NovelToon NovelToon
FOR NOW & FOREVER

FOR NOW & FOREVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:67.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Yuniar Frida

Indra dan Tiwi, dua anak manusia itu bersatu karena perjodohan.

Keduanya sama-sama memiliki jawaban, kenapa mereka menerima perjodohan tersebut.

Awal pertemuan yang buruk dan tidak adanya rasa satu sama lain menjadi masalah besar dalam rumah tangga mereka.

Lantas, saat keduanya benar-benar jatuh cinta, masa lalu dari masing-masing pihak kembali muncul dan mampu meretakkan pondasi pernikahan mereka.

Lalu apakah yang akan Indra dan Tiwi lakukan agar pernikahan sekali dalam seumur hidup seperti yang mereka impikan itu bisa bertahan selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Yuniar Frida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali

Indra tiba di pantai setengah jam berikutnya. Itu sudah kecepatan maksimal yang bisa ia gunakan.

Keadaan pantai sudah tidak seramai tadi, meskipun masih banyak yang berjalan-jalan dan duduk-duduk tapi tetap tidak seramai yang tadi. Rumah-rumah bambu yang menjual makanan masih tetap terbuka, menunggu pelanggan.

Indra mulai mencari di sisi barat terlebih dahulu, menyisiri segala tempat kemungkinan Tiwi dan Jihan berada.

Indra menghela napas kasar saat tak kunjung menemukan keberadaan kedua orang itu, hanya beberapa dua sejoli yang sedang duduk menikmati angin malam.

"Ck, dimana mereka?" Indra mensugar rambutnya, merasa kesal sendiri.

Keberadaan Tiwi dan Jihan sangat abstrak, pantai yang bukan main-main luasnya. Apalagi, Tiwi tidak sedang memegang ponsel. Lebih susah lagi untuk menemukan mereka.

"TIWI.. JIHAN.." Indra sudah tidak bisa melakukan apapun, ia hanya berteriak memanggil kedua orang itu. Hasilnya nihil, tidak ada yang menyahut apalagi mendekat.

Indra beralih menuju pantai bagian tengah, bagian yang senantiasa ramai daripada bagian yang lainnya.

Yang menjadi masalahnya sekarang, Indra tidak bisa bebas berteriak, sedang ada pesta di salah satu rumah bambu yang ada di sana. Semacam pesta ulang tahun yang hadiri banyak orang. Suara musiknya terdengar keras.

Indra memicingkan matanya, berharap menemukan sesuatu yang sangat ia pikirkan saat ini. Dan benar saja, tidak jauh di sana, beberapa puluh meter, seorang wanita dan bocah perempuan sedang asik menikmati gulungan ombak yang semakin mengecil di saat surut tiba.

"Tidak salah lagi, itu pasti mereka!" Indra mengepalkan tangannya, merasakan kelegahan yang luar biasa, kemudian berlari sekuat tenanganya yang tersisa.

Tanpa perlu basa-basi, Indra langsung memeluk Tiwi dari belakang, membenamkan kepalanya di leher wanita yang sudah menjadi istrinya itu, tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar.

"Tiwi, maafin gue ya?" Hembusan nafas Indra teratur di leher wanita yang sedang ia peluk.

Indra merasa bingung dengan wanita yang dipeluknya, tapi kelegahannya lebih di atas rata-rata.

Sejak kapan ini Tiwi rasanya berubah, setau gue rasanya cherry blossom, lah kenapa ini bau-baunya lavender! Tapi ah nggak masalah, yang penting Tiwi sama Jihan baek-baek aja. Batin Indra merasa lega.

"WOI NGAPAIN LO PELUK-PELUK BINI GUE?" Suara bariton yang sangat lantang terdengar memecang hening di telinga Indra.

Karena Indra belum saja melepaskan pelukannya, pria yang mengaku menjadi suami dari wanita itu menarik kerah baju Indra dari belakang, melepas paksa pelukannya.

"Apa hah? Nganggu aja lo!" Protes Indra dengan sinis kepada pria bertubuh kekar di depannya, kumis tebal menghiasi wajah pria itu. Indra juga kekar, tinggi, tapi pria di depannya melebihi rata-rata.

