NovelToon NovelToon
Suara Yang Tak Pernah Terucap

Suara Yang Tak Pernah Terucap

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Seorang kurir yang lelah oleh hiruk-pikuk jalanan menemukan jeda tak sengaja di sebuah perpustakaan kota.

Di tempat yang sunyi itu, ia bertemu dengan seorang gadis pemalu. Dia yang berbicara sedikit, namun berpikir terlalu banyak.

Pertemuan mereka dipenuhi salah paham kecil, kecanggungan, dan dialog yang tak pernah diucapkan.

Di balik sikap luar yang tampak biasa, kepala mereka dipenuhi suara-suara lain. Kadang pikiran yang berdebat, menyesal, dan ingin dipahami.
Dan saat kata-kata gagal terucap, perasaan justru tumbuh diam-diam.

Dan di antara rak buku, senyum canggung, serta keheningan yang terlalu panjang, dua insan belajar bahwa terkadang, cinta dimulai bukan dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang disimpan.

Note: novel slow burn. visual karakter sering di beberapa bab. bikin pembaca gak lupa siapa aja yang sedang berbicara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apakah Takdir Mempertemukan Kita?

Pagi belum benar-benar terang ketika Yuda sudah menyalakan motor bututnya. Mesin itu bergetar lebih dulu daripada matanya yang masih berat. Paket hari ini menumpuk di jok belakang, diikat tali karet yang mulai getas. Jalurnya terasa seperti teka-teki silang—banyak kotak, sedikit petunjuk.

Kecamatan itu padat dan membingungkan. Nomor rumah seperti ditabur dari langit tanpa pola. Nomor satu berdiri manis dekat gapura selamat datang, tetapi nomor sepuluh meloncat entah ke gang mana. Angka-angka berikutnya seakan disusun oleh tangan yang tergesa.

Ia menepikan motor di depan sekelompok warga yang sedang bercengkrama di halaman.

“Ehm… permisi, Pak,” sapanya, menurunkan standar dengan hati-hati.

Beberapa kepala menoleh. Ia menyebutkan alamat yang tertera di paket. Seorang pria paruh baya mengangkat dagu ke arah pertigaan.

“Oh, itu? Belok kiri. Nanti ada hajatan. Masuk aja.”

Yuda berkedip. “Masuk ke… hajatan, Pak?”

“Iya, Mas. Gak usah malu. Salah sendiri datengnya pas ada hajatan,” kekeh pria itu, disambut tawa kecil yang lain.

Ada sesuatu yang ingin ia jelaskan—tentang paket yang tak selalu tiba tepat waktu, tentang rute yang ditentukan sistem, tentang motor yang tak bisa terbang. Tapi ia menelannya. Penjelasan panjang tak pernah benar-benar dibutuhkan di pagi yang sibuk.

Ia menarik sudut bibirnya.

“Makasih ya, Pak. Buk.”

Mesin kembali meraung pelan.

Rumah yang dimaksud mudah dikenali. Tenda biru membentang, kursi-kursi berjejer, aroma santan dan bawang goreng menyambut lebih dulu sebelum ia sempat mematikan mesin. Musik dangdut mengalun dari pengeras suara, sedikit pecah, sedikit terlalu keras untuk jam segini.

Ia menebalkan muka, merapikan rompi kurirnya yang kusut, lalu melangkah masuk.

“Paket untuk Bu Sari, nomor tiga puluh empat,” katanya pada seorang pria berjaket ormas yang duduk berjaga di depan.

Pria itu menatapnya dari atas ke bawah. “Oh, lu kurirnya? Sini, gue temenin.”

Tangannya tiba-tiba digenggam, langkahnya ditarik masuk.

“Eh… Pak, saya cuma ngantar—”

“Iya, iya. Duduk dulu. Kagak enak kalo tamu cuma lewat. Minum teh, makan dikit.”

Yuda menoleh sekilas pada paket di tangannya, menggenggamnya lebih erat. Rompi oranyenya terasa makin menyala di antara lautan batik dan kebaya. Beberapa pasang mata singgah sebentar, lalu kembali pada obrolan masing-masing.

Ia duduk.

Teh panas disodorkan. Uapnya naik tipis, menyentuh wajahnya yang masih membawa debu jalanan. Sepotong kue lapis mendarat di piring kecil di hadapannya. Musik berganti lagu, suara biduan naik turun di atas dentuman kendang.

Sepuluh menit terasa seperti setengah jam.

Ia meneguk teh perlahan, menggigit kue dengan sopan, sambil sesekali tersenyum pada orang yang kebetulan menatapnya. Di atas panggung, pengantin duduk bersanding, wajah mereka dipulas rapi, senyum mereka seolah tak pernah goyah.

Tatapan Yuda sempat bertahan di sana beberapa detik. Lalu ia cepat-cepat berpaling, seakan takut terseret ke dunia yang bukan miliknya.

Akhirnya, setelah menemukan Bu Sari di antara kerumunan, paket berpindah tangan. Tanda tangan didapat. Tugas selesai.

