Liam tidak pernah merasakan cinta sebelum bertemu dengan Lyra Maharani, perempuan yang masih terikat dengan masa lalunya hingga membuat Liam meradang lantaran cintanya tak kunjung disambut oleh Lyra.
"Menikahlah denganku." -Liam Malik
"Saya tidak bisa."-Lyra Maharani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalu Unaiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9
Lyra memasuki mansion dengan langkah penuh harap. Sekarang masih pukul setengah enam, majikannya Liam masih belum pulang.
Lyra melangkahkan kakinya menuju dapur mencari keberadaan Bi Mirah. Jam segini perempuan itu pasti sudah berkutat di dapur mulai menyiapkan makan malam. Benar saja, Bi Mirah terlihat di dapur.
“Bibi...” Panggil Lyra saat memasuki dapur.
Dengan raut sedikit terkejut Bi Mirah menoleh. Bi Mirah lalu mengulas senyum tipis. “Bagaimana keadaan Sofia?” tanyanya kemudian.
Hal pertama yang terlintas di fikiran Bi Mirah saat melihat Lyra adalah menanyakan keadaan Sofia.
Lyra mendekat, berdiri di samping Bi Mirah yang sedang mengupas bawang.
“Sofia masih belum sadar Bi,” ucap Lyra lemah.
Bi Mirah meletakkan pisau dan bawang di tangannya setelah mendengar itu, dia kemudian memutar badannya menghadap Lyra yang sedang menatapnya dengan tatapan sedih. Raut perempuan itu penuh kesedihan.
“Lalu apa kata dokter?” Bi Mirah kembali bertanya.
“Dokter mengatakan bahwa Sofia harus segera dioperasi,” seru Lyra lemah.
Mendengar itu Bi Mirah membekap mulutnya sendiri, perempuan tua itu menggeleng lemah. “Kasihan sekali Sofia,” ucap Bi Mirah bersimpati.
Bi Mirah meraih tangan Lyra lalu menepuknya pelan. “Sofia akan kuat, dia akan bertahan seperti Ibunya, Sofia anak yang kuat maka dari itu kau juga harus kuat, cobaan ini pasti bisa kau lewati.” Bi Mirah menguatkan sembari menepuk pelan punggung tangan Lyra.
Lyra hanya mengangguk, perempuan itu menunduk menahan tangisnya. Dia sekarang sedang bingung, bagaimana caranya mengatakan kepada Bi Mirah bahwa dia membutuhkan uang. Rasanya sangat berat untuk mengatakannya, kalimatnya sudah berada di ujung lidahnya namun rasanya berat untuk mengatakannya.
“Bibi...”
Lyra mencoba memberanikan diri untuk mengatakan maksudnya. Dia diserang gugup, sekarang tangannya balik memegang kedua tangan Bi Mirah.
“Ada apa? Apa yang bisa Bibi bantu?”
Lyra mengangkat kepalanya, matanya berbinar penuh harap.
“Bibi, apa boleh aku meminjam uang untuk biaya operasi Sofia, uang tabungan yang kumiliki sangat kurang. Aku berjanji, aku tidak akan pernah berhenti bekerja di sini sampai aku membayar Bibi lunas,” ucap Lyra mengutarakan maksud kepulangannya. Harapannya besar bahwa Bi Mirah bisa membantunya.
Bi Mirah tersenyum pias.
“Bukan Bibi tidak ingin membantu, hanya saja satu bulan yang lalu, Edo, putra sulung Bibi barus saja membeli tanah di kampung, uang tabungan Bibi sudah terpakai untuk menambahi.” Bi Mirah menjawab dengan tidak enak.
“Sekarang Bibi hanya punya lima juta, uang pegangan Bibi, meski sedikit pakai saja itu untuk membantu, Bibi ikhlas,” tambahnya.
Lyra tak kuasa menahan tangisnya. Dia menunduk dalam, bukan karna ternyata Bi Mirah tidak bisa membantunya, tapi karna merasa bersalah terus-terusan merepotkan dan menyusahkan orang-orang di sekitarnya.
“Maaf, Bibi tidak bisa membantu banyak,” ucap Bi Mirah merasa bersalah.
Lyra menggeleng. “Tidak apa-apa Bi, justru aku yang seharusnya meminta maaf, aku terus-terusan menyusahkan Bibi,” lirihnya.
“Bibi sama sekali tidak pernah merasa disusahkan, Bibi malah senang jika bisa membantumu. Apa pun yang Bibi lakukan tidak akan pernah bisa membalas jasa Bapak dan Ibumu kepada Bibi dan keluarga, jadi jangan merasa sungkan jika ingin meminta bantuan kepada Bibi, sebisa mungkin Bibi akan membantu,” ucap Bi Mirah panjang.
“Terima kasih Bi, aku sangat beruntung bisa bertemu Bibi di saat aku tidak memiliki siapa-siapa lagi.”
Beberapa saat kemudian Lyra sudah mulai bisa menguasai emosinya, dia lalu mengusap wajahnya yang basah karna air mata. Mencoba tegar meski sekarang dia harus kembali mencari harapan lain, orang yang mungkin bisa menolongnya.
