Nuraa tersentak, di tangannya ada sebuah undangan pernikahan yang baru saja di kirim oleh seseorang entah siapa, mungkin saja seorang kurir. Nuraa tertegun memandangi 2 nama di bagian depan dari undangan tersebut. 2 nama yang sangat Nuraa kenal, bahkan kedua nama tersebut memiliki tempat istimewa di hatinya.
"Bagaimana mungkin? Tidak!" teriak Nuraa.
"Tidak mungkin mereka menikah." Undangan itu pun lolos begitu saja dari tangan Nuraa, bersamaan dengan tubuhnya yang merosot dan luruh ke lantai.
Penasaran dengan kelanjutan kisah Nuraa?
Ikuti terus dengan membaca novel ini yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Evee... kenapa ngajakin kaka pulang? Kita bahkan belum dapat kepastian dari Nuraa," protes Aska.
"Hmmm... kasih waktu Nuraa buat mikir, Kak. Lagian kak Aska ngajakin perempuan nikah gak ada romantis-romantisnya dikit," balas Evelyn.
"Iya tapi kan-...."
"Jangan ganggu aku! Aku masih ngantuk," sergah Evelyn.
Evelyn menurunkan sedikit posisi kursi mobil, bersandar kemudian menutup kedua matanya.
Sebenarnya ia tidak mengantuk, hanya saja ia terlalu malas menanggapi ocehan Aska.
Aska menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya tersebut, sedetik kemudian kedua sudut bibirnya terangkat, senyuman merekah di bibir Aska, ia teringat saat Nuraa menciumnya tadi.
Debaran di dadanya belum benar-benar hilang, ia masih bisa merasakan kenyalnya bibir Nuraa menyapu lembut bibirnya tadi.
...****************...
"Non gak jadi pergi?" tanya bi Sarti yang melihat Nuraa menonton di ruang televisi.
"Aku jadi males mau pergi, Bi... energiku udah habis," jawab Nuraa, lesu.
"Mau bibi bikinin sesuatu yang segar, Non?" tawar bi Sarti.
"Boleh deh bi, terserah bibi aja."
Bi Sarti melangkah pergi dengan senyuman di wajahnya.
"Oh Nuraa kenapa kamu bego banget sih, kenapa sampe harus cium bibir, mana nyosor duluan lagi, udah kaya soang aja." Nuraa menepuk-nepuk bibirnya sendiri
Meskipun televisi di depan Nuraa menyala, tetapi ia tidak benar-benar menonton tayangan yang ada di dalam televisi tersebut.
Matanya menatap ke depan, tapi pikirannya terus saja membuat Nuraa teringat saat ia mencium Aska tadi, ada rasa geli yang menggelitik hati Nuraa.
Nuraa bergidik menutup wajahnya dengan bantal sofa, teringat saat Aska mengajaknya untuk menikah dan dirinya mencium Aska begitu saja.
"Non... ini jus jeruk dan cemilannya." Bi Sarti meletakkan segelas jus dan juga piring berisi cemilan ke atas meja yang ada di ruang televisi.
"Makasih bi," balas Nuraa di sertai senyuman di wajahnya.
"Non, pak Abdul telepon, di luar ada non Vivi," lirih bi Sarti, ia takut menyinggung perasaan Nuraa.
"Biarin dia masuk, bi... aku mau tau, untuk apa dia ke sini," jawab Nuraa tanpa ragu.
"Siap, Non... kalo gitu bibi ke dapur lagi."
Bi Sarti pun kembali ke dapur untuk mengabarkan pak Abdul, non Nuraa memperbolehkan untuk mantan sahabatnya tersebut masuk.
Nuraa memperbaiki posisi duduknya yang sebelumnya bersandar dengan kaki melipat di atas sofa, kini Nuraa duduk dengan tegak.
"Raa..." panggil Vivi saat dirinya sampai di antara batas ruang televisi Nuraa dan ruang tamu.
Nuraa menatap sejenak ke arah Vivi, melihat wajah Vivi secara langsung luka di hatinya seperti kembali terbuka.
Dadanya terasa sesak dan juga nyeri, ada rasa tidak nyaman yang sulit untuk Nuraa jelaskan.
Dengan perlahan Vivi menghampiri Nuraa yang masih duduk di sofa, duduk di sebelah Nuraa dan memeluknya begitu saja.
"Raa... maafin aku, aku gak bermaksud untuk mengkhianati kamu, semua ini karena Kevin, Raa," Vivi membuat suaranya terdengar sedih, dan yang Nuraa tidak ketahui Vivi menyeringai di balik tubuhnya yang di peluk oleh Vivi.
Sementara Vivi pun tidak melihat di balik pelukannya, Nuraa tersenyum miring mendengar ucapan Vivi.
Vivi melepaskan pelukannya dengan Nuraa, berganti menggenggam lembut kedua tangan Nuraa, saat ini keduanya duduk berhadapan.
"Raa, kalo kamu mau, aku bisa membatalkan pernikahan ini, tapi maaf Raa, aku gak bisa menggugurkan kandunganku, itu gak mungkin, bayi ini gak salah apapun." Vivi mengusap lembut perutnya dengan satu tangannya yang lain.
"Aku bakalan turutin semua keinginan kamu, asalkan kamu mau maafin aku, Raa."
"Maaf karena aku datang terlambat, aku terlalu takut dan juga malu ketemu kamu," isak Vivi dengan air mata palsunya.
"Lepasin tangan aku!" Nuraa menghempas tangan Vivi yang memegangi tangannya.
