Novel ini menceritakan kisah perjalanan cinta seorang perempuan yang bernama Syajia, nama panggilanya Jia.
Seorang perempuan yang sangat sederhana ini mampu menarik perhatian seorang laki-laki dari anak ketua yayasan di kampusnya dan seorang pemilik kafe tempat ia bekerja.
Tentu keduanya mempunyai cara tersendiri untuk bisa mendapatkan Jia. Namun Jia sudah terlanjur menaruh hatinya pada anak ketua yayasan itu.
Sayangnya perjalanan cinta tidak selalu lurus dan mulus. Banyak sekali lika-liku bahkan jalan yang sangat curam dalam kisah cinta Jia.
Apakah Jia mampu melewati Kisah Perjalanan Cinta nya? Dan siapakah yang akan mendapatkan Jia seutuhnya? Ikuti terus kisahnya di dalam novel ini yang mampu membawamu terjun kedalam Kisah Perjalanan Cinta Syajia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Geamul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan Tangguh
Sang mentari datang dengan begitu cepat. Pagi ini, Jia terasa masih sangat mengantuk, bawah matanya terlihat sedikit menghitam. Tapi ia tak mau bolos kuliah, Jia pun memaksakan dirinya untuk tetap masuk kuliah.
Saat di ruang makan, Bu Tiara sedang membungkus kue buatannya. Lalu memanggil Jia yang masih di kamarnya untuk menyicipi kue kesukaannya.
“Kak, semalam Ibu buat kue nih. Kakak mau?” ucap Bu Tiara sedikit berteriak.
“Ibu bikin kue?” sahut Jia sembari berlari menuju ruang makan. Dan langsung mengambil kuenya tanpa bertanya-tanya.
“Nyamm, kue buatan Ibu emang paling enaak sedunia,” ucap Jia sembari menikmati beberapa kue ditangannya.
“Ah kakak bisa aja. Oh iya kak, rencananya Ibu mau jualan kue. Boleh bantuin Ibu gak, buat jualin kue Ibu yang lain?” ucap Bu Tiara berharap anaknya mau membantunya.
“Ya boleh dong Bu, nanti aku titipin kuenya di kantin kampus sama di tempat kerjaku,” jawab Jia
“Aku juga mau bantuin Ibu jualan,” sahut Yoga dan Yogi yang baru datang ke ruang makan.
“Masya Allah, anak-anak Ibu emang sholeh dan sholehah terimakasih ya nak.” Bu Tiara sangat bangga dengan ketiga anaknya.
“Yaudah, Jia pamit duluan ya Bu, Dek, assalamu’alaikum,” Jia mencium tangan sang
Ibu.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Bu Tiara, Yoga, dan Yogi serentak.
Beruntungnya hari ini Jia tidak kesiangan. Jia pun tidak terburu-buru saat berada di jalan. Seperti biasa, Jia berangkat menggunakan angkutan umum. Meskipun ia mempunyai motor, tapi ia lebih suka menelusuri jalanan dengan bebas seperti itu.
Sesampainya di kampus, Jia teringat bahwa ia harus mengubah sikap Al. Ia pun bergegas untuk mencari Al. Saat Jia ke kelas, ia melihat Al sedang tidur di kursinya.
‘Aku cari-cari, ternyata ada disini,’ gumam Jia.
Kelihatannya, Al tertidur sangat pulas sehingga Jia tak tega membangunkan Al. Saat ia akan memegang pundaknya Al, mata Al tiba-tiba terbuka.
"Lo ngapain?” suara Al mengagetkan Jia. Dan Jia pun menghela napas. Lalu Al terbangun dan membereskan baju serta rambutnya yang berantakan.
“Ayo ikut aku!” ajak Jia.
“Kemana?”
“Ke perpustakaan, kita-kan mau belajar.”
“Gak ah, males,” Al menjatuhkan kembali kepalanya ke atas meja.
“Ayok Al!!” Jia mendorong Al dari tempat duduknya dan memaksanya untuk pergi ke perpustakaan.
Dengan wajah kesal, Al melangkahkan kakinya ke perpustakaan. Jia pun membuntutinya dari belakang. Setelah sampai di perpustakaan, Al menjatuhkan lagi kepalanya diatas meja. Jia pun mulai kesal.
“Al, ayok dong jangan tidur mulu! Nih, aku punya soal. Kamu kerjain ya!” paksa Jia.
“Gue gak ngerti,” sahut Al dengan wajah mengantuk.
“Yaudah, sini aku jelasin dulu,” setelah beberapa menit Jia menjelaskan pengerjaannya. Ia pun memberikan bukunya pada Al.
“Udah paham kan? Sekarang, soal selanjutnya kamu kerjain sendiri,” saat Al akan mengambil buku Jia, ia menahan bukunya.
“Eh bentar, besok-besok kamu pake baju yang rapi ya! jangan kayak sekarang, kesannya kamu bukan mau belajar, tapi mau main,” sambungn Jia.
“Iya, bawel,” sahut Al kesal.
Jia pun kembali membaca bukunya. Tak lama kemudian Jia terasa mengantuk, dan akhirnya pun Jia tertidur diatas meja dengan bukunya yang terbuka. Al melirik ke arah Jia, ia mendapati Jia sedang tertidur pulas.
Al pun melepaskan pulpennya lalu menompang dagu dengan tangan kanannyanya sembari melihat pemandangan wajah Jia yang sedang tertidur, ‘Maafin gue Ji,’ batinnya sembari melengkungkan sudut bibirnya.
