Lima tahun menikah, Stella merasa hidupnya sempurna bersama Abbas, suami yang penyayang. Kehadiran Annisa—yang diperkenalkan Abbas sebagai adik sepupu yatim piatu—bahkan disambut Stella dengan tangan terbuka layaknya adik kandung sendiri.
Namun, fatamorgana itu hancur saat Stella menemukan slip reservasi hotel di saku jas Abbas. Bukan sekadar perjalanan bisnis, slip itu mencantumkan paket Honeymoon Suite untuk Mr. Abbas & Mrs. Annisa.
Kebenaran pahit terungkap: adik sepupu yang datang ternyata adalah istri siri suaminya selama setahun terakhir. Terjebak dalam pengkhianatan di bawah atap yang sama, Stella harus memilih: bertahan demi janji suci yang telah ternoda, atau pergi demi harga diri saat Annisa mulai menuntut pengakuan sah sebagai istri kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
...Malam semakin larut, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam rumah mewah itu. Stella, dengan ketulusan yang tak pernah pudar, melangkah masuk ke kamarnya untuk mempersiapkan segala keperluan suaminya....
...Di dapur, Abbas berdiri mematung. Tangannya gemetar saat ia mengeluarkan sebuah botol kecil dari sakunya. ...
...Dengan gerakan cepat, ia memasukkan beberapa tetes obat tidur berdosis tinggi ke dalam segelas air putih. ...
...Setelah memastikan cairan itu larut sempurna, ia melangkah masuk ke kamar dengan wajah yang dipaksakan tenang....
..."Sayang, minum dulu. Kamu kelihatan lelah setelah menyiapkan makan malam tadi," ucap Abbas lembut, menyodorkan gelas itu pada istrinya....
...Stella mendongak, tersenyum manis menyambut perhatian suaminya. ...
..."Iya Mas, terima kasih. Tapi tunggu sebentar, aku mau membantumu memasukkan semua pakaian yang akan kamu bawa besok. Biar tidak ada yang tertinggal."...
...Dengan telaten, Stella mengambil satu per satu pakaian Abbas dan memasukkannya ke dalam koper. ...
...Ia melipat kemeja-kemeja itu dengan rapi, memastikan suaminya tampil sempurna di "rapat luar kota" yang sebenarnya hanyalah bualan....
...Setelah selesai, ia meraih gelas itu dan meminumnya hingga tandas....
...Hanya dalam hitungan detik, dunia di sekitar Stella mulai berputar. Kelopak matanya terasa seberat timah. ...
..."Mas,.kok aku, tiba-tiba mengantuk sekali..." gumamnya lirih sebelum akhirnya tubuhnya terkulai lemas dan langsung jatuh pingsan di atas ranjang....
...Pintu kamar perlahan terbuka. Annisa masuk ke dalam dengan langkah kaki tanpa suara. ...
...Tidak ada lagi wajah polos "adik sepupu"; yang ada hanyalah tatapan penuh gairah dan kemenangan. ...
...Ia mendekat ke arah Abbas dan langsung mencium bibir suaminya dengan liar....
..."Aku merindukanmu, Sayang," bisik Abbas di sela ciuman mereka, tangannya memeluk pinggang Annisa dengan erat....
..."Aku juga, Mas. Rasanya tersiksa sekali harus berpura-pura seharian," balas Annisa manja....
...Abbas melirik tubuh Stella yang terbaring kaku tak berdaya. ...
...Tanpa rasa bersalah, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Stella, seolah-olah istrinya itu hanya penghalang yang harus disingkirkan dari pandangan....
...Di atas ranjang yang sama, di tempat Stella biasanya memberikan pengabdiannya sebagai istri sah, Abbas dan Annisa justru melakukan hubungan intim. ...
...Mereka memuaskan hasrat di samping raga Stella yang terlelap karena pengaruh obat, mengkhianati setiap jengkal janji suci yang pernah diucapkan di kamar itu. ...
...Kebohongan mereka kini telah menembus batas paling kotor di bawah atap rumah yang Stella bangun dengan cinta....
