Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Malam perlahan menyelimuti rumah Pratama. Cahaya lampu-lampu taman menerangi halaman dengan lembut, sementara suasana di dalam rumah terasa tenang dan hening. Jam dinding di ruang keluarga menunjukkan pukul delapan malam ketika Arsyi masih berada di dapur, sibuk dengan aktivitasnya.
Sejak sore, ia telah menyiapkan berbagai hidangan dengan penuh ketelatenan. Aroma masakan rumahan memenuhi ruangan, sup ayam hangat, tumis sayuran, ikan goreng dengan sambal, serta nasi putih yang masih mengepul. Semua itu ia siapkan berdasarkan informasi yang diberikan Nyonya Ratih tentang makanan kesukaan Harsa.
Setelah memastikan semuanya tertata rapi di atas meja makan, Arsyi berjalan menuju kamar Melodi. Bayi kecil itu telah tertidur pulas di dalam boksnya. Dengan penuh kasih, Arsyi membenarkan selimut yang menutupi tubuh mungil tersebut, lalu mengecup lembut keningnya.
“Tidurlah yang nyenyak, Sayang,” bisiknya pelan.
Ia menatap Melodi beberapa saat, merasakan kedamaian yang sulit ia jelaskan. Kehadiran bayi itu menjadi sumber kekuatan baginya untuk menjalani kehidupan baru yang penuh tantangan.
Setelah itu, Arsyi kembali ke dapur dan ruang makan. Ia memeriksa kembali hidangan yang telah disiapkannya, memastikan semuanya tetap hangat dan tertata dengan baik. Sesekali ia melirik jam dinding yang terus bergerak, menandakan waktu yang semakin larut.
Beberapa saat kemudian, salah satu pelayan rumah, Mbak Sari, menghampirinya dengan langkah hati-hati.
“Bu Arsyi,” panggilnya sopan.
Arsyi menoleh dan tersenyum ramah. “Iya, Mbak Sari?”
“Mungkin Ibu sebaiknya beristirahat saja,” ujar Mbak Sari dengan lembut. “Kalau Pak Harsa pulang, biar kami yang memanaskan makanannya.”
Arsyi menggeleng pelan. “Terima kasih, Mbak, tapi tidak perlu. Saya ingin menunggunya sendiri.”
Mbak Sari tampak ragu. “Tapi ini sudah cukup malam, Bu. Biasanya kalau Pak Harsa lembur, beliau pulang sangat larut.”
Arsyi tersenyum tipis, meskipun ada kelelahan yang tersirat di wajahnya. “Tidak apa-apa. Ini pertama kalinya saya menyiapkan makan malam untuknya. Saya ingin menyambutnya secara langsung.”
Mbak Sari akhirnya mengangguk mengerti. “Baiklah, Bu. Kalau begitu kami pamit ke kamar dulu. Silakan panggil kami jika membutuhkan sesuatu.”
“Terima kasih, Mbak,” jawab Arsyi dengan tulus.
Setelah para pelayan kembali ke kamar masing-masing, rumah itu menjadi semakin sunyi. Arsyi duduk di kursi ruang makan, menatap hidangan yang telah ia siapkan dengan penuh harap. Sesekali ia merapikan posisi piring atau sendok, meskipun semuanya sudah tertata dengan sempurna.
Jarum jam terus bergerak, pukul sembilan malam. Kemudian sepuluh malam dan Harsa belum juga pulang.
Arsyi menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa lelah yang mulai menghampirinya. Ia bangkit dan berjalan menuju ruang keluarga, mengambil ponselnya untuk memastikan apakah ada pesan dari Harsa. Namun, layar ponsel itu tetap kosong.
Ia tidak ingin mengganggu pekerjaan suaminya dengan menghubungi lebih dulu. Baginya, menunggu adalah bentuk sederhana dari tanggung jawab dan penghormatan sebagai seorang istri.
Kembali ke meja makan, Arsyi duduk dengan kedua tangan terlipat di atas meja. Tatapannya lembut namun penuh harap. Dalam keheningan itu, pikirannya melayang pada berbagai kenangan, tentang Nadin, tentang pernikahan yang baru saja ia jalani, dan tentang harapan kecil yang perlahan tumbuh di dalam hatinya.
“Mungkin … ini awal yang baik,” gumamnya pelan.
Malam semakin larut, dan rumah Pratama tetap terbungkus dalam keheningan. Lampu ruang makan masih menyala, menerangi hidangan yang telah disiapkan dengan penuh ketulusan oleh Arsyi. Uap hangat dari makanan perlahan mulai menghilang, menandakan waktu yang terus berjalan tanpa kepastian kapan Harsa akan pulang.