"Ngapa lo peluk-peluk istri gue?" Gerutu pria itu dengan kesal.

"Dih, sekate-kate, dia istr—"

Belum sempat Indra menyelesaikan ucapannya, sebuah bogeman mentah mendarat mulus di pipi kanannya membuat Indra sempat terhuyung ke samping.

Mata Indra seketika membulat ketika wanita itu membalikkan badannya, sekejap saja ia melupakan rasa ngilu yang sangat terasa di salah satu sisi wajahnya.

"Eh? Lho kok Tiwi berubah?" Tanya Indra dengan polosnya sembari menunjuk-nunjuk wanita yang ada di depannya, pasang matanya kembali teralih kepada bocah perempuan yang juga berdiri di hadapannya. "Eh? Jihan juga berubah?"

"Cih.." Desis pria yang masih kesal.

Indra langsung sadar bahwa ia salah orang. "So .. sorry, gue kira bini dan ponakan gue tadi!"

"He'elleh alasan mati. Dasar pebinor!" Umpat pria itu dengan wajah yang masih kesal membuat Indra bingung dengan kalimat terakhirnya.

"Pe .. pebinor? Apa itu?" Ulang Indra.

"PErebut BINi ORang!" Bocah perempuan itu yang menjawab dengan penekanan di setiap huruf depan kepanjangan dari PEBINOR.

"Dih mulutnya bocil. Emak lo tuh yang keenakan dipeluk, nggak ngomong-ngomong juga!" Bentak Indra tidak terima dirinya dikatai, wajah tampan begini tidak cocok jadi perebut wanita orang. Lagipun, istrinya lebih cantik dari siapapun.

"Sana deh lo, jauh-jauh dari sini. Dasar jomblo karatan!"

Tanpa diminta pun, Indra memang ingin pergi dari sana. Untuk umpatan yang terakhir, Indra tidak merasa. Jelas-jelas dia udah punya istri, untuk ladenin orang orang yang begitu. Hanya orang-orang yang merasa berhak marah dan protes. Indra mah tidak sama sekali.

***

Sementara di tempat lain yang tidak jauh dari keberadaan Indra sekarang, Tiwi duduk termenung di kursi rotannya, memandang keluar lewat jendela. Jihan sedang tertidur di atas ranjang yang terbuat dari bambu, meskipun tampak tidak nyaman, rasa lelah menghapus semuanya.

"Kamu juga istirahat, menginap saja di sini tidak apa-apa." Suara lembut yang sangat bersahabat mendarat di telinga Tiwi. Tiwi berbalik ke arah suara itu berasa, senyum merekah di wajahnya.

"Nggak apa, Ayu. Saya tunggu suami saya datang." Balas Tiwi dengan pelan agar Jihan tidak terjaga. Meskipun di luar masih ribut dengan suara-suara musik yang bergema di sepanjang pantai, tidak seberapa ribut jika sudah di dalam rumah.

Wanita yang sedikit lebih tua bernama Ayu itu mengangguk, kemudian melangkah keluar dengan pelan-pelan.

"Ayu, saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, nanti kalo suami saya datang, saya akan mengganti semuanya." Ujar Tiwi lirih.

"Nggak kenapa-kenapa, staii kalem saja ya.. Ucapan terimakasihnya udah yang keberapa itu, nggak terhitung lagi." Ayu terkekeh lalu meninggalkan Tiwi dan Jihan.

Tiwi masih beruntung ada orang yang berbaik hati seperti Ayu, masih mau menolong mereka yang kesusahan. Menawarkan tempat yang bisa diteduhi, meskipun tidak terlalu nyaman, tapi itu lebih dari cukup. Meminjami mereka makanan dengan jaminan nanti suami kamu yang bayar kalau datang. Dengan begitu, Jihan bisa tertidur dengan perut yang tidak kosong. Sedangkan Tiwi yang merasa tidak enak, ia tidak memesan makanan apapun.

"Keluar bentar deh, bosan di sini!" Tiwi memperbaiki selimut Jihan, lalu melangkah keluar.

