NovelToon NovelToon
Selamat Tinggal Orang Yg Kusayang

Selamat Tinggal Orang Yg Kusayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Dunia Masa Depan
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Arsih Mom

"Bukan berarti apa yang dekat dengan kita adalah yang terbaik, bisa jadi kebaikan itu ada jauh dari kita ataupun tidak terlihat"
Aku pergi karena sangat menyayangi kalian, suatu saat nanti jika masih ada kesempatan aku akan menjemput kalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arsih Mom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Informan kepercayaan

Seperti biasa sebelum jam 8 pagi, Tio sudah menjemput Tuannya ke kamar dan mengantar sarapan. 

"Tuan Santan , silakan sarapan dulu dan jangan lupa diminum vitaminnya."

Begitu Tio selesai meletakkan dan menyiapkan kebutuhan Santana, Dia keluar untuk melakukan kerjaan selanjutnya. 

Tapi langkah kakinya terhenti saat Santana memanggilnya. 

"Tio, aku mau minta tolong sama kamu!"

Tio membalikan badannya dan kembali berjalan mendekati Santana. 

"Apa yang bisa saya bantu Tuan?"

Santana menyuruh Tio untuk duduk didekatnya. 

"Aku ingin kamu mencari tahu tentang wanita yang ada di lokasi kebakaran kemarin."

Ternyata memang Santana menganggap Haya begitu berarti dalam pencarian istri dan anaknya. Meskipun Tio sudah lebih cepat dalam bertindak tapi Dia tidak ingin Tuannya tahu kalau apa yang sebenarnya di minta sudah Dia lakukan lebih dulu. 

"Baik , saya akan kerjakan perintah Tuan."

"Oh ya Tio, pagi ini aku akan ke kantor dengan taxi saja, kamu jemput Anita di Bandara dan setelah itu lakukan perintah ku tadi."

Selayaknya seorang ajudan yang diberikan tugas penting dari Tuannya, Tio sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai tanda siap dalam menjalankan tugasnya. 

Tio meninggalkan Tuannya sendiri di kamar hotel , Dia bergegas ke Bandara untuk menjemput Anita. 

Di Bandara ternyata Anita sudah berdiri di lobby luar dengan raut wajah mengkerut seperti jeruk purut. Seperti yang ada di bayangan Anita kalau Santana memang melarikan diri darinya. Melihat yang datang menjemputnya adalah Tio, dengan senyum sinisnya Dia langsung masuk ke mobil dan meninggalkan kopernya. 

Tio yang mendapati Anita bersikap seperti itu hanya bisa tersenyum tipis. Karena memang Dia tahu benar kalau Tuannya tidak mau bahkan tidak menaruh simpati sedikitpun pada Anita. Masih dengan sabar menjalankan tugasnya, Tio mengangkat koper Anita dan memasukkannya ke bagasi mobil. 

"Maaf Bu, kita langsung ke hotel atau mau ke mana dulu?"

Dengan nada suara yang tidak enak didengar Anita meminta Tio untuk mengantarkannya ke suatu tempat. 

"Antar aku ke alamat ini sekarang!"

Melihat alamat yang ditunjukkan pada nya, Tio hanya menganggukan kepalanya saja. Sambil dipandu menggunakan maps, Tio mulai bertanya-tanya siapa yang akan ditemui Anita.

(Bukannya ini jalan menuju lokasi kebakaran kemarin?) 

Tio memberanikan diri untuk bertanya pada Anita. 

"Bu kalau boleh tahu kita mau ke mana?"

Anita tidak menghiraukan pertanyaan Tio, Dia masih saja asyik dengan layar HP nya. 

Karena tidak mendapat respon sama sekali dari Anita, Tio terus melajukan mobilnya sesuai dengan arahan maps. 

Sudah melewati lokasi kebakaran dengan jarak 500 meter lebih, Tio merasa ada yang tidak wajar. Dia kembali lagi bertanya pada Anita, kemana sebenarnya tujuan mereka. 

Sambil nyolot Anita menjawab pertanyaan Tio. 

"Kamu tidak usah banyak tanya, turunkan aku di depan sana dan kalau Santana tanya bilang saja aku menginap di rumah teman."

Takut menjawab dengan kalimat yang nanti pasti disalahkan, Tio hanya mengikuti permintaan Anita. 

Tiba didepan gang Anita meminta Tio untuk menghentikan mobilnya. Dia hanya membawa tas jinjing yang mungkin berisi beberapa pakaian dan perlengkapan pribadinya saja. Dia meminta dan memastikan Tio untuk segera meninggalkan tempat itu sebelum Dia masuk ke dalam gang. 

Meski terasa aneh dan mencurigakan, Tio tetap menahan keingin tahuan nya.

