Hubungan pernikahan mereka penuh kepalsuan. Tak ada yang tau kebenaran dibalik senyum bahagia yang palsu itu. Grisha selalu menjadi budak yang dipaksa menurut seperti hewan peliharaan. Sedangkan Xeno adalah pemegang kendali yang menjalankan semua sandiwara ini. Meskipun disakiti berkali-kali, Grisha tetap mencintai suaminya sedangkan lelaki itu tampak begitu membencinya. Mampukah Grisha bertahan dengan cinta yang tak pernah terbalas? Atau melarikan diri untuk mencari kebebesan?
"Kenapa kau begitu membenciku, Xeno?"
"Ingat ya. Aku menikahimu hanya karena orang tuaku menyukai anak panti kampungan sepertimu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter - 9
Sudah menjadi kebiasaan Grisha bahwa ia selalu bangun lebih awal. Seperti biasa, ia mandi lebih dulu lalu memijit pelan kaki kirinya yang hampir pulih. Ya meski terkadang masih sakit saat berjalan, tapi setidaknya ia tak lagi memerlukan gips maupun tongkat bantu.
Ia harus berlatih berjalan agar kakinya tidak kaku. Namun saat dicoba berjalan, ternyata tidak terlalu sakit seperti kemarin-kemarin. Sudah dua minggu sejak ia keluar rumah sakit, dan kakinya perlahan membaik.
"Haha, akhirnya kau sembuh juga kakiku yang cantik!" Seru Grisha lalu mengusap kakinya yang masih terdapat ruam samar keunguan dengan bangga.
Grisha bangun dari tempat tidurnya, lalu mulai keluar kamar dengan senyum cerah yang mengembang lebar. Ia senang karena kakinya sudah tidak sakit lagi.
"Haha!! Akhirnya aku bisa balas dendam untuk beres-beres rumah sepuasnya!"
Gadis itu memang aneh. Abaikan saja.
.....
Xeno keluar dari kamarnya lengkap dengan setelan kerja. Ia mendengar suara yang memasak di dapur. Dan benar saja, Grisha sedang memasak.
Ah, sudah lama sekali ia tidak mendengar keributan dan aroma masakan didapur. Karena belakangan ini ia sering menemukan dapur hening dengan meja yang kosong melompong.
Xeno menarik kursi lalu duduk di meja makan, ia menatap dengan angkuh pada sang istri yang tengah membelakanginya karena sibuk memasak.
"Hey kambing hitam. Sudah kubilang tidak usah memasak lagi untukku. Aku tidak akan pernah mencicipinya. Apa kau sudah lupa?"
Grisha datang dihadapannya dengan sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat. "Siapa juga yang memasak untukmu? Aku masak untuk diriku sendiri." Ucapnya seraya menyuapkan sesendok nasi goreng, lalu mendesis pelan saat rasa enak mulai memenuhi mulutnya.
"Uwuu enak sekali. Sudah kuduga, aku memang pintar memasak." Ucapnya memuji diri sendiri. Sedangkan Xeno hanya bisa menelan ludah. Tak dapat ia sangkal bahwa bau masakan Grisha memanglah sangat sedap.
Karena malu, Xeno berdecih lalu segera meninggalkan ruang makan dan pergi kerja. Meninggalkan Grisha yang tertawa dalam diam. Bahkan lelaki itu menutup pintu dengan keras, mungkin saking malu atau kesal nya.
Namun detik berikutnya pintu kembali terbuka dengan Xeno yang muncul setengah badan, dan Grisha yang sedang cekikan mendadak pura-pura sibuk makan.
"Oh, iya. Awas jangan coba-coba untuk kabur ya! Aku takkan menahan diri lagi. Mungkin saja kali ini lehermu yang akan kupatahkan. Jadi jangan coba-coba mengelabuiku!"
"Bawel ah!" Sahut Grisha cuek.
Xeno mendengus lalu kembali menghilang dibalik pintu. Kali ini laki-laki itu benar-benar sudah pergi.
