Masa-masa SMA memang masa-masa yang tidak bisa dilupakan. Mulai dari percintaan, persahabatan, bahkan perseteruan diantara sesama teman.
Bagaimana jadinya jika para anak-anak sultan berkumpul menjadi satu? banyak suka duka, canda tawa, yang akan mereka rasakan.
Yuk, simak keseruan mereka dalam masa-masa remaja yang sangat menyenangkan dan dibalut dengan kisah komedi yang akan mengocok perut kalian semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Kesombongan Vira
Alea menyodorkan kotak bekalnya kepada Gavin.
"Kak, ayo ambil enak loh buatan Mami aku," seru Alea dengan senyumannya.
Gavin lagi-lagi bengong melihat senyum indah Alea, sungguh saat ini Gavin memang sedang jatuh cinta.
Gabby menyikut lengan Gavin, sehingga Gavin tersentak. Gavin segera mengambil makanan dari kotak bekal Alea.
Mereka semua makan sembari bercanda satu sama lain membuat Vira semakin kesal, Vira akhirnya dengan terpaksa memutuskan untuk menghampiri mereka karena Vira memang sudah terlanjur jatuh cinta kepada Arsya.
"Kak Arsya, ayo coba makanan aku," seru Vira dengan duduk di samping Arsya.
"Ah iya, terima kasih cantik."
Seketika wajah Vira bersemu merah disebut cantik oleh Arsya, sedangkan Arsya terlihat biasa-biasa saja karena memang Arsya orangnya suka bercanda.
"Kamu mau ini, Ra?" tawar Arsya.
"Tidak Kak," sahut Dira.
Dira menundukkan kepalanya karena takut melihat tatapan Vira yang sangat menyeramkan itu.
"Kenapa? enak loh."
"Tidak Kak, ini makanan dari Alea pun sudah banyak," lirih Dira.
Mereka kembali melahap makanannya, bahkan Gavin pun mulai terlihat ada senyum-senyum walaupun cuma sedikit.
***
Waktu berjalan dengan sangat cepat, kegiatan MOS pun selesai dan berjalan dengan lancar.
Gabby dan kawan-kawannya sangat bahagia, ternyata mereka semua satu kelas. Mereka saling berpelukan dan berjingkrak-jingkrak saking bahagianya. Berbeda dengan Vira, dia tampak duduk dan menatap sinis ke arah mereka.
"Apaan sih, norak banget mereka," batin Vira.
"Ngapain Lo sendirian di sini? Lo gak di ajak ya, sama mereka," ledek Garra.
Vira mendongakkan kepalanya dan memutar bola matanya jengah, sungguh Vira membenci laki-laki yang ada di sampingnya itu.
"Aku gak butuh teman, teman itu hanya menyusahkan saja. Mereka berteman denganku hanya karena aku anak orang kaya saja, kalau aku anak orang miskin, aku bisa jamin kalau mereka tidak akan mau berteman denganku," ketus Vira.
Garra duduk di samping Vira membuat Vira mengerutkan keningnya.
"Apa Lo gak suka sama mereka?" tanya Garra.
"Mau suka atau tidak, memangnya apa urusannya sama kamu?" ketus Vira.
"Gue nanya saja, soalnya gue juga gak suka sama genknya si Gavin itu. Kalau Lo gak suka sama mereka, kenapa kita gak kerjasama saja buat menghancurkan mereka," seru Garra.
Vira menatap Garra dengan tatapan bingung. "Maksud kamu apa?"
"Apa diantara perempuan itu ada yang Lo gak suka? kalau ada, gue bisa bantuin Lo buat orang itu tersiksa sekolah di sini tapi tentu saja, Lo juga harus bantuin gue," seru Garra.
"Ada sih, aku benci sama anak yang bernama Dira itu soalnya dia selalu mencari perhatian Kak Arsya," kesal Vira.
"Lo suka sama si bule stres itu?"
"Sembarangan kalau ngomong, Kak Arsya ganteng gitu dibilang bule stres, kamu kali yang stres!" sentak Vira.
"Oke-oke, gue minta maaf. Bagaimana dengan tawaran gue barusan? apa Lo tertarik?"
Vira tampak terdiam, dia memang ingin memberi pelajaran kepada Dira supaya Dira tidak mencari perhatian terus kepada Arsya.
"Oke, aku setuju. Tapi aku harus melakukan apa?"
Garra tersenyum penuh arti, dia bisa memanfaatkan Vira untuk menghancurkan persahabatan mereka.