***

Satu jam sudah Indra menyusuri seluruh kawasan pantai, tapi tetap saja, ia tidak menemukan keberadaan Tiwi dan Jihan. Indra tadi sempat merasakan aroma cherry blossom yang sangat menyengak, tapi itu bukan Tiwi, melainkan seorang pria yang berkedok sebagai wanita. Indra langsung menggeleng-gelengkan kepala, bergidik geli.

Akhirnya ia menyerah, memilih mengistirahatkan tubuhnya di pondok pertama yang ia datangi tadi pagi. Hanya ada beberapa pelanggan yang terlihat sejauh mata menangkap objek. Mereka sedang bermain game ditemani secangkir kopi dan ubi goreng beserta sambalnya.

Indra sudah kenyang, ia hanya memesan kopi agar kantuknya hilang. Helaan napas kasar terus keluar dari bibir Indra.

"Dimana sih mereka?" Tanya Indra pada dirinya sendiri.

Ia mengeluarkan kedua ponsel yang ada dalam sakunya. Ponselnya dan ponsel Tiwi. Ia lebih dulu meraih ponsel Tiwi dan berniat membukanya karena ada beberapa notifikasi yang bermunculan di layar ponsel Tiwi.

"Aisshh, terkunci!" Gumam Indra pelan lalu meletakkan kembali ponsel Tiwi di atas meja.

Ia lalu meraih ponsel retaknya, semburat kekecewaan muncul di wajahnya karena tidak ada notifikasi apapun.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu, lalu mengutak-atik ponselnya. Setelah dirasa cukup, ia mendekatkan ponselnya ke telinganya. Tidak perlu menunggu lama, deringannya langsung terjawab.

"Halo, selamat malam, Hotel Grand Ayden di sini. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa seorang wanita dengan logat khasnya di seberang sana.

"Halo, saya Kavindra Ayden Adhitama, apa istri saya sudah kembali ko hotel?" Tanyanya langsung to the point. Sebelum kembali ke pantai, Indra terlebih dahulu menitipkan kunci kamar pada resepsionis dan berpesan agar segera menghubunginya jika saja Tiwi sudah kembali dan mengambil kunci itu. Tapi sampai sekarang, Indra tidak kunjung mendapat informasi, maka dari itu, ialah yang menghubungi duluan.

"Oh? Pak Indra, belum Pak. Bu Pratiwi belum kembali ke hotel."

"OK, terimakasih!" Indra memutuskan sambungan secara sepihak.

Lagi-lagi hanya helaan napas kasar yang bisa Indra keluarkan saat ini.

"Duh, lelah, ngantuk, dingin, mana dapat hadiah dari si kumis tebal lagi, wajah ganteng gue jadi lebam, Tiwi dan Jihan juga belum ketemu." Keluh Indra lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, dan memejamkan mata.

"Indra?" Sebuah suara yang samar-samar kembali mendarat di kedua telinga Indra. Itu suara dari orang yang ia cari-cari selama ini.

Tapi Indra tidak bergerak dari posisinya, ia mengalihkan tangannya untuk menutup wajahnya.

Indra membatin. Baru aja 2 detik merem, udah mimpi gue, saking lelahnya nih, suara Tiwi jadi tergiang-ngiang di gendang telinga gue.

Tidak sampai di situ, sebuah tangan halus yang dingin menyentuh lengannya, ia masih tidak bergerak.

Yaelah nih mimpi apaan sih? Gue mau tenang, sana-sana dulu deh, mau menghilangkan lelah dulu ini sekejap!

"Indra?" Suara pelan itu kembali lagi.

Tidak ada reaksi apapun yang Indra keluarkan.

"KAVINDRA!!!" Teriaknya sembari menggoyang-goyangkan tubuh Indra dengan keras.

Indra yang hampir terjatuh dari kursi langsung berdiri. Telinganya berdengung dan jantungnya berpacu dengan cepat. Matanya mengerjap-ngerjap melihat sosok wanita yang berdiri di depannya.

