NovelToon NovelToon
I Want To Meet My Parents

I Want To Meet My Parents

Status: tamat
Genre:Romantis / Chicklit / Tamat
Popularitas:74.4k
Nilai: 5
Nama Author: Winona R. D nsy

JANGAN DIBACA DULU! MASIH TAHAP REVISI, ENTAR KALIAN GA NGERTI LAGI.

(Prolog - bab 16 SELESAI DIREVISI)

"Nina, kamu harus mencari keluargamu."

"Nina janji. Nina akan menemukan keluargaku."

Aku tahu ini sulit, tapi aku akan berusaha. Namun, janjiku terpenuhi keesokan harinya. Bukankah ini terlalu cepat?

"Tuan Van... gadis kecil ini...?"

"Anakku. Dia adalah anakku."

Aku menemukan ayah angkat yang sangat hebat!!

Lalu setelah itu, seorang wanita muda mendatangiku.

"Putriku.... Ini Ibu, Nak."

"Ibu...? Ibu...?"

Ternyata aku punya seorang ibu yang sangat cantik!

Aku sudah menemukan keluargaku, jadi haruskah aku meninggalkan keluarga angkatku?

Ibu sangat baik, Ayah juga sangat baik!

Kalau begitu, ayo jodohkan mereka!

―――――――――――――

•Update: slow update.
•Cover dari Pinterest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winona R. D nsy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Putri Kecil sedang Sakit

Ketika Lyon keluar dari kamar mandi, dia melihat Nina berbaring tengkurap di atas tidurnya seraya memegang sesuatu di tangannya. Saat mata birunya yang tajam menyadari benda apa yang dipegang Nina, pupilnya melebar.

Itu adalah foto seorang wanita yang telah menghilang dari pandangannya selama tujuh tahun.

Lyon bergegas menghampiri anak perempuan itu, takut kalau dia akan memecahkan foto yang begitu berharga baginya. Namun, langkahnya terhenti ketika dia mendengar kata-kata gadis kecil itu.

"Sangat mirip...."

Matanya membelalak.

'Apa yang sangat mirip? Apa itu?'

Tak lama kemudian, pria berambut pirang itu menyadari maksud dari kata-kata Nina.

Apakah maksud perkataannya bahwa wanita yang ada di bingkai foto itu terlihat sangat mirip dengan seseorang yang pernah ditemui oleh anak itu?

Lyon ingin mengenyahkan pikiran itu dari kepalanya, tetapi hatinya berkata bahwa dia benar.

'Tidak mungkin. Annchi tidak ada di sini, jadi di mana Nina pernah bertemu dengannya?'

Bingung dengan isi pikirannya sendiri, Lyon pun mendekati Nina, yang sudah tertidur.

'Apa kamu kenal wanita ini, Nina?'

Dia ingin menyuarakan isi pikirannya, tetapi lidahnya tidak bergerak, seperti ditahan oleh sesuatu.

Nama panggilan sayang yang diberikan Lyon pada wanitanya adalah 'Annchi'. Mereka sudah berpacaran sejak SMA. Namun, tujuh tahun yang lalu sampai sekarang, wanita itu tidak terlihat lagi dalam pandangannya, seolah-olah menghilang.

Lyon sudah berusaha keras mencari lokasi keberadaan wanita itu, tetapi dia tetap tidak bisa menemukannya, seakan-akan informasi tentang Annchi dikunci dan tak ada seorang pun yang bisa membukanya.

Dia juga sudah menemukan cara lainnya, yaitu mengunjungi kediaman keluarga Annchi, yang termasuk dalam sepuluh besar keluarga bangsawan Kyoxxy, tetapi dia masih belum menemukan informasi apa pun.

Keluarga Annchi menjadi misterius dalam tujuh tahun terakhir.

Jadi, bagaimana bisa Nina, yang tumbuh di panti asuhan, mengenal Annchi, wanita yang ada di bingkai foto itu?

