya. "Keluarga Vallery tidak memiliki sejarah sihir es. Kami adalah penguasa matahari dan tanah subur."

"Itulah masalahnya," geram George. Ia menendang pintu ruang medis pribadi Marquess dan membaringkan Celestine di atas dipan kayu yang dialasi bulu beruang. "Sihir es bukan sekadar anugerah, Celestine. Bagimu yang tidak memiliki darah pelindung, sihir ini adalah racun. Tubuhmu tidak dirancang untuk menahan suhu serendah itu. Jika kau tidak bisa mengendalikannya, kau akan membeku dari dalam."

George mengambil sebuah botol kecil berisi cairan berwarna ungu tua dari lemari obat dan menuangkannya ke dalam gelas anggur. Ia memaksa Celestine meminumnya. Rasanya pahit dan panas, membakar kerongkongan Celestine, namun perlahan-lahan rasa kaku di jemarinya mulai menghilang.

"Kenapa aku bisa melakukannya?" tanya Celestine setelah napasnya kembali teratur. Ia menatap George yang kini berdiri di depan perapian, membelakanginya.

"Apakah karena kau memegang tanganku di atas danau tadi?"

George terdiam cukup lama, hanya suara kayu bakar yang berderak memenuhi ruangan. "Sihirku... mungkin telah mengenali keinginanmu yang terlalu kuat. Di Heavenorth, keinginan untuk bertahan hidup sering kali memicu bangkitnya kekuatan tersembunyi. Tetapi ini sangat berbahaya. Jika kabar ini sampai ke telinga kaisar atau bahkan kakakmu, Theodore, akan langsung menarik mu kembali ke Kerajaan.."

Celestine bangkit dari dipan, jubah George masih tersampir di bahunya. Ia melangkah perlahan menuju George, berdiri tepat di samping pria itu. "Kau takut padaku, George Augustine?"

George menoleh, menatap Celestine dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilatan rasa kagum yang berperang dengan insting melindunginya. "Aku tidak takut padamu, Celestine. Aku takut pada apa yang akan dilakukan dunia ini padamu jika mereka tahu kau memiliki kunci untuk menghancurkan keseimbangan antara Valley dan Heavenorth."

Celestine mengulurkan tangannya yang kini sudah kembali hangat, menyentuh lengan George yang penuh bekas luka. "Bukankah kau bilang kau lebih suka menjadi iblis di perbatasan daripada burung dalam sangkar emas? Jika kekuatanku ini adalah kutukan, maka biarkan aku menjadi iblis bersamamu. Kau ingin calon suami yang gagah dan penuh keajaiban, bukan? Sekarang aku memiliki sedikit dari keajaiban itu."

George menarik tangan Celestine, membawa wajah sang putri sangat dekat dengan wajahnya hingga ujung hidung mereka bersentuhan. Napas George yang dingin menerpa bibir Celestine.

"Kau benar-benar gila. Kau mempertaruhkan nyawamu hanya untuk sebuah ambisi."

"Aku mempertaruhkan nyawaku untuk pria yang layak mendapatkannya," balas Celestine tanpa ragu.

Di luar jendela, badai salju semakin mengganas, mengubur jejak pertempuran di arena tadi pagi. Di dalam ruang medis yang hangat itu, sebuah ikatan baru mulai terbentuk sesuatu yang lebih gelap dari diplomasi dan lebih dingin dari sekadar cinta biasa.

George menyadari bahwa putri yang ia tangkap di depan kereta kuda tempo hari bukanlah mawar yang butuh dilindungi, melainkan es yang siap menusuk siapa saja yang berani menyentuhnya.

"Babak baru dimulai, Celestine," ujar George rendah. Ia melepaskan tangan Celestine dan mengambil kembali pedang hitamnya. "Mulai besok, aku tidak akan mengajarimu cara melihat duniaku. Aku akan mengajarimu cara menguasainya sebelum sihir itu merenggut nyawamu. Dan ingat, satu kesalahan kecil, dan kita berdua akan terkubur dalam es abadi ini."

Celestine tersenyum, sebuah senyuman yang cantik namun memiliki ketajaman yang mematikan.

"Aku tidak pernah meragukan mu, George. Lagipula, bukankah kau yang bilang bahwa di sini, salju tidak peduli seberapa mahal sepatuku? Sekarang, aku tidak butuh sepatu kristal lagi. Aku akan berjalan di atas es dengan kakiku sendiri."

Malam itu, Marquess de La' Mortine berdiri di balik bayangan pintu yang sedikit terbuka, menyaksikan interaksi antara putranya dan putri dari negeri seberang itu. Ia mengusap bekas luka di wajahnya, menyadari bahwa ramalan lama tentang mawar yang membeku di perbatasan utara mungkin bukan sekadar dongeng belaka.

Perang besar akan segera datang, dan kali ini, Heavenorth memiliki senjata yang paling tidak terduga bahwa seorang putri yang mencintai kematian sedalam ia mencintai keajaiban.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!