Ia berpamitan pada tuan rumah, menangkupkan kedua tangan sebentar sebagai isyarat hormat.

Begitu melewati tenda dan kembali ke motornya, ia menghembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan.

“Untung gak disuruh nganterin kue sekampung,” batinnya.

Mesin menyala lagi. Kali ini suaranya terdengar seperti sahabat lama yang sama-sama lelah, tapi tetap berjalan.

Beberapa kilometer dari rumah hajatan itu, keramaian perlahan larut menjadi suara angin dan deru mesin. Tenda biru tinggal bayangan di spion. Jalanan mulai lengang, hanya sesekali dilewati ibu-ibu bersepeda atau anak sekolah yang berjalan berkelompok.

Yuda menepikan motornya di bahu jalan yang teduh oleh pohon angsana. Mesin dimatikan. Sunyi turun mendadak, hanya diselingi cicit burung dan gesekan daun.

Ia meraih box di jok belakang, membuka resletingnya yang sudah seret, lalu menarik satu paket berukuran sedang. Pembungkusnya ringan, direkat rapi dengan lakban bening.

Matanya menyapu tulisan di label.

“Anindita Annazwa. Rumah no. 17. Ehm… oke, oke. Daerahnya gak jauh dari sini,” gumamnya pelan.

Nama itu terasa seperti kerikil kecil yang jatuh ke permukaan air. Riaknya melebar.

Anindita.

Ia terdiam beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. Alisnya sedikit mengerut, seolah mencoba mencocokkan bunyi nama itu dengan wajah yang samar-samar muncul di kepalanya.

Perpustakaan kota.

Ruang baca yang tenang. Bau kertas tua dan pendingin ruangan yang terlalu dingin. Seorang gadis yang hendak mengambil buku di dekatnya yang masih awam tentang dunia literasi.

Dan entah bagaimana, pertemuan itu membuat perasaannya terasa aneh. Getaran kecil ingin bertemu lagi, meskipun mereka bahkan tak tahu nama masing-masing.

Yuda berdeham kecil, menyadari dirinya tersenyum tipis pada kenangan yang bahkan tak sampai lima belas menit itu. Percakapan mereka singkat. Hanya soal permintaan tolong untuk mengambilkan buku di rak tertinggi, lalu kecanggungan akibat dirinya salah menyebut judul buku yang membuatnya tersipu.

Ia tak pernah tahu namanya.

Sampai sekarang.

Tangannya yang memegang paket mengencang sedikit. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, tidak karena tanjakan atau panas matahari.

“Ah, kebetulan doang,” gumamnya, seolah sedang menegur diri sendiri.

Ia memasukkan kembali paket itu ke tas, menutup resleting, lalu menyalakan mesin. Kali ini, suara motor terdengar lebih nyaring di telinganya sendiri.

Ia melaju mengikuti petunjuk di layar ponsel yang terpasang di setang. Gang demi gang dilewati. Nomor rumah mulai berurutan. Angka lima belas. Enam belas.

Di ujung deretan itu, terpasang angka kecil berwarna hitam di dinding pagar putih.

Yuda memperlambat laju motornya. Tanpa ia sadari, napasnya tertahan tipis.

Di rumah nomor 17, suasananya jauh lebih sunyi dibanding riuh hajatan beberapa kilometer lalu.

Nazwa duduk bersila di lantai kamarnya, dikelilingi buku-buku yang terbuka seperti kelopak bunga yang gagal mekar. Laptopnya menyala di depan, layar dipenuhi paragraf yang setengah jadi. Kursor berkedip sabar, seolah mengejek.

Ia menyandarkan punggung ke tepi ranjang, menghela napas panjang.

“Kenapa sih pembahasan yang ku atur kek muter-muter gitu…” gumamnya, menatap satu jurnal yang ia pinjam dari perpustakaan tempo hari. Halamannya penuh stabilo warna-warni, tapi isinya tetap terasa kabur.

Tangannya meraih camilan di samping—sebungkus keripik kentang yang sudah setengah kosong. Ia memasukkan satu ke mulut tanpa benar-benar merasakannya. Remahnya jatuh ke buku catatan, tapi ia terlalu sibuk memikirkan kalimat pembuka yang tak kunjung cocok.

Ia mengetik dua baris. Menghapusnya lagi.

“Duhh gimana ya kata-katanya?"

Ponselnya yang tergeletak di dekat laptop tiba-tiba bergetar. Layar menyala.

Notifikasi dari aplikasi belanja.

'Paket Anda hampir tiba.'

Nazwa berkedip. Otaknya butuh beberapa detik untuk beralih dari teori dan referensi ke dunia nyata.

"Oh iya. Paket itu."

Ia melirik jam di pojok layar laptop, lalu ke rambutnya yang diikat asal dengan penjepit. Kaos rumah dan celana pendek santai. Tidak ada persiapan.

