Seorang motivator populer tiba-tiba meninggal dunia. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kesedihan yang mendalam tetapi juga memicu banyak asumsi di kalangan publik. Namun, tuduhan tersebut hanya ditujukan kepada seorang ibu muda yang berprofesi sebagai penulis novel bernama Kristal.
Rey, sebagai suaminya, tidak dapat menerima tuduhan tanpa dasar tersebut. Dia menyelidiki kebenaran. Karena baginya tidak hanya dirinya yang akan berdampak, Darrius putera semata wayang pasti juga terkena imbas.
Hasil penyelidikannya akhirnya mengubah seluruh keyakinannya pada istri tercintanya. Tetapi pertanyaannya, apakah Kristal benar-benar bersalah? Lalu apakah perasaan Rey tetap masih mencintai Kristal? Mampukah Kristal bertahan dengan rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IZI.01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Setelah melalui bermacam-macam proses yang sangat tidak mengenakkan, tugas dari Pak Ben aku nyatakan rampung sudah. Tidak perlu harus berlama-lama lagi menyelesaikan semua pekerjaan yang banyak menguras tenaga dan pikiranku. Laptop aku tutup, lantas aku segera menghubungi telepon selular Pak Ben.
“Ada apa Kristal? Bagaimana kemajuan pekerjaan yang aku kasih ke kamu? Sudah sejauh mana perkembangannya? Apa kamu ada masalah lagi sekarang?” ujarnya membredel panggilan yang aku tujukan padanya.
“Bagaimana bisa aku bicara, kalau Pak Ben terus bertanya seperti itu? Karena itu aku hubungi Pak Ben untuk bicara tentang perkembangan tulisannya. Syukur saat ini saya sudah berhasil menuntaskan semua tulisan biografi ini.” jawabku atas semua pertanyaan yang dilontarkannya itu.
“Are you sure? Apa semua poin penting yang disampaikan Pak Gatot telah kamu tuangkan semuanya ke dalam tulisan kamu itu?”
“Bisa dipastikan tidak ada satu pun yang terlewat, Pak. Karena saya telah merekam semua wawancara dengan Pak Ben. Voice Recorder suara Pak Gatot juga masih tetap aku simpan. Jadi jika memang dibutuhkan, setiap saat saya bisa mengirimkannya ke Pak Ben.”
“Ya, ya, yah.. kamu simpan semua file mengenai Pak Gatot. Suatu saat itu pasti akan aku butuhkan. Sekaligus sebagai bahan laporan meeting internal aku dengan para BOD. Mereka sangat detil sekali dengan proses biografi Pak Gatot ini. Jadi tolong, nanti setelah kamu yakin untuk mengirimkan semua hasil tulisan kamu itu, segera kamu lampirkan juga voice recorder percakapan antara kamu dan Pak Gatot.”
“Semakin cepat, pasti jauh lebih baik Pak. Kalau bisa hari ini juga saya kirimkan semua draft yang telah aku selesaikan. Jadi aku tidak lagi berkutat dengan tugas ini.”
“Tidak bisa hari ini saya ketemu sama kamu. Sore nanti aku ada meeting penting. Jadi besar kemungkinan, baru bisa lusa kamu ketemu dengan saya. Lagi pula, sambil menunggu pertemuan kita, waktu itu bisa dimanfaatkan untuk me-review kembali semua tulisanmu itu. Atau kalau memang kamu ingin langsung berlibur, kamu bisa mengirimkan tulisan kamu itu melalui email. Jadi tidak perlu susah payah kamu print semua hasil kerjamu itu.” tukas Pak Ben terdengar santai.
“Oke. Hari ini saya akan langsung kirimkan email ke Pak Ben. Jadi bisa segera di review langsung.”
“Bagus, saya tunggu email dari kamu hari ini. Kalau begitu saya rasa semua sudah clear. Sudah dulu kalau begitu yah.”
Di penghujung perkataannya itu, Pak Ben langsung menutup panggilan telepon seluler dariku. Setelah itu aku pun mengirimkan email seperti yang di minta.
Email terkirim pada pesan keluar. Di badan email bisa aku dapati riwayat hari, tanggal dan jam aku mengirimkan email itu,“Akhirnya setelah semua gangguan dan seluruh perhatianku, tugas ini selesai juga. Semoga saja tidak perlu terlalu lama aku menunggu untuk novelku bisa segera publish kembali.”
“RRRR..RRRR..” selularku tak lama bergetar hebat.
Sambil berjalan melingkari apartemenku, Aku angkat panggilan itu dan melihat pada layar tertera nomor suamiku, Rey.
“Iyah, Pi.. ada apa?”