Lalu, Jia terbatuk sehingga terbangun dari tidurnya. Al pun langsung merubah raut wajahnya menjadi datar dan menatap tajam Jia.
“Sorry-sorry, aku ketiduran,” Jia langsung merapikan dirinya.
“Lo niat gak sih bantuin gue?” ketus Al.
“Maksud kamu? Kamu marah karena aku ketiduran? Aku kan udah minta maaf,” Jia sangat terkejut dengan reaksi Al.
Al beranjak dari tempat duduknya kemudian berlalu meninggalkan Jia.
“Al kenapa sih? bisanya cuma marah-marah,” Jia mengeluarkan rasa kesalnya dengan menggerutu.
Sebelum memasuki kelas, Jia pergi ke kantin untuk menitipkan kue buatan ibunya pada Bu Minah, Ibu warung langganan Jia dan Nana.
“Assalamu’alaikum Bu Minah, saya mau titip kue di warung Ibu boleh?” izin Jia.
“wa’alaikumsalam. Oh iya neng boleh,
simpan aja kuenya di meja,” sahut bu Minah.
“Iya Bu, makasih banyak ya Bu.”
“Iya neng sama-sama.”
***
Jia mendapati Bima di depan gerbang yang sedang duduk di motor scopynya. Jia sudah menduga, pasti Bima menunggunya untuk mengantarkannya ke kafe. Jia pun menghampiri Bima dengan berpura-pura tidak tahu.
“Kamu belum pulang Bim?”
“Belum, aku kan mau antar kamu,” lugas Bima.
“Ya ampun Bim, aku benar-benar gak enak sama kamu.”
“Gak apa-apa. Kan aku udah pernah bilang, santai aja.” Bima meyakinkan kembali.
“Makasih banyak ya Bim,” Bima hanya mengangguk dan tersenyum. Jia pun menaiki motor Bima.
Seperti biasa, Jia sangat menikmati perjalanan di sore hari. Jia sangat menyukai suasana sore hari, apalagi dengan pemandangan langit yang teduh dengan awan yang menggumpal yang sangat tertata membuat hati Jia tenang.
Ketika ia melihat langit di sore hari, membuat rasa syukur pada dirinya semakin bertambah.
Bima pun selalu measa senang saat melihat wajah Jia yang teduh, membuat hati Bima terasa sangat nyaman. Sepertinya, rasa di hatinya semakin tumbuh. Namun, ia belum benar-benar yakin dengan perasaannya itu. Bima pun akan terus membuktikan rasa yang baru-baru ini muncul.
Sesampainya di kafe, Bima langsung pamit pergi dan Jia pun memasuki kafe. Di ambang pintu, Jia bertemu dengan Surya. Jia pun menyapanya dengan senyuman.
“Dianterin sama pacar ya?” celoteh Surya.
“Eh, bukan Pak. Dia teman kuliah saya,” jawab Jia dengan cepat. Dan Surya hanya terdiam sembari tersenyum. Entah apa arti senyumannya, yang jelas Jia merasa tak enak karena Surya menanyakan hal itu.
“Kalau gitu, saya permisi ke belakang Pak,” sambung Jia.
“Ya, silahkan,” sahut Surya.
Jia tak sempat menyimpan kue di kafe, karena kuenya sudah terjual habis di kampus. Jia bekerja seperti biasa dengan fokus dan bersemangat sampai kafe tutup.
Jia pun bergegas untuk pulang menaiki bus, karena hari ini kafe tutup lebih awal. Saat sedang menunggu bus di halte, ia melihat sebuah mobil menghampirinya. Jia seperti mengenali mobil itu.
“Kamu belum pulang?” ternyata benar, itu adalah mobil Surya.
“Eh Mas Surya, Saya lagi nunggu bus,” jawab Jia.
“Udah lama?”
Jia menganggkat tangan kiri dan melihat jamnya, “Lumayan sih Mas.”
“Ya udah, sini naik,” Surya menganggukkan kepalanya menyuruh Jia untuk masuk ke dalam mobil.
“Gak usah Mas,” Jia menolaknya.
“Gak apa-apa, ayok masuk!” Surya membukakan pintu mobilnya dari dalam.
Lagi-lagi, Jia pun tak bisa menolaknya. Ia memasuki mobil surya dengan merasa tak enak. Dan wajahnya terasa sangat jelas bahwa Jia sangat canggung dengan Surya.
“Udah santai aja, saya sama sekali gak keberatan kok,” Surya tersenyum pada Jia, dan Jia pun membalas senyumannya tanpa sepatah kata pun.
Surya langsung menginjak gas mobilnya, melaju dengan kecepatan rata-rata.
“Hmm, kalau boleh tahu, kamu anak keberapa?” tanya Surya tiba-tiba.
“Saya anak pertama Mas, dan punya dua adik kembar,” jawab Jia.
“Oh ...” respon Surya. Sejenak, mereka terdiam.
“Pasti berat banget ya jadi anak pertama, apalagi kamu perempuan,” seketika Surya berbicara seperti itu.
Jia tersenyum, “Kalau boleh jujur, dugaan Mas benar. Tapi, saya bisa kok. Karena ayah saya selalu mengajari arti kehidupan, jadi saya bisa lebih kuat menjalani semua ini. Duh maaf ya Mas, saya jadi curhat gini.”
“Gak apa-apa, saya pendengar yang baik kok. Kalau boleh jujur juga, saya kagum sama kamu. Semangat terus ya! Kalau kamu mau cerita, saya siap kok jadi pendengar sejati kamu,” Surya memberikan senyuman tulusnya pada Jia. Hati jia terasa meleleh, ia pun membalas senyuman Surya.