Grisha kembali tertawa. Xeno sangat lucu jika sedang merajuk dan malu-malu begitu.
"Akhirnya hubungan kita tidak terlalu kaku dan penuh ketegangan terus ya..."
Grisha tersenyum, lalu kembali melanjutkan sarapan paginya yang sempat terabaikan karena suaminya merajuk.
Setelah makan dan mencuci peralatan bekas memasak, Grisha memulai aktivias ibu rumah tangganya.
Grisha berlari kecil mengitari ruang tengah, namun seketika terhenti saat kakinya tiba-tiba terasa sakit. Gadis itu duduk sejenak seraya mengusap lukanya.
"Hehe, ternyata masih belum bisa berlari ya. Aku terlalu bersemangat." Cicitnya, malu sendiri.
Setelah merasa lebih baik, gadis itu kembali berdiri untuk melanjutkan acara bersih-bersihnya. Mulai dari dapur, ruang tengah, ruang tamu, kamar tamu, dan yang terakhir kamar suaminya.
Grisha membuka pintu itu perlahan. Baru saja ia melangkahkan kakinya, ia sudah disambut oleh aroma khas sang suami yang semerbak diseluruh penjuru ruangan.
Grisha tersenyum lalu mengusap dinding seraya berjalan menuju ranjang. Ia menikmati acara bersih-bersih karena bisa melakukan kegiatan diam-diam nya seperti ini. Masuk ke kamar suaminya dan berdiam disana sepuasnya.
Gadis itu merebahkan diri di ranjang Xeno yang berantakan. Wajahnya ia telungkupkan dibantal, menghirup aroma shampoo Xeno yang melekat disana. Harum.
Grisha lagi-lagi tersenyum, wangi khas Xeno membuatnya sangat nyaman. Dengan menghirup aroma shampoo nya saja ia jadi ingin menyentuh rambut tebal itu.
Grisha membalikkan tubuhnya hingga terlentang, ia menarik selimut Xeno lalu kembali menghirup baunya dalam-dalam. "Aku memang menyedihkan..."
Grisha segera menyudahi kegiatan yang menurutnya menyedihkan itu lalu beranjak dari ranjang.
Saat akan turun, matanya tak sengaja menangkap sebuah figura kecil yang terletak diatas nakas. Ah, itu foto Xeno dengan mantan kekasihnya. Foto itu menunjukkan gambar Xeno yang tengah memeluk mesra seorang gadis dengan rambut hitam bergelombang dan tahi lalat dibawah matanya. Xeno mencium pipi gadis itu dengan penuh penghayatan, dilihat sekilas saja semua orang tau bahwa mereka pasangan yang saling mencintai.
Grisha mengusap foto bagian wajah Xeno dengan sendu. "Kapan aku bisa mendapat perlakuan seperti itu, Xeno? Padahal aku istrimu..." Lirihnya.
Tring Triing
Grisha terperanjat saat ponselnya berdering, tanda telepon masuk dengan nama Xeno dilayarnya. Tanpa banyak kata Grisha langsung mengangkatnya.
"Halo?"
"Grisha kau dirumah?"
"Iya, aku sedang beres-beres rumah. Ada apa?"
"Ambilkan map berwarna biru di ruang kerjaku"
"Hah? Maksudmu aku yang mengantarkannya ke perusahaanmu? Tapi kau bilang aku tak boleh keluar rumah." Tanya Grisha, bingung. Ia mulai ragu suaminya punya kepribadian ganda. Membayangkan hal itu, Grisha bergidik ngeri.
"Tak apa, kali ini aku izinkan kau keluar. Aku sangat membutuhkan berkas itu! Tolong antarkan segera sebelum aku rapat jam 10 pagi! Jangan telat ya!"
"Tapi--"
Tut
Grisha menatap layar ponselnya horor. Suaminya benar-benar aneh. Namun ia mengedikkan bahu acuh.
Gadis itu membereskan kamar Xeno dengan secepat kilat.
