Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.
Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.
Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi masa lalu
Pintu kayu itu bergetar hebat di bawah hantaman paksa dari luar. Ardi, yang sedari tadi terpaku di meja kerja, tersentak. Dengan wajah pucat, ia berlari ke kamar dan membopong putri kecilnya yang masih terlelap.
"Ayah? Ada apa?" gumam Myra dengan mata mengantuk.
"Myra, dengarkan Ayah!" Ardi berbisik tajam, napasnya memburu. "Sembunyi di dalam lemari. Sekarang!"
Myra, gadis tiga belas tahun itu hanya bisa mengangguk gemetar. Ia tahu pekerjaan ayahnya sebagai jurnalis investigasi sering kali mengundang bahaya. Ardi memasukkan Myra ke dalam lemari kayu tua.
"Jangan keluar sebelum ayah memanggilmu. Apa pun yang terjadi, tutup matamu dan tetaplah diam," pesan Ardi sebelum mencium kening putrinya.
"Ardi! Buka pintunya!" teriak suara berat dari luar.
"Janji?" Ardi menyodorkan jari kelingkingnya melalui celah pintu lemari. Myra menautkan Jari mungilnya dengan isak tangis yang tertahan.
Begitu pintu tertutup, Myra hanya bisa mengintip dari celah kecil.
Ia melihat punggung ayahnya berjalan tegap menuju maut. Pintu depan terbuka dan beberapa pria kekar memaksa masuk.
DOR!
Manik cokelat Myra membeku. Ayahnya terhuyung saat timah panas menembus perutnya. Tak berhenti di sana, rentetan tembakan berikutnya menghujani tubuh Ardi hingga ambruk bersimbah darah di atas lantai kayu.
"AYAH!"
"Myra!"
BRAK! Pintu kamar terbuka. Seorang wanita bertubuh tinggi, Sukma, berlari masuk dengan raut cemas.
Ia mendapati Myra terduduk di ranjang dengan napas terengah dan keringat dingin membasahi wajah.
"Hah... hah..." Myra mengusap wajahnya yang pucat. Segera meneguk air yang baru disodorkan Sukma hingga tandas.
"Habis mimpi buruk?" tanya Sukma pelan.
Myra mengangguk. Mimpi itu bukan sekadar bunga tidur, itu adalah trauma yang selalu muncul setiap kali malapetaka besar sedang mendekatinya.
"Pihak polisi mungkin sudah mencurigai kita soal kematian Dendi Hasno," cicit Sukma.
"Kenapa? Aku tidak melakukan apa pun. Semalam aku sibuk latihan di markas," sahut Myra membela diri.
"Tapi, kamu itu pemimpin kelompok pembunuh yang sudah lama diincar polisi. Mereka pasti akan menjadikanmu sebagai tersangka pertama setiap kali ada pembunuhan---apa lagi, kali ini yang mati bukanlah orang biasa."
...----------------...
Polda Jawa Timur, Surabaya.
Langkah tegap Rafan bergema di koridor gedung Polda. Begitu memasuki ruang reserse, suasana yang semula bising seketika hening.
"Perhatian semuanya. Perkenalkan, ini Komisaris Rafan," lapor Andre. "Mulai hari ini, beliau akan memimpin penyelidikan kasus pembunuhan Dendi Hasno,"
"Selamat pagi, Pak!" sapa para anggota serempak.
"Selamat pagi. Cukup perkenalannya, silahkan kembali bekerja," jawab Rafan datar. Tidak suka berbasa-basi.
"Andre, jelaskan apa yang kita punya?"
Di dalam ruang kerja yang dipenuhi tumpukan dokumen, Andre memaparkan hasil autopsi.
"Total seratu lima puluh tusukan, Pak. Korban diduga disiksa sebelum dibunuh. Senjatanya benda tajam berkarat, mungkin silet atau pisau lipat. Ada bekas lilitan tali di pergelangan tangannya, menandakan korban sempat disekap."
Rafan menatap foto TKP dengan cermat. "Dimaba korban terakhir terlihat?"
"Klub malam, Pak. Korban di sana beberapa jam sebelum hilang. Kami juga menemukan riwayat panggilan terakhir dengan istrinya, Ibu Mega."
Rafan menghela napas. Dunia politik dan kehidupan malam, perpaduan mengejutkan dari pria yang dicap sebagai Bapak Rakyat.
"Siapkan mobil. Kita temui Ibu Mega."
"Anu, Pak---sebenarnya," Andre ragu sejenak. "Anak korban mencurigai Pak Willy, mantan wakil gubernur. Hubungan mereka memburuk sejak berhenti menjabat,"
Rafan mengambil map cokelatnya. "Suruh tim cek CCTV klub malam. Kita temui Ibu Mega dulu, setelahnya kita akan bertamu ke rumah Pak Willy."