Kaileya telah susah payah bangkit dari keterpurukan masa lalu, kini berhasil membangun kariernya. Namun, sekarang dia dihadapkan dengan pilihan sulit. Dirinya harus memilih antara karier atau buah hati karena atas desakan agensinya.
Bagaimana caranya ia harus bisa memilih antara dua pilihan yang begitu sulit?
Ditengah perjuangan melawan semua tantangan. Justin Killer seorang laki-laki dari masa lalu yang kehadirannya tak pernah diinginkan, kini kembali ke dalam hidupnya. Dia mencoba masuk untuk menjadi bagian di antara Kaileya dan kedua anaknya.
Lantas, langkah apa yang harus Kaileya ambil? Apakah dia akan meninggalkan kariernya? Ataukah dia akan meninggalkan buah hatinya demi mempertahankan karier?
Lalu, apakah kehadiran Justin akan diterima kembali oleh Kaileya atau malah sebaliknya?
Tolong Dibaca Setiap Bab Baru Update, ya!
Jangan ditabung. Don't be silent readers 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sisakata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Acara Di Sekolah
“Aduh … kalian kenapa nangis, Sayang?” Kaileya langsung memeluk kedua buah hatinya yang tiba-tiba terisak.
“Mommy, gak mau ikut ke acara sekolah kita, ya?” tanya si kembar berbarengan.
Benar, isi dari amplop tersebut adalah undangan untuk seluruh wali murid, yang diperkenankan untuk berhadir dalam acara persembahan para murid-murid kepada orang tua masing-masing.
Kedua tangis dan tanya anak itu terdengar sangat pilu. Pikiran kedua anak kembar itu kini sedang diserang rasa cemas, karena mereka takut jika sang ibu kembali tidak ikut membersamai acara di sekolah.
“Mommy, gak bisa ikut lagi ke acara sekolah?” tanya Lyka dengan wajah yang bersimbah air mata.
Seketika Kaileya semakin merasa bersalah kepada kedua anaknya. Kaileya semakin mengeratkan pelukannya kepada kedua anaknya. Benar, pernah beberapa kali ia mendapatkan surat undangan untuk menghadiri acara di sekolah si kembar. Namun, yang Kaileya memilih untuk tidak berhadir dengan digantikan oleh Sara. Kaileya melakukan itu semua demi menjaga privasinya dan juga menjaga keamanan kedua anaknya.
Justin melihat bagaimana anaknya terisak yang sedang dipeluk oleh Kaileya–istrinya. Hati Justin sangat sakit melihat air mata kesedihan yang dikeluarkan oleh dua buah hatinya dan orang tercintanya.
“Mommy, pasti datang, Sayang.”
Kaileya melerai pelukannya dan menghapus lembut air mata pada kedua pipi anaknya.
“Betulan, My?” tanya Liam memastikan pada mommy-nya.
“Iya, Sayang, nanti Daddy juga ikut. Iya, kan, Dad?” tanya Kaileya menuntut jawaban persetujuan dari laki-laki dewasa itu.
“Iya, Daddy pasti ikut juga.” Justin langsung menganggukkan kepalanya dan tak lupa menerbitkan senyumnya kepada ketiga orang tercintanya.
Setelah menyahuti pernyataan sang istri. Laki-laki itu menyempatkan diri untuk mengedipkan matanya ke arah Kaileya. Hal itu membuat Kaileya langsung mendelik kesal terhadap kegenitan sang suami yang tak henti menggoda dirinya.
“Yeay … yeay …!” pekik Liam dan Lyka kegirangan karena kedua orang tuanya akan ikut di acara mereka.
***
Di dalam aula yang sangat luas, dengan dekorasi yang sangat mendominasi ciri khas kanak-kanak. Suara mikrofon menggema di setiap sudut ruangan dan suara tepuk tangan yang ikut memeriahkan persembahan yang akan ditampilkan.
Di atas panggung Liam dan Lyka berdiri bersama dan kemudian membuka sebuah kertas yang lumayan lebar.
“Hai, teman-teman semuanya.” Suara Liam dan Lyka menyapa semua penonton.
“Kami berdiri di sini, mau bilang kalau lukisan kami udah sempurna,” ucap Liam memberitahukan kepada semua orang.
