PENULIS : NESC PL
ILUSTRASI : ABU SAMUEL ETO
SINOPSIS : Aku adalah seorang wanita yang memiliki Dua Kehidupan, Dua Wajah. Suatu hari aku bertemu dengan seorang pria yang lebih muda dariku. Aku terjatuh di atas tubuhnya saat memanjat dinding sekolah. Apakah hubungan di antara kami yang bermula dari kebencian bisa berubah menjadi cinta?
Bagaimana cinta itu bisa terjadi di saat aku kehilangan cinta pertamaku karena penghianatan. Pesona cowok berondong yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NESC PL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 Pertemuan Ke dua
Seperti biasa. Aku duduk di bawah pohon yang besar dan rindang. Angin berhembus dengan kencang di dalam suasana yang tenang. Aku membaca buku novel yang baru saja aku pinjam di perpustakaan.
"Apakah kamu juga akan ikut berpartisipasi?"
Aku menoleh ke arah suara yang tidak asing bagiku. Suara itu adalah milik Evelly.
Evelly dan Violet berjalan menuju ke arahku. Aku tersenyum kepada mereka.
Mereka tiba dan di sampingku.
"Aku belum memutuskannya."
"Bagaimana kalau kamu ikut berpartisipasi dalam kegiatan melukis? Bukankah kamu pandai melukis."
Violet memberi saran serta mengambil buku novel yang ada di tanganku.
"Aku memang suka melukis tetapi aku tidak tahu apakah lukisanku itu indah."
"Kamu sangat berbakat dalam melukis. Lukisan itu sangat indah. Apakah kamu tidak ingin mencobanya?"
Violet memandangku dan meyakinkan diriku untuk mengikuti partisipasi kegiatan tersebut.
"Baiklah. Aku akan ikut berpartisipasi".
Violet tersenyum bahagia mendengar keputusan yang telah aku ambil.
"Aku akan sangat menunggunya. Kamu pasti dapat melukis dengan sangat indah dan bahkan melebihi lukisan wajah pria yang kamu perlihatkan pada kami kemarin."
"Aku pasti akan menunjukkan lukisan terbaikku kepada kalian berdua."
"Lukisan wajah pria?"
Evelly berusaha mengingat sesuatu.
Mendengar pertanyaan Evelly dan membuat aku teringat dengan pertemuanku dengan Heinry.
Evelly juga pernah bertanya kepadaku kalau dia merasa pernah bertemu dengan Heinry.
"Bagaimana kalau kita kembali ke ruangan?"
Aku berusaha menghindar dari Evelly.
"Tunggu sebentar. Sepertinya aku mengingat sesuatu.
"Hal sesuatu apakah yang kamu ingat?"
Violet bertanya kepada Evelly.
Evelly mendekati dan memegang ke dua pundak ku.
"Apakah tidak ada yang perlu kamu jelaskan kepadaku?"
Aku terdiam dan tidak bisa menjawab pertanyaan darinya.
"Apakah ada hal sesuatu yang telah terjadi?"
Violet memandang wajahku dan wajah Evelly secara bergantian.
"Kemarin aku mengajak Xian Mai pergi menemui kekasihku. Kekasihku mengenalkan temannya kepadaku. Pria itu bernama Heinry."
Violet merasa tidak asing dengan nama Evelly.
"Bukankah nama pria yang di lukis oleh Xian Mai adalah Heinry."
"Benar. Kemarin saat aku bertemu dengannya. Aku merasakan perasaan yang sangat tidak asing."
"Jadi pria yang ada di lukisan itu adalah orang yang sama dengan kamu temui kemarin."
Violet mencoba mengambil kesimpulan.
"Benar."
Evelly memandangku untuk meminta penjelasan yang sebenarnya. Aku menghela nafas dan berusaha memberi penjelasan kepada mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Apakah yang di katakan oleh Evelly semua benar?"
Aku menjawab dengan mengangguk kepala.
"Kenapa kemarin kamu tidak menjelaskan semuanya kepadaku?"
Evelly bertanya alasan kenapa aku tidak menceritakan hal yang sebenarnya. Aku seketika berdiri dan terkejut mendengar perkataannya. Ada rasa perasaan bersalah di dalam hatiku. Aku tidak berusaha untuk berbohong kepada Evelly. Apapun itu aku tetaplah aku bersalah kepadanya. Seharusnya kemarin aku segera menyadarinya.
"Aku minta maaf. Sungguh aku tidak teringat tentang kamu yang pernah melihat lukisanku."
Aku menundukkan kepala dan menunjukkan rasa bersalahku kepada Evelly.
"Sudahlah tidak perlu bersedih. Aku tidak bermaksud untuk menyalahkan kamu."
Evelly memegang ke dua tangan kananku dan tersenyum.
"Semua yang di katakan oleh Evelly itu benar.Kamu tidak mengingatnya.Itu berarti semua juga bukan kesalahanmu."
