NovelToon NovelToon
Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Time Travel
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Afrasya Andila

Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.

Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!

Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Harta Karun dan Derita Tanpa Sinyal

Kinan, yang kini harus membiasakan diri dipanggil Melan. duduk bersila di atas ranjang raksasanya. Di depannya, beberapa kotak perhiasan besar sudah terbuka lebar.

Isinya? Jangan ditanya. Ada kalung berlian yang besarnya hampir sebesar jempol kaki, cincin zamrud yang hijaunya lebih menyala dari lampu lalu lintas, sampai tumpukan koin emas yang kalau dilemparkan ke kepala orang bisa bikin gegar otak.

"Gila... ini beneran punya gue?" gumam Melan sambil mengangkat sebuah tiara bertatahkan mutiara.

"Kalau di dunia lama, satu butir mutiara ini aja mungkin cukup buat bayar kontrakan setahun plus makan enak tiap hari."

Dia melamun, menatap pantulan cahaya lilin yang menari-nari di atas tumpukan emas itu. Rasanya benar-benar tidak masuk akal.

Beberapa jam yang lalu, dia masih sibuk memindai belanjaan orang, mencium bau deterjen dan plastik, serta pusing memikirkan uang kos. Sekarang? Dia duduk di tengah kekayaan yang bisa membeli satu gerai Indofebruari beserta seluruh isinya.

"Ini kayak di film-film yang sering lewat di fyp gue. Mati konyol, terus bangun-bangun jadi bangsawan," Melan menghela napas panjang.

"Tapi ya kali beneran terjadi sama gue. Tuhan kayaknya kasihan liat saldo ATM gue yang isinya cuma sisa dua puluh ribu perak."

Namun, di tengah rasa takjubnya, sebuah realita pahit menghantam kepala Melan. Dia meraba-raba area di sekitar bantalnya, lalu meraba pinggangnya, dan akhirnya membongkar tumpukan selimut sutra itu dengan panik.

"Lin! Dayang Lin!" teriak Melan.

Pintu paviliun terbuka dengan cepat. Lin masuk dengan wajah cemas, mengira majikannya sedang diserang pembunuh bayaran.

"Ya, Yang Mulia? Ada apa? Apa ada yang sakit?"

Melan menatap Lin dengan tatapan kosong yang dramatis. "Lin... HP saya mana?"

Lin mengerutkan kening, wajahnya tampak sangat bingung. "Ha-pe? Apa itu Ha-pe, Yang Mulia? Apakah itu jenis perhiasan baru dari wilayah Barat?"

Melan menepuk jidatnya keras-keras. Bego, mana ada HP di zaman kerajaan begini!

"Maksud saya... kotak musik yang bisa buat ngelihat orang joget-joget? Atau kaca ajaib yang bisa buat kirim pesan ke orang jauh dalam sekejap? Ada tidak?" tanya Melan penuh harap, meski dia tahu jawabannya bakal zonk.

"Yang Mulia, saya benar-benar tidak mengerti," Lin menggeleng takut.

"Kalau ingin mengirim pesan, kita menggunakan burung merpati atau utusan berkuda. Jika ingin melihat orang menari, kita bisa memanggil grup penari istana besok pagi."

Melan menjatuhkan tubuhnya ke tumpukan bantal empuk. Dia menatap langit-langit kamar yang dihias lukisan malaikat-malaikat kecil.

"Mampus gue. Nggak ada TikTok... nggak ada Instagram... nggak ada WhatsApp... Terus gue kalau gabut ngapain? Masa cuma liatin emas doang?"

Dia membayangkan hari-harinya ke depan. Tanpa sosial media, dunianya terasa hampa. Tidak ada video kucing lucu, tidak ada drama selebgram yang bisa dikomentari, tidak ada musik jedag-jedug yang biasa menemani tidurnya.

"Hidup macam apa ini?" keluh Melan. "Kaya sih kaya, tapi kalau nggak bisa pamer di story buat apa? Nggak bisa scrolling sampai jam dua pagi itu adalah siksaan paling kejam yang pernah ada!"

Tiba-tiba, kemarahannya beralih pada sosok yang paling bertanggung jawab atas situasi ini.

"Pencuri kurang ajar!" maki Melan tiba-tiba, membuat Lin melonjak kaget di pojokan.

"Yang Mulia? Siapa yang mencuri?"

"Bukan siapa-siapa di sini, Lin! Ini masalah pribadi saya sama setan!" jawab Melan ketus.

Dalam hatinya, dia terus memaki cewek remaja dengan sweater hitam itu. Awas lo ya, kalau ketemu lagi di akhirat, gue jambak rambut lo! Gara-gara lo, gue mati nggak etis banget! Mati ketabrak BMW di jalan tol gara-gara ngejar parfum kw! Masa di batu nisan gue tulisannya 'Mati demi parfum'? Malu-maluin silsilah keluarga gue aja!

Melan menggertakkan giginya. Gue udah lari kayak atlet lari dunia, lompat meja kasir kayak stuntman film aksi, eh endingnya malah pindah ke zaman purba yang nggak ada sinyal. Udah gitu, cowok di sini kelakuannya kayak kulkas dua pintu dan dandanannya menor lagi!

"Yang Mulia, apakah Anda ingin saya ambilkan minuman penenang?" tanya Lin hati-hati.

Melan duduk tegak lagi, mencoba mengatur napasnya. "Nggak usah, Lin. Saya cuma lagi emosi jiwa. Lin, sini duduk dekat saya. Saya mau tanya-tanya lagi."

Lin duduk bersimpuh di lantai dekat ranjang. "Silakan, Yang Mulia."