Semua orang yang menghadiri acara tersebut, bisa melihat lukisan sepasang pria dan wanita dewasa dan juga dua anak kecil yang berbeda jenis kelaminnya.
“Dulu di lukisan ini hanya ada mommy dan kami berdua saja, tapi sekarang di lukisan kami, sudah ada daddy juga,” lanjut Lyka dengan senyum yang sumringah saat menjelaskan perubahan gambar yang telah mereka berdua lukiskan.
“Dan daddy sama mommy hari ini ada ikut di acara ini,” terang Liam. “Itu mereka.” Liam menunjuk ke arah posisi duduk kedua orang tuanya.
Suara tepuk tangan dari wali-wali murid terdengar bergemuruh, ketika mendengar ucapan akhir Liam dan kembarannya. Mereka juga ikut menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Liam.
Kaileya dan Justin tersenyum kepada wali-wali murid yang melirik ke arah mereka. Ia tidak menyangka jika dirinya akan dibuat sedih dan sebahagia ini oleh pertunjukan kedua anaknya.
“Hanya itu yang ingin kami sampaikan. Kami hanya ingin kalian semua tau, jika kami juga mempunyai daddy seperti teman-teman yang lain.” Liam dan Lyka mengakhiri persembahannya. Lalu, kedua anak itu turun dari panggung dan ikut berkumpul kembali dengan teman-teman sebayanya.
Kaileya bertepuk tangan mengapresiasikan pertunjukan kedua anaknya. Wanita cantik itu sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya, ia terlanjur terharu dengan semua ucapan buah hatinya. Kaileya langsung membalikkan badannya ke arah Justin dan menyembunyikannya wajahnya di balik dada bidang pria tersebut.
Justin hanya bisa menenangkan istrinya dengan sesekali mengusap lembut pucuk kepala sang istri. Ia juga tak kalah terharu dengan semua yang diucapkan putra dan putri kecilnya di atas panggung tadi. Ia bahagia dan bersedih dalam satu keadaan.
“Udah, Sayang, nanti si kembar datang, masa liat mommy-nya nangis.” Justin bersuara untuk menenangkan sang istri yang masih terharu sedih.
***
Satu persatu pertunjukan dari murid-murid yang lain juga telah selesai dipertunjukkan. Kini acara telah usai dan masing-masing dari murid-murid tersebut mendatangi orang tuanya masing-masing.
“Mommy …,” panggil Lyka dan Liam langsung menghamburkan pelukan pada Kaileya.
“Wah … anak Mommy tadi sangat keren,” puji Kaileya lagi terhadap pertunjukan anaknya.
Kaileya mensejajarkan tubuhnya sama dengan tinggi sang anak. Kaileya terkejut ketika melihat wajah kedua anak kembarnya yang sudah meneteskan air dari mata. Dengan cepat Kaileya menyeka air tersebut, agar tidak lagi membuat anaknya terlihat lemah.
“Ada apa, Sayang? Kenapa nangis? Pertunjukan Sayang-sayangnya Mommy tadi bagus banget,” puji Kaileya kembali.
Kaileya rasa jika anaknya menangis karena mereka merasa jika pertunjukannya tidak bagus, tapi ternyata bukan itu alasan kedua balita tersebut.
“Semua kawan ejek-ejek Kakak dan Adek. Mereka bilang kami telat punya daddy. Beda sama mereka yang udah punya daddy sejak dari kecil,” adu Liam dan Lyka dengan suara yang bergetar karena kedua anak itu menahan tangisan.
Kaileya menatap Justin yang juga ikut menyetarakan tingginya dengan tinggi si kembar. Kaileya menatap mata Justin dalam-dalam.
“Nggak, kok, Sayang.” Justin mengambil alih untuk memeluk kedua anak menggemaskan itu.
Begitu pula dengan Justin yang ikut menatap sang buah hati dengan perasaan sakit, ketika sang anak diejek demikian oleh teman sekolahnya.
Maafkan, Mommy, Sayang, batin Kaileya tak sanggup melihat air mata anaknya yang kembali berjatuhan.
Kaileya semakin merasa bersalah pada anaknya. Akibat kesalahan dirinya dan Justin di masa lalu, yang kini berimbas pada anak-anaknya.