“Kalau begitu aku pergi dulu Bi, maaf tidak bisa membantu menyiapkan makan malam,” pamit Lyra.
“Kau mau kemana?” Tanya Bi Mirah menghentikan Lyra yang hendak melangkah.
“Aku harus mencari pinjaman Bi, untuk menambahi biaya operasi Sofia, aku tidak bisa terus-terusan diam seperti ini, mungkin saja diluar sana aku bisa bertemu seseorang yang bisa menolong,” jelas Lyra.
Bi Mirah menggeleng. “Kenapa kau tidak mencoba meminta bantuan kepada Tuan Liam, beliau tidak akan kesulitan meminjamimu uang ratusan juta.” Bi Mirah berkata penuh keyakinan.
Mendengar itu seketikan fikiran Lyra terbuka, ya benar, mengapa sejak awal tidak terfikirkan untuk meminjam uang kepada majikannya itu, dari yang dia tau dari Bi Mirah, Liam adalah orang yang cukup dermawan apa lagi kepada pekerja yang bekerja padanya.
Lyra menatap Bi Mirah dengan tatapan ragu, namun dengan yakin Bi Mirah mengangguk. “Coba saja dulu, tidak ada salahnya jika kau mencoba.” Kalimat tersebut membuat Lyra semakin yakin untuk menunggu majikannya itu pulang dan mengumpulkan keberanian untuk meminta bantuannya.
***
Liam menatap perempuan di hadapannya itu dengan tatapan penuh selidik. Perempuan itu terlihat takut padanya. Sejak memasuki ruangannya tidak sekalipun perempuan itu mengangkat wajah untuk menatapnya, seolah lantai mengkilap di bawah kakinya itu jauh lebih menarik dari wajah tampan Liam.
“Jika kamu hanya ingin memandangi ubin lantai itu, kamu bisa melakukannya di luar, saya masih memiliki pekerjaan lain, dan keberdaanmu di ruangan ini menggangu pandangan saya.”
Ucapan dingin penuh sindiran dari Liam seketika membuat Lyra mengangkat wajahnya. Seketika pandangannya langsung bertemu dengan mata tajam milik Liam, rupanya sejak tadi majikannya itu sudah memperhatikannya.
“Maaf Tuan,” cicit Lyra, bibirnya lalu mengulas senyum masam.
Sejak tadi Lyra mencoba menyusun kalimat sebaik mungkin. Berbicara bertatap muka dengan Liam bukan sesuatu yang mudah, apa lagi laki-laki itu kentara sekali sangat tidak menyukai Lyra.
“Kalau kamu masih ingin melamun, sebaiknya kamu lakukan di luar. Jangan membuang-buang waktu saya untuk sesuatu yang tidak penting.” Liam memutus tatapannya dengan Lyra, laki-laki itu kemudian menatap ke arah dokumen yang menumpuk di atas meja kerjanya.
“Saya ingin menyampaikan sesuatu Tuan,” seru Lyra setelah mengumpulkan keberanian.
“Katakan,” balas Liam dingin.
Pandangannya kembali tertuju pada Lyra di hadapannya. Sebenarnya dia cukup penasaran tentang apa yang akan disampaikan oleh Lyra padanya.
“Putri saya sedang sakit keras.” Lyra menjeda. Perempuan itu melipat bibirnya, ragu apakah dia hendak melanjutkan kalimatnya atau tidak.
“Lalu?” Liam bertanya tidak sabar.
Tangan Lyra yang berada di depan tubuhnya saling meremas, keringat dingin membasahi keningnya melihat tatapan Liam yang semakin menajam. Sebelah alis laki-laki itu naik. Lyra tidak tau itu adalah pertanda baik untuknya atau bahkan sebaliknya.
“Putri saya harus segera menjalani operasi pada jantungnya.”
Alis Liam menjadi mengkerut mendengar itu. “Jangan bertele-tele,” selanya.
“Apakah Tuan bisa menolong saya dengan meminjamkan saya uang untuk biaya operasi putri saya?” Tanya Lyra dengan suara terbata. Dia memejamkan matanya sebentar setelah berhasil mengucapkan sederet pertanyaan itu.
“Meminjam uang?” Ulang Liam. Lyra mengangguk. Dia menatap Liam penuh harap, seolah-olah hidupnya sekarang bergantung pada kebaikan hati laki-laki di depannya itu.
Liam terlihat berfikir sebentar. “Saya tidak pernah meminjamkan uang kepada siapa pun,” lanjutnya.
Seketika bahu Lyra merosot, kepalanya menunduk, seolah harapannya menghilang begitu saja setelah mendengar kalimat Liam.
“Tapi saya bisa memberikannya.” Liam melanjutkan kalimatnya.
Setelah mendengar itu Lyra langsung mengangkat wajahnya, kembali menatap penuh harap pada Liam yang sedang memasang ekspresi yang sulit diartikan.
“Tapi perlu kamu tau, di dunia ini tidak ada yang gratis, semau hal ada harganya.”
“Saya tau Tuan,” jawab Lyra cepat.
“Jika saya memberikan uang itu, apa yang bisa kamu berikan untuk saya?”