"Di sini... selain makan, dandan, sama dengerin si Nolan marah-marah, hiburannya apa sih? Ada pasar malam nggak? Atau tempat judi yang legal? Atau apa gitu yang seru?"

Lin tampak berpikir keras. "Biasanya para bangsawan mengadakan pesta teh, Yang Mulia. Atau berburu di hutan bersama para ksatria. Anda sendiri biasanya menghabiskan waktu dengan merobek-robek surat yang tidak dibalas oleh Raja, atau... mengurung diri sambil menangis."

Melan meringis. Gila, Melan yang asli hidupnya menyedihkan banget. Pantesan stres.

"Oke, itu coret! Nggak ada lagi acara nangis-nangis. Rugi air mata," tegas Melan.

"Besok, saya mau jalan-jalan keliling istana. Saya mau lihat-lihat apa yang bisa saya jual. eh, maksud saya, apa yang bisa saya manfaatkan. Oh iya, saya punya tabungan sendiri nggak? Maksudnya, uang yang benar-benar milik saya, bukan jatah dari Nolan."

Lin mengangguk cepat. "Tentu saja, Yang Mulia. Anda adalah putri tunggal Duke dari wilayah Selatan yang sangat kaya. Ayah Anda mengirimi Anda emas setiap bulan ke gudang pribadi Anda di paviliun ini. Kuncinya selalu Anda kalungkan di leher."

Melan meraba lehernya, dan benar saja, ada sebuah kunci kecil berbahan perak dengan ukiran mawar. Matanya langsung berbinar-binar seperti lampu neon.

"Gudang pribadi? Di paviliun ini?"

"Benar, Yang Mulia. Di balik lemari pakaian besar itu."

Melan langsung melompat dari ranjang, tidak peduli dengan gaun tidurnya yang tersingkap. Dia berlari menuju lemari kayu raksasa yang tingginya hampir menyentuh plafon.

Dengan bantuan Lin, dia menggeser sedikit bagian samping lemari, dan sebuah pintu kecil muncul.

Klik.

Pintu terbuka. Melan melangkah masuk dan hampir saja pingsan karena silau. Di dalam ruangan kecil itu, peti-peti kayu berderet rapi.

Isinya bukan cuma koin emas, tapi juga kain sutra gulungan, rempah-rempah mahal, dan botol-botol parfum (yang kali ini Melan yakin seratus persen asli, bukan hasil curian cewek sweater hitam).

"Ini baru namanya hidup!" Melan tertawa lebar, sebuah tawa yang kalau didengar Nolan pasti bakal dibilang tawa nenek sihir.

"Bodo amat sama Nolan! Bodo amat sama rakyat yang nggak nganggep gue! Selama gue punya gudang ini, gue bisa bikin istana sendiri kalau mau!"

Dia mengambil segenggam koin emas dan merasakannya di telapak tangannya. Berat dan nyata.

"Lin, dengar ya," Melan menatap dayangnya dengan serius.

"Besok, saya nggak mau lihat ada orang yang berani merendahkan saya lagi. Kalau ada yang macam-macam, bilang sama saya. Saya bakal beli mulut mereka pakai emas-emas ini."

Lin menelan ludah, antara takut dan takjub melihat perubahan drastis permaisurinya. "Ba-baik, Yang Mulia."

Melan kembali ke ranjangnya, kali ini dengan perasaan yang jauh lebih tenang meski HP tetap tidak ada. Dia merebahkan diri, memandangi tumpukan harta yang dia keluarkan tadi.

Oke Kinan, nikmati aja, bisiknya pada diri sendiri. Lo nggak bisa main TikTok, tapi lo bisa jadi bos di sini. Besok, misi pertama gue adalah nyari cara supaya gue bisa belanja keluar istana. Gue pengen tau, apa rakyat di sini selera bajunya se-norak Nolan juga atau nggak.

Dia menutup matanya, tapi tiba-tiba teringat wajah Nolan yang menghinanya tadi.

Nolan... liat aja nanti. Lu bilang gue sampah? Gue bakal bikin lu ngerasa kayak pemulung di depan gue. Dan satu lagi... baju lu beneran minta digunting rumbai-rumbainya!

Sambil membayangkan dirinya menggunting baju-baju menor Nolan, Melan akhirnya tertidur pulas di atas kasur yang jauh lebih empuk daripada mimpi mana pun yang pernah dia punya di dunia lama.

Dia bahkan lupa kalau dia baru saja mati secara tragis di jalan tol. Baginya sekarang, yang penting adalah besok pagi sarapan apa yang paling mahal.

1
ilaa
lanjut up thorr, penasaran sama si fek fe
merpati: ga nyangka 🤭
total 1 replies
Ma Em
Melan emang unik sdh diculik tapi msh saja memikirkan bagaimana caranya bisnis untuk mengumpulkan pundi pundi uang masuk ke kantongnya .
merpati: soalnya di kehidupan sebelumnya melan jadi pekerja, di kehidupan kedua dia mau jadi bosnya
total 1 replies
Ma Em
Semoga apa yg akan Melan lakukan segera terlaksana dan benar2 sukses dgn yg Melan bangun agar Raja dan orang2 yg ada di kerajaan Nolan tdk meremehkan Melan lagi .
merpati: melan mah nggak peduli di remehin yg penting kaya dulu 🤭🙏
total 1 replies
Andini Cantik
lanjuttttt up
Firniawati
bagus tidak menye² tapi pemilihan katanya yg campur aduk
merpati: makasih kakaa, nanti aku revisi
total 1 replies
Firniawati
ayo kak kapan updatenya?
Sesarni Andiva
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!