Arsyi duduk di salah satu kursi, kedua tangannya terlipat di atas meja. Tatapannya kosong, namun pikirannya dipenuhi berbagai perasaan yang saling bertabrakan. Ia menyadari sepenuhnya bahwa pernikahan yang ia jalani bukanlah pernikahan yang dilandasi cinta.
Ia tahu, Harsa menikahinya semata-mata karena wasiat Nadin.
Kesadaran itu tidak lagi menyakitkan seperti sebelumnya, tetapi tetap meninggalkan rasa perih yang sulit dijelaskan. Meski demikian, Arsyi tidak ingin terus terjebak dalam perasaan tersebut. Ia memilih untuk menerima kenyataan dengan lapang dada.
Perlahan, ia menarik napas panjang dan berbisik pada dirinya sendiri.
“Aku tidak bisa mengubah alasan pernikahan ini … tapi aku bisa menentukan bagaimana aku menjalaninya.” Ucapan itu menjadi penguat bagi hatinya.
Arsyi bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kamar Melodi. Dengan langkah pelan agar tidak menimbulkan suara, ia membuka pintu dan mendekati boks bayi. Melodi masih tertidur dengan damai, napasnya teratur, wajah mungilnya tampak begitu menenangkan.
Arsyi tersenyum lembut. Ia mengulurkan tangan, mengusap perlahan kepala bayi itu.
“Kamu tidak perlu khawatir, Sayang,” bisiknya penuh kasih. “Aku akan menjagamu … seperti ibumu menjagamu seandainya dia masih ada.”
Matanya mulai berkaca-kaca, namun kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena tekad yang semakin menguat dalam dirinya.
“Aku mungkin tidak bisa menggantikan posisi Kak Nadin,” lanjutnya pelan, “tapi aku akan berusaha menjadi ibu yang terbaik untukmu.”
Setelah beberapa saat, Arsyi kembali ke ruang makan. Ia memandang sekeliling rumah yang kini menjadi tempat tinggalnya. Meskipun masih terasa asing, ia bertekad untuk mengisinya dengan kehangatan.
“Aku tahu Kak Harsa tidak mencintaiku,” gumamnya lirih. “Dan mungkin tidak akan pernah mencintaiku. Tapi selama satu tahun ke depan, aku ingin menjadi istri yang baik untuknya.”
Ia mengingat kembali syarat pernikahan mereka, pernikahan yang hanya akan berlangsung selama satu tahun. Waktu yang singkat, namun cukup baginya untuk membuktikan ketulusan.
“Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menjadi seseorang yang diandalkan,” lanjutnya. “Bukan hanya untuk Melodi, tetapi juga untuk Kak Harsa.”
Arsyi menutup matanya sejenak, meresapi setiap kata yang baru saja ia ucapkan. Tidak ada harapan untuk dicintai, tidak ada tuntutan untuk dibalas. Yang ia inginkan hanyalah menjalankan perannya dengan sepenuh hati.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki pelan terdengar kembali dari arah dapur. Mbak Sari, yang tampaknya belum benar-benar tertidur, kembali menghampiri Arsyi.
“Bu Arsyi, apakah Ibu masih menunggu Pak Harsa?” tanyanya dengan lembut.
Arsyi tersenyum tipis. “Iya, Mbak. Saya ingin menyambutnya ketika pulang.”
Mbak Sari menatapnya dengan penuh rasa hormat. “Ibu benar-benar baik. Tidak semua orang bisa melakukan hal seperti ini.”
Arsyi menggeleng pelan. “Saya hanya mencoba menjalankan kewajiban saya sebagai istri.”
“Semoga Pak Harsa bisa melihat ketulusan Ibu,” ujar Mbak Sari dengan tulus.
Arsyi tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil, menyimpan harapan itu dalam diam tanpa berani mengungkapkannya.
Setelah Mbak Sari kembali ke kamarnya lagi, Arsyi duduk kembali di kursi ruang makan. Ia menatap cincin yang melingkar di jari manisnya, simbol dari ikatan yang kini menjadi bagian dari hidupnya.
Dengan lembut, ia menyentuh cincin tersebut dan berbisik, “Aku tidak tahu bagaimana akhir dari perjalanan ini … tapi aku akan menjalaninya dengan sepenuh hati.”
caramu sungguh busuk, Ran
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