Berliana, seorang polisi wanita yang harus berpura-pura mencintai seorang buronan bernama Gabriel.
Saat akad nikah, polisi datang untuk menangkap Gabriel.
"SEENGGAKNYA GUE HANYA PENJAHAT BUKAN PENGKHIANAT SEPERTI LO! YANG MENJADIKAN CINTA SEBAGAI MAINAN," ucap Gabriel dengan menahan amarah yang berkecamuk di hatinya.
"Aku memang jahat, tapi apa yang kau buat ini lebih jahat. Aku yang bersalah, kenapa hatiku yang kau hukum?" tanya Gabriel dengan mata berkaca.
Mama mohon baca setiap bab tanpa menunggu tamat. 🙏🙏
Terima kasih.
Note : cerita hanya fiksi belaka, apa bila ada kesamaan kejadian atau tempat hanya kebetulan belaka. 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Melamar Pekerjaan
Berliana menyusun semua barang miliknya. Dia akan mencari kontrakan saja untuk mereka tinggal. Setelah wanita itu pikirkan, dia akan menetap di kota ini. Tadi Berliana telah mencoba mencari lowongan pekerjaan dan ada satu kafe terdekat dari losmen ini yang membutuhkan karyawan.
"Ibu, kita mau kemana?" tanya Nicole, melihat ibunya menyusun barang-barang mereka.
Berliana tersenyum, dan mengecup pipi putrinya. Bersyukur putrinya masih kuat beberapa hari ini. Tidak ada mengeluh sakit atau apa pun itu.
"Kita akan mencari kontrakan. Ibu juga akan mencari pekerjaan. Sambil mencari keberadaan ayah, ibu harus tetap mencari uang buat kita makan," ucap Berliana dengan senyum yang selalu merekah di bibirnya.
"Ibu, aku sudah tidak inginkan ayah lagi. Bagiku Ibu sudah segalanya. Aku hanya inginkan Ibu," ucap Nicole.
Berliana memandangi putrinya dengan intens, setelah bocah itu mengucapkan kata tadi. Dia tahu jika anaknya masih ingin bertemu dengan ayahnya. Jika dia berkata seperti tadi, itu semua hanya karena Nicole tidak mau melihat dirinya sedih.
Berliana langsung memeluk tubuh mungil putrinya. Dia menahan sebak di dada agar tidak terlihat kesedihannya.
"Kita pergi sekarang?" tanya Berliana dengan sengaja mengalihkan obrolan.
Setelah menyusun semua barang, Berliana memanggil taksi online. Keduanya masuk ke taksi dan meminta supir langsung menjalankan taksi menuju alamat yang dia inginkan.
Sampai dikontrakan yang direkomendasikan sama pekerja losmen tadi. Berliana menemui pemilik kontrakan dan membayarnya buat tiga bulan mendatang.
Berliana dan Nicole masuk ke rumah kontrakan tersebut. Kontrakan itu sangat bersih walau tidak ada penghuni. Kontrakan juga dilengkapi tempat tidur dan lemari pakaian. Ada kompor dan peralatan masak seadanya.
Berliana mandi setelah membersihkan kontrakan. Dia akan melamar ke restoran yang ada dekat rumahnya ini. Wanita itu akan mencari pekerjaan yang mengizinkan membawa anak.
Berliana melihat anaknya telah terlelap. Dia mendekati putri kecilnya. Mengusap pipi mungil itu pelan dan lembut. Takut gerakannya membangunkan putrinya.
"Maafkan Ibu, Nak. Sampai detik ini belum bisa membuat kamu bahagia," ucap Berliana sambil menatap wajah mungil putrinya.
"Tuhan, bila bahagia bukan milikku, maka bahagiakanlah anakku. Janganlah Engkau mengujinya seperti Engkau telah mengujiku. Aku menerima dengan ikhlas semua kesakitan, dan kepahitan ini, bila hadiahnya adalah untuk kebahagiaan anakku. Aku mungkin bukan wanita yang baik, tapi aku juga butuh kehidupan yang baik dan mental yang baik. Aku cuma wanita biasa yang punya rasa sakit dan sedih, tapi aku mencoba ikhlas. Tidak apa-apa aku terluka, asal jangan anakku. Cukup aku yang merasakan betapa kerasnya dunia ini. Anakku harus bahagia," ucap Berliana dalam hatinya.
**
Sore hari, Berliana dan Nicole berjalan menuju sebuah restoran. Dengan langkah pasti keduanya masuk ke restoran.