"TIWI?" Indra berteriak tidak kalah hebohnya, dan refleks memeluk Tiwi.

"Capek bat dah gue nyariin lo, darimana sih lo, hah?" Ujar Indra yang masih memeluk Tiwi, kali ini lebih erat.

"Indra lepasin napa, sesak banget gue!" Indra langsung melepaskan pelukannya setelah mendengar ucapan Tiwi.

"Sorry, refleks gue. Jihan mana?" Indra celingak-celinguk mencari bocah perempuan itu.

"Gue jual sama om-om." Ujar Tiwi sinis.

"Astaghfirullah, lo jangan coba-coba. Ponakan lo juga itu." Panik Indra seketika.

Tiwi hanya memutar bola mata jengah.

"Jihan dimana?" Tanya Indra sekali lagi dengan nada yang mulai melembut.

"Om.. Om.. Indla?" Suara serak bocah yang baru bangun tidur mendekat, Jihan mengucek matanya, ia sedang berada di gendongan Ayu.

"Eh, kok bangun?" Tiwi mengalihkan Jihan ke gendongannya.

"Dia terbangun dengar orang teriak-teriak katanya, pas bangun nggak ada kamu di dekatnya. Jadi ya keluar sendiri." Ayu yang menjelaskan, "dia suamimu?" Tunjuknya pada pria yang berwajah tampan itu.

"Iya saya suaminya." Tutur Indra lembut dengan senyum semanis mungkin yang membuat Ayu memerah seketika, Ayu tidak munafik, level kegantengan pria yang ada di depannya di atas rata-rata.

"Kita balik hotel ya? Kita istirahat di sana." Ajak Indra yang langsung diangguki oleh Tiwi dan Jihan.

"Indra, kita ada ngutang makanan tadi, lo aja yang bayar dulu yah, ntar gue ganti deh pas sampai hotel." Tiwi teringat akan hutangnya.

"Yaelah nggak enakan banget, orang lain aja gue yang bayar, masa bini gue nggak sih!" Oceh Indra sebentar lalu mengeluarkan uang seratus ribu dari dompetnya dan menyerahkannya kepada Ayu. Ayu menerima uang itu.

"Tunggu yah, ada kembaliannya." Ayu hendak melangkah ke dalam tapi buru-buru di tahan oleh Tiwi.

"Nggak usah Ayu, ambil aja semua."

Ayu mengernyitkan alisnya. "Jangan dong, ini masih banyakan kembaliannya daripada hutang yang tadi."

"Nggak papa Ayu, suami saya suka sombong, dia nolak uang pecahan 50 rebuan ke bawah." Cara berbalas budi horang kaya.

"Yaudah saya pamit yah, terimakasih banyak."

Ayu hanya mengangguk.

Si pengantin baru dan si ponakan kembali ke mobilnya, siap menuju hotel.

tbc...

1
nanaarmd🌻
kok gak ada ya?
Nanay Dachliawati
ko saya cari ninayaa ga ada
Nanay Dachliawati
ko blm up
Anik Rohman
kapan up lagi kak
Zhulayykha Anniza
lnjuut...
Rere~
seneng deh kakak otor kalok up cerita ni
Fitriyah Azsahrah
buat dong kisah tiffany dan ferrel...atau tiffany ama stefen...😁
ninayaa: Soon..
total 1 replies
Rere~
aku suka somay, Yura
so may i marry u?
kalimat yg bikin aku cekikikan😂
next kak
semangats
semoga bisa up tiap hari hehehe
Rere~
semoga besok bisa up lagi
Rere~
next kak semamgats
Rere~
Maklumin aja lah bang Aldo, Indra kan baru jatuh cinta tuh jadi ya gitu hahaha😂
Rere~
next kak
Zhulayykha Anniza
lanjuuutt.....
Zhulayykha Anniza
lanjuut...
Rere~
next thor
Rere~
akhirnya up juga😚
Anik Rohman
kapan up lagi kak..
Rere~
next thor semangats, awal baca part ini dag dig dug, pas diakhir seneng deh baca keuwuan mereka😂
Rere~
next kak
Mini Sarbini
akhirnya...lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!