NovelToon NovelToon
BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius / Pengantin Pengganti / Pihak Ketiga / Tamat
Popularitas:166.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Qiev

Kecelakaan tragis merenggut nyawa suami sekaligus guru ngaji yang baru saja menikahinya.

Garis nasib pun jungkir balik setelah dia ditemukan tanpa sengaja oleh Andreas. Di bawah ancaman, Malya syakia dijadikan tumbal pada Biantara Cakra guna menutupi skandal.

Setelah iddah, dia harus menikah dengan pria penoreh duka laranya. Identitas palsu pun terkuak, menjadikan Malya tahanan dalam pernikahan kamuflase.

Suatu hari, dirinya dipaksa tetua Cakra untuk melepaskan Meeza atau masuk bui dengan tuduhan dalang komplotan penipuan identitas.

Apa keputusan Malya? Bagaimana reaksi Meeza melihat bundanya diperlakukan semena-mena?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Qiev, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9. PINKY PROMISE

Keesokan pagi.

Seperti biasa, Malya membantu para maid menyiapkan hidangan sarapan. Sakit mendera pun dia tepis demi agar Beatrice tak berkicau.

Tak lama, Bian turun bergabung dengan para sesepuh Cakra sementara Malya hanya berdiri di sisi meja makan, melayani penghuni. Tidak ada yang menegurnya kecuali Brandon, kakek baik hati pendiri Cakrawala.

"Maria, duduklah. Makan sarapanmu. Belum juga satu bulan, kau terlihat tirus. Apa Bian memaksamu diet?" tegur Brandon untuk cucu menantunya.

"Aku belum lapar, Tuan besar. Tidak," jawab Malya lugas, tak berkeinginan menengadahkan wajah kala menjawab pertanyaan sang tetua.

"Berkali ku katakan, panggil aku kakek. Bukankan kau istri cucuku, Maria?" sebut Brandon lagi.

"Makan, jangan banyak bicara, Bran. Biarkan dia sesukanya, kepalanya terantuk dashboard sehingga dia berubah menjadi pendiam tak lagi pecicilan. Ehm, mungkin juga sedang menjalani masa tobat," kekeh Beatrice untuk istri Biantara.

"Aku duluan. Selamat pagi," ujar Bian bergegas menyelesaikan sarapan tak menggubris obrolan lalu bangkit mengecup dahi para tetua sebelum dia pergi.

Baru dua pekan lebih Malya menjalani hari penuh kepura-puraan di depan Beatrice. Dia mengantar Bian hingga ke depan selayak istri normal pada umumnya.

Seperti biasa, pewaris klan Cakra itu bersikap dingin dan tak peduli. Dia melenggang pergi masuk ke mobilnya tanpa menoleh ke arah wanita yang dia sebut sebagai penipu.

Malya teringat akan pesan semalam. Setelah suaminya hilang dari pandangan, dia bergegas menemui Sari untuk meminta tolong membeli sesuatu.

Semenjak pindah tinggal di Mansion Cakra, Rara rencananya tak lagi di pekerjakan oleh Bian. Namun, Malya menolak dan memohon agar maid mata-mata itu turut di ajak serta.

Saat nyonya muda kembali ke ruangannya untuk melaksanakan sunah pagi. Pintu kamar di ketuk pelan oleh Brandon, pria renta itu melongokkan kepala saat Rara membukakan pintu.

"Nona Maria masih salat, Tuan besar. Mungkin tiga puluh menit kemudian beliau baru selesai," kata Rara.

"Baiklah, aku tunggu di greenhouse. Bilang padanya bahwa bibit bunga dan buah baru datang," ujar kakek tua sebelum dia berlalu.

Rara menganggukkan kepala dan menutup kembali pintunya.

Berpuluh menit berikutnya.

Putri Haji Syakur menuju greenhouse di belakang hunian sesuai petunjuk Rara. Mansion ini sangat luas, dia belum sepenuhnya hafal letak beberapa bangunan yang terlihat memiliki fungsi berbeda jika di tilik dari fasad luar.