Lyon tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaannya, kemudian tangannya membelai rambut anak itu.

"Mmm...."

Tangan Lyon berhenti bergerak, sedangkan Nina menggeliat dalam tidurnya.

'Apa aku membangunkannya?'

Bertentangan dengan isi pikirannya, anak perempuan manis itu tidak terbangun dari tidurnya, tetapi wajahnya menjadi lebih cerah dan berseri. Lyon berpikir bahwa sepertinya dia sedang bermimpi indah. Ia tanpa sadar tersenyum tipis. Sesaat setelahnya, dia menyadari sesuatu.

'Van Lyon, apakah kamu adalah seorang ayah?'

Lyon merutuki dirinya sendiri ketika mengingat bahwa Nina tidur dengan memakai handuk. Dia sering mendengar bahwa anak-anak rentan terhadap dingin dan mudah terserang flu, apalagi jika dibiarkan tidak berpakaian selama berjam-jam.

'Dasar merepotkan.'

Dia berpikir bahwa mengurus anak kecil adalah hal yang paling merepotkan daripada mengurus pekerjaannya. Namun, entah mengapa, sudut hatinya terasa geli sehingga membuatnya ingin tertawa.

'Jadi, begini rasanya punya anak.'

Setelah itu, Lyon memesan baju anak perempuan yang sedang populer, sebelum akhirnya memakaikan baju itu pada Nina dengan hati-hati, tanpa membuatnya terbangun.

'Sekarang aku bisa diakui sebagai seorang ayah.'

Lyon mengangguk puas sambil mengagumi hasil kerja "kerasnya". Dia mendapat pengalaman baru bahwa memakaikan baju pada anak perempuan adalah hal yang sulit, jadi dia yakin bahwa ibunya sendiri pun akan bangga dengan hasil kerja kerasnya hari ini.

'Baiklah, aku akan membiarkannya tidur untuk sementara waktu.'

Kemudian Lyon menyelimuti Nina agar tidak kedinginan dan keluar dari kamarnya, lantas menuju ruang kerja pribadinya di rumah.

...↬°↫...

"Ummmhh...."

Sosok kecil di atas tempat tidur itu mengerang sambil menggosok matanya. Mata birunya yang bulat berkedip beberapa kali, menyesuaikan dengan cahaya matahari sore yang merayap masuk menuju ruangan yang ditempatinya. Rambut pirangnya disinari cahaya matahari sore dan terlihat seperti berwarna jingga kekuning-kuningan, tampak cantik.

"Uh, ini di mana?"

Nina bertanya pada dirinya sendiri dengan bergumam. Kepala kecilnya melihat sekelilingnya dengan penasaran, sesudahnya ia menyadari bahwa dia masih berada di kamar ayahnya.

"Ah! Ayah!"

Dia berseru dengan mulut terbuka lebar, kemudian berusaha turun dari tempat tidur ayahnya yang cukup tinggi, tetapi tiba-tiba perutnya terasa sakit dan akhirnya dia terjatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk yang cukup keras.

"Ukh, ukh...."

Tidak mempedulikan rasa sakit yang dirasakan tubuhnya ketika jatuh, Nina merintih sambil memegangi perutnya. Wajahnya menjadi pucat. Keringat terus bercucuran di wajah dan punggungnya.

"Agh, sakittt...."

Perutnya terasa sakit, seolah-olah itu dipelintir oleh seseorang.

Nina ingin berteriak meminta tolong, tetapi tubuhnya terasa lemas sehingga hanya ada suara rengekan yang keluar. Matanya yang bulat sudah berair, siap menumpahkan air mata.

"Hik, hiks, huwaaaa! To-tolooong!!"

Akhirnya tangisannya yang sudah dibendung berhasil keluar dengan suara keras. Gadis kecil itu menangis kencang sambil memegangi perutnya yang masih perih.

"Ayaaahhh! Huwaaaaa!!"