Nuraa bergeser sedikit dari duduknya memberi jarak antara dirinya dan juga Vivi.
"Aku gak nyangka, kamu bisa setega ini sama aku, kalo kamu mau Kevin, harusnya kamu bilang, aku bakalan dengan sepenuh hati memberikan Kevin untuk kamu!"
"Gak Raa, gak, kamu salah paham Raa," sergah Vivi dengan cepat. Kepalanya menggeleng dengan kuat.
Melihat sikap Vivi yang ada di hadapannya saat ini, semakin membuat Nuraa muak dan juga percaya akan kata-kata Evelyn yang pernah memberitahunya kalau Vivi orang yang manipulatif.
Dan andai saja Kevin belum bertemu lebih dulu dengan Nuraa, mungkin saja saat ini dirinya sudah menelan mentah-mentah dan percaya setiap ucapan yang keluar dari wanita ular yang ada di hadapannya saat ini.
"Apa tadi kak Aska dan Evelyn ke sini, Raa?" Vivi tidak sabar untuk menanyakan hal tersebut.
"Iya, kak Aska malah ngajakin aku nikah, apa itu permintaan kamu?" Nuraa menatap Vivi dengan tatapan menelisik.
"Gak, aku gak pernah minta kak Aska dan Evelyn ke sini, sebaiknya kamu gak perlu tanggapi serius ucapan kak Aska, Raa."
"Dia marah dan kecewa sama aku, saking sayangnya ke aku, dia mau mengorbankan dirinya, nikahin kamu buat gantiin posisi Kevin, itu gak masuk akal banget, tapi aku tau kak Aska ngelakuin hal itu, karena dia gak mau kamu marah terus membenci aku, Raa," ucap Vivi pelan.
"Oyah? Kamu yakin kak Aska ngelakuin itu cuma karena kamu, adik angkatnya!" Nuraa menekan kata (angkat).
"Gimana kalo kak Aska mengusulkan ide itu karena dia yang ingin atau mungkin dia-...," Nuraa sengaja menggantung kalimatnya, untuk mengetahui reaksi dari Vivi.
"Maksud kamu, kak Aska suka sama kamu gitu? Dan mengambil kesempatan ini untuk menjadikan kamu miliknya seutuhnya, gitu?" tebak Vivi.
"Mungkin," jawab Nuraa acuh, mengedikkan bahunya.
"Hahaha... mana mungkin Raa, kamu kan gak tinggal bareng sama kak Aska, jadi kamu gak tau dia kaya apa." Vivi mengibaskan tangannya di hadapan Nuraa.
"Emang dia kaya apa?" tanya Nuraa mencoba mengorek infomasi tentang lelaki yang saat ini berhasil membuatnya gelisah hanya karena ciuman singkat mereka.
"Kak Aska tuh paling anti sama perempuan, sampe sekarang aja dia belum nikah."
"Menurutku dia gak-...."
"Cukup Vi!" Nuraa menyela ucapan Vivi.
"Aku cape, kalo gak ada lagi yang mau dibicarain, mendingan kamu pulang aja."
"Yaudah deh kalo kamu cape dan mau istirahat, aku pulang aja kalo gitu," jawab Vivi lesu.
Vivi pun berdiri dari duduknya, berbalik dan hendak melangkah keluar dari rumah Nuraa.
"Tunggu!"
"Mulai hari ini dan seterusnya jangan lagi datang ke rumah ini atau bersikap seolah-olah kita dekat!"
"Satu lagi, mulai hari ini juga, kamu bukan lagi bagian dari hotel Azura, mungkin surat pemecatannya sudah sampai di meja kerja kamu!"
"Untungnya kamu gak menjadi tikus di hotel aku, tapi setelah kejadian ini, aku harus lebih waspada, sebelum akhirnya aku menyesal lagi. Dan kalo aja hal itu terjadi, kamu gak akan lagi lihat Nuraa yang kamu kenal saat ini, aku bakalan berubah jadi seseorang yang bahkan kamu gak akan percaya!"
"Gak bisa gitu Raa, ini namanya gak profesional," protes Vivi.
"Suka-suka aku lah, orang aku pemilik hotelnya kok, kamu aja bisa berbuat sesuka hati nikung sahabat kamu sendiri, masa aku gak bisa berbuat sesuka hati sih!" cibir Nuraa.
Wajah Vivi memucat mendengar ucapan Nuraa, ia pikir Nuraa sudah berlapang dada memaafkan dirinya, ternyata Vivi salah.
Nuraa bahkan memecat Vivi dari pekerjaannya sebagai accounting di hotelnya, sungguh sikap yang tidak profesional untuk Vivi, mencampur adukkan urusan pribadi ke ranah pekerjaan.
Vivi mengepalkan kedua tangannya tanpa sadar, sementara Nuraa yang melihat hal tersebut justru tersenyum miring.
"kamu gak lupa letak pintu keluar rumah ini, kan? Kenapa masih berdiri di situ?!" sindir Nuraa.
Vivi yang tersadar langsung pergi dari rumah Nuraa dengan amarah yang menggebu, sepanjang langkahnya menuju mobil, Vivi terus saja mengumpat Nuraa.
"Mari kita lihat Vi, aku bakalan nunjukin ke kamu, tempat yang seharusnya, harusnya keluarga WIRAHARDJA cukup memberi makan kucing liar di jalan, gak perlu membawanya pulang dan merawatnya di dalam rumah mereka, kasihan sekali," ucap Nuraa dalam hati.
Bersambung...