...Keesokan paginya, jam menunjukkan pukul empat pagi. ...
...Udara dingin subuh meresap menembus celah jendela, namun suasana di dalam kamar utama terasa jauh lebih mencekam....
...Stella perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa sangat berat, seolah ada beban ribuan ton yang menghimpit pelipisnya. ...
...Ia mengerang pelan, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang tercerai-berai. ...
...Di sampingnya, ia melihat Abbas yang sedang tertidur pulas, napasnya teratur seolah tidak terjadi apa-apa semalam....
...Apa yang terjadi semalam? batin Stella bingung....
...Ia memijat keningnya yang berdenyut. Stella mencoba untuk mengingat, tetapi memori terakhir yang ia miliki hanyalah saat ia sedang telaten memasukkan semua pakaian suaminya ke dalam koper. ...
...Setelah meminum air yang diberikan Abbas, semuanya gelap gulita. Ia tidak ingat kapan ia tertidur, apalagi bagaimana ia bisa langsung terlelap sedalam itu tanpa sempat berganti pakaian tidur....
...Perasaan tidak enak mulai menjalar di dadanya. Stella bangkit dari tempat tidur dengan gerakan perlahan agar tidak membangunkan Abbas. ...
...Ia merasakan tubuhnya sedikit pegal, dan ada aroma parfum yang terasa asing di indra penciumannya—bukan aroma lavender yang biasa ia gunakan, melainkan sesuatu yang lebih tajam dan manis....
...Dengan langkah gontai, ia membuka pintu kamar dan keluar. ...
...Rumah itu masih sangat sunyi. Stella berjalan menyusuri lorong menuju lantai bawah, entah mengapa langkah kakinya justru membawanya ke arah area servis....
...Ia berhenti di depan sebuah pintu kayu sederhana. Kamar belakang....
...Dengan tangan yang sedikit gemetar, Stella memutar kenop pintu yang ternyata tidak terkunci. Ia mendorongnya pelan dan mendapati Annisa yang juga tertidur pulas di atas ranjang sempit itu. ...
...Gadis itu tampak tenang dalam tidurnya, tertutup selimut hingga batas dada....
...Stella berdiri mematung di ambang pintu. Matanya menatap tajam ke arah Annisa, mencoba mencari jawaban atas kegelisahan yang tiba-tiba membuncah di hatinya. ...
...Mengapa ia merasa ada sesuatu yang hilang? Dan mengapa bayangan Abbas dan Annisa yang saling melirik di meja makan semalam terus menghantui pikirannya saat ini?...
...Tanpa suara, Stella menutup kembali pintu itu. Di bawah temaram lampu lorong, ia bersandar di dinding, mencoba menepis prasangka buruk yang mulai meracuni logikanya. Namun, rasa kantuk yang datang mendadak semalam terlalu janggal untuk disebut sebagai kelelahan biasa....
...Sayang, ada apa? Kenapa kamu di sini subuh-subuh begini?" tanya Abbas lembut, tangannya memegang pundak Stella dengan erat, seolah berusaha memberikan kekuatan....
...Stella tersentak hebat, jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke kerongkongan. ...
...Ia berbalik dan mendapati Abbas sudah berdiri tepat di belakangnya dengan wajah yang tampak sangat khawatir....
..."T-tidak apa-apa, Mas. Aku hanya, merasa sedikit pusing saat bangun tadi," jawab Stella terbata, matanya masih melirik ke arah pintu kamar Annisa yang tertutup rapat....
...Abbas menuntun Stella menuju sofa di ruang tengah, gerakannya sangat protektif. ...
..."Duduklah dulu. Semalam kamu pingsan di kamar saat sedang memasukkan baju ke koper. Kamu kelelahan, Sayang," ucap Abbas dengan nada suara yang begitu meyakinkan....
..."Pingsan?" Stella mengerutkan dahi, mencoba memanggil kembali memorinya yang hilang. ...
..."Tapi aku merasa baik-baik saja kemarin, Mas. Kenapa aku bisa pingsan tiba-tiba?"...
...Abbas menganggukkan kepalanya pelan, lalu mengusap punggung tangan Stella untuk menenangkannya. ...