“Cepet juga…”

Ia menutup laptop setengah, menyelipkan pembatas buku di antara halaman jurnal, lalu berdiri. Keripik masih di tangannya. Ia berjalan ke ruang tamu, membuka sedikit tirai jendela yang menghadap ke jalan.

Siang mulai menghangat. Jalanan di depan rumahnya tidak terlalu ramai. Beberapa motor melintas sesekali.

Nazwa menjatuhkan diri ke sofa, masih menggenggam ponsel. Notifikasi itu membuatnya tak enak hati jika harus membiarkan kurir menekan bel berkali-kali. Lebih baik ia sudah siap. Tinggal keluar begitu motor berhenti.

Ia menyandarkan kepala ke sandaran sofa, satu kaki terlipat, satu lagi menyentuh lantai. Keripik terakhir ia masukkan ke mulut.

Pandangannya sesekali melirik ke luar jendela.

Menunggu.

Beberapa menit berlalu, Nazwa yang tadinya berniat hanya menunggu, malah tenggelam di layar ponselnya. Satu video berganti video lain. Ia tertawa kecil pada komentar warganet, lalu tanpa sadar sudah menggulir cukup jauh.

"Kok bisa sih orang-orang bikin meme AI kek gini. Kreatif-kreatif banget," kekehnya sendirian.

Namun jarinya terhenti. Ada sedikit harapan tentang seseorang yang akan datang nanti. Pertemuan canggung dengan kurir yang ia temui tempo hari. Apakah dia yang mengantarkannya?

Dia terjebak dalam lamunan yang terlalu tak mungkin untuk menjadi kenyataan. Hingga notifikasi pesan masuk menyadarkannya.

Paket Anda telah sampai.

Alisnya terangkat. “Hah? Udah?”

Belum sempat ia berdiri, suara motor terdengar berhenti tepat di depan pagar. Mesin dimatikan. Sunyi yang menyusul terasa seperti konfirmasi.

Nazwa menghembuskan napas lega.

“Cepet banget weh,” gumamnya sembari bangkit dari sofa.

Ia cepat-cepat merapikan rambutnya yang tadi diikat asal. Jepitnya ia luruskan, beberapa helai yang menjuntai ia selipkan ke belakang telinga. Refleks kecil, padahal ini hanya bertemu kurir.

“Nanti langsung kukasih bintang lima deh. Gak sabar pengen buru-buru unboxing skincare-ku,” bisiknya riang, hampir seperti anak kecil yang menunggu hadiah.

Ia melangkah cepat ke pintu, membukanya, lalu setengah berlari kecil menuju gerbang. Sandalnya beradu ringan dengan lantai teras.

Di luar, seorang kurir sudah berdiri di dekat motornya. Helmnya masih terpasang. Ia sedikit membungkuk, membuka tas besar di jok belakang, tangannya sibuk menggeser beberapa paket.

Nazwa memperlambat langkahnya mendekat.

Kurir itu belum menyadari ia sudah berdiri beberapa meter darinya. Ia masih mencari, memeriksa satu per satu label di antara kardus-kardus yang bertumpuk.

Angin siang berhembus pelan, menggerakkan ujung rambut Nazwa.

Dan untuk sesaat, jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa langkah—tanpa satu pun dari keduanya benar-benar siap pada apa yang akan terjadi begitu wajah itu terangkat dari balik helm.

1
mmmmuuuuu
sehat² dah para kurir
Writer_lynn
Tempat terbaik untuk merenung☺️
saya orang gila baru
perpustakaan memang semenenangkan itu
saya orang gila baru
"di di"/Slight/
saya orang gila baru
apakah namanya benar² rahasia/Sly/
saya orang gila baru
klo diganti "sudut bibirnya terangkat" pasti lebih bagus😌
Pengabdi Uji
km jutek jg kali jd org2 tktduan😭😭
Pengabdi Uji
ooohh si cewe di omelin bosnya ya
Pengabdi Uji
wkwk enggak lg ngulek itu bk. fashion show🤣
Mingyu gf😘
hahaha😆😆emang suka gitu kalau mengikuti maps yang banyak belokan
Mingyu gf😘
hayoo nazwa🤭🤭🤭
Mingyu gf😘
tapi perasaan kurir gak ada libur
Cecilia
ANJERRRRR NANGGUNG BANGETTT
Chimpanzini Sudah Hiatus: /Shy//Shy//Shy/
total 1 replies
Cecilia
dia lucu banget sihh😭
Chimpanzini Sudah Hiatus: adekku kok. makanya lucu/Proud/
total 1 replies
Cecilia
aku jga mww
Chimpanzini Sudah Hiatus: wkwk author pun jga mau🤣🤣
total 1 replies
Cecilia
mari kita juluki romi si uler coklat
Chimpanzini Sudah Hiatus: mana boleh kek gitu
total 1 replies
Cecilia
BU LINA CANTIKKK BANGETTT
Chimpanzini Sudah Hiatus: /Awkward//Awkward//Awkward/
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
cantik nya😍😍😍😍😍
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
ya itu akan timbul alami ketika bertemu orang baik
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
senyuman formalitas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!