“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”
Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.
Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.
Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.
Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.
Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Rebutan ya?
Malam di Kota Giok Surgawi bukanlah waktu untuk beristirahat, melainkan puncak dari segala kemegahan yang memabukkan.
Langit malam yang jernih seolah meredup, kalah saing oleh binar ribuan lampion sutra aneka warna yang digantung di sepanjang jalan protokol.
Alunan musik kecapi dan seruling yang mendayu-dayu mengalir deras dari balik dinding-dinding paviliun rumah bordil kelas atas, bercampur dengan tawa manja para wanita penghibur dan aroma arak anggur yang mahal.
Namun, bagi Lu Ming, cahaya lampion yang berkilauan itu terasa menyilaukan mata, membakar korneanya yang terbiasa dengan kegelapan hutan bambu.
Musik kecapi yang merdu itu terdengar sumbang di telinganya, menyiksa gendang telinganya seperti jeritan ribuan jiwa yang tertahan di bawah tanah.
Dunia yang indah ini terasa palsu, sebuah topeng cantik yang menyembunyikan kebusukan di dalamnya.
Ia berjalan menyeret langkah, membiarkan jubahnya yang penuh tambalan bergesekan dengan batu jalanan yang dingin.
Langkah kakinya membawanya menjauh dari distrik bangsawan yang gemerlap, menuju distrik pasar bawah.
Tempat ini adalah sisi gelap Ibukota: sebuah labirin gang sempit yang pengap, di mana hukum kekaisaran sering kali melonggar dan kekerasan menjadi satu-satunya bahasa yang dimengerti kebanyakan orang.
Di sini, bau dupa mahal digantikan oleh aroma pesing urin, sampah membusuk, dan karat darah yang samar.
Di sebuah persimpangan gang yang becek oleh sisa hujan, sekelompok kultivator muda dari sekte lokal sedang terlibat pertengkaran hebat.
Wajah-wajah mereka memerah karena amarah dan pengaruh arak murah. Di tengah lingkaran pertikaian itu, tergeletak sebuah belati pusaka tingkat rendah dengan hiasan batu akik palsu, benda yang memicu keserakahan mereka.
"Belati ini milikku! Aku yang menemukannya duluan di reruntuhan!" teriak seorang pemuda kurus dengan pedang tipis.
"Sialan kau! Aku yang membunuh binatang buas yang menjaganya! Serahkan atau kutebas kau!" balas kultivator lain, seorang pria berwajah bopeng dengan tubuh tegap dan pedang besar di punggungnya.
Teriakan mereka kasar, penuh dengan kesombongan kosong khas orang-orang yang baru mencicipi sedikit kekuatan Qi namun merasa sudah menggenggam dunia.
Lu Ming berjalan melewati mereka dengan tatapan mata yang kosong, seolah mereka hanyalah tumpukan kayu bakar yang tak bernyawa.
Ia tidak mempercepat langkah, tidak juga melambat. Ia berhenti tepat di tengah lingkaran ketegangan itu, berdiri tegak di antara dua kubu yang siap saling bantai.
Matanya tertuju pada genangan air hujan di tanah, menatap pantulan cahaya bulan purnama yang tampak retak dan bergoyang tersapu angin malam.
"Bunga lili itu memang putih bersih... tapi akarnya tumbuh dari lumpur hitam yang busuk dan berbau bangkai," gumam Lu Ming pelan.
Suaranya datar, tanpa emosi sedikit pun, namun memiliki gema Qi yang aneh, membuat bulu kuduk para kultivator di sekelilingnya tiba-tiba berdiri tegak tanpa alasan yang jelas.
"Siapa yang menanam, dia yang memetik hasilnya. Tapi bagaimana jika yang ditanam dengan air mata adalah sebuah janji, dan yang dipetik dengan darah adalah sebuah pengkhianatan?"
Pria berwajah bopeng, yang sedang emosi tingkat tinggi, menoleh dengan geram. Aura Qi keruh meledak dari tubuhnya. "Apa yang kau bicarakan, Gembel sialan? Hancurkan suasana saja! Pergi dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran dan membelah kepalamu menjadi dua!"
Lu Ming tidak bergerak satu inci pun. Ia justru mengangkat wajahnya, menatap pria bopeng itu dengan sorot mata yang penuh dengan rasa kasihan yang mendalam, sebuah tatapan yang lebih menghina daripada ludahan.
"Kau memegang pedang besar, tapi jiwamu gemetar ketakutan di dalam cangkang tubuhmu," ucap Lu Ming, suaranya kini terdengar seperti vonis hakim kematian. "Kau membunuh sesamamu hanya untuk sebuah benda mati yang takkan kau bawa ke liang lahat. Sementara aku... aku membunuh hari ini hanya untuk satu alasan: untuk mengubur kenangan yang menolak untuk mati."
"Cukup omong kosongmu! Mati kau!" Kultivator bopeng itu meraung, kesabarannya habis total. Ia menarik pedang besarnya dengan sentakan kasar, mengayunkannya dalam busur horizontal yang kuat, mengincar leher Lu Ming dengan niat membunuh yang murni.
Sret!