..."Mungkin karena kamu terlalu banyak pikiran soal perusahaan dan mengurus rumah. Untung aku sigap menangkapmu sebelum kepalamu terbentur lantai."...
...Tepat saat itu, pintu kamar belakang terbuka sedikit. Annisa muncul dari balik pintu dengan wajah yang tampak mengantuk, namun matanya menatap Stella dengan sorot yang aneh....
..."Iya, Mbak Stella. Semalam saya dengar suara jatuh dari lantai atas, lalu Mas Abbas panggil-panggil nama Mbak. Saya sampai lari keluar karena takut terjadi apa-apa," ujar Annisa, ikut menimpali ucapan Abbas. ...
..."Mbak Stella pingsan lama sekali semalam, kami berdua sampai bingung mau melakukan apa."...
...Mendengar dua pengakuan yang senada, Stella terdiam. Logikanya mencoba menerima penjelasan itu, namun naluri wanitanya berbisik lain. ...
...Ada sesuatu yang janggal dalam sinkronisasi kata-kata mereka, seolah-olah semuanya sudah direncanakan dengan rapi sebelum ia membuka mata pagi ini....
..."Benarkah begitu?" tanya Stella lirih, menatap suaminya dan Annisa bergantian di bawah temaram lampu ruang tengah yang belum sepenuhnya dipadamkan....
...Abbas dan Annisa serempak menganggukkan kepalanya, memberikan penegasan yang seolah tak terbantahkan. ...
...Kebohongan yang mereka bangun begitu rapi, saling melengkapi satu sama lain hingga Stella merasa dialah yang salah karena sempat menaruh curiga....
..."Sudah, jangan dipikirkan lagi. Yang penting sekarang kamu istirahat," ucap Abbas lembut. Ia kemudian menoleh ke arah dapur dan memanggil Bibi yang berada di dapur....
..."Bi! Tolong buatkan sarapan dan susu hangat untuk Stella. Pastikan susunya manis supaya dia lebih bertenaga."...
...Setelah memastikan istrinya duduk tenang, Abbas mengelus rambut Stella sebentar. ...
..."Aku mandi dulu, Sayang. Aku harus bersiap-siap sebelum berangkat ke luar kota," pamitnya sebelum melangkah kembali ke lantai atas dengan langkah ringan, seolah beban di pundaknya telah terangkat....
...Stella terdiam di meja makan, menatap kosong ke arah gelas kosong di depannya. ...
...Saat pelayan datang membawa segelas susu hangat yang mengepul, Stella menahan tangan wanita tua itu....
..."Bi, tunggu sebentar," bisik Stella, matanya menatap tajam ke arah pelayan tersebut. "Apakah benar aku pingsan semalam, Bi? Apa Bibi melihatnya sendiri?"...
...Pelayan itu sempat tertegun sejenak. Ia melirik ke arah lorong tempat Annisa masih berdiri memperhatikannya dari kejauhan, lalu kembali menatap majikannya. ...
...Dengan wajah tanpa ekspresi dan gerakan yang tampak kaku, Bibi menganggukkan kepalanya....
..."Iya, Bu Stella. Semalam Bapak panik sekali memanggil saya untuk mengambilkan minyak kayu putih karena Ibu tidak bangun-bangun," jawab Bibi pelan, sesuai dengan skenario yang telah diinstruksikan Abbas padanya sebelum subuh tadi....
...Stella menghela napas panjang, bahunya merosot lemas. ...
...Jika semua orang di rumah ini mengatakan hal yang sama, maka mungkin memang benar tubuhnya yang sedang tidak sehat. Namun, di balik rasa lemasnya, Stella merasa ada sesuatu yang janggal—mengapa rasa kantuknya semalam datang begitu instan setelah ia meminum air dari suaminya?...
...Ia menyesap susu hangat itu perlahan, sementara Annisa yang masih berada di ambang pintu kamar belakang tersenyum tipis. ...
...Rencana mereka berjalan sempurna; Stella kini meragukan kewarasannya sendiri, tepat di bawah atap rumahnya sendiri....