“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Posisi yang Tergantikan
Suara guru terdengar. Alvian menoleh.
“Di mana ayahnya, Nak?”
Pertanyaan itu lembut. Tapi cukup untuk membuat dadanya terasa sesak. Alvian diam. Beberapa detik. Lalu ia tersenyum. Tipis.
“Abi… lagi banyak kerjaan, Bu,” ucapnya pelan. “Nyari uang buat Al dan Umi.”
Guru itu terdiam sejenak. Lalu tersenyum, meski matanya berbeda.
“Iya… gak apa-apa.”
Alvian mengangguk. Namun kali ini… ia tidak lagi melihat ke gerbang. Tatapannya turun. Ke tangannya sendiri. Yang kosong.
Di pinggir lapangan, Ayza berdiri. Tangannya menutup mulutnya sendiri. Menahan sesuatu yang hampir pecah.
Ia melihat semuanya. Setiap detik. Setiap harap. Setiap senyum kecil yang dipaksakan anaknya.
Dan saat itu… ia sadar. Yang sedang patah… bukan hanya hatinya. Tapi juga, kepercayaan seorang anak yang belum pernah belajar kecewa.
Suara guru kembali terdengar, jelas dan penuh semangat.
“Baik, kita mulai acaranya. Lomba bawa kelereng dengan sendok. Bapak-bapak, silakan menggendong putra-putrinya di pundak. Dan anak-anak, silakan gigit sendok yang sudah diberi kelereng.”
Seketika suasana menjadi ramai.
Para ayah langsung mengangkat anak-anak mereka ke bahu. Tawa kecil terdengar di sana-sini. Sendok mulai digigit, kelereng diletakkan dengan hati-hati.
Alvian berdiri di tempatnya. Ia menggigit sendoknya pelan, lalu meletakkan kelereng di atasnya.
Sendiri. Tanpa pundak untuk dinaiki.
Tubuh kecilnya tampak lebih rendah dibanding teman-temannya yang berada di atas bahu ayah masing-masing.
Hingga—
“Maaf terlambat.”
Suara itu terdengar cukup jelas di tengah riuh halaman sekolah. Beberapa kepala langsung menoleh.
Ayza ikut menoleh. Alvian juga. Dahi mereka sama-sama berkerut.
Bukan… bukan suara yang mereka harapkan.
Seorang pria melangkah mendekat. Napasnya sedikit terengah, seolah benar-benar datang dengan tergesa.
Fahri.
Langkahnya berhenti di dekat barisan. Tatapannya langsung mencari satu sosok.
Dan saat matanya bertemu dengan Alvian, ada sesuatu yang bergerak di sana. Rasa bersalah… yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
Alvian masih menatapnya. Beberapa detik.
“Om Fahri…?” ucapnya pelan.
Fahri tersenyum. Dipaksakan. Ia mendekat, berdiri tepat di depannya. Menatap bocah itu beberapa detik. Ada sesuatu yang bergerak di matanya… lalu ia jongkok.
“Terlambat dikit,” ucapnya pelan.
Alvian masih menatapnya. Bingung. Setengah berharap. Setengah ragu.
“Abi…” suaranya kecil, “…gak datang?”
Pertanyaan itu. Langsung. Tanpa pelindung.
Fahri terdiam. Satu detik. Dua detik. Lalu ia mengangkat tangan, merapikan kerah baju Alvian dengan hati-hati.
“Iya, Jagoan.” Ia berjongkok, menyamakan tinggi. “Abi…” kalimat itu sempat tertahan di tenggorokannya. “…lagi gak bisa datang," ujarnya pelan. “Tapi… dia gak mau kamu sendirian.”
Alvian menatap Fahri. Sedikit lebih lama. Tangannya masih memegang sendok dengan kelereng di atasnya.
“Jadi... Abi yang suruh Om?” tanyanya polos.
Pertanyaan itu, membuat napas Fahri tercekat sesaat. Ia mengangguk pelan.
“Iya.”
Alvian terdiam. Matanya menatap Fahri. Dalam. Seolah mencoba memastikan… apakah kalimat itu cukup.
“Jadi…” Fahri melanjutkan, suaranya dibuat seringan mungkin, “hari ini, boleh gak… Om yang nemenin?”
Kening tak langsung menjawab. “Ya sudah,” katanya akhirnya. Pelan. “Om aja.”
Sederhana. Tanpa protes. Tanpa kecewa yang ditunjukkan. Namun justru itu… yang membuat dada Ayza terasa seperti diremas.
Di pinggir lapangan, jemarinya mencengkeram ujung kerudungnya sendiri.
Fahri berdiri. Menatap panitia.
“Saya bisa gantiin, 'kan?” tanyanya.
Guru itu mengangguk cepat. “Bisa, Pak. Silakan.”
Fahri langsung berbalik ke Alvian. Ia tersenyum tipis.
“Ayo.” Ia berjongkok sedikit. “Naik.”
Alvian ragu sepersekian detik. Matanya sempat melirik ke arah gerbang.
Kosong.
Lalu ia mendekat. Perlahan. Naik ke pundak Fahri.
“Pegangan yang kuat, ya,” ucap Fahri pelan.