(Mending aku ikuti dulu apa kata Anita, sekarang aku harus ke yayasan agar bisa bertemu Haya) 

Tio melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karena jarak yayasan dari tempat itu tidak begitu jauh, Tio hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke sana. 

Sampai di depan gerbang yayasan, terlihat pemandangan yang begitu menarik perhatiannya. Beberapa warga yang tinggal di sana sedang melakukan beberapa kegiatan. Ada yang berkebun, belajar menyulam, masak dan kegiatan yang lain. Semua warga yang tinggal di yayasan memang diberi ketrampilan supaya saat sudah layak nanti mereka bisa keluar dan bisa bertahan hidup. 

Tio yang hanya berdiri sambil mengamati satu per satu orang yang ada di sana untuk mencari sosok wanita bernama Haya. Dari kesekian banyaknya orang yang Dia lihat ternyata tidak ditemukan wanita yang dicarinya. 

"Siang, Pak Tio mencari siapa?"

Salah satu petugas yayasan  menghampiri Tio dan menanyakan kepentingannya datang ke tempat itu. Tio pun menceritakan tujuannya siang itu datang ke yayasan. 

"Duh Pak sudah terlambat, baru pagi tadi Bu Haya dijemput saudara jauhnya. Sepertinya Dia tidak mungkin kembali lagi kemari."

"Dijemput saudara jauh? Bukannya kemarin Kepala yayasan bilang Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi?"

"Iya Pak, memang dari awal Bu Haya bilang seperti itu, tapi tadi pagi sepasang suami istri datang dengan menyertakan surat ijin dari kepala untuk membawa pulang Bu Haya dan anaknya Antoni."

Mendengar  cerita dari petugas yayasan Tio merasa terkejut dan bingung. 

(Sial karena harus mengantar Anita tadi aku jadi terlambat datang) "Bapak tahu tidak kira-kira Bu Haya di bawa ke mana?"

Petugas pun menggelengkan kepalanya. 

Dengan langkah cepatnya Tio berjalan ke kantor dan bertemu kepala yayasan. 

Di kantor Kepala Yayasan yang sedang sibuk terpaksa menghentikan pekerjaannya. Karena melihat wajah panik Tio, Kepala yayasan memintanya untuk duduk. 

"Pak Tio kenapa terlihat serius dan terburu-buru?"

"Maaf Pak, saya kemari ingin bertemu Bu Haya tapi kenapa petugas bilang Dia sudah dijemput saudaranya?"

"Oh itu?"

Kepala yayasan dengan bijaksana menjelaskan pada Tio. Alasan apa Dia mengijinkan Haya dijemput pulang. 

Tio sontak kaget mendengar penjelasan Kepala Yayasan bahkan Dia juga tidak habis fikir kenapa Haya diperbolehkan dibawa orang yang tidak dikenalnya. 

Tio meminta alamat dan nama orang yang menjemput Haya serta anak nya. Dengan senang hati Kepala Yayasan juga memberikan alamat yang diminta Tio. 

"Ini Pak alamatnya, kalau memang Pak Tio sempat ke sana tolong kabari kami bagaimana keadaan Bu Haya dan anaknya, agar kami juga lega dan tidak merasa memberikan pada orang yang salah."

Setelah mendapat apa yang Dia minta, Tio berpamitan pada Kepala Yayasan untuk pergi saat itu juga. 

Dalam perjalanan pulang ke kantor, Tio terus mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Tuannya.

(Kalau sampai Tuan tahu Haya dibawa pergi orang yang tak dikenal, habislah nasib Kepala yayasan itu, bisa jadi Dia akan menghentikan dana untuk yayasan itu)

Tio berfikir keras bagaimana caranya agar Tuannya tidak mengetahui masalah itu untuk sementara waktu. Dengan sedikit rasa takut Dia masuk ke kantor dengan penuh hati-hati.

Sebelum Dia membuka pintu ruangan Tuannya, dari belakang bahunya dipegang tangan seseorang yang membuat Dia terperanjat. Dengan kepanikannya Dia memutar badannya perlahan.

"Tu.. Tuan, kenapa mengagetkan saya?"

"Kamu terkejut, kenapa harus mengendap-endap seperti itu, memangnya kamu mau ngapain di ruanganku?"

Tio hanya bisa senyum-senyum tak jelas. Dia tidak mau menjawab pertanyaan Tuannya.

"Masuklah, ada yang mau aku katakan padamu"

Sesuai perintah Tuannya, Tio masuk ke ruangan Santana. Dia juga disuruh untuk menutup pintu dengan rapat, tidak tahu sepenting apa yang akan dibicarakan dengan asisten pribadinya itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!