"Terima kasih."
Aku mengatakan terima kasih kepada mereka dan meneteskan air mata.
"Janganlah menangis sahabatku."
Evelly berusaha menghiburku. Aku memeluk mereka berdua.Terdapat perasaan senang karena memiliki sahabat yang baik seperti mereka.
Di hotel Atlantis Sanya!
"Kamu akan kembali ke Korea?"
Essen bertanya kepada Heinry yang sedang merapikan baju.
"Aku tidak bisa terlalu lama di Cina. Tidak baik membiarkan perusahaan terlalu lama."
"Kamu ikut denganku karena kamu ingin berlibur sementara di cina. Sekarang kamu ingin pulang begitu saja."
Aku tertawa mendengar apa yang di katakan oleh sahabatku.
"Apakah kamu sudah menemui gadis yang berkerjasama sama denganmu?"
"Aku sudah bertemu dengannya beberapa hari lalu."
"Kenapa kamu tidak memberitahuku? Sebelum kita berangkat ke Cina. Kamu berjanji kepadaku akan mengajakku bertemu dengannya."
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya."
"Aku tahu kenapa kamu tidak mengenalku kepadanya. Kamu takut aku akan merebut gadis yang kamu cintai."
Aku tertawa setelah mendengar perkataan sahabatku.
"Bagaimana dengan hubungan kalian?"
Essen bertanya kepadaku.
"Kami sekarang berteman. Sepertinya aku telah jatuh cinta kepadanya."
"Aku senang mendengarnya dan mengira kamu sudah melupakannya karena terpesona dengan gadis yang bernama Xian Mai."
"Aku juga jatuh cinta kepada Xian Mai."
Wajah Essen menjadi pucat. Dia berjalan menghampiriku.
"Aku tahu kamu sekarang sedang bercanda. Kamu tidak mungkin mencintai mereka berdua. Sahabatku bukanlah seorang pria yang akan menjalani hubungan dengan ke dua gadis secara bersamaan."
Essen lalu tertawa setelah mengatakan hal tersebut dan meyakinkan pada dirinya kalau sahabatnya hanya bercanda dan tidak mungkin akan melakukan hal yang memalukan seperti itu.
"Aku tidak bercanda."
Essen menatapku dengan bingung. Duduk dan memegang kepalanya. Benar-benar tidak mengerti kenapa sahabatnya telah berubah. Essen berdiri dan menepuk pundak dan menunggu penjelasan dariku.
Aku berjalan dan mengambil sebuah berkas dokumen yang berada di atas meja. Essen menatap dokumen berkas yang telah aku pegang dan menghampiri Essen dan memberikan dokumen berkas tersebut.
Essen memegang berkas dokumen yang telah aku berikan dan membaca sampul depan dokumen yang bertulisan nama perusahaan dan syarat kerjasama antara ke dua perusahaan. Menatap wajahku dengan bingung lalu dia membuka dan membaca dokumen itu dari halaman pertama sampai halaman terakhir. Di halaman terakhir dokumen tertulis nama dan tanda tangan dari ke dua pemegang saham perusahaan. Salah satu nama pemegang saham itu adalah nama sahabatnya lalu salah satunya lagi bernama Zhao mai.
Essen terpanah saat membaca nama pemegang saham yang tertulis di berkas dokumen. Namanya mirip dengan nama Xian Mai. Hanya yang membedakannya adalah nama keluarga.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Essen bertanya kepada Heinry.
"Zhao Mai dan Xian Mai adalah gadis yang sama. Pertemuan kemarin merupakan pertemuan ke dua. Aku sangat terjangkau setelah mengetahuinya. Sungguh pertemuan yang tidak terduga."
"Kamu menyimpan semua kebenaran ini kepadaku. Kamu memang tidak setia kawan."
Essen berkata dengan kesal.
"Sebenarnya aku ingin memberi tahu semua itu kepadamu kemarin tetapi aku ragu saat akan mengatakannya."
Berusaha untuk menjelaskannya.
"Aku memahami perasaanmu. Bagaimana dengan kencan kemarin?"
"Kami sekarang menjadi teman dan kami juga berbagi cerita tentang kehidupan pribadi. Dia memberitahuku kalau kedua orang tua nya telah berpisah dan dia sekarang tinggal bersama dengan Ibunya. Perusahaan yang dia kelola adalah perusahaan milik ayahnya."
"Aku masih belum percaya kalau mereka berdua adalah orang yang sama."
"Zhao Mai memang seorang gadis yang cantik dan hebat."
Essen tersenyum mendengarnya.
"Sekarang aku tahu hal apa yang membuatmu bisa tertarik dan jatuh cinta kepadanya."
salam hangat dari CINTA DALAM LUKA...👍👍👍
lanjut nanti..
🌹🌹🌹
salam dari Gadis Tiga Karakter