"Assalamualaikum, Tuan besar?" sebut Malya memanggil sepuh suaminya.

"Maria sini." Brandon memanggil dari sudut yang tak terlihat oleh Malya.

Wanita ayu dalam balutan gamis berjalan pun pelan menuju sumber suara, menyusuri lorong yang di tumbuhi beraneka ragam tanaman. Kakinya masih memakai korset tulang di tungkai sementara lengan sudah lumayan membaik. Dia kerap di dera pusing saat terlalu banyak berpikir. Rasa berdenyut sesekali menggelayuti kepala di sekitar luka operasi beberapa bulan silam.

"Sini, Maria," panggil Brandon lagi. Sepuh itu antusias saat cucu mantunya datang.

"Siapa namamu?" tanya Brandon kemudian, saat mereka bersitatap.

Degh.

Malya berpura tak mendengar. Dia justru mengalihkan pembicaraan. Sorot mata gadis ayu itu berbinar saat melihat betapa cantiknya bunga Krisan tak jauh dari tempat dia berdiri. Tanpa sadar, istri Bian menghampiri dan menghirup aromanya.

"Ini Krisan jenis apa? kita akan semai bibit bunga atau buah dulu, Tuan?" tanya Malya seraya memilah berbagai jenis tumbuhan.

"Aku tahu, kamu bukan Maria. Gadis itu tak suka padaku. Dia juga bukan muslim yang taat, stylish, tidak dapat hidup tanpa make-up dan dunia malam. Dan jika didekat bunga, dia akan bersin sebab alergi benang sari," tutur Brandon tenang seraya membuat komposisi pupuk sebagai media tanam.

Degh.

"Bodoh Malya. Sari sudah mengatakan hal ini tapi aku malah lupa. Semudah itukah, aku dikenali?"

"Aku tidak tahu apa motifmu. Namun, tetaplah di sisi Bian. Buat orang yang menekanmu menyesal pernah melibatkan kau ke dalam keluarga Cakra. Mungkin cucuku bodoh tapi dia lelaki bertanggungjawab," jelas Brandon masih tenang seakan dia tak peduli akan identitas bahkan tujuan Malya.

Malya melihat ke pria muda disamping tuan besar Cakra. Dia ragu, apakah sesepuh di depannya dapat di percaya.

"Roby asisten pribadiku, dapat di percaya, Malya. Yang harus kau perhatikan, singkirkan salah satu asiaten dari sisimu. Jika terpaksa mempertahankan keberadaannya, buatlah dia pergi dengan cara natural. Aku melihatmu berjuang, Nak. Jangan takut, jika kamu yakin ada di jalan yang benar," pungkas Brandon.

Malya tertegun. Mematung di tempatnya kini. Dia seketika merasakan bahagia bercampur kekhawatiran.

"Anda tahu aku?" cicit Malya takut.

"Hanya orang bodoh yang tidak mengenali dua watak berbeda meski casing nya hampir sama. Aku yang mengenalkan Maria pada Bian. Kita teman, oke?" kata Brandon lagi, menampilkan senyum terkembang di wajah seraya mengacungkan kelingking untuk mengikrarkan pinky promise.

Malya terharu, matanya mulai mengembun dan perlahan buram sebab dorongan lava bening yang merangsek keluar.

"Pinky promise," lirih Malya tersenyum seiring menetapnya lelehan butiran dari ujung netra di wajah ayu. Dia berjalan menghampiri lalu menyambut uluran jemari kakek Bian.

Brandon membelai kepala cucu menantunya lembut membuat gadis ayu itu kian terisak. Dia ingat dengan sosok sang ayah yang di rindukan.

Keduanya lalu menghabiskan waktu bersama hingga menjelang Zuhur. Brandon membuat ayunan di bagian belakang greenhouse untuk bersantai, menjadikan tempat ini sangat teduh dan asri.

