NovelToon NovelToon
Dalam Dekap Bayangmu

Dalam Dekap Bayangmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09

Malam tadi kanaya mendengar kala pulang sekitaran jam 10 malam, sebenarnya dia ingin menyambut kepulangan kala, tapi entah mengapa kanaya enggan menyambut pria itu.

Mood kanaya benar-benar anjlok seharian kemarin, pagi ini rasa kesalnya pun tak kunjung usai, reaksi dingin kanaya berlanjut hingga sarapan pagi ini, tak urung membuat kala heran, kanaya yang biasanya banyak senyum dan suka ngobrol mendadak menjadi pendiam.

"Sudah makannya...?", tanya kala, melihat kanaya yang hendak beranjak dari duduknya, kanaya hanya mengangguk cepat dan bergegas meninggalkan kala sendirian di ruang makan.

Dengan langkah cepat kanaya ingin segera naik ke lantai dua, ia ingin segera pergi ke kamarnya, belum sempat kakinya menaiki anak tangga, suara kala menahannya.

"Naya...", panggilan kala, menahan kanaya untuk melangkah maju.

" kamu kenapa?", tanya kala penasaran, menatap kanaya yang sedang membalikkan badannya, dan tertunduk.

"Gak kenapa-kenapa", jawab kanaya singkat, dengan masih tertunduk.kala menggeleng dengan tidak yakin.

"Saya yakin, pasti kenapa-kenapa"

"Saya hanya sakit perut..", sahut kanaya berbohong, menatap kala yang masih menatapnya penasaran.

Kala masih menatap kanaya dengan serius, seakan tidak yakin dengan jawaban wanita itu, tapi kanaya masih tetap diam walaupun kala sudah menunjukkan kalau ia tidak percaya jawaban kanaya.

"Baiklah kalau begitu, bersiaplah, saya akan antar kamu ke dokter"

"Apaaa...",

Kanaya terkejut kaget mendengar ucapan kala.

Apa-apaan coba, padahal kanaya gak kenapa-kenapa juga.

"Gak perlu sampai ke dokter ", ucap kanaya lagi dengan suara yang lebih pelan.

" mungkin dengan saya tiduran sebentar, sakitnya akan hilang", sahut kanaya lebih pelan, menunduk semakin dalam.

Kanaya tidak terbiasa berbohong, tapi dia terpaksa berbohong, karena dia sedang tidak ingin berdekatan dengan kala.

Setiap kanaya melihat wajah kala, ia akan teringat dengan syafira, wanita cantik yang sombong dan angkuh kemarin.

Kanaya ingin menanyakan tentang syafira ke kala, tapi dia takut jawabannya sesuai dengan yang ada di kepalanya.

"Tidak boleh naya, namanya penyakit yah..harus diobati"

"Bersiaplah.., saya akan menelepon ke kantor untuk ijin tidak masuk hari ini",ujar kala, membuka ponselnya, menelepon ke kantor dan melangkah ke ruang tengah.

" ya ampun kok jadi ribet begini sih",gerutu kanaya kesal.

Kanaya melangkah mengikuti kala ke ruang tengah, berdiri tepat di belakang kala yang masih berbicara di ponselnya.

Kanaya ingin menjelaskan bahwa dia tidak apa-apa, dia masih merancang alasan apa yang akan dia berikan ke kala supaya pria itu percaya.

Tiba-tiba kala berbalik, menyelipkan ponsel ke dalam saku celananya, kala yang tidak menyadari ada kanaya dibelakangnya terkejut.

Kanaya juga terkejut, reflek kanaya menarik tubuhnya supaya tidak berbenturan dengan kala, tapi gerakannya yang tidak seimbang, membuat kaki kanaya tergelincir.

Malah membuat tubuh kanaya limbung, jatuh ke arah depan, kearah pelukan kala.

Kala yang tidak siaga dan tidak siap, jatuh terlentang ke atas sofa, dengan posisi, tubuh kanaya menindih tubuhnya.