“Tidak aku.. Darrius hanya kangen denganmu. Semalam dia mimpi hebat. Dia ceritakan di mimpi itu, disaat kamu sedang bermain dengannya tiba-tiba datang seseorang yang dengan sengaja menarik kamu. Sampai akhirnya kamu pergi meninggalkan Darrius dalam kesendirian. Darrius menangis, berteriak memanggil namamu, tetapi sama sekali kamu tidak dapat mendengar dan tidak pernah lagi kembali. Setelah malam itu, berkali-kali dia peluk aku. Yah, sejujurnya aku pun juga sangat kangen sekali denganmu. Entah kenapa, aku pun terasa sekali seperti yang dirasakan Darrius. Mungkin terdengar cengeng bagimu. Tapi itulah yang sedang aku rasakan sekarang ini. Bahkan disaat aku sedang bekerja sekali pun, tiba-tiba saja aku membayangkan kamu datang ke tempat kerjaku dan memintaku untuk segera pulang. Kamu masih ingat, dulu disaat masa-masa kamu mengandung Darrius. Kamu tiba-tiba datang dengan alasan kamu minta untuk ditemani konsultasi ke Dokter kandungan. Padahal kamu hanya kangen.”
“Suamiku sekarang sedang perasa sekali. Ada apa dengan lelaki ku semuanya disana. Percayalah, kalau aku disini hanyalah sementara waktu. Tidak akan lama lagi aku pasti akan pulang.”
“Ayolah, mi.. kenapa tidak hari saja kamu pulang sebentar. Lalu kamu bisa..”
Rey masih tetap bicara tentang kerinduannya. Sementara perhatianku terpecah dengan adanya ID yang berada di luar dari jendelaku. Aku melihat jelas kalau dia sedang bicara dengan Mba Nur, langganan tempat makanku.
“Mau apa dia disana... Manusia itu sungguh menjengkelkan sekali!”
“Mi.. apa kamu masih disana? Astaga aku sedang bicara tapi sedikitpun kamu tidak mendengar perkataanku ini. Kalau begitu sebaiknya aku segera ketempatmu. Minggu depan akan aku ajak Darrius untuk datang ke apartemenmu itu.”
“Ah.. jangan! Untuk apa kamu harus datang menemuiku. Toh, sebentar lagi aku akan pulang kok. Sabar saja dulu. Aku tahu kerinduan kalian disana. Aku pun juga sama merindukan kalian. Tapi aku masih harus menyelesaikan sedikit pekerjaanku disini. Tadi aku hanya melihat seseorang di luar jendela,” aku tertegun melihat keberadaannya, sampai tak menyadari kalau aku masih tetap bicara dengan Rey.
“Maksud kamu apa? Siapa maksud kamu itu?”
“Bukan siapa-siapa. Mungkin pandanganku saja yang salah melihat.”
“Maksud kamu apa. Kamu sedang tidak ada lelaki lain kan disana. Kalau sampai lakukan itu, jahat sekali kamu!”
“Ya ampun.. untuk apa aku harus memikirkan lelaki lain. Hidupku sudah sangat lengkap dengan kehadiran kalian berdua. Bagiku kalian berdua sudah melengkapi hidup aku saat ini. Jadi tidak perlu aku harus mencari pengganti lain. Rey.. saat ini kita tak lagi muda. Jadi aku mohon kamu membuang jauh pikiran kamu yang sangat bertentangan denganku.”
“Baiklah kalau itu memang kemauanmu. Aku tetap percaya, kamu tidak akan pernah menghianati pernikahan kita.”
“Selama aku tidak akan pernah sedikit pun berpaling darimu, my love. Dan memang sesungguhnya tidak akan pernah bisa lelaki manapun berhasil menaklukan diriku ini, kecuali hanya kamu seorang”
“Percaya aku. Selamanya aku akan tetap percaya ke kamu. Oh iya, kemungkinan besok akan aku ajak Darrius untuk pergi ketempat Oma.”
“Yah tidak apa-apa. Tolong sampaikan salam aku untuk Oma. Maafkan kalau aku tidak bisa menemani kalian. Aku pastikan seluruh pekerjaanku ini selesai sebelum ulang tahun Darrius,” kataku membalas perkataan Rey.
“Aku doakan semoga kamu dapat menyelesaikan semua tugas-tugasmu disana. Kalau begitu aku kembali kerja.”
Rey menutup panggilan, dan aku masih saja tetap melihat ke luar jendela. Memastikan kalau pemuda sialan itu sudah pergi dari tempat Mba Nur.
“Sial!! Mau apa Id masih ada disana.. Oke, rasanya aku harus turun tangan sendiri.”
Dalam keadaan setengah tergesa aku pun mengambil sweter lalu segera keluar dari apartemenku, menemui lelaki sial itu.