Tanpa banyak kata, ia mengangkat tubuh kecil itu ke pundaknya. Gerakannya mantap. Terbiasa.
Alvian sedikit kaget di awal. Tangannya refleks memegang kepala Fahri agar tidak jatuh.
Dari atas sana… pandangannya berubah. Tinggi. Sama seperti anak-anak lain.
Sendok di mulutnya kembali tegak. Kelereng masih di tempatnya. Dan sekarang, ia tidak lagi terlihat paling kecil di antara yang lain.
Di pinggir lapangan, Ayza berdiri diam. Matanya tidak lepas dari pemandangan itu.
Ada nyeri yang perlahan memenuhi dadanya.
Bukan karena Fahri datang. Tapi karena… orang yang seharusnya berada di sana, memilih tidak ada.
Tangannya perlahan menutup mulutnya sendiri. Menahan sesuatu yang hampir pecah.
Entah mengapa, pemandangan itu terasa seperti sesuatu yang perlahan merenggut tempatnya.
Di atas pundak Fahri, Alvian menatap ke arah gerbang sekali lagi. Hanya sekilas. Lalu kembali lurus ke depan. Dan kali ini… ia tidak lagi menunggu.
Peluit dibunyikan.
Lomba dimulai.
Langkah Fahri stabil. Hati-hati. Seolah bukan hanya menjaga kelereng itu… tapi juga sesuatu yang jauh lebih rapuh di atas pundaknya.
Di atas sana, Alvian diam. Tidak bersorak. Tidak tertawa seperti anak-anak lain. Namun tangannya… perlahan mencengkeram kepala Fahri lebih erat.
Dan di antara riuh tawa anak-anak yang digendong ayah mereka... hanya satu anak yang sedang belajar… menerima seseorang yang datang… bukan karena ia ditunggu.
Lomba berlangsung. Langkah demi langkah.
Beberapa anak tertawa saat kelereng mereka jatuh. Beberapa ayah ikut menahan tubuh anak mereka agar tetap seimbang.
Di barisan itu, Fahri berjalan hati-hati.
Tangannya menahan kaki Alvian agar tetap stabil di pundaknya.
“Fokus,” ucapnya rendah.
Di atas, Alvian menggigit sendoknya dengan serius. Alisnya sedikit berkerut. Fokus. Sesekali tubuh kecil itu goyah, tapi ia cepat menyeimbangkan diri.
Kelereng itu… tidak jatuh. Sampai garis akhir.
“Bagus!” seru seseorang.
Beberapa anak bersorak.
Fahri menurunkan Alvian perlahan. Tangannya masih berada di bahu bocah itu, memastikan ia berdiri dengan baik.
Alvian melepas sendok dari mulutnya. Napasnya sedikit lebih cepat.
“Al hebat,” ujar Fahri sambil tersenyum tipis.
Alvian menatapnya. Beberapa detik. Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan… tapi masih ia tahan.
“Om…” panggilnya pelan.
Fahri mengangguk. “Iya?”
Alvian menunduk sebentar. Kakinya menggeser tanah pelan.
Lalu—
“Kalau nanti ada acara lagi…” suaranya kecil, “…Om boleh datang lagi?”
Fahri terdiam. Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat dadanya terasa seperti ditekan sesuatu.
“Boleh,” jawabnya akhirnya. Suaranya lebih pelan dari biasanya.
Alvian mengangguk kecil. Lalu ia menambahkan—
“Daripada… gak ada yang datang.”
Kalimat itu. Ringan. Polos. Namun jatuh… tepat di tempat yang paling dalam.
Fahri tidak langsung menjawab. Tangannya yang tadi berada di bahu Alvian… perlahan mengencang.
Di pinggir lapangan, Ayza memejamkan matanya. Satu kalimat itu… lebih menyakitkan dari apa pun yang ia tahan sejak tadi pagi.
Alvian tidak menangis. Tidak marah. Ia hanya… menerima. Dan justru itu, yang paling menghancurkan.
Di seberang jalan.
Sebuah mobil hitam terparkir rapi, sedikit jauh dari gerbang sekolah. Mesinnya mati.
Namun pengemudinya… tidak pergi.
Kaisyaf duduk di kursi kemudi. Tangannya masih berada di setir, tapi tidak benar-benar menggenggam. Tatapannya lurus ke depan.
Ke arah lapangan. Ke arah keramaian itu.
...🔸🔸🔸...
...“Anak tidak selalu butuh yang terbaik. Kadang, yang datang saja sudah cukup.”...
...“Yang paling melukai bukan kehilangan, tapi ketika seseorang memilih tidak hadir.”...
...“Ada anak yang tidak menangis saat kecewa, mereka hanya berhenti berharap.”...
...“Satu tidak datang, satu terpaksa datang, satu menerima… dan satu hanya bisa melihat.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
ataubpalingbtifak saat2 terakhir ia tidak sendiri tapi di kelilingi orang2 tercintanya... jangan sedih ah...
Dan Pak Husein tidak akan tinggal diam,akan melakukan apapun demi Kaisyaf.
langsung nyusul ke Luar Negri bersama Ayza...
semoga Kaisyaf terselamatkan
jangan di bikin meninggoy thor...
awas saja,,kalo Kaisyaf meninggoy mau berenti baca🥺