Sedetik...dua detik, kanaya dan kala terjebak di dalam kecanggungan, ada debar-debar tak menentu dihati mereka.

Kanaya menyanggah badannya, bertumpu dengan kedua lengannya, bola mata indah kanaya menatap tepat ke manik mata kala.

Kanaya terpesona menatap mata kala, bola matanya yang berwarna coklat, terlihat lebih jelas. Hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang tegas.

"Ahhh.." kanaya menggeleng cepat, berusaha menghilangkan pikiran aneh yang tiba-tiba menyeruak ke dalam pikiran kanaya ketika menatap bibir kala tadi.

Dalam beberapa detik mereka masih dalam posisi yang sama, saling memandang di dalam kesunyian dan isi pikiran mereka masing-masing.

Kala tersenyum lembut menatap kanaya, senyuman kala menyadarkannya, perlahan dia bangkit dari atas tubuh kala, bergegas berdiri,  mengusap-usap pakaiannya yang tidak kusut.

Kanaya ingin menetralkan jantungnya yang sedang berjoget-joget ria di dalam dadanya, pipinya masih bersemu merah.

"Kamu tidak kenapa-kenapa?", tanya kala, memegang tangan kanaya, memeriksa keadaannya, memastikan kanaya tidak terluka.

Kanaya yang masih gugup karena kejadian barusan, semakin salah tingkah mendapat perlakuan yang begitu manis dari kala.

Kanaya tak mampu menjawab, dengan gugup dia hanya mampu menggelengkan kepalanya dan tertunduk malu.

Kala menatap kanaya dengan khawatir, kala takut sakit perut kanaya akan semakin parah.

Kanaya, yang di tatap kala semakin merona merah, tetapi tatapan kala sudah tidak semanis tadi.

Tatapan kala berubah menjadi tatapan khawatir, membuat kanaya sadar, kalau urusan sakit perut tadi belum kelar.

"Aku gak kenapa-kenapa kok!", ujar kanaya menampilkan senyum manisnya, meyakinkan kala kalau ia tidak terluka, ataupun sakit perut.

"Beneran!, lihat nih", kanaya memukul perutnya sambil menggembungkan pipinya, menunjukkan ke arah kala, yang tertawa pecah melihat kelucuan kanaya, tawa lepas mereka berdua terdengar nyaring di ruangan yang luas itu.

Kala menarik kanaya duduk di sampingnya di sofa yang sama tempat mereka jatuh tadi.

"Tak maukah kamu menceritakan, sebenarnya ada apa?"

"Saya heran, apakah saya melakukan sesuatu yang salah, sehingga kamu begitu dingin pagi ini ke saya?", tanya kala serius menatap mata kanaya yang masih mengerjap lucu.

"Apa saya ada salah naya?",

"Tidak..", geleng kanaya cepat

"aku aja yang sedikit sensitif",

"Tak maukah kamu cerita ada apa?", desak kala kembali.

"Hhhhhhh...",

elahan nafas kanaya terdengar panjang, dia ragu untuk menceritakan tentang kedatangan dan sikap syafira kemarin.

kanaya menatap mata kala serius, ia masih diam, hatinya masih bimbang untuk bertanya kepada kala, siapa syafira dalam hidup kala, apa arti gadis itu bagi kala.

Sebenarnya kanaya sadar, dia tidak berhak cemburu, iri atau apapunlah namanya, karena posisi kanaya dirumah ini hanyalah istri kontrak kala.

Tapi hati kecil kanaya tidak mampu menahan kecemburuan itu,

Disini—di depan kala, kanaya sedang merancang kata-kata yang tepat, yang kiranya bisa dipahami kala, agar pria itu tak perlu tahu kalau dia cemburu kepada syafira.

"Kemarin syafira datang kemari", ucap kanaya akhirnya, menatap kala, memperhatikan raut wajah pria itu.

Kanaya melihat air muka kala berubah, wajah yang tadinya tersenyum dan penuh rasa penasaran, tiba-tiba berubah, rahangnya mengeras, matanya yang tadi menatap intens kearah kanaya, terlihat membuang pandangannya ke arah lain.