Berliana memandangi papan pengumuman di depan restoran itu dengan hati yang berdebar-debar. Di sana tertulis, "Dibutuhkan karyawan untuk posisi pelayan." Restoran itu cukup terkenal. Banyak pengunjung datang setiap harinya. Berliana yakin, ini akan menjadi tempat yang efektif untuk mendapatkan penghasilan yang lebih stabil.
Namun, dia tidak tahu kemana harus membawa anaknya. Nicole yang berusia 5 tahun dan dia tidak ingin meninggalkannya terlalu lama di rumah kontrakannya.
"Maaf, apakah boleh saya menanyakan sesuatu?" kata Berliana pada pria yang berdiri di depannya. Dari tanda pengenal yang tergantung di leher, dia merupakan manajernya.
"Tentu saja, ada yang bisa saya bantu?" kata pria itu dengan senyumnya.
"Aku melihat pengumuman bahwa restoran ini sedang mencari karyawan. Saya sangat berminat melamar tapi bisakah saya membawa anak saya bersama saat bekerja?"
Pria itu memandangku dengan bingung. "Maaf, saya tidak yakin. Kita biasanya tidak mengizinkan anak-anak bekerja di sini."
"Aku tidak bermaksud untuk menjadikan anakku sebagai karyawan. Aku hanya ingin membawanya bersama saya karena saya tidak punya tempat lain untuk meninggalkannya," ucap Berliana berharap.
Pria itu merenung sejenak sebelum mengangguk. "Baik, kurasa bisa dicarikan solusinya. Namun, kamu harus membuktikan bahwa anakmu tidak akan mengganggu pekerjaanmu. Aku di sini hanya manajer, bukan pemiliknya."
Berliana merasa sangat lega dan bersyukur. "Terima kasih banyak, saya akan membuktikan bahwa anak saya tidak akan mengganggu pekerjaan saya."
Setelah melewati beberapa tahap interview, akhirnya Berliana diterima sebagai karyawan di restoran itu. Lagi pula, dengan adanya anak yang ikut serta, aku lebih bersungguh-sungguh untuk menyelesaikan tugas dengan cepat dan tepat.
Besok dia akan langsung bekerja. Berliana senang mendengarnya. Dia mengajak Nicole pergi dari restoran itu. Sebelum kembali ke kontrakan, wanita itu membeli bahan makanan untuk mereka makan malam.
"Sayang, mulai besok, ibu akan bekerja. Seperti biasanya kamu bisa bermain saat ibu bekerja." Berliana mencoba mengingatkan anaknya.
Sampai di kontrakannya, Berliana masak di bantu putrinya itu. Setelah makan malam, Berliana mengajak putrinya beristirahat di kamar.
"Ibu, kapan aku bisa sekolah lagi?" tanya Nicole. Dia kangen suasana sekolah dan temannya.
"Ibu akan mencari sekolah yang sesuai denganmu saat libur kerja nanti," ucap Berliana.
"Baik, Bu. Aku ingin memiliki banyak teman!" ucap Nicole senang. Berliana hanya menjawab dengan senyuman.
Setelah cukup lama berbincang dengan putrinya itu, Berliana merasa ngantuk dan mengajak anaknya tidur.
"Selamat malam, Sayang. Semoga mimpi indah," ucap Berliana sebelum berbaring.
"Selamat malam juga, Ibu. Selamat bobok," ucap Nicole.
Keduanya berbaring untuk menghilangkan rasa letih dan masalah hidup untuk sementara. Setengah jam keduanya telah terbang ke alam mimpi.
Tengah malam Berliana terbangun. Dia tak sengaja melihat wajah anaknya yang sedang tertidur pulas. Berliana menatap wajah putrinya dengan lama.
Sambil menghela napas, Berliana mengusap rambut bocah cilik itu dengan lembut, dia berkata dalam hati, "Jika aku hancur tidak apa-apa Tuhan, asalkan jangan anakku. Aku menderita tidak apa-apa asal bahagiakan anakku. Doakan ibumu ini sukses dan panjang umur agar ibu bisa memenuhi semua keinginanmu. Agar kamu tidak merasa kekurangan apa pun dalam hidup ini. Semoga keinginan kamu untuk bertemu ayah suatu saat terkabul."
Cukup lama Berliana termenung memikirkan nasib putrinya. Dia tidak tahu, apakah keinginan putrinya untuk bertemu ayahnya akan dapat terwujud.
...----------------...