Dia terus menangis dan berteriak memanggil ayahnya, berharap yang dipanggil datang kepadanya.

...↬°↫...

Lyon ada di ruang kerjanya yang ada di lantai bawah, ia memeriksa dokumen adopsi Nina yang diberikan Asisten Fai barusan. Pada saat itu, pintu ruang kerjanya terbuka, menampilkan ibunya menatapnya dengan ganas.

"Kamu masih di sini ternyata!"

Wanita itu langsung berteriak dan memarahinya, yang tidak tahu alasan mengapa ibunya datang.

"Kenapa, Bu?" tanya Lyon dengan tenang.

Melihat respons dari putranya, Lien berdecak dan menggebrak meja ruang kerja Lyon.

"Masih tanya kenapa, hah? Kamu belum memberi anakmu makan, 'kan?! Cepat bangunkan Nina!"

"Apa aku harus bangunkan dia dari tidurnya?" tanya Lyon dengan bingung, kemudian berpikir. "Tapi Bu, dia tertidur nyenyak. Aku tidak tega membangunkannya."

Mendengar kalimat terakhir putranya, Lien semakin kesal. Putranya benar-benar tidak peka.

"Sekarang pilih!" katanya sambil memberi Lyon dua pilihan. "Kamu pilih tidak tega membangunkannya atau pilih dia tidak sakit?"

"Tentu saja yang kedua, Bu," jawab Lyon dengan cepat.

"Makanya kamu bangunkan Nina supaya dia tidak sakit! Dia, 'kan, belum makan siang! Kamu ini ayah macam apa, sih!"

Akhirnya Lien mengeluarkan kekesalannya pada Lyon, yang diam membatu ketika mendengar kalimat terakhir ibunya.

Saat itu....

"Ayaaahhh! Huwaaaaa!!"

Suara teriakan kencang yang disertai tangisan terdengar dari lantai dua, mengagetkan kedua orang itu. Sepasang ibu dan anak itu saling pandang dengan ekspresi kaget.

"Nina!!"

Mereka bergegas keluar dari ruang kerja itu dan menaiki tangga menuju lantai dua.

"Di mana Nina?!" tanya Lien dengan tidak sabar.

"Dia ada di kamarku, Bu."

Lien segera mempercepat langkahnya menuju kamar putranya.

Setibanya di sana, Lyon membuka pintu kamarnya dengan keras sambil berteriak, "Nina!"

Dia tidak melihat Nina di atas tempat tidur, kemudian Lyon mendengar suara tangisan. Ia segera menuju ke sana dengan tergesa-gesa.

"Hiks, hiks, huwaaaa!"

Di lantai, Lyon bisa melihat Nina menangis di sana sambil memegangi perutnya. Ketakutan yang aneh merayap masuk ke hatinya.

"Nina!"

"Ayaaahhh!"

Anak perempuan itu memanggilnya dengan nada merintih dan berusaha menggapainya dengan tangan kecilnya, segera Lyon menggendongnya dan memeluknya dengan erat.

"Nina kesakitan, Ayah! Huwaaaa!"

"Di mana yang sakit?"

"Di sini, hik, ini...," jawab Nina sambil cegukan, ia menunjuk ke arah perutnya.

Mendengar rintihan cucunya, Lien bergegas memghampiri Nina yang berada di gendongan Lyon.

"Astaga! Cepat panggil dokter!!"

Ia berteriak dan berlari menuju pintu seraya memerintahkan para pelayan menelepon dokter keluarga Van, sedangkan Lyon mengamati bagian yang dikatakan sakit oleh Nina dengan pandangan serius.

...↬°↫...

"Sepertinya Nona Muda memiliki penyakit gangguan pencernaan," kata seorang pria setelah memeriksa kondisi anak perempuan yang berbaring di atas tempat tidur.

"Apa maksudnya, Dokter?" tanya Lyon dengan dingin.