"Nanti gue kasih tahu Lo, apa yang harus Lo lakukan."
Vira dan Garra sama-sama tersenyum, Vira bisa menyingkirkan Dira dengan cepat dan Garra bisa menghancurkan persahabatan Gavin dan kawan-kawannya.
Hari ini adalah hari pertama mereka sekolah, Gabby duduk sebangku dengan Alexa, Vina dengan Dira, dan Alea bersama Aleena, sedangkan Vira duduk sendirian.
Ada seorang anak perempuan yang tampak celingukan mencari kursi kosong, dan hanya di kursi di samping Vira satu-satunya kursi yang kosong.
"Hai, kamu duduk di samping Vira saja!" teriak Aleena.
Anak perempuan itu melangkahkan kakinya dan hendak duduk di samping Vira tapi di saat anak itu mau duduk, Vira menggeser kursinya sehingga anak itu terjatuh ke lantai.
Seketika semua anak-anak reflek tertawa terbahak-bahak tetapi tidak dengan genknya Gabby.
"Kamu itu kenapa sih, Vir? jahat banget jadi orang!" bentak Alexa.
"Iya, pantas saja gak ada yang mau berteman sama kamu soalnya kamu orangnya jahat dan menyebalkan," sambung Vina.
Alea membantu anak perempuan itu berdiri. "Kamu tidak apa-apa kan?" seru Alea.
Anak perempuan itu menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak peduli, karena aku tidak butuh punya teman seperti kalian. Kalian itu hanya benalu bagiku, jadi aku tidak mau menyusahkan diriku sendiri hanya untuk berteman dengan orang-orang seperti kalian!" sentak Vira.
Gabby mengepalkan tangannya, dia benar-benar sudah sangat emosi. Gabby bangkit dari duduknya hendak menghampiri Vira tapi Alexa dengan cepat menahan Gabby.
"Kalau Lo tidak mau berteman dengan siapa pun, gak usah cari gara-gara dan gak usah membuat orang lain tersakiti. Atau Lo mau ngerasain juga bagaimana rasanya jatuh dari kursi?" bentak Gabby.
"Apaan sih, kamu gak usah bentak-bentak aku, orangtua aku saja tidak pernah membentakku!" seru Vira.
"Kalau Lo gak mau dibentak, bersikaplah sewajarnya jangan sombong jadi orang. Memangnya Lo pikir, hanya Lo doang yang anak orang kaya?" bentak Gabby.
"Gab, sudah-sudah istighfar-istighfar, Gab," seru Aleena dengan mengusap dada Gabby.
Aleena dan Alexa pun membawa Gabby untuk duduk, begitu pun dengan yang lainnya. Berbeda dengan Vira yang masih terlihat kesal dan geram.
Tidak lama kemudian, guru mereka datang dan semua anak-anak mulai fokus kepada pelajaran yang guru mereka ajarkan.
***
Bel istirahat pun berbunyi, semua anak-anak langsung berhamburan ke luar kelas menuju kantin sekolah.
"Guys, aku mau ke mushala dulu ya soalnya sebentar lagi adzan Dzuhur, ayo kalian juga ikut aku ke mushala!" ajak Aleena.
"Aduh, aku lagi haid, Aleena," seru Vina alasan.
"Aku sakit perut, Aleena. Aku memang tidak boleh telat makan, jadi sekarang aku duluan ke kantin ya, ayo Gab!"
Alexa segera menarik tangan Gabby, begitu pun dengan Vina yang ikut menyusul Alexa.
"Sama aku aja, Aleena," seru Alea.
"Alhamdulillah, yuk."
"Aku juga ikut," seru Dira.
"Masya Allah, ayo."
Ketiga gadis cantik itu pun segera menuju mushala. Sementara itu di kantin, Gabby, Alexa, dan Vina segera memesan makanan dan duduk di meja pojokan.
"Eh guys, kok si Vira duduk bareng Kakak kelas sih?" seru Vina.
"Mana?"
"Tuh, sama cowok-cowok itu," tunjuk Vina.
Alexa dan Gabby pun langsung menoleh. "Gab, bukanya cowok-cowok kembar itu musuh Bang Gavin ya," seru Alexa.
Gabby memperhatikan mereka semua, dan tidak sengaja Ghani pun menoleh. Untuk sesaat kedua mata itu saling tatap, Ghani tampak menyunggingkan senyumannya tapi Gabby dengan cepat memalingkan wajahnya dan berpura-pura mengotak-ngatik ponselnya.