"Jika kau penat, sedih, bosan, pakailah greenhouse ini. Di sini fasilitas komplit mulai WiFi, kulkas, mini kitchen, bathroom bahkan media hiburan. Tak payah masuk ke rumah, kalau lapar? petik saja sayur atau buah, beres," ujar sang tetua.

"Kalau malam, apabila khawatir ada nyamuk? kamu bisa tarik partisi, turunkan tirai dan nyalakan pendingin ruangan. Tidak ada yang pernah masuk ke sini selain aku," kata Brandon, menunjukkan segala kecanggihan rumah hijau yang dia bangun.

"Kenapa Anda baik padaku?" tanya Malya lagi.

"Kita gak bisa melihat sesuatu hanya dari luar. Jika kau berniat mengeruk harta, tidak akan mampu bertahan lama menghadapi Beatrice. Pasti sudah kabur membawa perhiasan atau uang Bian. Jika tentang hati? aku yakin kamu belum cinta dengan Bian, dia mencelakai suamimu kan?" tebak Brandon, menaksir motif nan masih terselubung.

Malya tersenyum dan mengucapkan banyak terima kasih pada tetua Cakra. Dia berjanji akan kuat menjalani ini.

Tak lama, gadis ayu itu pamit untuk melakukan salat Zuhur sekaligus meminum obat yang Sari belikan.

Kala kaki baru menjejak pintu bagian belakang. Sari tergopoh menghampiri Malya lalu menarik lengan Nona mudanya itu menuju ke bawah tangga.

"Nona, obat kabe darurat gak boleh di beli tanpa resep dokter. Harus dengan alasan tepat," bisik Sari.

"Hah? bilang aja alasan apa kek, Sari please, aku gak mau mengandung keturunan dia," cicit Malya panik.

Tanpa mereka ketahui, Beatrice yang hendak menuju lantai dasar mendengar kasak kusuk di bawah tangga. Dia menghentikan langkah dan memasang telinga tajam. Tiba-tiba. Bunyi langkah kaki bergemuruh menuruni titian yang terbuat dari beton di ikuti suara maid senior.

"Nyonya besar, hati-hati!" serunya panik, sambil mengejar langkah tetua Beatrice.

.

.

..._____________________...

1
Sri Puryani
terima kasih moms ....🙏 byk ilmu yg di dpt
Sri Puryani
selamat berbahagia bian & malya.....langgeng selalu ya...😍
Sri Puryani
akhirnya saahh ya by, semoga menjadi keluarga Samawa
Sri Puryani
akhirnya by ada yg naksir kamu😀😀
Sri Puryani
lanjut sj byby ....😀😀
Sri Puryani
sabar by...pasti Allah akan memberi yg terbaik padamu
Sri Puryani
seru thor sampe disini
Sri Puryani
andreas....bgt bencinya kamu sama bian yg tdk slh .....dasar serakah jg...
Sri Puryani
terima semuanya dgn sabar maria, klo andreas cinta pasti mau menerima dirimu & anaknya
Sri Puryani
meeza kyk boneka
Sri Puryani
ih gemess klo zaza ngoda malya😀😀
Sri Puryani
cantik imut
Sri Puryani
balik sama bian lg al, bian bgt krn dr kcl jg gk dpt kasih sayang dr ortunya, semoga al tahu itu
Sri Puryani
😭😭😭😭
Sri Puryani
kenapa bian klo pgn balikan sama malya gk ikut dekati malya lg , spt pergi bermain dgn zaza ...
Sri Puryani
klo sdh suka sama andreas kenapa msh dekati meeza, gk usah lah maria.....nikah aja sama andreas, krn dia lbh kaya dr bian
Sri Puryani
curigai maria .....dia diluar dgn siapa? hrsnya diselidiki biar ketemu klo ini semua tingkah andreas
Sri Puryani
kenapa gk terus terang sih bian? cari orang yg bikin spt ini
Sri Puryani
klo pgn kembali yg sabar bian
Sri Puryani
semangat bangkit yuk alya💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!