Dokter pria itu langsung berkeringat banyak ketika mendengar nada orang yang berbicara dengannya.

"Be-begini, Tuan. Penyakit itu disebabkan karena Nona Muda telat makan. Dia harus makan tepat waktu, dan ada beberapa makanan yang terlarang untuknya."

"Makanan apa yang terlarang untuk putriku?"

Dokter itu mengamati Nina dan menjawab, "Yah, itu tergantung perut Nona Muda yang mencerna makanannya. Biasanya, saat Nona Muda memakan ini atau itu, maka dia akan sakit perut. Jadi, Nona Muda tidak boleh memakan makanan yang membuatnya sakit perut. Itulah kenapa namanya makanan terlarang."

"Begitu."

Lyon memgangguk paham, sedangkan Lien tersenyum lega.

Nina, yang mendengar penjelasan dari dokter, menurunkan tatapannya. Dia sudah menduga bahwa dokter keluarganya akan mengatakan hal yang sama dengan dokter yang ada di panti asuhan.

"Nina."

"I-iya!"

Gadis kecil itu menjawab dengan kaget ketika Lyon memanggilnya.

"Makanan apa yang membuat perutmu sakit?"

"Oh, itu...."

"Apa?"

"Saat aku makan makanan yang pedas...."

Lyon mengangguk mengerti dan menatap dokter pria di sampingnya.

"Berikan obatnya."

"Baik, Tuan."

Lyon dan dokter pria itu pindah posisi menjadi lebih jauh dari Nina, sedangkan Lien menghampirinya dengan wajah khawatir.

"Nak, kamu baik-baik saja, 'kan? Apa perutmu masih sakit, hm?"

"Nina baik-baik saja, Nek. Perut Nina juga udah gak apa-apa, kok," jawab Nina sambil tersenyum lebar dan menjadi ceria seperti sebelumnya.

Dia tahu bahwa keluarga barunya sangat mengkhawatirkannya, tetapi Nina tidak ingin membuat mereka lebih khawatir dengan mengatakan bahwa perutnya masih sakit.

"Benar kamu tidak apa-apa?"

Lien kembali bertanya dengan ragu, lalu Nina membalas dengan anggukan.

"Ya! Nina gak apa-apa, huk...."

Sebelum ucapannya selesai, ada sesuatu yang menghambat tenggorokannya. Nina menutup mulutnya dengan cepat.

'Gak! Jangan dulu!!'

Dia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi dia tidak ingin membuat suasana menjadi lebih khawatir.

"Ni-Nina? Kamu kenapa?"

"Ah, ini! Nina mau buang angin dulu! Biasanya Nina tutup mulut dulu supaya suara yang keluar gak terlalu besar! Hehe," jawab Nina dengan riang, kembali tersenyum. "Sekarang udah! Gak ada suaranya, 'kan, Nek?"

"Oh, iya... Nenek tidak mendengar suara apa pun, kok."

Lien, yang berpikir bahwa apa yang dikatakan cucunya adalah kebenaran, juga ikut jujur. Lalu mereka tertawa seolah-olah kejadian tadi lucu. Dari kejauhan, Lyon memperhatikan mereka sambil tersenyum tipis, kemudian membawa dokter pria itu ke ruang kerjanya agar diberi penjelasan lebih rinci tentang penyakit Nina.

...↬°↫...

"Huweeek...."

Suara muntahan terdengar dari dalam kamar mandi. Tangan kecil itu yang menopang tubuhnya terasa bergetar. Sesuatu yang berusaha dia tahan pada akhirnya keluar dari mulutnya.

"Haa... haa... haaa!"

Napas anak kecil itu tersengal-sengal. Kemudian dia membuka keran wastafel, membuat cairan muntahannya hilang dalam sekejap, lalu dia mencuci wajahnya. Meski sudah merasa lebih baik daripada sebelumnya, tangan dan kakinya masih bergetar. Tubuhnya terasa lemas.