Dia mendapatkan misi penting hari ini. Mengantar file yang dibutuhkan suaminya sekalian berkunjung ke tempat suaminya bekerja. Ah, pasti seru sekali!
Grisha segera bersiap-siap dan memesan taksi.
....
Xeno menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Ia baru saja meminta tolong pada istrinya, Grisha. Wanita yang bahkan sangat dihindarinya dan berusaha disembunyikan kini akan datang ke kantornya.
Ia lupa kalau para karyawan pasti akan melihat istrinya dan semakin berpikiran macam-macam. Ah! Sial sekali! Tapi apa boleh buat, ia sangat membutuhkan bantuan dari wanita itu.
Ceklek
Xeno yang sibuk menggalau dikagetkan dengan pintu yang terbuka. Ada Jean diambang pintu sana.
"Ada yang ingin bertemu denganmu Xeno."
"Siapa? Grisha? Biarkan dia masuk." Titahnya.
Jean tersenyum jahil, "Eiyy sudah tidak sabar bertemu istri ya~ Baiklah-baiklah, Ny. Arsene silahkan masuk~"
Grisha mendelik sebal lalu dengan sengaja mencubit pinggang lelaki tinggi itu, membuatnya mengaduh sakit. Cubitan wanita yang sedang kesal tidak main-main!
"Berisik Jean!"
Grisha memanyunkan bibirnya, sedangkan Jean hanya tertawa lalu memilih untuk meninggalkan ruangan.
Saat pintu tertutup, ekspresi Grisha berubah datar. Xeno bahkan dibuat tertegun. Baru kali ini ia melihat perubahan raut drastis istrinya secara langsung.
"Nih! Kalau begitu aku pulang ya!" Ketusnya seraya menyimpan berkas itu dimeja kerja Xeno.
"Kenapa ekspresimu berbeda sekali saat bersama orang lain? Kenapa padaku kau menunjukkan ekspresi datar seperti itu?"
Grisha berbalik, lalu menyeringai. Untuk sesaat Xeno kembali dibuat tertegun. Ia belum pernah melihat sisi Grisha yang seperti ini.
"Cari tau saja sendiri." Hanya itu yang diucapkan Grisha. Setelah itu, ia melesat pergi dari ruang kerja sang suami. Meninggalkan Xeno yang terbengong dengan perasaan aneh dihatinya.
"Untuk apa juga aku penasaran tentang dirinya? Fokus Xeno! Gadis itu tidak penting. Uang dan kasta lah yang paling penting. Ya, hanya itu."
Xeno menggelengkan kepalanya pelan untuk mengusir segala pikiran aneh yang sempat mampir. Ia harus kembali bekerja.
Sedangkan Grisha berjalan di loby dengan kepala tertunduk. Ada rasa bersalah saat ia bersikap dingin pada sang suami. Ia tak ingin melakukan itu, namun ia tetap harus melakukannya agar rasa cintanya tidak tumbuh semakin membesar.
Ia tak ingin mencintai lelaki itu lagi. Setidaknya begitu...
"Grisha? Kau kah itu?"
Grisha menoleh kesana-kemari untuk mencari siapa yang baru saja memanggil namanya.
"Aku disini."
Grisha menoleh saat kaca sebuah mobil turun, menampakkan seseorang yang tengah tersenyum padanya.
Tubuh Grisha mematung seketika. Matanya membola. Mulutnya kelu tak bisa berbicara. Orang itu. Orang yang sedang berusaha ia lupakan kini hadir kembali di hadapannya.
Itu Arka, mantan kekasihnya yang terpaksa harus ia putuskan karena ia dijodohkan dengan Xeno.
"Hai, Grisha. Lama tidak bertemu..."
"Kenapa dia harus datang sekarang?"
ni thor,dr 2021 smpe skrg.ternyta ga update2 juga pdhl udh berharap suatu saat novel ini dilanjutkan 😭😭🙏🙏
love u pokoknya