"Untuk apa dia kemari?",

"Aku gak tahu", jawab kanaya mengedikkan bahunya.

"Dia hanya datang mengenalkan dirinya, kalau dia adalah teman kamu, dan orang spesial kamu",

"Spesial..?", sambar kala cepat, mengernyitkan matanya penuh selidik.

"Dia bilang begitu?",

Kanaya tersentak melihat reaksi kala yang seakan tak suka, entah karena ucapan kanaya yang seakan mengejek, atau karena kala tahu kanaya mengarang kata-kata itu.

"Yahhhh, dia tidak bilang dia spesial sih, tapi..dari cara dia bicara, dia mengatakan bahwa dekorasi rumah kamu adalah hasil karya dia, dan andil dia dalam membersihkan ruangan khusus kamu, yang hanya dia boleh masuk, bukankah itu menunjukkan kalau dia spesial bagi kamu.", jelas kanaya panjang lebar, menyampaikan asumsinya.

"Arghhhhh..", kala mendengus kesal, berdiri meremas kepalanya.

"Besok atau kapanpun dia datang kerumah ini lagi, usir saja"

Terperanjat kanaya mendengar ucapan kala.

"Diusir..?", tanya kanaya penuh penasaran, memperjelas ucapan kala, ia takut salah dengar.

"Kenapa..?"

"Pokoknya usir saja...", sahut kala datar. Menatap kanaya yang kelihatan bingung oleh jawabannya, akhirnya kala kembali tersenyum untuk menenangkan kanaya.

"Bagaimana...kita jadi ke rumah sakit?", tanya kala dengan senyum usilnya.

Kanaya hanya tersenyum menjawab keusilan kala, kanaya heran dengan sikap kala, kenapa tingkah kala sangat bertolak belakang dengan cerita dari syafira, yang seakan-akan mereka punya hubungan spesial.

Kanaya memutuskan untuk tidak bertanya lebih dalam lagi, karena kala sudah menunjukkan ketidaksukaannya akan tema pembicaraan mereka ini.

"Gak usah deh...lebih baik kamu berangkat kerja saja", sahut kanaya tak kalah usil.

berjalan dengan santai melewati kala, dan tak lupa menjulurkan lidahnya ke arah kala dengan kocak.

Kala tertawa melihat tingkah kanaya yang lucu, kanaya sudah berlari ke lantai dua menuju kamarnya.

Kanaya berjalan di koridor lantai dua, melirik sekilas ke ruangan khusus kala, dan berbisik.

'Satu saat, pemilikmu yang akan meminta aku untuk masuk kedalam' 

Sementara kala yang masih duduk di sofa kursi ruang tengah masih termangu dan termenung.

"Mata bulat itu, hidung mungil itu, bibir sensual itu—yap bibir kanaya itu, hampir saja aku tadi hilang akal"

Kala meremas rambutnya.

Kala masih terbayang posisi mereka ketika jatuh tadi, posisi yang sangat romantis.

"Wajah itu tadi tepat dihadapanku, bibir itu tadi tepat di depan bibirku...."

"Arghhhhhh",

Kala kembali meremas rambutnya frustasi.

'Tuhan...tolong aku'

Kala tersenyum, teringat tingkah konyol kanaya tadi.

"Apakah kira-kira dia merasakan seperti yang aku rasakan".

Masih tersimpan di benak kala, aroma tubuh kanaya yang begitu segar, indah dan menggoda, hmmm iya menggoda.

Dan kala merasa kanaya hari ini sedikit berbeda, beberapa kali tadi kala mendengar kanaya menyebutkan dirinya 'aku', padahal sebelum-sebelumnya kanaya selalu memanggil dirinya dengan'saya'.

'Tuhan..semoga ini selamanya' doa kala dalam hati.

Bersambung...

1
Bungatiem
boleh kala boleeeh
Bungatiem
boleh dooong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!