Nina menatap pantulan dirinya di cermin, yang ada di hadapannya. Wajahnya masih pucat seperti beberapa jam sebelumnya.

"Setelah ini...."

Dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, karena dulu ketika masih berada di panti asuhan, dia pernah mengalami kejadian hari ini.

Penyebabnya karena dia terlambat makan.

"Hufffttt...."

Nina mengembuskan napas panjang. Bayang-bayang tentang aroma rumah sakit dan obat-obatan sudah berkumpul di kepalanya. Juga tentang jarum suntikan yang pernah menyuntik tangannya.

"Aku gak mau di rumah sakit lagi," gumamnya, setelah itu dia mengelap tangannya yang basah sampai kering, kemudian menyentuh keningnya. "Tuh, 'kan. Bagian ini udah terasa panas."

Setelah mengeluarkan isi perutnya, tubuhnya akan terasa panas dan akan sulit sembuh dalam waktu seminggu. Jika sudah lebih dari seminggu dan sakitnya belum juga mereda, maka jalan satu-satunya adalah dirawat inap di rumah sakit.

Dan Nina tidak mau dirawat di sana lagi.

'Kalau begitu, aku harus kasih tau Ayah supaya aku minum obat yang biasanya aku minum! Bukan obat dari dokter tadi yang hanya obat gangguan pencernaan biasa!'

Mengepalkan tangan kecilnya, Nina keluar dari kamar mandi dan menuju kamar ayahnya.

――――――――――――――

TBC!

1
N_A
HAI KAK IJIN PROMO YA.
HAI SEMUA MAMPIR YUK KE KARYA
"TERPAKSA BERSAMA" DAN "MAMA APA AKU PUNYA PAPA"
AKU TUNGGU
TERIMA KASIH 🙏
Arya Husni
Update cepat,saya menantikan episode seterusnya.Ceritanya memang 👍👍👍terbaik dn best😃😃^_^^_^^_^
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
IG: gabriella_mgd
Halo thorr 🤗

penulisannyaa rapiih 💕👍👍👍

Like sudah mendarat dengan selamat sampai siniii

Jgn lupa mampir yaa ke ceritaku

Makasihh 🙏🏻😁
Riana Nazwa
ceritanya bagus kak aku suka

bdw mampir juga ya kak di novelku judulnya[cinta segi tiga]
yutantia 10
semangat
salam dari CINTA DIWAKTU YANG SALAH
ditunggu mampir baliknya
yutantia 10
aku mampir thor
Sumarny
lanjuut
Winona Spica: makasih udh baca💗
total 1 replies
Nada
bisa ae lu Thor😂

semangat up ny Thor 😘
Winona Spica: makasih udh baca😆
total 1 replies
Nureti
hai kak 👋
sukses untuk karyanya

jangan lupa mampir di karyaku yang menceritakan cowok letoy yang selalu ditolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.

Terimakasih 🙏
Susi Ana
kereeeennnn...
Kanaya 🐺.
lanjut kak seru heheheheh..........,semangat ya kak aku dukung😁
Winona Spica: makasih dukungannya🤗😆
total 1 replies
Arimbi E.D
next thor ><
Winona Spica: ditunggu ya :D
total 1 replies
pecinta makanan
lanjut Thor
Winona Spica: ditunggu ya, makasih udh baca^^
total 1 replies
Gribelion
bisa luang kan waktu anda untuk membaca novel ku Hidden Feeling 😁✌️
emul
Lanjut thor...semangat
Winona Spica: ditunggu ya^^
total 1 replies
emul
Lanjut thor
Winona Spica: ditunggu ya^^
total 1 replies
emul
MERDEKA...semanagàt thor
Winona Spica: makasi^^ ditunggu ya~
total 1 replies
emul
Lanjut thor
Winona Spica: ditunggu ya~😘
total 1 replies
emul
Lanjut thor' ttp semangat
Winona Spica: oke, tunggu ya~
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!